Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter VII”
Genre : Fantasy | Romance | Thriller
Cast : Westlife | Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife
===================================
“Brian” ucap Nela.
Ternyata pria itu adalah Brian McFadden, salah satu sahabatnya Shane.
“Baiklah ayo masuk, mengobrolnya kita lanjutkan didalam saja” ucap Brian.
Mereka bertiga pun segera masuk kedalam restoran itu.
“Apakah pria ini adalah Andrew?” Ucap Brian seraya melihat kearah Andrew yang berdiri disebelahnya Nela.
“Ya, dia adalah Andrew. Memangnya kau pikir dia siapa?” Ucap Nela.
“Aku pikir dia adalah kekasih mu” ucap Brian seraya tertawa kecil.
“Tentu saja bukan Bri” ucap Nela.
“Sekarang kau semakin tinggi saja ya. Sudah lama sekali kita
tidak bertemu. Sejak kapan kau datang ke Ireland?” ucap Brian kepada
Andrew.
“Ya. Baru beberapa hari yang lalu” ucap Andrew.
Dan mereka pun segera duduk di kursi.
“Apakah kau datang ke Ireland untuk berlibur?” Ucap Brian.
“Ya, dan memang aku sudah rindu sekali pada Nela dan Shane” ucap Andrew.
“Brian, kau sedang apa disini?” Ucap Nela.
“Oh ya, selama beberapa hari ini aku memang berada disini untuk
membantu paman ku yang merupakan pemilik restoran ini. Dan kenapa kalian
hanya berdua saja? Memangnya kalian mau pergi kemana?” Ucap Brian.
“Kami ingin pergi ke toko buku, jadi sebelum pergi ke toko buku
kami memutuskan untuk makan malam dulu. Sedangkan Shane, ia sedang
dinner dirumahnya Gillian” ucap Nela.
“Oh ya, kalian mau pesan apa?” Ucap Brian seraya memberikan Nela dan Andrew sebuah daftar menu restoran itu.
“Aku pikir kau sedang bertengkar dengan Shane, karena beberapa
hari ini kau dan Nicky tidak pernah datang berkunjung ke rumah kami”
ucap Nela seraya melihat-lihat daftar menu.
“Tentu saja kami sedang tidak bertengkar, hanya saja memang
beberapa hari ini aku begitu sibuk. Sedangkan Nicky, ia sedang ada
pertandingan sepak bola di London” ucap Brian.
“Jika ada waktu berkunjung lah ke rumah kami Brian, tapi itu jika kau sedang tidak sibuk” ucap Nela.
“Ya, pasti kau tenang saja Nela. Aku berjanji nanti kalau aku sedang tidak sibuk, aku akan berkunjung ke rumah mu” ucap Brian.
“Baiklah, aku akan menunggu janji mu itu Bri” ucap Nela.
1 jam kemudian...
Nela dan Andrew telah selesai menyantap makan malam mereka direstoran milik pamannya Brian.
“Baiklah Nela, aku ke kasir dulu ya untuk membayar makanan ini” ucap Brian.
“Kau tenang saja Andrew, makan malam ini biar aku bayar” ucap Brian.
“Tidak perlu Brian, kami tidak merepotkan mu” ucap Andrew.
“Kalian tidak merepotkan ku. Anggap saja malam ini aku mentraktir
kalian untuk makan malam di restoran paman ku ini” ucap Brian seraya
tersenyum.
“Tapi Bri...” Ucap Nela.
“Tapi apa? Sudahlah, tidak apa-apa. Kalian kan sudah aku anggap sebaik adik-adik ku” ucap Brian.
“Kami sangat berterima kasih pada mu Brian” ucap Andrew.
“Terima kasih Brian” ucap Nela seraya tersenyum.
“Ya, sama-sama” ucap Brian.
“Baiklah Brian, kami pamit dulu karena kami harus pergi ke toko buku” ucap Andrew.
“Iya Andrew, kalian jangan pulang sampai larut malam dan Andrew kau harus menjaga Nela dengan baik” ucap Brian.
“Iya Brian, aku akan selalu menjaganya dengan baik karena dia adalah adik ku satu-satunya” ucap Andrew.
Nela, Andrew, dan Brian pun berjalan keluar dari restoran itu.
“Sekali lagi terima kasih ya Brian” ucap Nela seraya masuk kedalam mobilnya Andrew dan di ikuti oleh Andrew.
Brian pun hanya tersenyum. Dan Andrew segera menyalakan mesin
mobilnya. Lalu mereka segera pergi meninggalkan restoran milik pamannya
Brian itu.
“Andrew, kau masih ingat kan jalan menuju hutan itu?” Ucap Nela.
“Ya, tentu saja aku masih mengingatnya” ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya memperhatikan
jalanan disekitarnya yang memang terlihat sedikit sepi. Namun tiba-tiba
Nela seperti melihat sosok Mark dari balik sebuah pohon, dan hal itu
membuatnya terkejut.
“Mark!” Ucap Nela yang terkejut.
“Ada apa?” Ucap Andrew.
“Hehm, tidak apa-apa Andrew. Sepertinya tadi aku sedang melamun” ucap Nela.
“Sebaiknya kau jangan melamun Nela” ucap Andrew.
“Ya” ucap Nela yang masih memikirkan apakah tadi itu adalah benar-benar Mark atau sekedar halusinasinya saja.
Semakin lama jalanan yang mereka lewati semakin sepi. Hal itu
karena sekarang mereka sudah mulai memasuki jalan menuju hutan itu.
“Jalanan ini semakin lama semakin sepi saja” gerutu Andrew seraya menyetir mobilnya.
Dan tak lama mereka pun tiba dihutan itu, Andrew pun segera
memakirkan mobilnya dan mereka berdua segera keluar dari mobilnya
Andrew. Baru saja mereka tiba dihutan itu, tapi mereka sudah disambut
oleh suara lolongan serigala yang begitu panjang.
“Baru saja kita datang, tapi sepertinya salah satu penghuni di
hutan ini sudah menyambut kedatangan kita” ucap Andrew seraya membuka
bagasi mobilnya.
“Sepertinya itu bukan suara lolongan serigala biasa” ucap Nela seraya mengambil alat-alat berburunya.
“Maksud mu?” Ucap Andrew.
“Maksud ku adalah itu suara lolongan seekor Werewolf” ucap Nela.
“Benarkah?” Ucap Andrew yang begitu terkejut.
“Ya, karena aku pernah bertemu dengan seekor Werewolf dihutan
ini. Dan oleh karena hal itu, Shane tidak mengizinkan ku lagi untuk
datang ke hutan ini” ucap Nela.
“Kalau seperti itu, kita harus sangat berhati-hati” ucap Andrew.
“Ya, terutama kau Andrew. Aku tidak ingin ada seekor Werewolf atau makhluk lain yang menyakiti mu sedikit pun” ucap Nela.
“Aku juga tidak ingin ada seekor Werewolf atau makhluk lain yang
menyakiti mu sedikit pun” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
“Ini alat-alat berburu mu” ucap Nela seraya memberikan pistol
yang sudah ia isi dengan beberapa peluru perak, pisau yang terbuat dari
perak, dan panah beserta anak panah yang terbuat dari perak kepada
Andrew.
“Apa sekarang kau sudah siap untuk memulai pemburuan kita dimalam ini?” Ucap Nela.
“Ya, tentu saja aku sudah siap!” Ucap Andrew.
“Bagus kalau seperti itu. Baiklah, sekarang kita mulai memasuki
hutan ini. Tapi ingat, kita harus sangat berhati-hati karena makhluk
dihutan ini bisa kapan saja menyerang kita. Dan jangan buat suara yang
dapat mengundang kedatangan mereka” ucap Nela.
Andrew pun hanya mengangguk mengerti, dan mereka berdua mulai berjalan memasuki hutan itu dengan sangat berhati-hati.
30 menit kemudian...
Mereka terus berjalan menyelusuri hutan itu, mencari keberadaan
para Werewolf. Namun sudah setengah jam mereka berjalan, tapi mereka
belum juga menemukan seekor Werewolf pun.
“Kenapa kita juga belum menemukan satu ekor Werewolf?” Ucap Andrew pelan.
“Entahlah, padahal tadi pada saat kita baru datang kita sudah
disambut oleh suara lolongan seekor serigala yang begitu panjang” ucap
Nela.
“Mungkin itu hanya suara lolongan seekor serigala biasa, bukan seekor Werewolf” ucap Andrew.
“Tapi aku sangat yakin, kalau itu adalah suara lolongan seekor Werewolf!” Ucap Nela.
Dan tiba-tiba Nela mendengar sebuah suara dari balik semak-semak. Nela pun mencoba untuk menajamkan pendengarannya.
“Ada apa?” Ucap Andrew.
“Ssssttt... Aku seperti mendengar suara dari balik semak-semak
itu” ucap Nela seraya menujuk ke arah semak-semak yang letaknya tidak
begitu jauh dari tempat mereka berdiri.
Andrew pun juga ikut menajamkan pendengarannya.
“Iya, aku juga mendengarnya” ucap Andrew.
“Aku akan menghampirinya” ucap Nela yang ingin beranjak pergi, tapi dengan cepat Andrew menahan tangannya.
“Jangan terburu-buru, aku tidak ingin kau terluka sedikit pun” ucap Andrew pelan.
“Tenang saja, aku akan baik-baik saja” ucap Nela yang juga dengan
suara pelan, agar suara mereka tidak mengganggu makhluk yang ada
dihutan itu.
“Tidak! Kita hampiri suara itu bersama-sama” ucap Andrew.
Nela pun hanya menarik nafas. Dan mereka berdua segera berjalan menghampiri sumber suara itu.
Seraya berjalan menghampiri sumber suara itu, Nela sudah menyiapkan pistol yang sudah ia isi dengan beberapa peluru perak.
“Andrew, siapkan pistol yang tadi aku berikan padamu. Jika kau
melihat seekor hewan yang bertubuh besar dan aneh, maka kau harus cepat
menembaknya sebelum ia melukai kita” ucap Nela.
Andrew pun hanya mengangguk mengerti. Dan mereka semakin dekat
dengan sumber suara itu. Jantung mereka berdetak dengan sangat kencang,
keringat pun mulai membahasi tubuh mereka.
Dan tiba-tiba ada seekor makhluk bertubuh besar dan aneh yang
keluar dari balik semak-semak itu. Sontak Nela dan Andrew pun sangat
terkejut melihat makhluk aneh itu. Sekilas makhluk itu memang terlihat
seperti serigala biasa, tapi makhluk aneh itu bukanlah serigala biasa
tetapi makhluk itu adalah seekor Werewolf.
Werewolf itu berjalan mendekati Nela dan Andrew. Dengan cepat
Nela pun mengarahkan pistol yang ia pegang ke arah Werewolf itu, dan
Nela pun langsung melepaskan tembakkan kearah Werewolf itu.
Tembakkannya Nela pun mengenai tubuh Werewolf itu, seketika Werewolf itu langsung terbakar dan berubah menjadi abu.
Andrew tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, itu
seperti sebuah film. Namun itu bukanlah sebuah film, itu adalah nyata
dan sungguhan.
“Tetap berhati-hati Andrew, karena ku yakin di hutan ini pasti masih ada Werewolf yang lain” ucap Nela.
“Nela, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku
lihat. Malam ini aku bertemu dengan Werewolf, dan seketika kau membunuh
Werewolf itu hanya dengan satu tembakkan saja. Bagaimana bisa kau
melakukannya? Apakah sebelumnya kau pernah berburu Werewolf?” ucap
Andrew.
“Sungguh mudah untuk melakukannya Andrew, dan sebelumnya aku tidak pernah berburu Werewolf” ucap Nela.
“Kau benar-benar hebat adikku!” Ucap Andrew.
“Iya, ayo kita lanjutkan pemburuan kita” ucap Nela.
Nela dan Andrew pun segera melanjutkan pemburuan mereka. Dan tiba-tiba mereka dihadang oleh dua ekor Werewolf.
“Andrew, kini saatnya kau membunuh Werewolf itu! Dan aku akan
membunuh yang satunya lagi, dalam hitungan ketiga kau harus lepaskan
tembakkan mu.” Ucap Nela.
Andrew pun hanya menganggukkan kepalanya seraya mengarahkan
pistol yang ia pegang kearah salah satu Werewolf yang kini berjalan
mendekatinya.
“1, 2, 3!” Ucap Nela.
Mereka berdua melepaskan tembakkan ke arah dua ekor Werewolf itu.
Dan tentu saja mereka berdua berhasil membunuh dua ekor Werewolf itu
hanya dengan satu tembakkan. Seketika dua ekor Werewolf itu terbakar dan
berubah menjadi abu.
“Andrew! Kau berhasil membunuh Werewolf itu” ucap Nela.
“Ya, aku berhasil melakukannya!” Ucap Andrew.
Tanpa Andrew sadari, ternyata dibelakangnya ada seekor Werewolf
yang dari tadi mengikutinya. Nela pun merasakan akan keberadaan Werewolf
didekatnya, ia pun menoleh ke arah belakang dan ternyata benar seekor
Werewolf sedang berada dibelakangnya Andrew. Dengan cepat Nela menusuk
Werewolf itu dengan pisau yang terbuat dari perak. Lalu ia segera
menarik tangannya Andrew dan pergi menjauh dari Werewolf itu yang kini
sedang terbakar.
“Apa kau baik-baik saja Andrew?” Ucap Nela seraya melihat ke arah
lehernya Andrew untuk memastikan Werewolf itu tidak menggigit Andrew
sedikit pun.
“Ya, aku baik-baik saja” ucap Andrew.
“Baguslah, Werewolf itu belum sempat menggigit mu Andrew” ucap Nela.
“Terima kasih Nela! Untung kau cepat menoleh ke arah belakang dan
menusuk Werewolf itu, coba kalau tidak pasti Werewolf itu sudah
menggigit ku” ucap Andrew.
“Ya, sebaiknya kita pulang saja Andrew. Semakin lama Werewolf disini semakin memunculkan dirinya” ucap Nela.
“Tapi kita kan baru saja memulai pemburuan kita” ucap Andrew.
“Lupakan saja tentang pemburuan itu. Sekarang kita harus cepat
pergi dari hutan ini, sebelum Werewolf itu semakin banyak” ucap Nela
seraya menarik tangannya Andrew dan berlari untuk keluar dari hutan itu.
Tanpa Nela sadari, ternyata dari tadi Mark sedang mengawasinya
dari atas pohon. Nela dan Andrew pun segera berlari menuju tempat Andrew
memakirkan mobilnya.
Setelah sampai ditempat Andrew memakirkan mobilnya, Nela pun segera memasukkan alat-alat berburunya kedalam bagasi mobilnya.
“Ayo kita cepat masuk! Sebelum ada Werewolf yang mengejar kita”
ucap Nela seraya masuk kedalam mobilnya Andrew, dan di ikuti oleh
Andrew.
Andrew pun segera menyalakan mesin mobilnya, dan mereka segera pergi meninggalkan hutan itu.
“Ahh syukurlah, kita tidak apa-apa” ucap Nela seraya menarik nafas lega.
“Ya, dan itu karena kau. Hampir saja aku digigit oleh Werewolf
itu. Terima kasih Nela adik ku, kau telah menyelamatkan ku dari Werewolf
itu” ucap Andrew seraya tersenyum dan menyetir mobilnya.
“Ya sama-sama Andrew, sudah ku bilang aku tak ingin Werewolf atau
makhluk lain dihutan itu melukai mu sedikit pun. Jadi aku harus menjaga
dan melindungi mu dari Werewolf itu atau makhluk lain yang yang ada
dihutan itu” ucap Nela.
Andrew pun hanya tersenyum seraya mengusap-usap rambutnya Nela.
“Ku harap Shane belum pulang, karena kita belum sempat menaruh alat-alat berburu kita didalam bagasi mobil mu” ucap Nela.
“Ya, ku harap juga seperti itu” ucap Andrew.
Satu jam kemudian...
Mereka pun disampai dirumah mereka, Andrew dan Nela segera keluar dari mobilnya Andrew.
“Sepertinya Shane belum pulang” ucap Nela ketika melihat mobilnya Shane tidak ada.
“Ya” ucap Andrew.
Nela pun segera mengambil alat-alat berburunya dari dalam mobilnya Andrew.
“Kita harus cepat membawa barang-barang ini masuk kedalam” ucap Nela.
“Sini biar ku bantu” ucap Andrew yang juga segera mengambil alat-alat berburu yang tadi mereka bawa.
Dan mereka pun segera masuk kedalam rumah mereka.
“Andrew, cepat bawa alat-alat ini kekamar ku!” Ucap Nela seraya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
Setelah sampai didepan kamarnya Nela, mereka segera masuk kedalam
kamarnya Nela. Dan Nela berjalan menuju kotak berwarna coklat tempat ia
menyimpan alat-alat itu.
“Ini alat-alatnya” ucap Andrew seraya memberikan Nela dua buah pistol, dan buah pisau.
Nela pun segera membuka kotak berwarna coklat itu dan memasukkan alat-alat itu kedalamnya.
“Akhirnya selesai juga” ucap Nela seraya menutup kotak itu kembali.
“Ahh, aku benar-benar lelah sekali malam ini” ucap Andrew seraya merebahkan tubuhnya diatas kasurnya Nela.
“Andrew!” Pekik Nela.
“Apa?” Ucap Andrew.
“Ganti baju mu dulu, tadi aku baru saja membereskan tempat tidur ku dan mengganti seprainya” ucap Nela.
“Ahh iya-iya” ucap Andrew seraya bangkit dari tempat tidurnya Nela.
“Ayo ganti baju mu dulu Andrew” ucap Nela seraya mendorong pelan tubuhnya Andrew.
“Tapi bajunya kan ada dikamar ku” ucap Andrew.
“Ya ganti bajunya dikamar mu!” Pekik Nela.
Andrew pun hanya tertawa kecil seraya berjalan menuju kamarnya.
Dan Nela pun segera keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
“Aku haus sekali” ucap Nela.
Lalu ia pun berjalan menuju dapur untuk membuat minuman. Ketika
ia sedang membuat minuman, tiba-tiba Andrew datang dan memeluknya dari
belakang.
“Andrew!” Pekik Nela.
“Apa lagi? Sekarang aku kan sudah ganti baju” ucap Andrew dengan polosnya.
“Iya, tapi sekarang aku mau membuat minuman jika kau memeluk ku seperti ini bagaimana aku bisa membuat minuman” ucap Nela.
“Baiklah, tapi buatkan minuman untuk ku juga ya” ucap Andrew.
“Iya cerewet” ucap Nela.
Andrew pun hanya tertawa seraya mengucak-ngucak rambutnya Nela.
“Aku benar-benar bahagia berada disini, dan rasanya aku tak ingin kembali ke London” ucap Andrew.
“Lalu bagaimana dengan kuliah mu?” Ucap Nela yang sedang membuat dua gelas minuman.
“Entahlah... Tapi bagaimana jika kau kuliah di kampus ku saja?” Ucap Andrew.
“Tidak bisa Andrew. Aku sudah merasa nyaman kuliah disini” ucap Nela.
“Tapi jika kau tinggal di London bersama dengan ku dan kuliah dikampus ku, kita kan bisa selalu bersama-sama” ucap Andrew.
Nela pun hanya terdiam seraya membuat minuman. Didalam hatinya ia
begitu ingin tinggal bersama dengan Andrew di London dan kuliah
dikampusnya Andrew, namun itu artinya ia harus meninggalkan Shane dan
Ireland dan juga ia harus meninggalkan Mark. Dia juga tidak bisa
meninggalkan Hayden, dan David yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Ayolah, aku ingin selalu bersama dengan mu karena kau adalah
adik ku satu-satunya. Dan aku tak ingin meninggalkan mu lagi” ucap
Andrew.
“Aku pun juga selalu ingin bersama dengan mu Andrew. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Ireland dan Shane” ucap Nela.
“Kenapa tidak bisa? Bukankah nanti ketika Shane menikah, ia akan
meninggalkan mu dan tinggal bersama dengan Gillian. Dan itu artinya kau
akan jauh dari Shane” ucap Andrew.
“Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan kampus ku Andrew, aku sudah merasa nyaman kuliah disana” ucap Nela.
“Tidak bisa meninggalkan kampus mu atau tidak bisa meninggalkan
seseorang yang ada di kampus mu?” Ucap Andrew seraya mengangkat kedua
alisnya.
“Andrew! Kau ini!” Pekik Nela.
“Aku tahu kau pasti tidak bisa meninggalkan Hayden” ucap Andrew seraya memperhatikan wajahnya Nela.
“Hehm, tidak!” Ucap Nela.
“Benarkah? Sudahlah, jangan membohongi perasaan mu adikku” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
“Sudahlah Andrew, kau tidak perlu membahas hal itu” ucap Nela.
“Baiklah, tapi kau harus janji nanti jika kau mempunyai kekasih kau harus memperkenalkannya kepada ku” ucap Andrew.
“Iya, aku janji pada mu” ucap Nela.
Beberapa menit kemudian...
“Ini minumannya sudah jadi” ucap Nela.
“Terima kasih adikku” ucap Andrew.
“Iya” ucap Nela.
Dan mereka pun berjalan menuju ke ruang keluarga.
“Kenapa kampus mu belum mengadakan libur?” Ucap Andrew.
“Entahlah, mungkin liburan musim dingin ini kampus ku tidak mengadakan libur” ucap Nela.
Andrew pun menarik nafas panjang seperti sedikit kecewa.
“Padahal liburan kali ini, aku ingin sekali pergi berlibur
bersama dengan mu dan Shane” ucap Andrew seraya mengambil minumannya dan
meneguknya.
Nela pun memperhatikan wajahnya Andrew yang terlihat sedikit kecewa.
“Hey!” Pekik Nela.
Andrew pun segera menoleh ke arah Nela.
“Jangan pasang wajah seperti itu, aku tidak suka melihatnya.
Tersenyumlah kakak ku! Kalau wajah mu ditekuk seperti itu nanti
ketampanan mu bisa hilang” ucap Nela seraya mencubit pelan pipinya
Andrew.
“Aku tidak peduli. Saat ini aku hanya ingin pergi berlibur dengan
kau dan Shane, tapi sepertinya kalian berdua tidak ada waktu untuk itu”
ucap Andrew.
“Kau tenang saja Andrew. Kampus ku pasti akan mengadakan liburan
untuk menyambut musim dingin, dan kita akan pergi berlibur bersama-sama”
ucap Nela seraya tersenyum.
“Benarkah?” Ucap Andrew.
“Ya tentu saja benar” ucap Nela.
Andrew pun tersenyum seraya memeluk Nela. Dan tak lama terdengar suara klakson mobil dari luar rumah mereka.
“Itu sepertinya klakson mobilnya Shane” ucap Nela.
“Kau benar! Ayo kita bukakan pintu untuk Shane” ucap Andrew.
Mereka pun segera berjalan menuju ke halaman rumah mereka.
Setelah sampai dihalaman rumah mereka, Andrew segera membukakan pintu pagar rumahnya.
“Terima kasih Andrew” ucap Shane seraya melajukan mobilnya.
Dan Andrew pun kembali menutup pintu pagar rumah mereka.
“Ternyata kalian sudah pulang” ucap Shane seraya keluar dari mobilnya.
“Ya, kami baru saja sampai sekitar lima belas menit yang lalu” ucap Nela.
Lalu mereka pun segera masuk kedalam rumah mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.
“Nela, kau harus segera tidur karena sekarang sudah hampir larut
malam” ucap Shane seraya menaiki anak tangga untuk menuju kekamarnya.
“Iya Shane” ucap Nela seraya segera menaiki anak tangga.
Dan Nela pun berjalan menuju kamarnya.
“Aku berharap malam ini Mark datang dan menemui ku” ucap Nela dalam hati seraya membuka pintu kamarnya.
Ketika ia membuka pintu kamarnya ia terkejut melihat seorang pria sedang berdiri seraya bersandar dijendela kamarnya.
“Mark!” Ucap Nela yang terkejut seraya segera masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
“Hey” ucap Mark.
“Kau ini mengagetkan ku saja” ucap Nela.
“Apakah kau baru pulang?” Ucap Mark.
“Baru pulang? Baru pulang dari mana?” Ucap Nela heran mendengar Mark berbicara seperti itu.
“Bukankah kau tadi pergi ke hutan itu bersama dengan kakak mu?” Ucap Mark.
Nela hanya terdiam seraya berpikir kenapa Mark bisa mengetahui hal itu.
“I... Iya, kenapa kau bisa tahu?” Ucap Nela sedikit gugup.
“Tadi aku melihat mu dihutan itu” ucap Mark dingin.
“Jadi tadi kau mengawasi ku?” Ucap Nela.
“Ya, aku mengawasi mu dari atas pohon. Karena aku takut ada
Werewolf atau makhluk lain yang menyakiti mu” ucap Mark seraya berjalan
ke arah Nela yang masih berdiri dibelakang pintu kamarnya.
“Kenapa kau mengawasi ku? Dan kenapa kau selalu ingin melindungi ku?” Ucap Nela.
“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya kepada mu, kalau aku merasa aku harus selalu menjaga dan melindungi mu” ucap Mark.
“Tidak mungkin! Pasti kau punya alasan lain” ucap Nela.
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamarnya Nela.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar