Rabu, 08 Juli 2015

My Love is Vampire - Chapter XX (Last Chapter)

Nela dan Hayden pun begitu terkejut mendengar suara ketukkan itu.

“My babe, apa kau sudah tidur?” ucap seseorang dari luar kamarnya Nela, dan orang itu adalah Andrew.

“Hehm... Aku sudah mau tidur my bro.” ucap Nela.

“Ya sudah, good night my babe and have a nice dream.” ucap Andrew dari luar kamarnya Nela.

“Ya, good night too my bro.” ucap Nela.

Dan Andrew pun segera pergi dari depan kamarnya Nela.

“Syukurlah, kita aman.” ucap Hayden seraya menarik nafas lega.

“Ya sudah, ayo sekarang kita harus pergi!” ucap Nela.

Nela dan Hayden pun segera pergi kerumahnya David.
Dan tak lama mereka pun sudah tiba dirumahnya David, lebih tepatnya diruang tamunya David.

“Ternyata kalian sudah sampai, baru saja aku ingin menelpon.” ucap David.

“Keluargamu sedang kemana Dav?” ucap Hayden.

“Mereka sedang pergi ke London untuk berlibur.” ucap David.

“Lalu kenapa kau tidak ikut bersama dengan mereka Dav?” ucap Nela.

“Sebentar lagi kan kita masuk kuliah lagi, jadi tidak mungkin jika aku ikut berlibur dengan mereka.” ucap David.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Nela, kau tidak membawa apapun kan?” ucap David.

“Maksudmu alat-alat untuk berburu Werewolf?” ucap Nela.

“Ya.” ucap David.

“Tidak, memangnya kenapa?” ucap Nela.

“Tidak apa-apa, karena aku sudah menyiapkan alat-alat berburu Werewolf untuk kalian.” ucap David.

“Oh ya, ini alat-alat berburu kalian. Cepatlah dipasang untuk berjaga-jaga!” ucap David seraya memberikan dua buah pistol yang sudah diisi dengan peluru perak, dan dua buah pisau yang terbuat dari perak.

Dan mereka pun segera memasang alat-alat itu.

“Bagaimana? Apa kalian sudah siap?” ucap David.

Nela dan Hayden pun serentak menganggukkan kepala.

“Baiklah, sekarang kita pergi kehutan itu untuk berburu Werewolf. Tapi ingat, kalian harus berhati-hati. Karena Werewolf atau makhluk yang ada dihutan itu bisa menyerang kalian secara tiba-tiba.” ucap David.

Dan mereka pun segera menuju ke garasi rumahnya David.

“Ayo silahkan masuk!” ucap David.

Nela dan Hayden pun segera masuk kedalam mobilnya David, dan diikuti oleh David. Dengan cepat David pun menyalakan mesin mobilnya.
Dan mereka segera pergi menuju hutan untuk berburu Werewolf.


Jalan yang mereka lewati begitu sepi, tidak ada satupun orang yang melewati jalan itu. Tak lama mereka pun sampai dihutan yang mereka tuju.

“Ingat! Tetaplah berhati-hati! Dan jangan sampai langkah kita menganggu ketenangan makhluk yang ada dihutan ini!” ucap David.

“Dan terutama kau Hayden. Kau harus sangat berhati-hati, karena baru kali ini kau berburu Werewolf. Dan ku minta kau jangan ceroboh! Tetaplah berwaspada!” ucap David.

“Iya Dav!” ucap Hayden.

“Dan kau Nela, aku rasa kau sudah tahu jadi aku tidak perlu memberitahu mu lagi. Tapi kau harus tetap berhati-hati!” ucap David.

“Ya Dav.” ucap Nela.


Mereka pun segera keluar dari mobilnya Hayden. Suasana malam itu benar-benar sepi dan begitu dingin, membuat malam itu terasa begitu mencekam.

“Kalian harus ingat dengan apa yang tadi aku ucapkan!” ucap David.

Hayden dan Nela pun kembali menganggukkan kepala mereka. Dan perlahan mereka pun mulai memasuki hutan itu. Baru saja mereka memasuki hutan itu, tapi mereka sudah disambut oleh sebuah lolongan serigala yang cukup panjang.

“Apa itu suara seekor serigala biasa atau suara seekor Werewolf?” ucap Hayden.

“Menurutku itu adalah suara seekor Werewolf yang sedang kelaparan!” ucap David.

“Hayden, tetaplah berada disamping ku!” ucap Nela.

Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka segera masuk kedalam hutan itu.
Perlahan mereka terus menyelusuri hutan itu yang begitu sepi. Namun tiba-tiba jalan mereka dihalangi oleh seekor Werewolf yang entah datang dari mana. Dengan cepat David pun menembak Werewolf itu.
Seketika Werewolf itu langsung terbakar dan berubah menjadi abu.

“Menganggu saja! Baru juga kami datang, tapi kau sudah mencari masalah dengan kami!” ucap David.

“Kau hebat Dav!” ucap Hayden.

“Ya, kau benar-benar seperti Werewolf Hunter profesional!” ucap Nela.

David pun hanya tersenyum. Dan mereka segera melanjutkan langkah mereka.

“Ternyata Werewolf itu datangnya tiba-tiba, aku saja tidak tahu dari mana Werewolf tadi datang. Tiba-tiba saja dia sudah berada didepan kita, dan menghalangi jalan kita.” ucap Hayden.

“Ya, maka dari itu kita harus sangat berhati-hati.” ucap Nela.

Nela pun merasakan ada sesuatu yang mengikutinya dari arah belakang, dia pun menghentikan langkahnya dan segera menoleh kebelakang. Dan ternyata ada seekor Werewolf yang sedang mengikutinya.
Dengan cepat ia melayangkan satu tembakkan kearah Werewolf itu.
Seketika Werewolf itu terbakar dan berubah menjadi abu.

David yang melihat hal itu hanya tersenyum.

“Kau juga hebat! Bagaimana bisa kau merasakan kalau ada seekor Werewolf yang sedang mengikutimu?” ucap Hayden.

“Aku merasa ada hawa panas yang mengikutiku, dan ku yakin hawa panas itu berasal dari tubuh Werewolf itu.” ucap Nela.

“Ya, kau benar Nela! Hawa panas itu berasal dari tubuh Werewolf itu.” ucap David.

“Ya, sekarang kita lanjutkan lagi langkah kita. Tapi kita harus tetap berhati-hati, karena mereka bisa menyerang kita secara tiba-tiba. ” ucap Nela.

Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka. Baru saja mereka berjalan sebentar, tapi tiba-tiba ada seekor Werewolf yang kembali menghalangi jalan mereka.

“Menyebalkan! Mereka kembali menghalangi jalan kita!” gerutu David.

David pun segera melayangkan sebuah tembakkan kearah Werewolf itu. Namun tanpa David sadari, ternyata ia juga diikuti oleh seekor Werewolf.
Tanpa banyak bicara, Hayden segera menghampiri Werewolf itu dan menusuknya dengan pisau perak dari arah belakang.
David yang baru saja menyadari hal itu segera menoleh kearah belakang, dan ia melihat kini Werewolf yang tadi mengikutinya sudah terbakar dan berubah menjadi abu.

“Hampir saja Werewolf itu menggigitmu!” ucap Hayden.

“Terima kasih Hayden, kau sudah menyelamatkanku dari Werewolf itu!” ucap David dengan wajah datar, tanpa sedikit senyum dari bibirnya.

“Ya, sama-sama Dav! Kita memang harus saling melindungi satu sama lain.” ucap Hayden.

“Aku salut padamu, baru kali ini kau berburu Werewolf. Dan kau berhasil menyelamatkan sepupumu dari Werewolf itu. Sepertinya kau juga berbakat jadi Pemburu Werewolf.” ucap Nela.

“Terima kasih Nela. Yang tadi itu belum apa-apa, hanya sekedar latihan saja.” ucap Hayden seraya tertawa kecil.

Nela pun hanya tertawa kecil.

“Sudahlah, ayo kita lanjutkan kembali perjalanan kita!” ucap David.

Dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Semakin lama semakin banyak Werewolf yang datang dan menyerang mereka, tapi dengan cepat mereka segera membunuh Werewolf-Werewolf itu.

“Nela, apa kau sudah lelah? Kalau kau sudah merasa lelah, sebaiknya kita pulang saja.” ucap David.

“Tidak Dav! Aku masih ingin berburu Werewolf-Werewolf itu!” ucap Nela yang masih terlihat bersemangat untuk berburu Werewolf.

“Baiklah kalau seperti itu, ayo kita lanjutkan kembali langkah kita.” ucap David.

Baru saja mereka ingin melanjutkan kembali langkah mereka, namun tiba-tiba ada sesuatu yang mendorong Hayden dari belakang dan membuat tubuh Hayden tersungkur hingga berjarak 3 meter.

“Ternyata kau ada disini ya!” ucap seorang pria separuh baya yang berdiri tepat didepannya.

“Roland!” ucap Nela ketika melihat seorang pria paruh baya yang berdiri tepat didepannya Hayden.

Ya, pria itu adalah Roland. Dan Roland lah yang mendorong Hayden hingga ia jatuh tersungkur.
Hayden pun segera berdiri.

“Kenapa kau bisa ada disini?” ucap Hayden.

“Bukankah kau sudah tahu kalau aku akan akan selalu mengikutimu kemana saja kau pergi?” ucap Roland.

“Kau mau apa Roland?” ucap Hayden.

“Pertanyaan yang bodoh! Tentu saja aku ingin kau menyerahkan diri kepadaku! Tapi kau tak pernah melakukan hal itu.” ucap Roland.

“Tolong berikan aku waktu, aku berjanji aku akan menyerahkan diri kepadamu.” ucap Hayden.

“Apa? Berikan waktu? Maaf, aku tidak bisa memberikan waktu lagi. Karena kau selalu melalaikan janjimu itu. Setiap aku menemuimu, kau selalu melarikan diri dariku. Jadi kali ini aku tidak akan memberikan waktu lagi! Dan sepertinya hutan ini cocok untuk membunuh seorang Jumper sepertimu! Hutan yang sangat luas dan begitu sepi.” ucap Roland.

Tanpa mengucapkan apapun, Hayden pun segera melarikan diri. Tapi dengan cepat Roland segera melemparkan sebuah pisau kearah Hayden, dan pisau itu berhasil melesat ketangan kanannya Hayden. Hingga meninggalkan sebuah goresan yang cukup besar ditangan kanannya Hayden.

“Hayden!” pekik Nela seraya ingin menghampiri Hayden, tapi dengan cepat David menahan tangannya.

“Lepaskan tanganku Dav!” ucap Nela.

“Kau tidak boleh kesana, karena itu sangat berbahaya untuk dirimu!” ucap David.

“Tapi aku harus menyelamatkan Hayden, dia dalam bahaya!” ucap Nela.

“Ya, tapi jika kau kesana maka dirimu juga dalam bahaya!” ucap David.

Roland pun segera menghampiri Hayden.

“Sayang sekali, pisau itu hanya mengenai tanganmu.” ucap Roland.

Hayden pun hanya terdiam seraya menutupi luka ditangan kanannya. Darah pun terus mengalir ditangan kanannya Hayden, hingga membuat baju yang ia pakai penuh dengan darah.

“Dan sepertinya kau tidak akan bertahan lama, karena darah terus keluar dari tanganmu. Itu artinya kau bisa kehilangan banyak darah!” ucap Roland.

Wajah Hayden pun mulai pucat karena darah yang terus mengalir ditangan kanannya.
Dan tanpa Roland sadari, ternyata ada seekor Werewolf yang berdiri tepat dibelakangnya. Dengan cepat Werewolf itu segera menggigit lehernya Roland.
David yang melihat hal itu segera melayangkan sebuah tembakkan kearah Werewolf itu. Seketika Werewolf itu pun terbakar dan berubah menjadi abu. Sementara Roland mulai menunjukkan perubahan menjadi seekor Werewolf.
Lalu Nela pun segera berlari kearah Hayden dan Roland, dengan cepat Nela pun segera melayangkan pisau ketubuh Roland.

“Itulah pembalasan dariku karena kau telah melukai Hayden!” ucap Nela ketika pisau itu berhasil menancap ditubuhnya Roland.

Seketika Roland pun terbakar dan berubah menjadi abu seperti Werewolf yang lain. Dan Nela pun segera menghampiri Hayden dan memeluknya.

“Hayden!” ucap Nela.

Walau dengan luka ditangan kanannya dan dengan wajah yang pucat, namun Hayden tetap menyambut hangat pelukannya Nela.

“Tanganmu!” ucap Nela yang segera melepaskan pelukannya.

“Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja.” ucap Hayden.

“Tidak Hayden! Lukamu harus segera diobati!” ucap Nela.

David pun segera berlari menghampiri Hayden dan Nela.

“Ini kain untuk menutup lukanya, agar darahnya tidak terus mengalir.” ucap David seraya memberikan seuntai kain kepada Nela.

Dengan cepat Nela pun segera menutup luka ditangannya Hayden dengan kain itu.

“Lebih baik sekarang kita segera pulang!” ucap Nela.

“Kalian pulang duluan saja, aku masih ingin berburu Werewolf.” ucap David.

“Tidak Dav! Kau harus pulang bersama dengan kami, karena aku tak ingin kau terluka juga!” ucap Nela.

Dan mereka pun segera berjalan menuju mobilnya David.

“Lebih baik sekarang kita kerumah sakit!” ucap Nela.

“Tidak perlu, nanti lukanya juga akan sembuh.” ucap Hayden.

Mereka pun segera masuk kedalam mobilnya David.

“Gara-gara Hayden, acara berburuku malam ini jadi hancur!” gerutu David dalam hati seraya menyalakan mesin mobilnya.

“Maaf ya Dav, karena aku acara berburumu malam ini jadi berantakkan.” ucap Hayden.

“Ya, tidak apa-apa.” ucap David.

Dan mereka pun segera pergi meninggalkan hutan itu.

“Bagaimana Hayden apa darahnya masih terus keluar?” ucap Nela.

“Sepertinya tidak.” ucap Hayden.

“Sebaiknya kita langsung kerumah sakit saja, agar lukamu bisa segera diobati.” ucap David seraya menyetir mobilnya.

“Ya, David benar! Kita kerumah sakit saja ya.” ucap Nela kepada Hayden.

“Tidak perlu! Nanti juga lukanya akan sembuh, dan biar aku sendiri yang mengobati lukanya.” ucap Hayden.

“Ya sudah, biar aku saja yang mengobati lukamu.” ucap Nela.

“Tidak! Aku tidak ingin merepotkanmu.” ucap Hayden.

“Tidak apa-apa Hayden, kau tidak pernah membuatku repot sekali pun. Dan Dav, kita langsung kerumah ku saja karena aku ingin mengobati lukanya Hayden.” ucap Nela.

“Menyebalkan! Sudah kuduga kalau Nela akan mengobati lukanya Hayden!” gerutu David dalam hati seraya berfokus menyetir mobilnya.

“Terima kasih Nela, kau selalu baik padaku.” ucap Hayden seraya tersenyum.

Nela pun hanya tersenyum. Dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Terima kasih Dav, maaf aku sudah merepotkanmu. Dan gara-gara aku, acara berburumu jadi berantakkan.” ucap Hayden.

“Ya, tidak apa-apa Hayden.” ucap David dengan wajah yang datar tanpa ekspresi sedikitpun.

“Terima kasih ya Dav, maaf kami jadi merepotkanmu. Dan terima kasih untuk hari ini, lain kali kita lanjutkan lagi berburu Werewolfnya.” ucap Nela.

“Ya, sama-sama Nela. Pasti! Lain kali kita harus melanjutkan berburunya!” ucap David.

Hayden dan Nela pun segera keluar dari mobilnya David. Dan David pun segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.

“Ayo kita masuk.” ucap Nela seraya ingin membuka pintu pagar rumahnya, namun dengan cepat Hayden menahan tangannya.

“Ada apa?” ucap Nela.

“Apa kau lupa, kalau kita pergi secara diam-diam?” ucap Hayden.

“Ahh! Oh iya benar! Aku hampir saja lupa.” ucap Nela seraya menepuk dahinya pelan.

“Ya sudah, sekarang kau pegang tanganku ya.” ucap Hayden.

Nela pun menurut, dan ia segera memegang tangannya Hayden. Lalu mereka pun segera berjalan menuju pintu gerbang rumahnya Nela, dan secara tiba-tiba mereka sudah sampai dikamarnya Nela.

“Baiklah, kau tunggu disini dulu ya. Aku akan mengambilkan obat untuk mengobati lukamu.” ucap Nela.

Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya seraya duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
Dan tak lama Nela pun kembali dengan membawa sebuah wadah yang berisi air dan beberapa obat yang diperlukan untuk mengobati lukanya Hayden.

“Maaf ya, kau pasti sudah terlalu lama menunggu.” ucap Nela seraya duduk disebelah kanannya Hayden.

“Tidak apa-apa.” ucap Hayden.

“Boleh aku lihat lukamu?” ucap Nela.

“Sebaiknya bajunya kubuka dulu, agar kau lebih mudah untuk mengobati lukanya.” ucap Hayden.

Hayden pun segera membuka bajunya dan menyodorkan tangannya kepada Nela. Dan perlahan Nela pun membuka kain yang menutupi luka ditangan kanannya Hayden.

“Darahnya sudah tidak mengalir lagi.” ucap Nela.

Nela pun segera mengambil kapas dan menyelupkannya kedalam sebuah wadah yang berisi air.

“Biar aku bersihkan dulu lukanya. Tapi kau harap bersabar ya, karena ini akan sedikit perih.” ucap Nela.

Perlahan Nela pun membersihkan luka ditangannya Hayden.

“Awww!” ucap Hayden.

“Sabar ya, ini memang akan sedikit perih.” ucap Nela.

Setelah selesai, kini Nela pun segera mengobati lukanya Hayden.
Namun Hayden pun hanya terdiam seraya memperhatikan Nela yang sedang mengobati luka ditangannya.

“Dia benar-benar seperti seorang malaikat. Dia begitu cantik dan baik. Andai saja aku bisa memilikinya seutuhnya...” ucap Hayden dalam hati seraya terus memperhatikan Nela.

Nela pun belum sadar kalau Hayden sedang memperhatikannya. Ia terus berfokus mengobati lukanya Hayden.


Beberapa saat kemudian...


“Selesai!” ucap Nela setelah selesai mengobati lukanya Hayden.

“Terima kasih ya, malam ini kau telah menyelamatkanku. Dan sekarang kau telah mengobati lukaku.“ ucap Hayden seraya tersenyum.

“Ya, sama-sama Hayden.” ucap Nela seraya tersenyum.

Tiba-tiba Hayden pun mendekatkan wajahnya kewajahnya Nela.
Namun Nela pun hanya terdiam seraya menutup kedua matanya. Dan tiba-tiba terasa sebuah sentuhan hangat dibibirnya. Sebuah sentuhan yang benar-benar hangat yang kini sedang menempel dibibirnya.
Ya, Hayden kini sedang menciumnya dengan begitu mesra.

Hayden pun tetap mencium Nela seraya menopangkan tangan kirinya di dinding kamarnya Nela.
Malam yang begitu dingin, dan ciuman itu benar-benar membuat mereka berdua merasa hangat.
Tangan kanannya Hayden pun tidak tinggal diam. Ya, Hayden menggunakan tangan kanannya untuk memeluk pinggangnya Nela, agar ciuman mereka semakin dalam.
Seraya memejamkan matanya, batinnya Nela pun memanggil-manggil nama Mark. Dan tiba-tiba Nela melepaskan ciuman mereka.
Lalu ia hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya.

“Maafkan aku...” ucap Hayden seraya menatap Nela.

“Ya, tidak apa-apa.” ucap Nela.

Hayden pun segera memeluk Nela dengan begitu erat.

“Aku benar-benar minta maaf!” ucap Hayden.

“Ya, tidak apa-apa Hayden. Aku sudah memaafkannya.” ucap Nela.

Hayden pun segera melepaskan pelukannya. Lalu ia melihat kearah jam dikamarnya Nela. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 waktu sekitar.

“Sudah larut malam, sebaiknya sekarang kau tidur.” ucap Hayden.

“Tapi bagaimana denganmu?” ucap Nela.

“Kau tenang saja, sekarang aku sudah aman karena sekarang Roland sudah mati. Dan itu semua karenamu, kau lah yang menyelamatkanku dari Roland. Kini tidak akan ada lagi pemburu Jumper yang mengejar-ngejarku! Sekali lagi terima kasih Nela.” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Ya, sama-sama Hayden. Dan aku senang bisa menyelamatkanmu dari Roland. Yang terpenting adalah sekarang kau sudah aman dari Roland dan Pemburu Jumper yang lain.” ucap Nela seraya tersenyum.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur ya.” ucap Hayden.

“Bagaimana denganmu? Apa kau ingin pulang ke apartementmu?” ucap Nela.

“Ya, aku harus pulang ke apartementku. Dan sekali lagi, aku sangat berterima kasih padamu karena kau telah menyelamatkanku.” ucap Hayden.

“Ya, sama-sama Hayden. Aku begitu senang bisa menyelamatkanmu dari Roland.” ucap Nela.

“Ya sudah, aku pergi dulu ya. Dan beristirahatlah My Angel. Good night and have a nice dream.” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Good night Hayden.” ucap Nela seraya membalas senyumannya Hayden.


------------------


Beberapa hari kemudian...



Matahari mulai menyinari dunia ini, burung-burung pun bernyayi menyambut pagi hari.
Perlahan Nela pun membuka matanya, namun ia begitu terkejut ketika melihat Mark yang berada disebelahnya.

“Mark!” ucap Nela yang segera bangkit dari posisi tidurnya.

Mark yang berada disebelahnya hanya tersenyum.

“Tidak! Aku pasti sedang bermimpi!” ucap Nela seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan tidak percaya kalau sekarang Mark berada disampingnya.

“Dunia mimpi memang lebih indah daripada kenyataan. Tuhan, kalau sekarang aku sedang bermimpi tolong jangan bangunkan aku. Agar aku tetap bisa bersama dengan Mark.” ucap Nela.

“Hey! Kau sedang tidak bermimpi My Love!” ucap Mark seraya menepuk pelan pundaknya Nela.

“Benarkah?” ucap Nela.

Mark pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Lalu apa kau sudah berhasil menemukan dan membunuh Vampire itu?” ucap Nela.

“Ya, tentu saja! Jika aku belum berhasil menemukan dan membunuh Vampire itu, maka sekarang aku tidak akan berada disini.” ucap Mark.

“Syukurlah, aku senang mendengarnya.” ucap Nela.

“Apa kau tidak merindukanku?” ucap Mark.

“Tentu saja aku sangat merindukanmu!” ucap Nela.

“Lalu kenapa kau tidak memelukku?” ucap Mark seraya membuka lebar kedua tangannya.

Nela pun hanya tertawa kecil. Dan Mark pun segera memeluknya dengan begitu erat.

“I'm very miss you my love!” ucap Mark.

“Mark, apa kau ingin membunuhku?” ucap Nela.

“Apa? Membunuhmu? Mana mungkin aku ingin melakukan hal yang sangat bodoh itu! Jika aku membunuhmu, maka sama saja aku membunuh diriku sendiri!” ucap Mark.

“Ya, karena kau memelukku dengan sangat erat hingga aku sulit untuk bernafas.” ucap Nela.

Mark pun segera melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku my love! Tapi kau baik-baik saja kan?” ucap Mark.

“Ya, aku baik-baik saja.” ucap Nela seraya tersenyum.

Mark pun hanya tersenyum, dan kembali memeluk Nela.

“Mark...” ucap Nela.

“Iya, ada apa My Love?” ucap Mark.

“Kenapa sekarang tubuhmu begitu hangat? Beda sekali saat pertama aku memeluk, saat itu tubuhmu sangat dingin.” ucap Nela.

“Itu karena sekarang aku sudah menjadi manusia seutuhnya maka dari itu tubuhku begitu hangat. Dan saat itu tubuhku sangat dingin, karena aku adalah seorang Vampire.” ucap Mark.

“Jadi sekarang kau sudah menjadi manusia seutuhnya?” ucap Nela.

“Ya, sekarang aku sudah menjadi manusia seutuhnya. Dan kita bisa selalu bersama-sama untuk selamanya.” ucap Mark.


Tiba-tiba Shane membuka pintu kamarnya Nela, dan tentu saja ia melihat adiknya sedang berpelukkan bersama dengan Mark.

“Nela!” pekik Shane.

Nela pun segera melepaskan pelukannya Mark.

“Shane!” ucap Nela yang terkejut ketika melihat Shane.

“Apa yang kalian lakukan?” ucap Shane.

Dan tak lama Andrew pun datang.

“Ada apa ribut-ribut?” ucap Andrew.

“Mark?” ucap Andrew yang terkejut ketika melihat Mark yang berada disampingnya Nela.

“Hey! Kau Vampire! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak pernah datang kesini sebelum kau menjadi manusia seutuhnya?” ucap Shane.

“Shane, tapi sekarang Mark sudah menjadi manusia seutuhnya.” ucap Nela.

“Ya Shane, sekarang aku sudah menjadi manusia seutuhnya.” ucap Mark.

“Aku tidak percaya dengan ucapan seorang Vampire! Lebih baik sekarang kau buktikan kalau kau sudah kembali menjadi manusia seutuhnya!” ucap Shane.

“Baiklah, aku akan membuktikannya kepada kalian.” ucap Mark.

“Tapi bagaimana caranya Shane?” ucap Andrew.

“Caranya adalah ia harus berdiri tepat ditempat yang terkena sinar matahari, jika tubuhnya terbakar atau keluar asap itu artinya ia masih menjadi Vampire!” ucap Shane.

“Ya, aku bersedia melakukannya!” ucap Mark.

“Mark! Tapi...” ucap Nela seraya menahan tangannya Mark.

“Kau tenang saja My Love, aku akan baik-baik saja. Dan sekarang adalah waktunya yang tepat untuk membuktikan kalau aku sudah menjadi manusia seutuhnya.” ucap Mark.

“Ya sudah, sekarang kau harus membuktikannya!” ucap Shane seraya beranjak pergi, diikuti oleh Andrew.

“Apa kau yakin ingin melakukannya?” ucap Nela.

“Ya, aku sangat yakin!” ucap Mark seraya tersenyum.


Mereka pun berjalan menuju ke halaman samping rumahnya Shane untuk mencari tempat yang terkena sinar matahari.
Tak lama mereka pun sampai dihalaman samping rumahnya Shane.

“Hey! Vampire! Apa kau sudah siap untuk berdiri disana?” ucap Shane seraya menunjuk kesebuah tempat yang terkena sinar matahari.

“Ya, tentu saja aku sudah siap!” ucap Mark.

“Mark...” ucap Nela seraya menahan tangannya Mark.

“My Love, percayalah aku akan baik-baik saja.” ucap Mark seraya tersenyum.

“Oh ya, buka bajumu! Aku ingin melihat langsung apakah tubuhmu berasap atau terbakar saat terkena sinar matahari!” ucap Shane.

“Tapi Shane...” ucap Nela.

“Tidak apa-apa My Love.” ucap Mark seraya tersenyum.

Dan Mark pun segera membuka baju yang ia pakai.

“Kau tidak boleh melihatnya my babe!” ucap Andrew yang segera menutup kedua matanya Nela dengan kedua tangannya.

“Andrew!” pekik Nela.

Andrew pun segera melepaskan kedua tangannya dari matanya Nela.
Dan perlahan Mark pun segera berjalan menuju tempat yang terkena sinar matahari. Setelah sampai, ia segera berdiri tepat dibawah sinar matahari.

“Shane, aku akan benar-benar marah padamu jika terjadi sesuatu kepada Mark!” ucap Nela kepada Shane.

Shane pun hanya terdiam.

Sinar matahari pun mulai meresap ketubuhnya Mark, namun Mark hanya terdiam seraya merasakan sinar matahari yang meresap kedalam tubuhnya.

“Shane, dia baik-baik saja!” ucap Andrew.

Shane pun hanya terdiam seraya tetap memperhatikan Mark.


Beberapa menit kemudian...


Mark masih tetap berdiri dibawah sinar matahari, namun ia baik-baik saja. Tubuhnya tidak terbakar dan tidak mengeluarkan asap sedikitpun.

“Cukup!” ucap Shane kepada Mark.

Dan Mark pun segera kembali menghampiri Andrew, Nela, dan Shane.

“Mark!” ucap Nela yang segera memeluk Mark.

“My Babe!” pekik Andrew.

“Mark, tubuhmu berkeringat.” ucap Nela.

“Sayang, lepaskan dulu pelukannya.” ucap Shane kepada Nela.

Nela pun segera melepaskan pelukannya.

“Mark, ternyata sekarang kau telah menjadi manusia seutuhnya. Dan sekarang aku mengizinkan kau berpacaran dengan adikku.” ucap Shane seraya tersenyum.

“Benarkah Shane?” ucap Nela yang begitu terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Shane.

“Ya, benar sayang. Sekarang aku mengizinkanmu untuk berpacaran dengan Mark.” ucap Shane seraya tersenyum.

“Terima kasih Shane!” ucap Nela yang langsung memeluk Shane.

“Terima kasih Shane, kau telah mengizinkan aku berpacaran dengan Nela.” ucap Mark.

“Ya, sama-sama Mark. Tapi aku minta tolong kepadamu, tolong kau jaga dan lindungi dia. Dan ingat, jangan pernah menyakitinya sedikitpun, jika kau lakukan hal itu maka kau tahu sendiri akibatnya!” ucap Shane.

“Ya, benar apa yang dikatakan oleh Shane! Jangan pernah menyakiti Nela sedikitpun! Jika kau lakukan hal itu, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!” ucap Andrew.

“Kalian tenang saja, aku berjanji aku tidak akan pernah menyakitinya sedikitpun. Dan aku akan menjaganya dengan begitu baik.” ucap Mark seraya merangkul pundaknya Nela.

“Kami pegang janjimu Mark!” ucap Andrew dan Shane.

Lalu Andrew dan Shane pun segera masuk kedalam rumah mereka.

“Mark...” ucap Nela seraya memeluk Mark.

“My Love, sekarang hubungan kita bukan hubungan terlarang lagi. Karena sekarang kita sudah sama-sama menjadi manusia.” ucap Mark.

“Dan sekarang Pangeran Vampireku telah menjadi manusia seutuhnya.” ucap Nela.

“I love you so much My Love. Aku berjanji aku akan selalu berada disamping mu dalam duka dan suka. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” ucap Mark.

“I love you too Mark. Aku sangat bahagia karena sekarang dan selamanya kau akan selalu bersama denganku.” ucap Nela.

“Dan tidak ada seorangpun yang dapat memisahkan kita. Karena kita telah ditakdirkan untuk selalu bersama.” ucap Mark.

Mark pun mempererat pelukan mereka.
Namun tanpa mereka sadari, ternyata Hayden sedang mengawasi mereka dari balik pohon.

“Oh, jadi sekarang Vampire itu telah kembali menjadi manusia. Dan Shane telah menyetujui hubungan mereka berdua.” ucap Hayden pelan.

“Tenang saja, aku tidak akan membiarkan Nela dan Mark untuk bersama! Dan aku berjanji, aku akan merebut Nela dari Mark!” ucap Hayden.






- The End -

My Love is Vampire - Chapter XIX

“Ayo kita pergi dari sini!” ucap Hayden pelan.

Hayden dan Gustin pun segera pergi meninggalkan Roland.

“Syukurlah, kita berhasil melarikan diri dari Roland.” ucap Gustin.

“Ya, tapi kita tetap harus berhati-hati.” ucap Hayden.

“Lalu sekarang kita mau kemana?” ucap Gustin.

“Aku ingin kerumah Nela saja.” ucap Hayden.

“Nela? Siapa dia? Apa dia adalah kekasih baru mu?” ucap Gustin.

“Bukan, dia adalah teman kampusku.” ucap Hayden.

“Teman? Aku tidak yakin kalau dia hanyalah teman bagimu.” ucap Gustin.

“Ya, dia hanyalah temanku.” ucap Hayden.

“Sudahlah Hayden, jujur saja kepadaku. Aku tahu kalau kau mencintai wanita itu kan?” ucap Gustin.

Hayden pun hanya terdiam.

“Hayden, kau tak perlu berbohong kepadaku. Aku senang jika kau mencintai wanita itu, karena itu artinya kau sudah bisa melepaskan Rachel.” ucap Gustin.

“Ya, aku memang mencintai Nela. Tapi...” ucap Hayden yang tiba-tiba memotong ucapannya.

“Tapi apa?” ucap Gustin.

“Tapi dia sudah mempunyai seorang kekasih. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kekasihnya itu adalah seorang Vampire.” ucap Hayden.

“Apa? Seorang Vampire?” ucap Gustin yang terlihat begitu terkejut.

“Ya, awalnya aku juga tidak percaya sampai aku melihatnya dengan mataku sendiri.” ucap Hayden.

“Seperti dicerita dan difilm-film saja, seorang manusia berpacaran dengan seorang Vampire? Sungguh tidak bisa kubayangkan.” ucap Gustin.

“Ya, tapi sekarang Vampire itu sedang pergi.” ucap Hayden.

“Sedang pergi? Itu artinya kau mempunyai kesempatan untuk mendekatinya!” ucap Gustin.

“Tidak semudah itu Gustin. Karena selama kekasihnya pergi, ada seorang Vampire yang selalu menjaga dan melindunginya. Dan Vampire itu adalah Robert, teman dari kekasihnya.” ucap Hayden.

“Lalu kau ingin menyerah begitu saja untuk dapat memiliki wanita itu? Jika iya, maka itu artinya kau harus siap kehilangan wanita yang kau cinta untuk kedua kalinya!” ucap Gustin.

“Tentu saja tidak! Aku akan terus berusaha sampai aku dapat memilikinya! Karena aku tak ingin kehilangan wanita yang kucinta untuk kedua kalinya!” ucap Hayden.

“Good! Itu baru Hayden yang kukenal!” ucap Gustin seraya menepuk pundaknya Hayden pelan.

“Ya sudah, ayo kita segera kerumahnya Nela!” ucap Hayden.

Mereka pun segera pergi kerumahnya Nela. Dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Akhirnya kita sampai juga dirumahnya Nela.” ucap Hayden.

“Ini rumahnya? Lalu sekarang ia ada dimana?” ucap Gustin.

“Ayo kita masuk, tapi kita langsung kekamarnya saja karena sepertinya ia sedang ada dikamarnya.” ucap Hayden.

“Kekamarnya? Lewat mana?” ucap Gustin.

“Gustin, apa kau lupa kalau kita adalah seorang Jumper?” ucap Hayden.

Gustin pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera menuju kekamarnya Nela.
Lalu mereka pun sampai dikamarnya Nela.

“Itu dia wanita yang bernama Nela!” ucap Hayden seraya menunjuk ke arah Nela yang sedang melamunkan sesuatu.

Hayden dan Gustin pun segera berjalan menghampiri Nela.

“Hey!” Ucap Hayden seraya menepuk pundaknya Nela pelan.

Nela pun sedikit terkejut.

“Hey, Hayden.” ucap Nela.

“Ini siapa?” Ucap Nela seraya menunjuk ke arah Gustin yang berdiri disebelahnya Hayden.

“Oh ya, ini adalah sahabatku namanya Gustin.” ucap Hayden.

“Oh, Gustin yang kemarin kau ceritakan padaku?” ucap Nela.

“Ya.” ucap Hayden.

“Hey! Namaku Gustin.” ucap Gustin seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Namaku Nela” ucap Nela seraya berjabat tangan dengan Gustin.

“Senang dapat bertemu denganmu. Dan ternyata Hayden benar, kau memang cantik.” ucap Gustin seraya tersenyum.

Nela pun hanya tersenyum, namun Hayden hanya terdiam seperti sedang cemburu.

“Kau disini tinggal bersama dengan siapa?” ucap Gustin.

“Aku disini tinggal bersama dengan dua orang kakakku yaitu Andrew dan Shane.” ucap Nela.

“Lalu sekarang mereka kemana?” ucap Gustin.

“Mereka sedang mengobrol diruang tamu.” ucap Nela.

“Sudahlah Gustin, kau tidak perlu banyak tanya.” ucap Hayden.

“Kau tenang saja Hayden, aku tidak akan menjadi pesaingmu.” ucap Gustin.

“Oh ya, kalian mau minum apa?” ucap Nela.

“Tidak perlu, kami tidak ingin merepotkanmu.” ucap Hayden.

“Tidak apa-apa, kalian tidak akan merepotkanku.” ucap Nela.

“Tidak perlu Nela, karena kami tidak haus.” ucap Gustin.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Katanya Hayden, kemarin kau dikejar-kejar oleh Roland?” ucap Nela kepada Gustin.

“Ya, tapi untungnya aku bisa melarikan diri darinya.” ucap Gustin.

“Roland benar-benar keterlaluan, kenapa dia masih mengejar-ngejar kalian?” ucap Nela.

“Entahlah, tadi saja ia mengejarku sampai apartementnya Hayden. Dan hampir saja kami tertangkap olehnya.” ucap Gustin.

“Tapi kalian tidak apa-apa kan?” ucap Nela.

“Ya, kami tidak apa-apa. Karena kami bisa melarikan diri darinya.” ucap Gustin.

“Syukurlah kalau begitu.” ucap Nela.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kita pergi dari sini.” ucap Hayden.

“Kenapa terburu-buru sekali Hayden?” ucap Nela.

“Aku takut kalau Roland mengikuti kami dan dia tahu kalau kita ada dirumah mu.” ucap Hayden.

“Tapi sepertinya dia tidak mengikuti kita.” ucap Gustin.

“Sudahlah Gustin, ayo kita pergi dari sini sebelum Roland mengetahui kalau kita ada disini.” ucap Hayden.

“Ya sudah, Nela kami pergi dulu ya. Sekali lagi, aku senang dapat bertemu denganmu.” ucap Gustin.

“Iya Gustin, aku juga senang dapat bertemu denganmu.” ucap Nela.

“Nela, kami pergi dulu ya. Maaf kami terburu-buru, karena kami sedang dikejar oleh Roland.” ucap Hayden.

“Iya Hayden, kalian hati-hati ya. Jika terjadi sesuatu cepat beritahu aku! Dan jaga diri kalian baik-baik, jangan sampai tertangkap oleh Roland!” ucap Nela.

Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.

“Hayden, kau cemburu padaku ya?” ucap Gustin.

“Tidak!” ucap Hayden.

“Sudahlah, jujur saja jika kau cemburu padaku.” ucap Gustin.

“Ya, aku cemburu karena kau terlihat ingin dekat pada Nela!” ucap Hayden.

“Lalu oleh karena itu kau mengajakku untuk segera pergi dengan alasan takut Roland mengejar kita sampai rumahnya Nela?” ucap Gustin.

“Ya!” ucap Hayden dengan singkat, seperti enggan untuk menjawab pertanyaannya Gustin.

“Baiklah, maafkan aku jika sikapku tadi membuatmu cemburu padaku.” ucap Gustin.

Hayden pun hanya terdiam.

“Dan kau tenang saja, aku tidak akan mengambil dia darimu.” ucap Gustin.


Beberapa minggu kemudian...


Musim dingin pun telah berakhir.

“Tak terasa musim dingin telah berakhir. Tapi Mark belum juga kembali...” ucap Nela.

“Mark, dimana kau? Cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu.” ucap Nela seraya melihat kearah luar jendela kamarnya.

Dan tiba-tiba Robert pun datang.

“Hey!” ucap Robert.

“Hey Robert.” ucap Nela.

“Kupikir kau sudah tidur.” ucap Robert seraya duduk disebelahnya Nela.

“Belum.” ucap Nela.

“Oh ya, maaf ya beberapa hari aku tidak datang kesini soalnya aku ada urusan mendadak.” ucap Robert.

“Ya, tidak apa-apa Robert.” ucap Nela.

“Tapi kau baik-baik saja kan? Roland tidak melukaimu sedikitpun kan?” ucap Robert.

“Ya, aku baik-baik saja. Roland tidak melukaiku sedikit pun.” ucap Nela.

“Syukurlah. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Roland melukaimu sedikit pun!” ucap Robert.

“Kau tenang saja aku akan baik-baik saja.” ucap Nela.

“Tapi aku tetap tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau terluka sedikit pun!” ucap Robert.

Nela pun hanya tersenyum seraya berjalan menuju jendela kamarnya.

“Robert...” ucap Nela.

“Ya, ada apa?” ucap Robert.

“Apa kau belum mendapat kabar dari Mark?” ucap Nela.

“Belum.” ucap Robert.

“Lalu bagaimana dengan Kian, apa dia juga belum mendapat kabar dari Mark?” ucap Nela.

“Ya, sama dengan Kian. Dia juga belum mendapat kabar dari Mark.” ucap Robert.

Nela pun hanya menarik nafas panjang. Robert pun segera menghampiri Nela dan berdiri disebelahnya.

“Kenapa? Kau sangat merindukannya ya?” ucap Robert.

“Ya, aku sangat merindukannya.” ucap Nela.

“Dan sama halnya dengan Mark, ia juga sangat merindukanmu. Tapi kau tenang saja, setelah dia berhasil bertemu dan membunuh Vampire itu, maka ia akan segera kembali untukmu.” ucap Robert.

“Aku juga berharap seperti itu.” ucap Nela.

Robert pun hanya tersenyum.

“Oh ya, Robert apa kau bisa membaca pikiran seseorang?” ucap Nela.

“Ya, tentu saja bisa.” ucap Robert.

“Kalau seperti itu, coba kau tebak apa yang sekarang sedang aku pikirkan?” ucap Nela.

Robert pun segera menatap Nela seperti sedang membaca pikirannya.


Beberapa menit kemudian...


“Bagaimana?” ucap Nela.

“Tidak ada apa-apa. Pikiranmu begitu kosong.” ucap Robert.

“Apa? Mungkin kau salah lihat.” ucap Nela.

“Aku tidak salah lihat. Pikiranmu memang benar-benar kosong.” ucap Robert.

“Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya Nela? Apa aku... Ahh! Tidak! Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya!” ucap Robert dalam hati.

“Kenapa kau tidak bisa membaca pikiranku?” ucap Nela.

“Entahlah. Mungkin itu karena di pikiranmu hanya ada Mark.” ucap Robert.

Nela pun hanya tersenyum malu. Dan Robert pun hanya tersenyum.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur karena sekarang sudah hampir larut malam.” ucap Robert.

“Ya baiklah.” ucap Nela yang segera berjalan menuju tempat tidurnya.

Nela pun segera menaiki tempat tidurnya, dan merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.

“Good night Robert.” ucap Nela.

“Good night Nela and have a nice dream. Aku akan tetap berada disini untuk menjaga dan menemani tidurmu.” ucap Robert.

Nela pun hanya tersenyum seraya memejamkan matanya. Dan perlahan Robert pun berjalan menghampiri Nela, dan duduk ditepi tempat tidurnya.

“Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya? Bukankah aku hanya tidak bisa membaca pikiran seorang wanita yang aku cinta?” ucap Robert pelan.

“Apa aku jatuh cinta padanya? Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya! Dan aku tidak boleh merebut Nela dari Mark!” ucap Robert.

“Tapi entah mengapa aku merasa nyaman saat berada didekatnya.” ucap Robert.

“Mark, maafkan aku karena aku telah jatuh cinta pada Nela. Tapi aku berjanji aku tidak akan merebutnya darimu.” ucap Robert.


----------------


Seperti biasa Nela sedang melamun seraya memikirkan Mark yang belum juga kembali. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.

“Siapa?” ucap Nela.

“Ini aku sayang.” ucap seseorang dari luar kamarnya Nela.

“Masuk saja Shane, pintunya tidak ku kunci.” ucap Nela.

Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya Nela itu adalah Shane.
Shane pun segera membuka pintu kamarnya Nela, dan berjalan menghampiri Nela.

“Kau sedang apa sayang?” ucap Shane seraya duduk disampingnya Nela.

Nela pun hanya menggelengkan kepalanya.

“What happens sayang?” ucap Shane.

“I'm just so bored Shane.” ucap Nela.

“Why?” ucap Shane.

“I don't know Shane.” ucap Nela.

Shane pun segera merangkul pundaknya Nela.

“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan agar kau tidak bosan lagi?” ucap Shane.

“Aku sedang tidak ingin pergi jalan-jalan Shane.” ucap Nela.

“Bermain game bersama?” ucap Shane.

Nela pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Shane pun hanya terdiam seperti sedang berpikir.


Lalu beberapa saat kemudian...


“Bagaimana kalau kita bernyanyi bersama?” ucap Shane.

“Good idea Shane! Come on we're singing together!” ucap Nela yang terlihat begitu bersemangat.

“Come on my honey!” ucap Shane.


Nela dan Shane pun segera berjalan menuju keruang keluarga untuk bernyanyi bersama. Dan tak lama mereka pun sampai diruang keluarga.

“Kau tunggu disini ya, aku akan mengambil gitar dulu.” ucap Shane seraya beranjak pergi untuk mengambil gitar.

Dan tak lama Shane pun kembali dengan membawa sebuah gitar ditangannya. Lalu Shane pun segera duduk disebelahnya Nela.

“Kau ingin menyanyikan lagu apa sayang?” ucap Shane.

“What Makes A Man.” ucap Nela.

“What? That is sad song honey.” ucap Shane yang sedikit terkejut ketika mendengar sebuah judul lagu yang ingin mereka nyanyikan.

“Ya, I know that Shane.” ucap Nela.

“Hehm, ya sudah.” ucap Shane seraya mulai memetik gitarnya.

“Ohhh... Uhhhh... Yeaahhh... This isn't goodbye. Even as I watch you leave, this isn't goodbye... I swear I won't cry, even as tears fill my eyes. I swear I won't cry... Any other girl I'd let you walk away. Any other girl I'm sure I'd be okay...” Nela dan Shane pun bernyanyi bersama.

“Lalu kau ingin menyanyikan lagu apa lagi sayang?” ucap Shane.

“Hehm... Terserah kau saja Shane.” ucap Nela.

“Bagaimana kalau lagi I Wanna Grow Old With You?” ucap Shane.

“Ya, I'm agree with you my bro.” ucap Nela.

“Ok. This song is special for you my honey. You're my little sister. I love you so much my honey!” ucap Shane seraya kembali memetik gitarnya.

“Another day without your smile. Another day just passed by. But now I know how much it means, For you to stay right here with me. The time we spent apart, will make our love grow stronger. But it hurts so bad I can't take it any longer. I wanna grow old with you, I wanna die lying in your arms. I wanna grow old with you, I wanna be looking in your eyes. I wanna be there for you, sharing everything you do. I wanna grow old with you..” Shane bernyanyi seraya menatap matanya Nela dengan begitu lekat.

“I love you forever my honey.” ucap Shane.

“I love you forever my bro. But I think that song not for me, but for you love that is Gillian.” ucap Nela.

“Ya, I know that honey. But that song for you too, because you're my little sister. And you're very important for me!” ucap Shane.

Nela pun hanya tersenyum. Dan Shane pun segera memeluk Nela.

“Thanks for all my honey. I can't life without you. And forever I want always together with you.” ucap Shane.

“Please, don't leave me my honey. I gotta be where you are, right where you are. I don’t wanna face this world alone, without you by my side. You’re the only one that makes it feel like home, and i need you in my life. When you’re not around, I’m feeling like a piece of me is missing.” ucap Shane yang masih memeluk Nela.

Nela pun meneteskan air mata, dia begitu terharu mendengar apa saja yang baru diucapkan oleh Shane. Dan sekarang dia sadar, kalau Shane benar-benar sangat menyayanginya.
Nela pun memeluk Shane dengan begitu erat.

“I love you forever Shane. I promise, I'm never leave you. I'll always in here together with you! You're was important for me too. You're the best brother for me. I'm so lucky have brother like you Shane.” ucap Nela disela tangisannya.

Dan tak lama Andrew pun datang. Andrew pun melihat Nela menangis didalam pelukannya Shane.

“Shane! What you doing with my babe? You make my babe crying?” pekik Andrew.

Shane pun segera melepaskan pelukannya.

“Aku tidak membuatnya menangis Andrew.” ucap Shane.

“Tapi dia menangis didalam pelukanmu Shane! Dan itu pasti karena mu!” ucap Andrew.

“Shane benar Andrew, dia tidak membuatku menangis. Aku hanya terharu setelah apa yang diucapkan oleh Shane.” ucap Nela seraya mengusap pipinya yang basah dengan air matanya.

“Benarkah?” ucap Andrew.

“Ya Andrew.” ucap Nela.

“Syukurlah kalau seperti itu. Memangnya kalian sedang apa?” ucap Andrew.

“Kami sedang bernyanyi bersama.” ucap Nela.

“It's very cool! Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” ucap Andrew.

“Ya, tentu saja boleh Andrew.” ucap Shane.

“Oh, thank you my bro!” ucap Andrew.

“Oh ya, kalian ingin minum apa? Aku ingin membuat minuman.” ucap Nela.

“Aku orange juice saja sayang.” ucap Shane.

“Ya my babe, aku juga orange juice.” ucap Andrew.

“Baiklah kalian tunggu disini ya, aku akan membuatkan minuman untuk kalian.” ucap Nela.

Nela pun berjalan menuju dapur untuk membuat minuman. Sementara Andrew dan Shane menunggu diruang keluarga seraya mengobrol bersama.

“Tidak bisa kubayangkan jika nanti aku sudah menikah dengan Gillian, pasti aku tidak akan punya banyak waktu untuk Nela seperti sekarang.” ucap Shane.

“Ya, itu adalah resiko yang harus kau terima Shane. Maka dari itu sekarang aku lebih memilih untuk tidak berpacaran dulu agar aku mempunyai banyak waktu untuk bersama dengan Nela.” ucap Andrew.

Shane pun hanya menarik nafas panjang. Dan tak lama Nela pun kembali dengan membawa 3 gelas orange juice.

“Ini Shane orang juicemu.” ucap Nela seraya menyodorkan segelas orange juice kepada Shane.

“Thank you my honey.” ucap Shane.

“Dan ini orange juice untukmu Andrew.” ucap Nela seraya menyodorkan segelas orange juice kepada Andrew.

“Oh, thank you my babe.” ucap Andrew.

Dan Nela pun segera duduk disebelahnya Andrew dan Shane.
Sementara Hayden sedang melamunkan sesuatu dibalkon apartementnya.

“Aku lelah terus-menerus dikejar-kejar oleh Roland. Tapi aku hanya dua pilihan, yaitu menyerahkan diri kepada Roland atau aku akan kehilangan wanita yang aku cinta untuk yang kedua kalinya...” ucap Hayden.

“Tapi tetap saja dua pilihan itu, sama-sama membuatku sulit untuk bersama dengan Nela! Dan dua pilihan itu sama-sama membuatku kehilangan wanita yang aku cinta untuk yang kedua kalinya!” ucap Hayden.

“Roland! Andai saja aku bisa membunuhmu!” ucap Hayden seraya mengepalkan tangannya.

Dan tiba-tiba Gustin pun datang.

“Hayden!” ucap Gustin dengan tergesa-gesa.

“Gustin! Kau ini selalu saja membuatku terkejut!” pekik Hayden.

“Maafkan aku Hayden. Tadi aku dikejar-kejar oleh pemburu Jumper yang lain!” ucap Gustin dengan nafas yang masih terengah-engah.

“Apa? Pemburu Jumper yang lain?” ucap Hayden yang sedikit terkejut.

“Iya.” ucap Gustin.

“Bagaimana bisa mereka mengikutimu?” ucap Hayden.

“Entahlah, tapi untuk sementara kita aman karena aku sudah menyesatkan mereka ke Forks.” ucap Gustin.

“Apa? Kau menyesatkan mereka ke Forks? Itu kan kotanya para Vampire & Werewolf!” ucap Hayden.

“Ya aku tahu hal ini. Dan aku memang sengaja menyesatkan mereka ke Forks, agar mereka dimakan oleh para Werewolf yang ada disana!” ucap Gustin.

“Ya, terserah kau saja Gustin yang penting kita aman dari para pemburu Jumper itu.” ucap Hayden.

“Ya, tapi tetap saja kita tidak aman dari Roland.” ucap Gustin.

“Roland adalah seorang Pemburu Jumper yang terlalu pintar. Dia sudah banyak membunuh para Jumper yang ada didunia ini. Dan dia selalu tahu dimana saja kita berada.” ucap Hayden.

“Aku lelah terus-menerus harus melarikan diri dari Roland. Tapi jika aku menyerahkan diri kepada Roland, maka aku adalah seseorang yang sangat bodoh!” ucap Gustin.

“Gustin, kita tidak boleh menyerahkan diri kepada Roland atau kepada pemburu Jumper yang lain!” ucap Hayden.

“Ya, kau benar Hayden!” ucap Gustin.

“Ya sudah, aku harus pergi dulu!” ucap Hayden.

“Kau ingin pergi kemana?” ucap Gustin.

“Jika aku memberi tahu kalau aku ingin kerumahnya Nela, pasti Gustin akan ikut bersama denganku.” ucap Hayden.

“Hey! Hayden, kau ingin pergi kemana?” ucap Gustin.

“Ada urusan yang harus aku selesaikan!” ucap Hayden yang pergi meninggalkan Gustin.


Dan setelah sampai dirumahnya Nela, seperti biasa Hayden segera masuk kedalam kamarnya Nela.

“Hey!” ucap Hayden seraya duduk disebelahnya Nela.

Nela pun hanya tersenyum seraya menoleh ke arahnya Hayden.

“Kau sedang apa?” ucap Hayden.

“Ya, seperti yang kau lihat sekarang aku sedang tidak melakukan apapun.” ucap Nela.

Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ponselnya Nela berdering. Dengan cepat Nela pun segera mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas meja dekat tempat tidurnya.

“Siapa?” ucap Hayden.

“Telepon dari David.” ucap Nela seraya kelayar ponselnya.

“Ada perlu apa David menghubungi Nela?” ucap Hayden dalam hati.

“Sebentar ya, aku angkat telepon dari David dulu.” ucap Nela.

“Ya baiklah.” ucap Hayden.

Dan Nela pun segera mengangkat telepon dari David.


~~~~~~~~~~~~~~~

“Ya, Hallo Dav.” ucap Nela.

“Hallo, kau sedang apa? Apa aku menganggu waktumu?” ucap David.

“Tidak. Ada perlu apa Dav?”

“Apa kau masih ingat kalau aku mempunyai janji kepadamu?”

“Janji? Janji apa Dav?”

“Aku pernah berjanji kalau aku akan mengajakmu untuk berburu Werewolf bersama denganku. Apa kau masih ingat?

“Oh, ya tentu saja aku masih ingat Dav. Lalu?”

“Ya, dan sepertinya nanti malam adalah waktu yang tepat untuk berburu Werewolf.”

“Apa Dav? Nanti malam kita berburu Werewolf?”

“Ya, bagaimana apa kau mau?”

“Ya aku mau, dan tentu saja itu ide yang bagus Dav!”

“Baiklah, nanti malam aku akan menjemputmu.”

“Ya, baiklah Dav! Sampai ketemu nanti malam ya!” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.


~~~~~~~~~~~

Hayden pun begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nela.

“Apa? Nanti malam Nela ingin berburu Werewolf bersama dengan David? Kalau seperti itu, aku juga harus ikut! Karena aku tidak akan membiarkan David pergi berdua dengan Nela!” ucap Hayden dalam hati.

“Nanti malam kalian ingin pergi berburu Werewolf?” ucap Hayden.

“Ya, David mengajakku untuk berburu Werewolf.” ucap Nela.

“Apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian?” ucap Hayden.

“Ya, tentu saja boleh Hayden.” ucap Nela.

“Benarkah?” ucap Hayden.

“Ya, tapi...” ucap Nela yang sengaja memotong ucapannya.

“Tapi apa?” ucap Hayden.

“Tapi aku bingung mau bilang apa kepada Shane. Karena jika aku bilang ingin pergi berburu Werewolf, maka dia tidak akan mengizinkannya.” ucap Nela.

“Kau tenang saja. Kau tidak perlu izin kepada Shane.” ucap Hayden.

“Lalu? Bagaimana kalau nanti David datang? Karena nanti malam ia akan menjemputku.” ucap Nela.

“Sebentar, biar aku hubungi David.” ucap Hayden seraya mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.

“Boleh aku pinjam ponselmu untuk menghubungi David? Karena jika aku yang menghubunginya, maka dia tidak akan mengangkat teleponnya.” ucap Hayden.

“Ini, silahkan.” ucap Nela seraya memberikan ponselnya kepada Hayden.

Lalu Hayden pun segera menghubungi David dengan memakai ponselnya Nela.
Dan dengan cepat David mengangkat teleponnya.


~~~~~~~~~~~

“Hallo, ada apa Nela?” ucap David.

“Ini aku Hayden!” ucap Hayden.

“Apa? Kenapa ponselnya Nela bisa ada ditanganmu?” ucap David yang begitu terkejut ketika mendengar suara Hayden.

“Ya, sekarang aku sedang berada dirumahnya Nela. Jadi aku meminjam ponselnya sebentar untuk menghubungimu.” ucap Hayden.

“Ada apa kau menghubungiku?” ucap David.

“Aku dengar nanti malam kau ingin berburu Werewolf bersama dengan Nela.” ucap Hayden.

“Ya, lalu?” ucap David.

“Apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian?” ucap Hayden.

“Hayden pasti tidak ingin aku pergi berdua dengan Nela. Maka dari itu ia ingin ikut untuk berburu Werewolf nanti malam.” ucap David dalam hati.

“Bagaimana Dav?” ucap Hayden.

“Ya, kau boleh ikut bersama dengan kami.” ucap David.

“Terima kasih Dav. Tapi sebaiknya nanti malam kau jangan menjemput Nela.” ucap Hayden.

“Kenapa kau melarangku untuk menjemput Nela? Oh, itu pasti karena kau ingin menjemputnya juga kan!” ucap David.

“Bukan seperti itu Dav. Tapi Nela tidak punya alasan untuk meminta izin kepada Shane, dan tidak mungkin jika ia bilang kalau ia ingin pergi berburu Werewolf. Karena Shane tidak akan pernah mengizinkannya.” ucap Hayden.

“Ya, kau benar juga. Lalu bagaimana?” ucap David.

“Bagaimana kalau nanti malam aku dan Nela yang akan menjemputmu. Lalu kita baru pergi kehutan itu.” ucap Hayden.

“Lalu bagaimana dengan Nela? Siapa yang akan menjemputnya?” ucap David.

“Kau tenang saja, aku yang akan menjemput Nela. Dan kau tak perlu memikirkan bagaimana caranya.” ucap Hayden.

“Ya ya, aku tahu kalau kau adalah seorang Jumper!” ucap David.

“Ya. Bagaimana apa kau setuju dengan ideku?” ucap Hayden.

“Ya, aku setuju dengan idemu.” ucap David.

“Ya sudah, nanti malam pukul 21.00 aku dan Nela akan datang kerumah mu!” ucap Hayden.

“Ya baiklah.” ucap David mengakhiri pembicaraan ditelepon.


~~~~~~~~~~~~~

Hayden pun segera mengembalikan ponselnya Nela.

“Bagaimana?” ucap Nela.

“Tenang saja, semuanya sudah ku atur. Jadi nanti malam aku akan menjemputmu, dan kita langsung kerumahnya David. Lalu setelah kita baru pergi kehutan itu.” ucap Hayden.

“Ya, baiklah kalau seperti itu.” ucap Nela.

“Ya sudah, sekarang aku pergi dulu ya. Sampai ketemu nanti malam!” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Ya.” ucap Nela seraya membalas senyumannya Hayden.

Dan Hayden pun segera beranjak pergi dari kamarnya Nela.

“Semoga saja nanti malam Robert tidak datang.” ucap Nela.

Tiba-tiba ponselnya Nela pun berbunyi, dan ia pun segera melihat kelayar ponselnya.

“Gillian? Ada apa dia menelponku?” ucap Nela ketika melihat ada satu panggilan dari Gillian.

Dengan cepat ia pun segera mengangkat teleponnya.


~~~~~~~~~~~~~~

“Ya, Hallo Gill.” ucap Nela.

“Hi! Bagaimana kabarmu adikku?” ucap Gillian.

“Kabarku baik. Ada perlu apa Gill? Apakah ponselnya Shane sedang tidak aktif?” ucap Nela.

“Oh, tidak! Aku menelponmu bukan untuk menanyakan tentang Shane.” ucap Gillian.

“Lalu?” ucap Nela.

“Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Apakah aku menganggumu?” ucap Gillian.

“Tentu saja tidak Gill.” ucap Nela.

“Oh, baiklah. Bagaimana dengan liburan musim dinginmu?” ucap Gillian.

“Semuanya berjalan dengan cukup baik. Kau sendiri bagaimana hubunganmu dengan kakakku? Aku dengar kalian sudah berencana untuk menikah.” ucap Nela.

“Ya, kami memang sudah merencanakan hal itu. Tapi kami belum menentukan tanggalnya.” ucap Gillian.

“Kenapa seperti itu?” ucap Nela.

“Kami tidak ingin terlalu terburu-buru. Karena sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru tidak akan berjalan dengan baik.” ucap Gillian.

“Ya, kau benar juga.” ucap Nela.


~~~~~~~~~~~~~~~

Mereka pun terus mengobrol.
Dan tak terasa malam pun sudah datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.50.
Nela sudah rapi, kini ia sedang menunggu kedatangannya Hayden.
Dan tak lama Hayden pun datang.

“Hey! Maaf ya, aku datangnya telat. Kau pasti sudah terlalu lama menungguku ya?” ucap Hayden.

“Ya, tidak apa-apa Hayden.” ucap Nela seraya tersenyum.

“Apakah kau sudah siap?” ucap Hayden.

“Ya.” ucap Nela.

“Kalau seperti itu, ayo sekarang kita segera pergi kerumahnya David.” ucap Hayden.

Baru saja mereka ingin beranjak pergi, namun tiba-tiba terdengan suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.

Minggu, 28 Juni 2015

My Love is Vampire - Chapter XVIII

“Terima kasih ya Dav, kau hati-hati” ucap Shane.

“Iya Dav, terima kasih kau sangat baik pada adik ku” ucap Andrew.

“Iya, sama-sama Andrew, Shane” ucap David.

“Nicky, Brian, aku pulang dulu ya” ucap David.

“Kenapa terburu-buru Dav, kita ngobrol-ngobrol saja dulu” ucap Nicky.

“Aku inginnya seperti itu, tapi masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan Nick” ucap David.

“Baiklah, tapi lain waktu kita mengobrol bersama ya” ucap Nicky.

“Ya, pasti Nick” ucap David.

“Iya Dav, lain waktu kita mengobrol bersama” ucap Brian.

“Iya Bri” ucap David.

“Sekali lagi terima kasih untuk hari ini Dav. Lain waktu kita jalan-jalan ketaman itu lagi ya” ucap Nela.

“Iya, jika kau ingin datang ketaman itu lagi kau segera hubungi ku saja” ucap David.

Nela pun hanya tersenyum, dan David segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.
Sementara Andrew, Nela, dan Shane segera berjalan menuju kamarnya Nela. Dan setelah sampai dikamarnya Nela, Nela pun segera duduk ditepi tempat tidurnya diikuti oleh Andrew dan Shane.

“Beristirahatlah sayang, rebahkan tubuhmu” ucap Shane.

Nela pun segera merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.

“Sebaiknya kita hubungi dokter saja, aku takut terjadi pada mu my babe” ucap Andrew.

“Tidak perlu Andrew, aku baik-baik saja” ucap Nela.

“Ya sudah, sebaiknya kau istirahat sayang agar kesehatan mu cepat pulih kembali” ucap Shane.

“Ya, Shane benar my babe. Dan lagi pula besok kuliah mu libur kan?” ucap Andrew.

“Ya, mulai besok kuliah ku libur untuk menyambut musim dingin” ucap Nela.

“Ya sudah, sekarang kau istirahat ya sayang. Jika terjadi sesuatu, kau panggil kita saja” ucap Shane.

“Iya Shane” ucap Nela.

“Apa kau mau aku temani my babe?” Ucap Andrew.

“Tidak perlu Andrew” ucap Nela.

Shane pun menyelimuti tubuh Nela dengan selimut.

“Beristirahatlah sayang” ucap Shane seraya tersenyum.

“Istirahat ya my babe” ucap Andrew.

“Iya, my bro Andrew dan Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

Andrew dan Shane pun membalas senyumnya Nela. Dan mereka segera beranjak pergi meninggalkan kamarnya Nela.

“Aku berharap Hayden baik-baik saja” ucap Nela.



---------------------------


Waktu pun sudah menunjukkan pukul 21.00. Dan malam ini Shane tidak pergi untuk berburu Vampire, karena Nela sedang kurang sehat.

“Kemana ya Hayden? Hari ini ia benar-benar tidak ada kabar” ucap Nela seraya duduk ditepi tempat tidurnya dan melihat kearah jendela kamarnya.

Nela pun mengambil ponselnya dan melihat ke layar ponselnya.

“Hayden tidak membalas pesan ku juga” ucap Nela seraya melihat ke layar ponselnya.

Dan Nela pun kembali melihat ke arah jendela kamarnya.

“Mark menghilang... Dan kini Hayden pun juga menghilang. Kemana ya mereka berdua?” ucap Nela.

Tiba-tiba Nela pun kembali teringat pada ucapannya Roland tadi siang saat ditaman.

“Mungkin Roland benar, sepertinya aku memang jatuh cinta pada Hayden. Dan aku sudah merasakan hal itu sejak pertama kali aku bertemu dengannya diperpustakaan” ucap Nela.

Nela pun berjalan kearah jendela kamarnya. Ia terdiam seraya melihat kearah luar jendela.
Malam yang sangat dingin, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Ya, hal itu karena sekarang sedang turun salju.

“Hehm, musim dingin telah tiba. Tapi kini aku harus sendiri berada disini. Benar-benar membosankan” ucap Nela dalam hati.

Dan ia pun merasa mulai mengantuk.

“Lebih baik sekarang aku tidur, dan berharap mereka datang ke mimpiku” ucap Nela seraya berjalan ketempat tidurnya.

Nela pun segera naik ke tempat tidurnya, lalu ia segera merebahkan tubuhnya diatas kasur.

“Good night Hayden, Mark... Jaga diri kalian dengan baik” ucap Nela.

Dan ia pun mulai memejamkan matanya. Sementara Hayden baru saja tiba diapartementnya.

“Ternyata disini sudah malam, sepertinya aku terlalu lama di Canada. Hehm, dan hari ini cukup melelahkan...” ucap Hayden seraya merebahkan tubuhnya diatas kasur.

Ia pun menoleh ke arah meja kecil yang ada didekat tempat tidurnya.

“Ternyata aku lupa membawa ponsel ku!” ucap Hayden ketika melihat ponselnya yang berada diatas meja kecil itu.

Hayden pun segera mengambil ponselnya.

“Bagaimana bisa aku lupa membawa ponsel ku?” ucap Hayden seraya melihat layar ponselnya.

“Apa? Ternyata dari tadi Nela menghubungi ku!” Ucap Hayden ketika melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Nela.

“Ia juga mengirim beberapa pesan. Ya ampun, bodohnya aku! Kenapa aku bisa lupa membawa ponsel ku?” ucap Hayden ketika melihat ada beberapa pesan dari Nela.

Hayden pun segera membaca beberapa pesan dari Nela.

“Aku harus segera kerumahnya Nela!” Ucap Hayden segera beranjak pergi kerumahnya Nela.

Setelah sampai dirumahnya Nela, Hayden pun tak lupa untuk berhati-hati agar kedatangannya tidak diketahui oleh Robert.

“Sepertinya Robert tidak ada disini” ucap Hayden seraya memperhatikan kearah sekitarnya.

“Nela!” Ucap Hayden ketika melihat Nela yang sedang tertidur.

Ia pun segera menghampiri Nela dan duduk ditepi tempat tidurnya Nela.

“Maafkan aku, seharian aku tidak mengabari mu” ucap Hayden.

Dan tiba-tiba Nela pun kembali mengigau dan memanggil-manggil nama Mark.

“Mark! Mark, dimana kau?”

“Lagi-lagi ia memanggil nama Mark...” ucap Hayden seraya menarik nafas.

Dan Nela pun kembali mengigau, namun kini ia tidak memanggil-manggil nama Mark.

“Hayden! Hayden, kau ada dimana? Ku harap kau tidak melakukan hal yang bodoh!”

Sontak Hayden pun sangat terkejut ketika mendengar Nela mengigau dan memanggil-manggil namanya.

“Apa? Nela memanggil-manggil nama ku didalam tidurnya?” ucap Hayden.

Hayden pun segera mendekati Nela, dan perlahan ia mengusap lembut rambutnya Nela.

“Kau tenang saja, sekarang aku ada disini bersama dengan mu” ucap Hayden seraya mengusap rambutnya Nela dengan lembut.

Nela pun kembali mengigau dan memanggil-manggil namanya Hayden.

“Hayden! Ku mohon jangan menyerahkan diri mu pada Roland! Jangan lakukan hal bodoh itu!”

“Aku tidak akan pernah menyerahkan diri ku pada Roland. Aku berjanji akan hal itu” ucap Hayden.

Dan tiba-tiba Nela pun kembali mengigau, namun kini ia menggigil kedinginan.

“Apa yang terjadi pada mu?” ucap Hayden seraya memegang keningnya Nela.

“Ya ampun, badannya panas sekali” ucap Hayden.

“Bagaimana ini? Tidak mungkin jika aku mengatakan hal ini pada Shane dan Andrew” ucap Hayden.

Hayden pun segera mendekap Nela yang sedang tertidur.

“Semoga cara ini dapat membuat mu hangat” ucap Hayden.

Hayden pun tetap mendekap Nela, dan ternyata cara itu dapat membuat suhu badannya Nela kembali normal.
Namun Nela pun kembali mengigau dan memanggil-manggil namanya Hayden.

“Hayden! Kau ada dimana?”

“Aku ada disini bersama dengan mu” bisik Hayden ditelingannya Nela.

Dan tiba-tiba Nela pun terbangun dari tidurnya.

“Hayden!” ucap Nela yang segera memeluk Hayden.

“Apa yang terjadi pada mu?” ucap Hayden.

“Kau kemana saja? Seharian ini kau tidak ada kabar sama sekali. Kau juga tidak mengangkat telepon dari ku, dan kau juga tidak membalas pesan ku” ucap Nela.

“Maafkan aku Nela, tadi aku pergi ke Canada untuk menengok kuburannya Rachel. Namun aku lupa membawa ponsel ku. Dan ketika aku melihat ponsel ku, ternyata ada beberapa panggilan dan pesan dari mu. Maka dari itu aku langsung kesini” ucap Hayden.

“Aku kira kau melakukan hal bodoh” ucap Nela.

“Hal bodoh? Menyerahkan diri pada Roland?” ucap Hayden.

“Ya” ucap Nela.

“Aku berjanji pada mu, aku tidak akan pernah menyerahkan diri pada Roland” ucap Hayden.

“Aku pegang janji mu Hayden!” ucap Nela.

“Tadi siang aku bertemu dengan Roland...” Belum selesai Nela berbicara, namun Hayden sudah memotong ucapannya.

“Lalu apa dia melukai mu?” ucap Hayden.

“Dia tidak melukai sedikit pun, namun dia mengatakan kalau ia akan tetap membunuh mu. Kau tahu, hal itu membuat ku begitu mengkhawatirkan diri mu” ucap Nela.

“Kau tenang saja, sampai kapanpun Roland tidak akan bisa membunuh ku” ucap Hayden.

“Jaga diri mu dengan baik Hayden, karena aku tidak ingin kehilangan dirimu” ucap Nela.

“Ya, aku akan selalu menjaga diriku” ucap Hayden.

“Malam yang begitu indah, aku bisa menghabiskan malam ini bersama dengan Nela” ucap Hayden dalam hati.

Nela pun segera melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku, tiba-tiba aku memeluk mu” ucap Nela.

“Tidak apa-apa, itu adalah gerakan repleks” ucap Hayden.

Sekarang Nela bisa bernafas dengan sedikit lega, karena sekarang Hayden bersama dengannya. Namun ia belum bisa tenang, karena Roland terus mengejar-ngejar Hayden.

“Aku senang, sekarang kampus kita sudah libur” ucap Nela.

“Ya, aku juga senang. Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?” ucap Hayden.

“Jalan-jalan? Kemana?” ucap Nela.

“Terserah kau mau jalan-jalan kemana. Keliling dunia pun juga tidak apa-apa” ucap Hayden.

“Keliling dunia? Dalam waktu sehari kita bisa keliling dunia?” ucap Nela yang sedikit terkejut.

“Ya, dalam waktu sehari kita bisa keliling dunia. Apa kau lupa, kalau aku adalah seorang Jumper?” ucap Hayden.

“Tentu saja aku tidak akan lupa dengan hal itu” ucap Nela.

“Lalu kau ingin jalan-jalan kemana? Tempat apa yang ingin kau kunjungi?” ucap Hayden.

“Entahlah, aku bingung” ucap Nela.

“Atau kita pergi ke perpustakaan saja?” ucap Hayden.

“Aku bosan pergi ke perpustakaan” ucap Nela.

“Kalau aku tidak bisa bosan pergi ke perpustakaan” ucap Hayden.

“Kenapa?” ucap Nela.

“Karena di perpustakaan pertama kali kita bertemu dan saling mengenal satu sama lain” ucap Hayden seraya menatap Nela.

Nela pun hanya tersenyum seraya menundukkan kepalanya. Lalu ia pun berjalan menuju jendela kamarnya.

“Salju yang begitu indah... Aku jadi ingin keluar rumah untuk melihat salju-salju itu secara langsung” ucap Nela.

“Kau ingin keluar? Apa ingin aku temani?” ucap Hayden seraya berjalan menghampiri Nela.

“Ya, jika kau tidak merasa direpotkan oleh ku” ucap Nela.

“Tentu saja tidak. Tapi diluar begitu dingin” ucap Hayden.

“Memangnya kenapa kalau diluar begitu dingin?” ucap Nela.

“Kau kan sedang kurang sehat. Tadi saja kau sempat menggigil kedinginan” ucap Hayden.

“Ya, tadi memang aku sempat merasa kendinginan namun tiba-tiba saja tubuhku terasa begitu hangat” ucap Nela.

“Ya, itu karena aku mendekapmu” ucap Hayden dalam hati.

“Tapi entahlah, aku tidak tahu apa yang membuat tubuhku menjadi hangat. Dan sekarang aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya” ucap Nela.

“Baiklah, tapi sebaiknya kau pakai jaket yang tebal dan sarung tangan karena diluar begitu dingin” ucap Hayden.

“Tidak perlu, karena aku tidak akan kendinginan. Sudahlah, ayo kita pergi” ucap Nela.

“Nela, kau jangan keras kepala. Pakailah jaket yang tebal, karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu!” ucap Hayden seraya menahan tangannya Nela.

“Ya, baiklah aku akan memakai jaket yang tebal” ucap Nela.

Dan Nela pun segera berjalan menuju lemarinya, lalu ia mengambil sebuah jaket yang cukup tebal.

“Ini aku sudah membawa jaketnya” ucap Nela.

“Cepat kau pakai jaket itu agar kau tidak merasa kedinginan” ucap Hayden.

Nela pun segera memakai jaket itu.

“Sarung tangannya mana?” ucap Hayden.

“Sudahlah, aku tidak ingin memakai sarung tangan” ucap Nela.

“Ya sudah, ayo kita pergi” ucap Hayden seraya menggandeng tangannya Nela.

Mereka pun hanya berjalan mendekati jendela kamarnya Nela, namun tiba-tiba mereka menghilang begitu saja.

“Sekarang kita sudah berada diluar rumahmu” ucap Hayden.

“Ya, kau benar Hayden!” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum.

“Salju yang sangat indah. Sudah cukup lama aku merindukan saat-saat seperti ini” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum seraya berjalan menghampiri Nela.

“Apa kau mempunyai kenangan saat turun salju seperti ini?” ucap Nela.

“Ya” ucap Hayden.

“Apa kenangan itu?” ucap Nela.

“Saat Rachel masih ada, kami selalu menghabiskan waktu bersama ketika turun salju seperti ini. Kami selalu membuat boneka salju, bermain lempar-lemparan salju, sampai bermain ice skating bersama. Tapi itu semua tinggal kenangan saja” ucap Hayden seraya menundukkan kepalanya.

“Damn! Seharusnya tidak menanyakan hal itu! Karena sudah pasti kenangannya adalah bersama dengan Rachel!” ucap Nela dalam hati seraya memperhatikan Hayden.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu bersedih. Dan seharusnya aku tidak menanyakan hal itu padamu” ucap Nela.

“Tidak apa-apa. Karena itu semua telah menjadi kenangan dimasa lalu, dan aku tidak ingin memikirkan yang telah tiada. Biarkan Rachel tenang disana, karena jika aku terus memikirkannya maka hanya akan mengundang air mata” ucap Hayden seraya menatap langit.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Lalu bagaimana dengan mu, apa kau juga mempunyai kenangan saat turun salju seperti ini?” ucap Hayden.

“Ya, dan kenangan itu hanya bersama dengan Shane. Karena setiap musim dingin tiba, aku hanya menghabiskan waktu bersama dengan Shane” ucap Nela.

“Apa saja yang kalian lakukan?” ucap Hayden.

“Kami hanya mengobrol bersama, membuat lagu bersama, sampai bernyanyi bersama” ucap Nela.

“Pasti sangat mengasyikkan ya?” ucap Hayden.

“Ya, itu memang sangat mengasyikkan. Tapi hal itu tidak akan terjadi lagi kalau Shane sudah menikah nanti” ucap Nela.

“Memangnya kenapa?” ucap Hayden.

“Karena ketika Shane sudah, ia akan menghabiskan waktu bersama dengan Gillian” ucap Nela seraya menatap langit.

“Jika kau tak merasa keberatan, aku siap menemani mu untuk menghabiskan waktu disaat musim dingin seperti ini atau kapan pun kau mau” ucap Hayden.

Nela pun menoleh ke arah Hayden seraya tersenyum. Dan Hayden pun hanya menaikkan kedua alisnya seraya ikut tersenyum.
Mereka pun terus mengobrol bersama seraya menikmati salju yang turun.

“Semakin lama semakin dingin ya” ucap Nela seraya menggosok-gosokkan kedua telapan tangannya.

“Sebaiknya kita pulang saja, karena semakin lama memang semakin dingin” ucap Hayden.

“Hehm... Nanti saja, aku masih ingin berada disini” ucap Nela.

Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya.

Namun Nela terus menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
Hayden yang memperhatikannya pun juga ikut menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Dan Hayden pun meraih kedua tangannya Nela, lalu ia segera melapisi kedua tangannya Nela dengan kedua tangannya seraya meniup-niupkannya.

“Bagaimana apa kau masih merasa kedinginan?” ucap Hayden yang terus melakukan aktifitasnya itu.

Nela pun hanya terdiam seraya memperhatikan Hayden.

“Hayden begitu tampan, dan ia pun juga sangat baik padaku” ucap Nela seraya memperhatikan Hayden.

“Nela, kenapa kau diam saja?” ucap Hayden.

Nela pun sedikit terkejut.

“Nela, apa kau masih merasa kedinginan?” ucap Hayden.

“Tidak, aku sudah merasa lebih hangat sekarang” ucap Nela.

“Baiklah, agar kau lebih hangat lebih baik kau pakai jaketku” ucap Hayden.

“Aku tidak mau!” ucap Nela.

“Memangnya kenapa?” ucap Hayden.

“Kau harus tetap pakai jaketmu, agar kau tidak kedinginan” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum.

“Ya sudah, lebih baik kita pulang saja” ucap Nela.

“Baiklah, ayo kita pulang” ucap Hayden seraya menggandeng tangannya Nela.

Dan mereka pun segera kembali ke kamarnya Nela.

“Terima kasih ya kau telah menemani untuk menikmati salju yang turun” ucap Nela seraya melepas jaket yang ia pakai.

“Ya, sama-sama. Aku selalu siap untuk menemanimu, kapan pun kau mau” ucap Hayden.

Nela pun hanya tersenyum.

“Bagaimana apa kau sudah punya rencana untuk jalan-jalan besok?” ucap Hayden.

“Sepertinya belum ada, mungkin aku ingin menghabiskan waktu dirumah saja karena diluar sangat dingin” ucap Nela.

“Hehm, ya kau benar juga. Diluar memang sangat dingin” ucap Hayden seraya menganggukkan kepalanya.

“Oh ya, kau mau minum apa?” ucap Nela.

“Tidak perlu repot-repot, aku tidak ingin minum. Lagi pula ini sudah larut malam, sebaiknya kau tidur kembali” ucap Hayden.

“Aku belum mengantuk, tapi jika kau sudah mengantuk kau boleh pulang. Tidak apa-apa aku sendirian disini” ucap Nela.

“Aku juga belum mengantuk, tapi ini kan sudah larut malam kau harus segera tidur” ucap Hayden.

“Hayden, kenapa kau begitu cerewet seperti kakak-kakak ku?” ucap Nela seraya duduk ditepi tempat tidurnya diikuti oleh Hayden.

“Aku cerewet karena aku sangat sayang padamu” ucap Hayden dalam hati.

Hayden pun hanya terdiam seraya memperhatikan Nela.

“Kenapa kau memperhatikanku seperti itu?” Ucap Nela yang menyadari kalau Hayden sedang memperhatikannya.

“Tidak apa-apa” ucap Hayden.

Tiba-tiba ponselnya Hayden pun berdering.

“Sebentar ya” ucap Hayden seraya mengambil ponselnya didalam saku celananya.

Hayden pun melihat ke layar ponselnya, dan ternyata ada sebuah pesan.

“Gustin?” ucap Hayden seraya melihat kelayar ponselnya.

“Hayden! Kau ada dimana? Tadi Roland datang kesini, dan hampir saja aku tertangkap olehnya tapi untungnya aku bisa melarikan diri darinya”.

“Apa? Roland datang ke Canada?” ucap Hayden ketika selesai membaca pesan itu.

“Ada apa?” ucap Nela.

“Roland datang ke Canada, sepertinya ia baru tahu kalau tadi aku pergi ke Canada” ucap Hayden.

“Dari mana kau tahu kalau Roland datang ke Canada?” ucap Nela.

“Aku tahu dari temanku yang bernama Gustin. Ia juga seorang Jumper sepertiku” ucap Hayden.

“Jadi itu pesan dari Gustin?” ucap Nela.

“Ya, sekarang ia masih tinggal di Canada. Dan ia bilang, tadi Roland datang menemuinya” ucap Hayden.

“Lalu apa Roland berhasil menangkap Gustin?” Ucap Nela.

“Tidak, itu karena Gustin bisa melarikan diri dari Roland” ucap Hayden.

“Kau harus sangat berhati-hati Hayden! Jangan sampai Roland berhasil menangkapmu, dan ku mohon jangan pernah menyerahkan dirimu pada Roland” ucap Nela.

“Kau tenang saja, Roland tidak akan pernah berhasil menangkapku. Dan aku tidak akan pernah menyerahkan diriku padanya. I'm promise with you!” Ucap Hayden.

“Tapi tetap saja aku selalu mengkhawatirkan hal itu” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya.

“Tenang saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Dan lebih baik sekarang kau tidur, karena ini sudah larut malam” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Ya, baiklah...” Ucap Nela seraya merebahkan tubuhnya diatas kasur.

“Ya sudah, sekarang kau tidur ya” ucap Hayden.

“Hayden...” Ucap Nela.

“Ya, ada apa?” Ucap Hayden.

“Jangan pernah ulangi hal seperti tadi, karena aku begitu khawatir jika tak ada kabar darimu” ucap Nela.

Hayden pun tersenyum.

“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf padamu karena telah membuatmu sangat mengkhawatirkan aku. Tadi aku lupa membawa ponselku, tapi aku berjanji aku tidak akan mengulanginya” ucap Hayden.

Nela pun menganggukkan kepalanya.

“Ya sudah, sekarang kau tidur ya. Good night and have a nice dream. Besok aku akan menemuimu lagi” ucap Hayden.

“Thanks for tonight Hayden” ucap Nela seraya tersenyum.

Hayden pun hanya tersenyum dan segera beranjak pergi dari kamarnya Nela.


---------------------


Esoknya, ketika Hayden sedang bersantai di apartementnya tiba-tiba ia di kagetkan oleh kedatangannya Gustin.

“Hayden!” ucap Gustin dengan nafas yang tergesa-gesa.

“Gustin! Ada apa?” ucap Hayden.

“Ini bahaya! Roland sedang mengikuti ku” ucap Gustin.

“Apa? Kau sedang tidak bercanda kan?” ucap Hayden.

“Hayden, tidak mungkin aku bercanda disaat yang tidak tepat seperti ini!” ucap Gustin seraya mengatur nafasnya.

“Lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” ucap Hayden.

“Tidak ada yang bisa kalian lakukan. Karena aku sudah berada disini, dan siap untuk menangkap kalian!” ucap Roland yang tiba-tiba datang.

“Roland, kenapa kau selalu datang disaat yang tidak tepat?” ucap Hayden.

“Karena jika aku datang disaat yang tepat, maka kalian pasti akan segera melarikan diri” ucap Roland.

“Roland, apa kau tidak lelah terus-menerus mengejar kami?” ucap Gustin.

“Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah lelah mengejar kalian sampai aku berhasil membunuh kalian! Dan sepertinya ini saat yang tepat, karena aku bisa membunuh dua orang Jumper dalam waktu yang bersamaan” ucap Roland.

“Hayden, bagaimana ini? Aku tidak ingin mati ditangan Roland!” ucap Gustin pelan.

“Kau tenang saja!” Ucap Hayden.

“Sekarang kalian tidak akan bisa melarikan diri lagi, karena aku sudah menyiapkan tali khusus untuk mengikat kalian dan kalian tidak akan bisa bebas dari tali ini” ucap Roland seraya mengambil sebuah tali yang cukup panjang dari dalam tasnya.

Selasa, 16 Juni 2015

My Love is Vampire - Chapter XVII

“Baru saja aku ingin menghampiri kalian, tapi kalian sudah datang” ucap Shane.

Nela, Andrew, dan Shane pun segera duduk dikursi yang berada dibelakang meja makan.

“Hi Nela, kau apa kabar? Lama kita tidak ketemu ” Ucap Nicky.

“Kabar ku baik Nick, kabar mu sendiri? Ya, cukup lama juga” ucap Nela.

“Kabar ku juga baik” ucap Nicky seraya tersenyum.

“Nela, kenapa kau hanya menanyakan kabar Nicky saja? Kau tidak menanyakan kabar ku?” Ucap Brian.

“Oh iya, kabar mu bagaimana Bri?” Ucap Nela.

“Dasar kau ini Bri!” Ucap Shane seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka pun hanya tertawa.

“Ya sudah, ayo kita sarapan kalian pasti sudah pada lapar kan” ucap Shane.

“Kau tahu saja Shane, kalau aku sudah lapar” ucap Brian.

Shane pun hanya tertawa kecil. Dan mereka semua segera menyantap sarapan pagi.

“Bagaimana dengan kuliah mu Andrew? Kapan kau kembali ke London?” Ucap Nicky seraya menyantap sarapannya.

“Entahlah, aku tidak tahu kapan aku kembali ke London” ucap Andrew seraya menyantap sarapannya.

“Apa kau tak ingin kembali ke London?” Ucap Nicky.

“Ya, sepertinya memang begitu” ucap Andrew.

“Lalu bagaimana dengan kuliah mu?” Ucap Nicky.

“Jika aku tidak kembali ke London lagi, maka aku akan tinggal dan kuliah disini” ucap Andrew.

“Iya Nick, sepertinya Andrew memang tidak akan kembali ke London lagi. Karena jika ia kembali ke London, lalu jika aku menikah nanti maka Nela bagaimana? Ia tidak mungkin tinggal dirumah ini sendirian” ucap Shane seraya menyantap sarapannya.

“Ya, kau benar juga Shane. Tidak mungkin Nela harus tinggal dirumah ini sendirian” ucap Nicky.

“Jika Andrew ingin tetap kembali ke London, kenapa Nela tidak ikut bersama dengan Andrew saja?” Ucap Brian seraya menyantap sarapannya.

“Aku tidak bisa meninggalkan Ireland Bri” ucap Nela seraya menyantap sarapannya.

“Memangnya kenapa?” Ucap Brian.

“Aku sudah terlanjur begitu mencintai Ireland” ucap Nela.

“Oh, pantas saja waktu itu kau lebih memilih tinggal disini bersama dengan Shane dari pada tinggal di London bersama dengan Andrew dan kedua orang tua mu” ucap Brian.

“Ya, itu karena aku begitu mencintai Ireland” ucap Nela.

“Lalu kau sudah bilang ke kampus mu kalau kau akan pindah ke Ireland?” Ucap Nicky.

“Belum, soal itu biar nanti saja. Lagi pula sekarang kan kampus ku masih libur” ucap Andrew.

Nicky pun hanya menganggukkan kepalanya seraya menyantap sarapannya.

“Kalau kau Shane, bagaimana hubungan mu dengan Gillian?” Ucap Brian.

“Hubungan kami baik-baik saja” ucap Shane.

“Lalu kapan kalian akan menikah Shane?” Ucap Nicky.

“Entahlah, kami sudah merencanakan hal itu tapi kami belum menentukan waktunya” ucap Shane.

Nicky pun hanya menganggukkan kepala seraya menyantap sarapannya.

30 menit kemudian...

Mereka pun telah selesai menyantap sarapan mereka. Dan kini mereka sedang mengobrol diruang tamu seraya bersantai bersama.
Namun tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari arah luar.

“Sepertinya ada suara klakson mobil” ucap Andrew.

“Sebentar, biar aku yang lihat” ucap Nela seraya berjalan menuju keluar rumahnya.

Setelah sampai diluar rumahnya, Nela pun melihat seorang pria yang sedang keluar dari dalam mobilnya.

“Hey! Dav!” Ucap Nela ketika melihat pria itu.

Ternyata pria itu adalah David.

“Hey!” Ucap David.

“Ayo silahkan masuk” ucap Nela.

Dan mereka pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan berjalan menuju ruang tamu.

“Hey! David!” Ucap Shane.

“Hallo semuanya” ucap David.

“Silahkan duduk Dav” ucap Andrew.

Nela dan David pun segera duduk disebuah sofa.

“Kau apa kabar Dav?” Ucap Andrew.

“Kabar ku baik” ucap David.

“Dav, kau mau minum apa?” Ucap Nela.

“Sudahlah, aku tak ingin merepotkan mu” ucap David.

“Tidak apa-apa, kau tidak akan membuat ku repot” ucap Nela.

“Biar aku saja yang buatkan minum” ucap Shane.

“Tidak perlu Shane! Biar aku saja yang buatkan minum untuk David” ucap Nela.

“Kau mau minum apa Dav?” Ucap Nela.

“Terserah kau saja” ucap David.

“Baiklah, kau tunggu disini ya. Yang lain, ada yang mau aku buatkan minum juga?” Ucap Nela.

“Aku mau babe!” Ucap Andrew.

“Ya baiklah. Shane, Nicky, Brian, apa kalian mau aku buatkan minum juga?” Ucap Nela.

“Tidak perlu sayang, nanti aku bisa buat sendiri” ucap Shane.

“Tidak” ucap Nicky dan Brian.

“Ya sudah. Dav, aku buat minuman dulu ya” ucap Nela.

“Iya” ucap David seraya tersenyum.

Nela pun segera beranjak pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman.

“Kau datang sendiri Dav?” Ucap Nicky.

“Ya, aku datang sendiri” ucap David.

“Lalu Hayden kemana?” Ucap Brian.

Brian pun hanya mendapat tatapan tajam dari Shane.

“Apa ada yang salah dengan ucapan ku?” Ucap Brian.

“Lebih baik kau diam saja Bri!” Ucap Nicky yang duduk disebelah Brian.

“Ya baiklah, aku akan diam” ucap Brian.

Dan tak lama Nela pun datang dengan membawa dua gelas minuman ditangannya.

“Ini Dav minumannya, silahkan diminum” ucap Nela seraya menyodorkan David segelas minuman.

“Thank you Nela” ucap David.

“Andrew, dan ini minuman mu” ucap Nela.

“Oh, thank you my babe!” Ucap Andrew.

Dan Nela pun segera duduk disebelah David seraya mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Ia pun menatap layar ponselnya.
Lalu ia mengutak-atik ponselnya, namun wajahnya terlihat seperti sedang gelisah. Shane yang berada didepannya, menyadari sikap adiknya itu.

“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat seperti sedang gelisah?” Ucap Shane.

“Hehm... Tidak apa-apa Shane, aku baik-baik saja” ucap Nela.

Shane pun hanya menganggukkan kepalanya, namun matanya tidak berpaling dari wajah adiknya. Dia terus memperhatikan wajah adiknya yang memang terlihat seperti sedang gelisah.
Nela pun terus mengutak-atik ponselnya.

“Hayden kemana ya? Kenapa dia tidak ada kabar? Tidak biasanya dia seperti ini” ucap Nela dalam hati seraya mengutak-atik ponselnya.

Shane pun terus memperhatikan wajahnya Nela.

“Jangan-jangan ia telah tertangkap oleh Roland? Atau dia telah menyerahkan diri kepada Roland?” Ucap Nela dalam hati.

David yang berada disebelahnya pun menyadari sikap Nela yang terlihat sedang tidak tenang.

“Ada apa Nela?” Ucap David.

“Tidak apa-apa Dav” ucap Nela.

“Semoga Hayden tidak melakukan hal yang bodoh! Jaga dirimu baik-baik Hayden!” Ucap Nela dalam hati seraya terus mengutak-atik ponselnya.

“Oh ya Nela, sebenarnya aku kesini untuk mengajak mu jalan-jalan. Tapi itu jika kau sedang tidak sibuk” ucap David.

Nela pun hanya terdiam seraya terus mengutak-atik ponselnya.

“My babe, David sedang berbicara dengan mu” ucap Andrew.

Nela pun hanya terdiam tanpa mempedulikan ucapannya Andrew.

“Itu kan Mark!” Pekik Brian.

Sontak Nela pun terkejut ketika mendengar nama Mark.

“Mana Mark?” Ucap Nela.

Brian pun hanya tertawa. Dan seketika Brian kembali mendapat tatapan tajam dari Shane.

“Brian, kau membohongi ku ya?” Ucap Nela.

“Iya, maaf ya. Lagi pula apa yang terjadi dengan mu? Andrew dan David berbicara dengan mu, tapi kau hanya diam saja” ucap Brian.

“Andrew, David, kalian berbicara dengan ku?” Ucap Nela.

“Iya my babe. What happens with you? Are you ok my babe?” Ucap Andrew seraya duduk disebelahnya Nela.

“Hehm... Maafkan aku semuanya” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya.

“Apa kau sedang tidak sehat Nela?” Ucap Nicky.

“Aku baik-baik saja Nick” ucap Nela.

“Sayang, lebih baik kau istirahat saja. Mungkin kau sedang memikirkan sesuatu” ucap Shane.

“Tidak Shane, aku baik-baik saja” ucap Nela.

Andrew pun segera merangkul pundaknya Nela.

“Nela pasti sedang memikirkan Hayden” ucap David dalam hati.

“Bagaimana sayang, apa kau ingin jalan-jalan dengan David atau tidak?” Ucap Shane.

“Tidak apa-apa, jika kau tidak bisa. Aku tidak akan memaksanya” ucap David.

“Ya Dav, aku mau jalan-jalan bersama dengan mu” ucap Nela seraya tersenyum.

David pun hanya tersenyum. Dia terlihat bahagia, karena Nela menerima ajakannya untuk jalan-jalan bersama dengannya.

“Sebentar ya, aku ganti baju dulu” ucap Nela.

David pun hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Dan Nela pun segera beranjak pergi menuju kamarnya.
Setelah sampai dikamarnya, Nela pun segera duduk ditepi tempat tidurnya seraya melamunkan sesuatu. Dan ia pun kembali menoleh ke layar ponselnya.

“Hehm... Kemana ya Hayden? Kenapa ia tidak ada kabar?” Ucap Nela seraya melihat ke layar ponselnya.

Nela pun mencoba untuk menghubungi Hayden.

“Kenapa ia tidak mengangkat telepon dari ku?” Ucap Nela.

Nela pun menarik nafas panjang. Dan ia teringat kalau ia harus segera bersiap-siap untuk pergi bersama dengan David. Dengan cepat Nela pun segera mengganti baju, dan bersiap-siap. Setelah selesai, ia pun segera berjalan menuju ruang tamu.

“Hey!” Ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.

“Shane, Andrew, aku izin untuk berjalan-jalan dengan adik mu ya” ucap David.

“Ya Dav. Kau boleh berjalan-jalan dengan adik ku, tapi kau harus menjaga dan melindunginya selama ia pergi bersama dengan mu” ucap Shane.

“Iya, Shane benar Dav. Kau harus menjaga my babe dengan sangat baik!” Ucap Andrew.

“Ya, kalian tenang saja. Aku akan selalu menjaganya dengan baik. Dan dia akan aman bersama denganku” ucap David.

Andrew dan Shane pun hanya menganggukkan kepala.

“Nicky, Brian, aku pergi dulu ya” ucap David.

“Iya Dav, kau hati-hati ya” ucap Nicky.

“Iya Dav, and have fun ya!” Ucap Brian.

David pun hanya tersenyum.

“Shane, Andrew, aku pergi dulu ya” ucap Nela.

“Iya, kau hati-hati ya sayang. Jika terjadi sesuatu segera lah hubungi aku” ucap Shane seraya mencium keningnya Nela.

“Iya Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya my babe, kau hati-hati ya. Dan jaga diri mu dengan baik” ucap Andrew seraya memeluk Nela.

“Iya my bro, kau tenang saja aku akan menjaga diri ku dengan baik” ucap Nela seraya tersenyum.

“Brian, Nicky, aku pergi dulu ya. Maaf, aku tidak bisa menemani kalian terlalu lama karena aku harus pergi dengan David” ucap Nela.

“Tidak apa-apa Nela. Bersenang-senanglah, dan jangan terlalu memikirkan Mark” bisik Nicky.

Nela pun hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum.

“Kau hati-hati ya Nela, and have fun with David!” Ucap Brian seraya mengedipkan sebelah matanya.

Nela pun hanya tersenyum.

“Baiklah semuanya, kami pergi dulu ya” ucap David.

David dan Nela pun segera pergi.

Saat diperjalanan, Nela pun hanya terdiam seraya memperhatikan jalan setapak. David yang sedang menyetir pun, sesekali melihat ke arah Nela.

“Nela, apa terjadi dengan mu? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu?” Ucap David seraya menyetir.

“Hehm... Tidak apa-apa Dav, aku baik-baik saja” ucap Nela.

“Benarkah? Jika kau sedang memikirkan sesuatu, cerita lah kepada ku” ucap David.

“Aku sedang tidak memikirkan apa-apa Dav” ucap Nela.

“Lalu apa kau sedang sakit?” Ucap David.

“Tidak Dav” ucap Nela.

David pun hanya menganggukkan kepala.

“Apa Nela sedang memikirkan Hayden?” Ucap David dalam hati seraya menyetir mobilnya.

Nela pun terus terdiam seraya tetap memperhatikan jalan setapak.

“Kemana ya Hayden? Kenapa ia tidak mengangkat telepon dari ku? Apa dia sudah tertangkap oleh Roland?” Ucap Nela dalam hati.

Perasaannya Nela pun menjadi campur aduk. Disatu sisi, ia sangat merindukan Mark. Dan disisi lain, ia sedang mencemaskan Hayden.

“Mark menghilang... Dan Hayden pun juga menghilang... Hayden, kau ada dimana? Kenapa kau tiba-tiba menghilang seperti ini?” Ucap Nela dalam hati.

David yang duduk disebelah Nela pun hanya bisa terdiam seraya berfokus menyetir mobilnya.
Nela pun mengambil ponsel dari saku celananya, lalu ia mencoba mengetik sebuah pesan.

“Hayden...” Dan Nela pun mengirim pesan itu ke nomornya Hayden.

“Aku berharap Hayden membalas pesan ku” ucap Nela dalam hati.

Beberapa menit kemudian, Hayden pun tidak membalas pesan dari Nela.
Dan Nela pun kembali mengetik sebuah pesan.

“Hayden... Kau ada dimana? Kenapa kau tidak mengangkat telepon ku? Dan kenapa kau juga tidak membalas pesan dari ku? Apa kau marah pada ku? Aku berharap kau baik-baik saja” Nela pun kembali mengirim pesan ke nomornya Hayden.

Beberapa saat kemudian...

Hayden pun juga tidak membalas pesan dari Nela, dan hal itu semakin membuat Nela menjadi begitu mengkhawatirkan Hayden.
Tak lama mereka pun sampai ditempat tujuan mereka, yaitu disebuah taman yang cukup luas.

“Nela, kita sudah sampai. Ayo kita turun” ucap David.

Nela pun hanya terdiam seraya melamun.

David pun menepuk pundaknya Nela pelan. Dan sontak Nela pun terkejut.

“Ada apa Dav?” Ucap Nela.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memberi tahu kalau sekarang kita sudah sampai ditempat tujuan kita” ucap David.

“Hehm, baiklah ayo kita turun” ucap Nela.

David dan Nela pun segera keluar dari mobilnya David.

“Kita ada dimana Dav?” Ucap Nela ketika melihat pemandangan didepannya.

“Sekarang kita ada disebuah taman. Apa sebelumnya kau pernah datang kesini?” Ucap David.

“Tidak Dav. Jika sebelumnya aku pernah datang kesini, maka aku tidak mungkin bertanya pada mu” ucap Nela.

David pun hanya tertawa kecil. Dan mereka pun segera berjalan memasuki taman itu.

“Taman ini tidak terlalu besar, tapi menurut taman ini begitu indah dan nyaman” ucap David.

“Tapi menurut ku taman ini cukup luas Dav” ucap Nela.

“Ya, pendapat setiap orang memang berbeda-beda” ucap David.

Nela pun hanya tertawa kecil.

“Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin mengajak mu kesini, tapi waktunya selalu tidak tepat” ucap David.

Nela pun hanya menganggukkan kepala.

“Tapi kenapa taman ini tidak begitu ramai seperti taman-taman yang lain? Padahal taman ini cukup indah dan nyaman” ucap Nela.

“Entahlah, mungkin itu karena tidak terlalu banyak orang yang tahu tentang taman ini” ucap David.

Mereka pun terus berjalan seraya mengobrol.

“Ayo kita duduk disana” ucap David seraya menunjuk kesebuah kursi panjang.

“Ide bagus Dav!” Ucap Nela.

Dan mereka pun segera berjalan menghampiri kursi panjang itu.

“Cukup melelahkan juga ya” ucap David seraya duduk dikursi panjang itu diikuti oleh Nela.

“Ya, memang cukup melelahkan” ucap Nela.

“Tapi rasa lelah itu terbayar oleh pemandangan didepan kita” ucap David.

Ya, didepan kursi yang mereka duduki memang terdapat sebuah danau yang begitu indah dengan air yang jernih dan dikelilingi oleh bunga-bunga yang indah.

“Pemandangan yang cukup indah, dan membuat hati menjadi lebih tenang” ucap Nela seraya menarik nafas panjang.

David pun hanya tersenyum melihat ekspresinya Nela.

“Apa kau suka dengan tempat ini?” Ucap David.

“Ya, aku suka sekali dengan tempat ini. Terima kasih Dav, kau telah mengajak ku ketempat ini” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya, sama-sama Nela. Jika suatu saat kau ingin datang ketaman ini lagi, maka aku siap untuk mengantar mu” ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.

“Aku ingin memetik bunga itu” ucap Nela seraya menunjuk ke arah sebuah bunga yang berwarna merah muda.

“Biar aku yang memetiknya ya” ucap David.

Nela pun hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum. Dan David pun segera berjalan untuk memetik bunga yang ditunjuk oleh Nela.

“Ini bunganya” ucap David seraya memberikan Nela setangkai bunga yang tadi ia tunjuk.

“Terima kasih Dav” ucap Nela seraya tersenyum.

“Aku berharap kita selalu bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini” ucap David dalam hati seraya tersenyum.

“Bunga yang begitu cantik” ucap Nela seraya memperhatikan bunga itu.

“Nela, apa kau haus?” Ucap David.

“Ya, bagaimana dengan mu Dav?” Ucap Nela.

“Aku juga haus. Kau tunggu disini ya, aku akan membelikan minuman untuk kita” ucap David.

“Ya Dav” ucap Nela seraya tersenyum.

David pun segera beranjak pergi untuk membeli minuman. Dan Nela pun kembali memperhatikan bunga yang ia pegang itu. Namun tiba-tiba Roland datang, dan duduk disebelahnya.

“Ternyata kau disini rupanya” ucap Roland, dan tentu saja hal itu membuat Nela begitu terkejut.

“Roland!” Ucap Nela.

“Ternyata kau masih ingat pada ku. Kemana Vampire mu itu?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam.

“Kau tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tahu kalau Vampire mu itu sedang pergi” ucap Roland.

“Dari mana kau tahu soal itu?” Ucap Nela.

“Sepertinya aku tidak perlu memberi tahu tentang hal itu” ucap Roland.

“Roland ada disini, itu artinya Hayden sedang tidak bersamanya. Lalu kemana Hayden?” Ucap Nela dalam hati.

“Kau tenang saja aku tidak akan membunuh mu atau melukai mu sedikit pun. Tapi...” Ucap Roland yang sengaja memotong ucapannya.

“Tapi apa?” Ucap Nela.

“Ku rasa aku tidak perlu menjawabnya, karena aku yakin kau pasti sudah tahu jawabannya” ucap Roland.

“Jangan lukai Hayden!” Ucap Nela.

“Wanita yang sangat pintar, kau bisa membaca isi dari pikiran ku. Pantas saja banyak pria yang merebutkan mu” ucap Roland.

“Aku mohon jangan lukai Hayden sedikit pun!” Ucap Nela.

“Ya ya ya, kau tenang saja aku tidak akan melukainya sedikit pun. Tapi aku akan membunuhnya!” Ucap Roland.

“Jangan lakukan hal itu! Lebih baik kau bunuh aku saja, seperti kau membunuh Rachel!” Ucap Nela.

“Apa? Membunuh mu? Kau tahu membunuh mu tidak semudah yang kau bayangkan, begitu banyak orang-orang yang melindungi mu. Dan hal itu membuat ku begitu sulit untuk membunuh atau melukai mu sedikit pun” ucap Roland.

“Tapi kenapa kau begitu mudah membunuh Rachel?” Ucap Nela.

“Ya, tentu saja aku begitu mudah membunuhnya. Karena tidak banyak orang yang melindunginya, hanya Hayden saja yang begitu bodoh selalu berusaha melindunginya. Tapi sayang, usahanya itu gagal! Karena aku berhasil membunuh Rachel, kekasihnya itu” ucap Roland.

“Kau begitu kejam Roland! Kau seperti tidak punya hati!” Ucap Nela.

“Aku kejam? Ya, kau memang benar. Aku memang kejam” ucap Roland seraya tertawa.

“Aku mohon pada mu, jangan bunuh Hayden!” Ucap Nela.

“Maaf ya, aku tidak bisa memenuhi permintaan mu itu. Karena aku harus tetap membunuhnya seperti aku membunuh Jumper yang lain” ucap Roland.

“Tidak! Kau tidak boleh membunuhnya! Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!” Ucap Nela.

“Kenapa seperti itu? Sepertinya kau juga mencintai Hayden ya?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam.

“Sepertinya Roland benar, aku memang mencintai Hayden... Maafkan aku Mark, aku jatuh cinta pada Hayden...” Ucap Nela dalam hati.

“Kenapa kau terdiam? Apa ucapan ku itu benar? Sudah ku duga kalau kau juga mencintai Hayden. Lalu bagaimana jika Vampire mu tahu tentang hal ini?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam seraya menatap Roland dengan tatapan yang begitu tajam.

“Sudahlah, lebih baik aku pergi mencari Hayden. Agar aku bisa lebih cepat membunuhnya” ucap Roland seraya beranjak pergi.

“Jangan pernah lakukan hal itu Roland! Dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!” Pekik Nela.

Dan Nela segera menghubungi Hayden, namun Hayden tidak mengangkat telepon dari Nela.

“Hayden, kau ada dimana? Tolong angkat telepon dari ku” ucap Nela.

Tak lama David pun kembali dengan membawa 2 buah minuman kaleng.

“Nela, ini minuman mu” ucap David seraya menyodorkan sebuah minuman kaleng.

“Terima kasih Dav” ucap Nela.

“Apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau terlihat begitu mencemaskan sesuatu” ucap David.

“Tidak apa-apa Dav. Aku hanya merasa sedikit kurang sehat” ucap Nela.

“Kalau begitu lebih baik kita pulang saja” ucap David.

“Tidak perlu Dav, aku baik-baik saja” ucap Nela.

“Tidak! Kita harus segera pulang, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu” ucap David.

“Tapi Dav, kita kan belum lama sampai disini. Lagi pula, kita kan sedang jalan-jalan” ucap Nela.

“Lupakan hal itu! Sekarang yang lebih penting adalah kesehatan mu!” Ucap David.

Nela pun hanya menarik nafas.

“Ayo kita pulang” ucap David seraya menggandeng tangannya Nela.

Nela dan David pun segera berjalan menuju mobilnya David. Dan mereka segera masuk kedalam mobilnya David.

“Lebih baik sekarang kita ke dokter saja, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu” ucap David seraya menyalakan mesin mobilnya.

“Tidak perlu Dav” ucap Nela.

“Tapi aku tak ingin terjadi sesuatu pada mu” ucap David.

“Kau tak perlu mengkhawatirkan ku Dav, karena aku akan baik-baik saja” ucap Nela seraya tersenyum.

“Ya sudah, sekarang kita pulang saja. Karena kau harus istirahat, agar kesehatan mu segera pulih kembali” ucap David.

Dan mereka pun segera pergi meninggalkan taman itu.

“Maafkan aku Dav, aku harus berbohong padamu. Karena tidak mungkin jika aku mengatakan kalau aku sedang mengkhawatirkan Hayden. Dan terima kasih atas perhatian mu padaku, kau sudah begitu baik padaku Dav” ucap Nela dalam hati seraya memperhatikan David yang sedang berfokus menyetir mobilnya.

“Kenapa kau memperhatikan ku?” Ucap David seraya menyetir mobilnya dan sesekali menoleh ke arah Nela.

“Tidak apa-apa Dav. Aku senang bisa mengenal mu, karena aku sangat baik padaku” ucap Nela.

“Kau bisa saja” ucap David seraya tersenyum malu.

Nela pun hanya tersenyum.

“Ternyata kau juga begitu tampan Dav. Dan kau juga sangat baik” ucap Nela dalam hati.


30 menit kemudian mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Kau masuk dulu ya Dav” ucap Nela.

David pun menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera keluar dari mobilnya David.

“Ayo silahkan masuk Dav” ucap Nela.

David dan Nela pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan mereka berjalan menuju ruang tamu.

“Hey! Kalian sudah pulang” ucap Brian.

“Kenapa cepat sekali jalan-jalannya?” Ucap Nicky.

“Tadi Nela tiba-tiba merasa kurang sehat, jadi aku memutuskan untuk pulang” ucap David.

“My babe! What happens?” Ucap Andrew yang segera menghampiri Nela.

“Apa? Kau sedang sakit sayang?” Ucap Shane yang juga menghampiri Nela.

“Ya, aku merasa sedikit kurang sehat” ucap Nela seraya tersenyum.

“Sebaiknya sekarang kau cepat istirahat my babe!” Ucap Andrew.

“Ya, Andrew benar sayang kau harus segera istirahat” ucap Shane.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Aku akan segera menghubungi dokter” ucap Nicky yang segera mengambil ponselnya dari saku celananya.

“Tidak perlu Nick!” Ucap Nela.

“Memangnya kenapa?” Ucap Nicky.

“Tidak apa-apa, aku hanya perlu istirahat saja Nick” ucap Nela.

“Ya sudah kalau seperti itu” ucap Nicky.

“Ya sudah, semuanya aku pulang dulu ya” ucap David.

“Iya Dav, terima kasih untuk hari ini. Maaf, jalan-jalan kita jadi terganggu karena aku kurang sehat” ucap Nela.

“Tidak apa-apa, yang terpenting adalah kesehatan mu. Karena aku tak ingin kau kenapa-kenapa” ucap David.

“So Sweet!” Ucap Brian.

Mereka pun hanya tertawa.

“Ya sudah, kau hati-hati ya Dav. Sekali lagi terima kasih untuk hari ini” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya sama-sama. Aku juga berterima kasih pada mu karena kau telah menemani ku untuk jalan-jalan” ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.