“Ayo kita pergi dari sini!” ucap Hayden pelan.
Hayden dan Gustin pun segera pergi meninggalkan Roland.
“Syukurlah, kita berhasil melarikan diri dari Roland.” ucap Gustin.
“Ya, tapi kita tetap harus berhati-hati.” ucap Hayden.
“Lalu sekarang kita mau kemana?” ucap Gustin.
“Aku ingin kerumah Nela saja.” ucap Hayden.
“Nela? Siapa dia? Apa dia adalah kekasih baru mu?” ucap Gustin.
“Bukan, dia adalah teman kampusku.” ucap Hayden.
“Teman? Aku tidak yakin kalau dia hanyalah teman bagimu.” ucap Gustin.
“Ya, dia hanyalah temanku.” ucap Hayden.
“Sudahlah Hayden, jujur saja kepadaku. Aku tahu kalau kau mencintai wanita itu kan?” ucap Gustin.
Hayden pun hanya terdiam.
“Hayden, kau tak perlu berbohong kepadaku. Aku senang jika kau mencintai wanita itu, karena itu artinya kau sudah bisa melepaskan Rachel.” ucap Gustin.
“Ya, aku memang mencintai Nela. Tapi...” ucap Hayden yang tiba-tiba memotong ucapannya.
“Tapi apa?” ucap Gustin.
“Tapi dia sudah mempunyai seorang kekasih. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kekasihnya itu adalah seorang Vampire.” ucap Hayden.
“Apa? Seorang Vampire?” ucap Gustin yang terlihat begitu terkejut.
“Ya, awalnya aku juga tidak percaya sampai aku melihatnya dengan mataku sendiri.” ucap Hayden.
“Seperti dicerita dan difilm-film saja, seorang manusia berpacaran dengan seorang Vampire? Sungguh tidak bisa kubayangkan.” ucap Gustin.
“Ya, tapi sekarang Vampire itu sedang pergi.” ucap Hayden.
“Sedang pergi? Itu artinya kau mempunyai kesempatan untuk mendekatinya!” ucap Gustin.
“Tidak semudah itu Gustin. Karena selama kekasihnya pergi, ada seorang Vampire yang selalu menjaga dan melindunginya. Dan Vampire itu adalah Robert, teman dari kekasihnya.” ucap Hayden.
“Lalu kau ingin menyerah begitu saja untuk dapat memiliki wanita itu? Jika iya, maka itu artinya kau harus siap kehilangan wanita yang kau cinta untuk kedua kalinya!” ucap Gustin.
“Tentu saja tidak! Aku akan terus berusaha sampai aku dapat memilikinya! Karena aku tak ingin kehilangan wanita yang kucinta untuk kedua kalinya!” ucap Hayden.
“Good! Itu baru Hayden yang kukenal!” ucap Gustin seraya menepuk pundaknya Hayden pelan.
“Ya sudah, ayo kita segera kerumahnya Nela!” ucap Hayden.
Mereka pun segera pergi kerumahnya Nela. Dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela.
“Akhirnya kita sampai juga dirumahnya Nela.” ucap Hayden.
“Ini rumahnya? Lalu sekarang ia ada dimana?” ucap Gustin.
“Ayo kita masuk, tapi kita langsung kekamarnya saja karena sepertinya ia sedang ada dikamarnya.” ucap Hayden.
“Kekamarnya? Lewat mana?” ucap Gustin.
“Gustin, apa kau lupa kalau kita adalah seorang Jumper?” ucap Hayden.
Gustin pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera menuju kekamarnya Nela.
Lalu mereka pun sampai dikamarnya Nela.
“Itu dia wanita yang bernama Nela!” ucap Hayden seraya menunjuk ke arah Nela yang sedang melamunkan sesuatu.
Hayden dan Gustin pun segera berjalan menghampiri Nela.
“Hey!” Ucap Hayden seraya menepuk pundaknya Nela pelan.
Nela pun sedikit terkejut.
“Hey, Hayden.” ucap Nela.
“Ini siapa?” Ucap Nela seraya menunjuk ke arah Gustin yang berdiri disebelahnya Hayden.
“Oh ya, ini adalah sahabatku namanya Gustin.” ucap Hayden.
“Oh, Gustin yang kemarin kau ceritakan padaku?” ucap Nela.
“Ya.” ucap Hayden.
“Hey! Namaku Gustin.” ucap Gustin seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Namaku Nela” ucap Nela seraya berjabat tangan dengan Gustin.
“Senang dapat bertemu denganmu. Dan ternyata Hayden benar, kau memang cantik.” ucap Gustin seraya tersenyum.
Nela pun hanya tersenyum, namun Hayden hanya terdiam seperti sedang cemburu.
“Kau disini tinggal bersama dengan siapa?” ucap Gustin.
“Aku disini tinggal bersama dengan dua orang kakakku yaitu Andrew dan Shane.” ucap Nela.
“Lalu sekarang mereka kemana?” ucap Gustin.
“Mereka sedang mengobrol diruang tamu.” ucap Nela.
“Sudahlah Gustin, kau tidak perlu banyak tanya.” ucap Hayden.
“Kau tenang saja Hayden, aku tidak akan menjadi pesaingmu.” ucap Gustin.
“Oh ya, kalian mau minum apa?” ucap Nela.
“Tidak perlu, kami tidak ingin merepotkanmu.” ucap Hayden.
“Tidak apa-apa, kalian tidak akan merepotkanku.” ucap Nela.
“Tidak perlu Nela, karena kami tidak haus.” ucap Gustin.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Katanya Hayden, kemarin kau dikejar-kejar oleh Roland?” ucap Nela kepada Gustin.
“Ya, tapi untungnya aku bisa melarikan diri darinya.” ucap Gustin.
“Roland benar-benar keterlaluan, kenapa dia masih mengejar-ngejar kalian?” ucap Nela.
“Entahlah, tadi saja ia mengejarku sampai apartementnya Hayden. Dan hampir saja kami tertangkap olehnya.” ucap Gustin.
“Tapi kalian tidak apa-apa kan?” ucap Nela.
“Ya, kami tidak apa-apa. Karena kami bisa melarikan diri darinya.” ucap Gustin.
“Syukurlah kalau begitu.” ucap Nela.
“Ya sudah, lebih baik sekarang kita pergi dari sini.” ucap Hayden.
“Kenapa terburu-buru sekali Hayden?” ucap Nela.
“Aku takut kalau Roland mengikuti kami dan dia tahu kalau kita ada dirumah mu.” ucap Hayden.
“Tapi sepertinya dia tidak mengikuti kita.” ucap Gustin.
“Sudahlah Gustin, ayo kita pergi dari sini sebelum Roland mengetahui kalau kita ada disini.” ucap Hayden.
“Ya sudah, Nela kami pergi dulu ya. Sekali lagi, aku senang dapat bertemu denganmu.” ucap Gustin.
“Iya Gustin, aku juga senang dapat bertemu denganmu.” ucap Nela.
“Nela, kami pergi dulu ya. Maaf kami terburu-buru, karena kami sedang dikejar oleh Roland.” ucap Hayden.
“Iya Hayden, kalian hati-hati ya. Jika terjadi sesuatu cepat beritahu aku! Dan jaga diri kalian baik-baik, jangan sampai tertangkap oleh Roland!” ucap Nela.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.
“Hayden, kau cemburu padaku ya?” ucap Gustin.
“Tidak!” ucap Hayden.
“Sudahlah, jujur saja jika kau cemburu padaku.” ucap Gustin.
“Ya, aku cemburu karena kau terlihat ingin dekat pada Nela!” ucap Hayden.
“Lalu oleh karena itu kau mengajakku untuk segera pergi dengan alasan takut Roland mengejar kita sampai rumahnya Nela?” ucap Gustin.
“Ya!” ucap Hayden dengan singkat, seperti enggan untuk menjawab pertanyaannya Gustin.
“Baiklah, maafkan aku jika sikapku tadi membuatmu cemburu padaku.” ucap Gustin.
Hayden pun hanya terdiam.
“Dan kau tenang saja, aku tidak akan mengambil dia darimu.” ucap Gustin.
Beberapa minggu kemudian...
Musim dingin pun telah berakhir.
“Tak terasa musim dingin telah berakhir. Tapi Mark belum juga kembali...” ucap Nela.
“Mark, dimana kau? Cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu.” ucap Nela seraya melihat kearah luar jendela kamarnya.
Dan tiba-tiba Robert pun datang.
“Hey!” ucap Robert.
“Hey Robert.” ucap Nela.
“Kupikir kau sudah tidur.” ucap Robert seraya duduk disebelahnya Nela.
“Belum.” ucap Nela.
“Oh ya, maaf ya beberapa hari aku tidak datang kesini soalnya aku ada urusan mendadak.” ucap Robert.
“Ya, tidak apa-apa Robert.” ucap Nela.
“Tapi kau baik-baik saja kan? Roland tidak melukaimu sedikitpun kan?” ucap Robert.
“Ya, aku baik-baik saja. Roland tidak melukaiku sedikit pun.” ucap Nela.
“Syukurlah. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Roland melukaimu sedikit pun!” ucap Robert.
“Kau tenang saja aku akan baik-baik saja.” ucap Nela.
“Tapi aku tetap tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau terluka sedikit pun!” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum seraya berjalan menuju jendela kamarnya.
“Robert...” ucap Nela.
“Ya, ada apa?” ucap Robert.
“Apa kau belum mendapat kabar dari Mark?” ucap Nela.
“Belum.” ucap Robert.
“Lalu bagaimana dengan Kian, apa dia juga belum mendapat kabar dari Mark?” ucap Nela.
“Ya, sama dengan Kian. Dia juga belum mendapat kabar dari Mark.” ucap Robert.
Nela pun hanya menarik nafas panjang. Robert pun segera menghampiri Nela dan berdiri disebelahnya.
“Kenapa? Kau sangat merindukannya ya?” ucap Robert.
“Ya, aku sangat merindukannya.” ucap Nela.
“Dan sama halnya dengan Mark, ia juga sangat merindukanmu. Tapi kau tenang saja, setelah dia berhasil bertemu dan membunuh Vampire itu, maka ia akan segera kembali untukmu.” ucap Robert.
“Aku juga berharap seperti itu.” ucap Nela.
Robert pun hanya tersenyum.
“Oh ya, Robert apa kau bisa membaca pikiran seseorang?” ucap Nela.
“Ya, tentu saja bisa.” ucap Robert.
“Kalau seperti itu, coba kau tebak apa yang sekarang sedang aku pikirkan?” ucap Nela.
Robert pun segera menatap Nela seperti sedang membaca pikirannya.
Beberapa menit kemudian...
“Bagaimana?” ucap Nela.
“Tidak ada apa-apa. Pikiranmu begitu kosong.” ucap Robert.
“Apa? Mungkin kau salah lihat.” ucap Nela.
“Aku tidak salah lihat. Pikiranmu memang benar-benar kosong.” ucap Robert.
“Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya Nela? Apa aku... Ahh! Tidak! Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya!” ucap Robert dalam hati.
“Kenapa kau tidak bisa membaca pikiranku?” ucap Nela.
“Entahlah. Mungkin itu karena di pikiranmu hanya ada Mark.” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum malu. Dan Robert pun hanya tersenyum.
“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur karena sekarang sudah hampir larut malam.” ucap Robert.
“Ya baiklah.” ucap Nela yang segera berjalan menuju tempat tidurnya.
Nela pun segera menaiki tempat tidurnya, dan merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.
“Good night Robert.” ucap Nela.
“Good night Nela and have a nice dream. Aku akan tetap berada disini untuk menjaga dan menemani tidurmu.” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum seraya memejamkan matanya. Dan perlahan Robert pun berjalan menghampiri Nela, dan duduk ditepi tempat tidurnya.
“Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya? Bukankah aku hanya tidak bisa membaca pikiran seorang wanita yang aku cinta?” ucap Robert pelan.
“Apa aku jatuh cinta padanya? Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya! Dan aku tidak boleh merebut Nela dari Mark!” ucap Robert.
“Tapi entah mengapa aku merasa nyaman saat berada didekatnya.” ucap Robert.
“Mark, maafkan aku karena aku telah jatuh cinta pada Nela. Tapi aku berjanji aku tidak akan merebutnya darimu.” ucap Robert.
----------------
Seperti biasa Nela sedang melamun seraya memikirkan Mark yang belum juga kembali. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.
“Siapa?” ucap Nela.
“Ini aku sayang.” ucap seseorang dari luar kamarnya Nela.
“Masuk saja Shane, pintunya tidak ku kunci.” ucap Nela.
Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya Nela itu adalah Shane.
Shane pun segera membuka pintu kamarnya Nela, dan berjalan menghampiri Nela.
“Kau sedang apa sayang?” ucap Shane seraya duduk disampingnya Nela.
Nela pun hanya menggelengkan kepalanya.
“What happens sayang?” ucap Shane.
“I'm just so bored Shane.” ucap Nela.
“Why?” ucap Shane.
“I don't know Shane.” ucap Nela.
Shane pun segera merangkul pundaknya Nela.
“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan agar kau tidak bosan lagi?” ucap Shane.
“Aku sedang tidak ingin pergi jalan-jalan Shane.” ucap Nela.
“Bermain game bersama?” ucap Shane.
Nela pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Shane pun hanya terdiam seperti sedang berpikir.
Lalu beberapa saat kemudian...
“Bagaimana kalau kita bernyanyi bersama?” ucap Shane.
“Good idea Shane! Come on we're singing together!” ucap Nela yang terlihat begitu bersemangat.
“Come on my honey!” ucap Shane.
Nela dan Shane pun segera berjalan menuju keruang keluarga untuk bernyanyi bersama. Dan tak lama mereka pun sampai diruang keluarga.
“Kau tunggu disini ya, aku akan mengambil gitar dulu.” ucap Shane seraya beranjak pergi untuk mengambil gitar.
Dan tak lama Shane pun kembali dengan membawa sebuah gitar ditangannya. Lalu Shane pun segera duduk disebelahnya Nela.
“Kau ingin menyanyikan lagu apa sayang?” ucap Shane.
“What Makes A Man.” ucap Nela.
“What? That is sad song honey.” ucap Shane yang sedikit terkejut ketika mendengar sebuah judul lagu yang ingin mereka nyanyikan.
“Ya, I know that Shane.” ucap Nela.
“Hehm, ya sudah.” ucap Shane seraya mulai memetik gitarnya.
“Ohhh... Uhhhh... Yeaahhh... This isn't goodbye. Even as I watch you leave, this isn't goodbye... I swear I won't cry, even as tears fill my eyes. I swear I won't cry... Any other girl I'd let you walk away. Any other girl I'm sure I'd be okay...” Nela dan Shane pun bernyanyi bersama.
“Lalu kau ingin menyanyikan lagu apa lagi sayang?” ucap Shane.
“Hehm... Terserah kau saja Shane.” ucap Nela.
“Bagaimana kalau lagi I Wanna Grow Old With You?” ucap Shane.
“Ya, I'm agree with you my bro.” ucap Nela.
“Ok. This song is special for you my honey. You're my little sister. I love you so much my honey!” ucap Shane seraya kembali memetik gitarnya.
“Another day without your smile. Another day just passed by. But now I know how much it means, For you to stay right here with me. The time we spent apart, will make our love grow stronger. But it hurts so bad I can't take it any longer. I wanna grow old with you, I wanna die lying in your arms. I wanna grow old with you, I wanna be looking in your eyes. I wanna be there for you, sharing everything you do. I wanna grow old with you..” Shane bernyanyi seraya menatap matanya Nela dengan begitu lekat.
“I love you forever my honey.” ucap Shane.
“I love you forever my bro. But I think that song not for me, but for you love that is Gillian.” ucap Nela.
“Ya, I know that honey. But that song for you too, because you're my little sister. And you're very important for me!” ucap Shane.
Nela pun hanya tersenyum. Dan Shane pun segera memeluk Nela.
“Thanks for all my honey. I can't life without you. And forever I want always together with you.” ucap Shane.
“Please, don't leave me my honey. I gotta be where you are, right where you are. I don’t wanna face this world alone, without you by my side. You’re the only one that makes it feel like home, and i need you in my life. When you’re not around, I’m feeling like a piece of me is missing.” ucap Shane yang masih memeluk Nela.
Nela pun meneteskan air mata, dia begitu terharu mendengar apa saja yang baru diucapkan oleh Shane. Dan sekarang dia sadar, kalau Shane benar-benar sangat menyayanginya.
Nela pun memeluk Shane dengan begitu erat.
“I love you forever Shane. I promise, I'm never leave you. I'll always in here together with you! You're was important for me too. You're the best brother for me. I'm so lucky have brother like you Shane.” ucap Nela disela tangisannya.
Dan tak lama Andrew pun datang. Andrew pun melihat Nela menangis didalam pelukannya Shane.
“Shane! What you doing with my babe? You make my babe crying?” pekik Andrew.
Shane pun segera melepaskan pelukannya.
“Aku tidak membuatnya menangis Andrew.” ucap Shane.
“Tapi dia menangis didalam pelukanmu Shane! Dan itu pasti karena mu!” ucap Andrew.
“Shane benar Andrew, dia tidak membuatku menangis. Aku hanya terharu setelah apa yang diucapkan oleh Shane.” ucap Nela seraya mengusap pipinya yang basah dengan air matanya.
“Benarkah?” ucap Andrew.
“Ya Andrew.” ucap Nela.
“Syukurlah kalau seperti itu. Memangnya kalian sedang apa?” ucap Andrew.
“Kami sedang bernyanyi bersama.” ucap Nela.
“It's very cool! Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” ucap Andrew.
“Ya, tentu saja boleh Andrew.” ucap Shane.
“Oh, thank you my bro!” ucap Andrew.
“Oh ya, kalian ingin minum apa? Aku ingin membuat minuman.” ucap Nela.
“Aku orange juice saja sayang.” ucap Shane.
“Ya my babe, aku juga orange juice.” ucap Andrew.
“Baiklah kalian tunggu disini ya, aku akan membuatkan minuman untuk kalian.” ucap Nela.
Nela pun berjalan menuju dapur untuk membuat minuman. Sementara Andrew dan Shane menunggu diruang keluarga seraya mengobrol bersama.
“Tidak bisa kubayangkan jika nanti aku sudah menikah dengan Gillian, pasti aku tidak akan punya banyak waktu untuk Nela seperti sekarang.” ucap Shane.
“Ya, itu adalah resiko yang harus kau terima Shane. Maka dari itu sekarang aku lebih memilih untuk tidak berpacaran dulu agar aku mempunyai banyak waktu untuk bersama dengan Nela.” ucap Andrew.
Shane pun hanya menarik nafas panjang. Dan tak lama Nela pun kembali dengan membawa 3 gelas orange juice.
“Ini Shane orang juicemu.” ucap Nela seraya menyodorkan segelas orange juice kepada Shane.
“Thank you my honey.” ucap Shane.
“Dan ini orange juice untukmu Andrew.” ucap Nela seraya menyodorkan segelas orange juice kepada Andrew.
“Oh, thank you my babe.” ucap Andrew.
Dan Nela pun segera duduk disebelahnya Andrew dan Shane.
Sementara Hayden sedang melamunkan sesuatu dibalkon apartementnya.
“Aku lelah terus-menerus dikejar-kejar oleh Roland. Tapi aku hanya dua pilihan, yaitu menyerahkan diri kepada Roland atau aku akan kehilangan wanita yang aku cinta untuk yang kedua kalinya...” ucap Hayden.
“Tapi tetap saja dua pilihan itu, sama-sama membuatku sulit untuk bersama dengan Nela! Dan dua pilihan itu sama-sama membuatku kehilangan wanita yang aku cinta untuk yang kedua kalinya!” ucap Hayden.
“Roland! Andai saja aku bisa membunuhmu!” ucap Hayden seraya mengepalkan tangannya.
Dan tiba-tiba Gustin pun datang.
“Hayden!” ucap Gustin dengan tergesa-gesa.
“Gustin! Kau ini selalu saja membuatku terkejut!” pekik Hayden.
“Maafkan aku Hayden. Tadi aku dikejar-kejar oleh pemburu Jumper yang lain!” ucap Gustin dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Apa? Pemburu Jumper yang lain?” ucap Hayden yang sedikit terkejut.
“Iya.” ucap Gustin.
“Bagaimana bisa mereka mengikutimu?” ucap Hayden.
“Entahlah, tapi untuk sementara kita aman karena aku sudah menyesatkan mereka ke Forks.” ucap Gustin.
“Apa? Kau menyesatkan mereka ke Forks? Itu kan kotanya para Vampire & Werewolf!” ucap Hayden.
“Ya aku tahu hal ini. Dan aku memang sengaja menyesatkan mereka ke Forks, agar mereka dimakan oleh para Werewolf yang ada disana!” ucap Gustin.
“Ya, terserah kau saja Gustin yang penting kita aman dari para pemburu Jumper itu.” ucap Hayden.
“Ya, tapi tetap saja kita tidak aman dari Roland.” ucap Gustin.
“Roland adalah seorang Pemburu Jumper yang terlalu pintar. Dia sudah banyak membunuh para Jumper yang ada didunia ini. Dan dia selalu tahu dimana saja kita berada.” ucap Hayden.
“Aku lelah terus-menerus harus melarikan diri dari Roland. Tapi jika aku menyerahkan diri kepada Roland, maka aku adalah seseorang yang sangat bodoh!” ucap Gustin.
“Gustin, kita tidak boleh menyerahkan diri kepada Roland atau kepada pemburu Jumper yang lain!” ucap Hayden.
“Ya, kau benar Hayden!” ucap Gustin.
“Ya sudah, aku harus pergi dulu!” ucap Hayden.
“Kau ingin pergi kemana?” ucap Gustin.
“Jika aku memberi tahu kalau aku ingin kerumahnya Nela, pasti Gustin akan ikut bersama denganku.” ucap Hayden.
“Hey! Hayden, kau ingin pergi kemana?” ucap Gustin.
“Ada urusan yang harus aku selesaikan!” ucap Hayden yang pergi meninggalkan Gustin.
Dan setelah sampai dirumahnya Nela, seperti biasa Hayden segera masuk kedalam kamarnya Nela.
“Hey!” ucap Hayden seraya duduk disebelahnya Nela.
Nela pun hanya tersenyum seraya menoleh ke arahnya Hayden.
“Kau sedang apa?” ucap Hayden.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang aku sedang tidak melakukan apapun.” ucap Nela.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ponselnya Nela berdering. Dengan cepat Nela pun segera mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas meja dekat tempat tidurnya.
“Siapa?” ucap Hayden.
“Telepon dari David.” ucap Nela seraya kelayar ponselnya.
“Ada perlu apa David menghubungi Nela?” ucap Hayden dalam hati.
“Sebentar ya, aku angkat telepon dari David dulu.” ucap Nela.
“Ya baiklah.” ucap Hayden.
Dan Nela pun segera mengangkat telepon dari David.
~~~~~~~~~~~~~~~
“Ya, Hallo Dav.” ucap Nela.
“Hallo, kau sedang apa? Apa aku menganggu waktumu?” ucap David.
“Tidak. Ada perlu apa Dav?”
“Apa kau masih ingat kalau aku mempunyai janji kepadamu?”
“Janji? Janji apa Dav?”
“Aku pernah berjanji kalau aku akan mengajakmu untuk berburu Werewolf bersama denganku. Apa kau masih ingat?
“Oh, ya tentu saja aku masih ingat Dav. Lalu?”
“Ya, dan sepertinya nanti malam adalah waktu yang tepat untuk berburu Werewolf.”
“Apa Dav? Nanti malam kita berburu Werewolf?”
“Ya, bagaimana apa kau mau?”
“Ya aku mau, dan tentu saja itu ide yang bagus Dav!”
“Baiklah, nanti malam aku akan menjemputmu.”
“Ya, baiklah Dav! Sampai ketemu nanti malam ya!” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.
~~~~~~~~~~~
Hayden pun begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nela.
“Apa? Nanti malam Nela ingin berburu Werewolf bersama dengan David? Kalau seperti itu, aku juga harus ikut! Karena aku tidak akan membiarkan David pergi berdua dengan Nela!” ucap Hayden dalam hati.
“Nanti malam kalian ingin pergi berburu Werewolf?” ucap Hayden.
“Ya, David mengajakku untuk berburu Werewolf.” ucap Nela.
“Apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian?” ucap Hayden.
“Ya, tentu saja boleh Hayden.” ucap Nela.
“Benarkah?” ucap Hayden.
“Ya, tapi...” ucap Nela yang sengaja memotong ucapannya.
“Tapi apa?” ucap Hayden.
“Tapi aku bingung mau bilang apa kepada Shane. Karena jika aku bilang ingin pergi berburu Werewolf, maka dia tidak akan mengizinkannya.” ucap Nela.
“Kau tenang saja. Kau tidak perlu izin kepada Shane.” ucap Hayden.
“Lalu? Bagaimana kalau nanti David datang? Karena nanti malam ia akan menjemputku.” ucap Nela.
“Sebentar, biar aku hubungi David.” ucap Hayden seraya mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
“Boleh aku pinjam ponselmu untuk menghubungi David? Karena jika aku yang menghubunginya, maka dia tidak akan mengangkat teleponnya.” ucap Hayden.
“Ini, silahkan.” ucap Nela seraya memberikan ponselnya kepada Hayden.
Lalu Hayden pun segera menghubungi David dengan memakai ponselnya Nela.
Dan dengan cepat David mengangkat teleponnya.
~~~~~~~~~~~
“Hallo, ada apa Nela?” ucap David.
“Ini aku Hayden!” ucap Hayden.
“Apa? Kenapa ponselnya Nela bisa ada ditanganmu?” ucap David yang begitu terkejut ketika mendengar suara Hayden.
“Ya, sekarang aku sedang berada dirumahnya Nela. Jadi aku meminjam ponselnya sebentar untuk menghubungimu.” ucap Hayden.
“Ada apa kau menghubungiku?” ucap David.
“Aku dengar nanti malam kau ingin berburu Werewolf bersama dengan Nela.” ucap Hayden.
“Ya, lalu?” ucap David.
“Apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian?” ucap Hayden.
“Hayden pasti tidak ingin aku pergi berdua dengan Nela. Maka dari itu ia ingin ikut untuk berburu Werewolf nanti malam.” ucap David dalam hati.
“Bagaimana Dav?” ucap Hayden.
“Ya, kau boleh ikut bersama dengan kami.” ucap David.
“Terima kasih Dav. Tapi sebaiknya nanti malam kau jangan menjemput Nela.” ucap Hayden.
“Kenapa kau melarangku untuk menjemput Nela? Oh, itu pasti karena kau ingin menjemputnya juga kan!” ucap David.
“Bukan seperti itu Dav. Tapi Nela tidak punya alasan untuk meminta izin kepada Shane, dan tidak mungkin jika ia bilang kalau ia ingin pergi berburu Werewolf. Karena Shane tidak akan pernah mengizinkannya.” ucap Hayden.
“Ya, kau benar juga. Lalu bagaimana?” ucap David.
“Bagaimana kalau nanti malam aku dan Nela yang akan menjemputmu. Lalu kita baru pergi kehutan itu.” ucap Hayden.
“Lalu bagaimana dengan Nela? Siapa yang akan menjemputnya?” ucap David.
“Kau tenang saja, aku yang akan menjemput Nela. Dan kau tak perlu memikirkan bagaimana caranya.” ucap Hayden.
“Ya ya, aku tahu kalau kau adalah seorang Jumper!” ucap David.
“Ya. Bagaimana apa kau setuju dengan ideku?” ucap Hayden.
“Ya, aku setuju dengan idemu.” ucap David.
“Ya sudah, nanti malam pukul 21.00 aku dan Nela akan datang kerumah mu!” ucap Hayden.
“Ya baiklah.” ucap David mengakhiri pembicaraan ditelepon.
~~~~~~~~~~~~~
Hayden pun segera mengembalikan ponselnya Nela.
“Bagaimana?” ucap Nela.
“Tenang saja, semuanya sudah ku atur. Jadi nanti malam aku akan menjemputmu, dan kita langsung kerumahnya David. Lalu setelah kita baru pergi kehutan itu.” ucap Hayden.
“Ya, baiklah kalau seperti itu.” ucap Nela.
“Ya sudah, sekarang aku pergi dulu ya. Sampai ketemu nanti malam!” ucap Hayden seraya tersenyum.
“Ya.” ucap Nela seraya membalas senyumannya Hayden.
Dan Hayden pun segera beranjak pergi dari kamarnya Nela.
“Semoga saja nanti malam Robert tidak datang.” ucap Nela.
Tiba-tiba ponselnya Nela pun berbunyi, dan ia pun segera melihat kelayar ponselnya.
“Gillian? Ada apa dia menelponku?” ucap Nela ketika melihat ada satu panggilan dari Gillian.
Dengan cepat ia pun segera mengangkat teleponnya.
~~~~~~~~~~~~~~
“Ya, Hallo Gill.” ucap Nela.
“Hi! Bagaimana kabarmu adikku?” ucap Gillian.
“Kabarku baik. Ada perlu apa Gill? Apakah ponselnya Shane sedang tidak aktif?” ucap Nela.
“Oh, tidak! Aku menelponmu bukan untuk menanyakan tentang Shane.” ucap Gillian.
“Lalu?” ucap Nela.
“Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Apakah aku menganggumu?” ucap Gillian.
“Tentu saja tidak Gill.” ucap Nela.
“Oh, baiklah. Bagaimana dengan liburan musim dinginmu?” ucap Gillian.
“Semuanya berjalan dengan cukup baik. Kau sendiri bagaimana hubunganmu dengan kakakku? Aku dengar kalian sudah berencana untuk menikah.” ucap Nela.
“Ya, kami memang sudah merencanakan hal itu. Tapi kami belum menentukan tanggalnya.” ucap Gillian.
“Kenapa seperti itu?” ucap Nela.
“Kami tidak ingin terlalu terburu-buru. Karena sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru tidak akan berjalan dengan baik.” ucap Gillian.
“Ya, kau benar juga.” ucap Nela.
~~~~~~~~~~~~~~~
Mereka pun terus mengobrol.
Dan tak terasa malam pun sudah datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.50.
Nela sudah rapi, kini ia sedang menunggu kedatangannya Hayden.
Dan tak lama Hayden pun datang.
“Hey! Maaf ya, aku datangnya telat. Kau pasti sudah terlalu lama menungguku ya?” ucap Hayden.
“Ya, tidak apa-apa Hayden.” ucap Nela seraya tersenyum.
“Apakah kau sudah siap?” ucap Hayden.
“Ya.” ucap Nela.
“Kalau seperti itu, ayo sekarang kita segera pergi kerumahnya David.” ucap Hayden.
Baru saja mereka ingin beranjak pergi, namun tiba-tiba terdengan suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar