Rabu, 21 Januari 2015

My Love is Vampire - Chapter VI

Ini next nya ya ;)
Enjoy read this guys...


========================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================












“Ya, tentu saja dia bisa melakukan hal itu karena dia adalah seorang Jumper. Dan dia memiliki kekuatan Teleportation. Karena hal itu lah dia bisa pergi kemana saja sesuka hatinya, dan bahkan dia juga dapat keliling dunia dengan waktu yang begitu cepat dan tanpa harus mengeluarkan biaya sedikitpun” ucap David.
“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud Dav” ucap Nela.
“Kau tidak akan pernah mengerti, sebelum kau melihatnya sendiri Nela” ucap David.
“Lalu bagaimana kau bisa tahu tentang hal ini? Apakah Hayden yang memberi tahu mu?” Ucap Nela.
“Waktu itu saat dia masih tinggal dirumah ku, aku tak sengaja lewat depan kamarnya dan aku melihat dia dapat menembus dinding. Saat itu aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Dan aku segera menghampiri Hayden dikamarnya, aku pun menanyakan tentang hal itu kepadanya tapi dia tidak mau jujur pada ku. Hingga aku terus memaksanya untuk mengatakan hal sebenarnya, dan akhirnya dia mau memberi tahu ku tentang siapa dirinya yang sebenarnya” ucap David.
“Aku masih tak percaya dengan apa yang kau ceritakan Dav. Itu begitu sulit untuk dipercaya” ucap Nela.
“Ya, memang hal itu begitu sulit untuk dipercaya dan memang tidak masuk akal. Awalnya pun aku juga berpikir itu adalah hal yang tidak mungkin bisa terjadi, tapi itu lah kenyataan yang aku lihat. Apa kau tahu kenapa Hayden pindah ke Ireland?” Ucap David.
“Karena ada masalah di Canada, jadi dia memutuskan untuk pindah dan tinggal disini” ucap Nela.
“Lalu apa kau tahu apa masalah itu?” Ucap David.
“Tidak, memangnya apa?” ucap Nela.
“Dia pindah ke Ireland, karena dia dikejar-kejar oleh pemburu Jumper yang bernama Roland” ucap David.
“Apa pemburu? Seorang Jumper seperti Hayden mempunyai seorang pemburu? Aku pikir hanya Vampire, Dracula, dan Werewolf yang saja yang mempunyai Hunter. Tapi ternyata seorang Jumper seperti Hayden juga mempunyai Hunter” ucap Nela.
“Ya, aku juga berpikir seperti itu” ucap David.
“Apakah seorang Jumper seperti Hayden berbahaya? Sampai ada pemburu yang mengejar-ngejarnya” ucap Nela.
“Menurut ku tidak, tapi entahlah kepada para pemburu Jumper itu mengejar-ngejar Hayden dan ingin membunuhnya” ucap David.
“Apa? Mereka ingin membunuh Hayden?” Ucap Nela yang begitu terkejut.
“Ya, Hayden sendiri yang mengatakan hal itu kepada ku. Selama ia tinggal di Canada, Roland selalu mengejar-ngejar dan mencoba untuk membunuhnya. Tetapi hal itu tidak pernah berhasil, hingga akhirnya Roland membunuh Rachel kekasinya Hayden” ucap Nela.
“Kenapa dia membunuh Rachel?” Ucap Nela.
“Karena Roland selalu gagal untuk membunuh Hayden. Jika seorang pemburu Jumper tidak pernah berhasil membunuh seorang Jumper yang menjadi incarannya, maka pemburu Jumper itu akan membunuh orang-orang yang mereka sayangi. Terutama kekasih atau wanita yang sangat dekat dengan Jumper tersebut” ucap David.
Nela pun hanya terdiam seakan tidak percaya jika Hayden mempunyai seorang pemburu yang selalu mencoba untuk membunuhnya.
“Dan hal yang paling aku takutkan adalah jika Roland mengikuti Hayden sampai kesini. Maka dia akan membunuh mu seperti dia membunuh Rachel, karena kau adalah wanita yang sangat dekat dengannya. Dan oleh karena itu, aku mohon padamu mulai sekarang jauhilah Hayden, agar Roland tidak membunuh mu dan dirimu akan aman dari Roland” ucap David.
“Aku tidak akan pernah menjauhi Hayden! Dan Roland tidak akan pernah bisa membunuh ku atau melukai ku sedikit pun” ucap Nela.
“Nela, aku mohon tolong kau jauhi Hayden agar dirimu aman. Karena Roland bisa datang kapan saja, dan dia bisa membunuh mu seperti dia membunuh Rachel kekasihnya Hayden” ucap Nela.
“Dav, sudah ku bilang aku tidak akan pernah menjauhi Hayden! Dan aku tidak takut pada Roland!” Ucap Nela.
“Lalu bagaimana jika Roland membunuh mu atau melukai mu?” Ucap David.
“Hal itu tidak akan pernah terjadi Dav! Dan Roland tidak akan pernah bisa membunuh Hayden atau melukainya sedikit pun!” Ucap Nela.
“Tapi jika kau tidak menjauhi Hayden, maka kau berada dalam bahaya” ucap David.
“Aku tidak pernah mempedulikan hal itu” ucap Nela seraya beranjak pergi meninggalkan David.
“Sungguh menyebalkan! Ternyata Nela tidak ingin menjauhi Hayden. Apa karena dia mencintai Hayden? Jadi dia tidak ingin menjauhinya” ucap David.
“Aku tidak akan pernah takut dengan ancaman itu, dan aku tidak akan membiarkan Roland membunuh Hayden atau melukainya sedikit pun” ucap Nela seraya berjalan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, dia pun segera mengambil ponselnya didalam saku bajunya. Dan ternyata itu telepon dari Andrew.
Dia pun segera mengangkatnya.
•••••••••••
“Hallo ada apa Andrew?” Ucap Nela memulai pembicaraan ditelepon.
“Kau sedang dimana?” Ucap Andrew.
“Aku masih dikampus” ucap Nela.
“Apa ada pelajaran tambahan?” Ucap Andrew.
“Tidak, tadi ada urusan sebentar” ucap Nela.
“Baiklah, sekarang aku sudah ada didepan kampus mu dan kau cepat kesini ya” ucap Andrew.
“Ya, aku akan kesana sekarang” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.
•••••••••••••
Nela pun berjalan menuju kedepan kampusnya untuk menemui Andrew yang sudah menjemputnya.
“Hi adikku” ucap Andrew seraya membukakan pintu mobilnya untuk Nela.
“Hi Andrew, aku pikir Shane yang akan menjemputku” ucap Nela seraya memasuki mobilnya Andrew.
“Tidak, Shane sedang pergi bersama dengan Gillian sejak beberapa jam yang lalu” ucap Andrew seraya menyalakan mesin mobilnya. Dan mereka pun pergi meninggalkan kampusnya Nela.
“Kemana mereka? Apa mereka pergi kencan?” Ucap Nela.
“Ya, mungkin juga. Tadi katanya Shane, Gillian memintanya untuk menemaninya membeli pakaian yang dibutuhkannya” ucap Andrew.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Sebaiknya kita makan siang diluar, karena Shane belum memasak untuk makan siang” ucap Andrew seraya berfokus menyetir mobilnya.
“Ya, baiklah aku juga berpikir seperti itu” ucap Nela.
Mobilnya Andrew pun melaju menuju sebuah restoran. Dan tak lama mereka pun sampai disebuah restoran. Andrew dan Nela pun segera keluar dari mobilnya Andrew, dan mereka memasuki restoran itu.
Mereka pun segera duduk.
“Kau ingin pesan apa?” Ucap Andrew.
“Terserah kau saja” ucap Nela.
Andrew pun segera memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Dan tak lama seorang pelayang mengantarkan makanan dan minuman untuk mereka.
“Terima kasih” ucap Andrew kepada pelayan itu.
Nela dan Andrew pun segera menyantap makan siang mereka. Seraya menyantap makan siangnya, Nela masih memikirkan apa yang dikatakan oleh David tadi. Dia masih tidak percaya kalau Hayden mempunyai kekuatan itu.
Dan tentu saja Andrew melihat adiknya seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Nela, apa kau baik-baik saja?” Ucap Andrew seraya menyentuh tangannya Nela.
“Ya, aku baik-baik saja” ucap Nela.
“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” Ucap Andrew seraya menyantap makan siangnya.
“Hehm, tidak ada” ucap Nela sedikit berbohong, karena tidak mungkin jika ia menceritakannya kepada Andrew.
“Benarkah?” Ucap Andrew yang berusaha menyakinkan kalau adiknya memang baik-baik saja.
“Ya, sepertinya aku hanya kelelahan saja” ucap Nela.
“Baiklah, cepat kau habisi makan siang mu lalu kita akan segera pulang” ucap Andrew.
Mereka pun kembali menyantap makan siang mereka.
Setengah jam kemudian mereka telah selesai menyantap makan siang mereka.
“Kau tunggu sini dulu ya, aku akan membayar makanan ini ke kasir” ucap Andrew seraya berjalan menuju kasir restoran itu.
Dan tak lama Andrew pun kembali.
“Baiklah, ayo kita pulang. Kau harus istirahat adik ku” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
Mereka pun keluar dari restoran itu, dan berjalan menuju mobilnya Andrew.
“Seharusnya kampus mu sudah mengadakan liburan untuk menyambut musim dingin” gerutu Andrew seraya membukakan pintu mobilnya untuk Nela.
“Ya, memang seharusnya seperti itu” ucap Nela seraya memasuki mobilnya Andrew.
“Apakah kampus tidak mengadakan libur seperti kampus ku?” Ucap Andrew seraya memasuki mobilnya dan segera menyalakan mesin mobilnya.
“Entahlah, aku tidak tahu” ucap Nela.
Dan mereka pun segera pergi meninggalkan restoran itu.
“Oh ya, kapan kita akan pergi untuk berburu Werewolf?” Ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
“Aku belum menemukan waktu yang tepat” ucap Nela.
“Bagaimana kalau nanti malam?” Ucap Andrew.
“Nanti malam? Bukankah nanti malam Shane juga akan berburu Vampire seperti biasa” ucap Nela.
“Aku tidak tahu, lalu kapan kita akan pergi untuk berburu Werewolf?” Ucap Andrew.
“Yang pasti kita akan pergi berburu Werewolf pada saat Shane sedang tidak ada dirumah dan dia sedang tidak berburu Vampire” ucap Nela.
“Aku punya ide! Bagaimana kalau kita perginya ketika Shane sedang ada dirumah saja atau ketika Shane sedang keluar rumah, lalu nanti kita cari alasan agar kita dapat di izinkan keluar rumah oleh Shane. Bagaimana menurut mu?” Ucap Andrew.
Nela pun segera menoleh ke arah Andrew dan tersenyum.
“Good idea Andrew! Dan aku setuju dengan ide mu itu” ucap Nela.
“Ku harap nanti malam Shane ada acara dengan Gillian atau dengan teman-temannya” ucap Andrew.
“Ya, aku juga berharap seperti itu” ucap Nela.
Tiba-tiba ponselnya Nela pun bergetar, dia pun segera mengambil ponselnya didalam saku bajunya.
“Apakah itu Shane?” Ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
“Ya” ucap Nela.
Ya, itu adalah telepon dari Shane. Dan Nela pun segera mengangkatnya.
•••••••••••••••
“Hallo Shane, ada apa?” Ucap Nela mengawali pembicaraan ditelepon.
“Kau sedang dimana? Apakah Andrew sudah menjemputmu? Lalu apakah kau sudah makan siang?” Ucap Shane.
“Shane, bisa tidak kau bicaranya satu-satu. Kalau kau berbicara seperti itu, bagaimana aku dapat menjawabnya” ucap Nela.
“Ya baiklah, maafkan aku honey. Sekarang kau sedang ada dimana?” Ucap Shane.
“Aku sedang berada dalam perjalanan untuk menuju kerumah bersama dengan Andrew” ucap Nela.
“Lalu apakah kau sudah makan siang?” Ucap Shane.
“Tentu saja sudah Shane, tadi kami mampir kesebuah restoran dan kami makan siang disana” ucap Nela.
“Baguslah kalau seperti itu. Maaf ya, hari ini aku tidak bisa menyiapkan makan siang untuk kalian karena aku harus pergi bersama dengan Gillian” ucap Shane.
“Ya, tidak apa-apa Shane. Kau kan juga punya kehidupan sendiri yang kau harus jalani” ucap Nela.
“Oh ya maaf juga, karena nanti malam aku ada acara dinner bersama dirumahnya Gillian. Apakah kalian mau ikut?” Ucap Shane.
“Entahlah, nanti biar ku tanya dulu pada Andrew” ucap Nela.
“Baiklah kalau seperti itu, sampai nanti ya” ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.
•••••••••••••••
Nela pun kembali memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya.
“Ada apa?” Ucap Andrew seraya berfokus menyetir mobilnya.
“Dia bilang nanti malam dia ada dinner bersama dirumahnya Gillian, dan dia menanyakan apakah kita ingin ikut atau tidak” ucap Nela.
“Tentu saja tidak! Karena inilah waktu yang kita tunggu-tunggu untuk pergi berburu Werewolf” ucap Andrew.
“Ya, lalu apa alasan agar Shane mengizinkan kita untuk keluar rumah?” Ucap Nela.
“Hehm, apa ya alasannya?” Ucap Andrew seraya menyetir mobilnya dan memutar otaknya untuk mencari alasan agar dia dan Nela di izinkan keluar rumah oleh Shane.
“Bagaimana kalau pergi ke toko buku?” Ucap Nela.
“Ya, itu ide yang bagus!” Ucap Andrew.
Nela pun hanya tersenyum, dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela. Andrew dan Nela pun segera keluar dari mobilnya Andrew.
“Baiklah, sekarang kita harus menyiapkan alat-alat berburu untuk nanti malam” ucap Nela seraya berlari masuk kedalam rumahnya.
“Hey! Kenapa kau terburu-buru seperti itu?” Ucap Andrew.
“Karena kita tidak punya banyak waktu! Kita harus cepat memasukkan alat-alat berburu kita kedalam bagasi mobil mu sebelum Shane pulang” ucap Nela.
Andrew dan Nela pun segera menaiki anak tangga.
“Memangnya dimana kau menyimpan alat-alat itu?” Ucap Andrew.
“Aku menyimpannya dikamar ku” ucap Nela.
Tak lama mereka pun sampai didepan kamarnya Nela, dan Nela segera membuka pintu kamarnya.
“Masuklah!” Ucap Nela seraya memasuki kamarnya dan di ikuti oleh Andrew.
“Ahh, aku lelah sekali” ucap Andrew seraya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya Nela.
Dan Nela pun segera berjalan menuju sebuah kotak berwarna coklat, tempat ia menyimpan alat-alat itu.
“Kotak apa itu?” Ucap Andrew.
“Di kotak ini tempat aku menyimpan alat-alat itu” ucap Nela seraya membuka kunci kotak itu.
Setelah kotak itu terbuka, Nela pun segera mengambil dua buah pistol beserta beberapa peluru perak, dua pisau yang terbuat dari perak, dan 1 buah panah beserta beberapa anak panah yang juga terbuat dari perak.
“Kurasa alat-alat ini cukup untuk kita berburu nanti malam” ucap Nela.
“Andrew” ucap Nela tanpa menoleh ke arah Andrew.
“Kenapa dia diam saja?” Ucap Nela.
Nela pun menoleh ke arah Andrew.
“Pantas aja dia diam saja, ternyata dia tertidur” ucap Nela seraya berjalan menghampiri Andrew yang sedang tertidur diatas kasurnya Nela.
“Andrew, wake up! Hey! Kenapa kau tertidur dikamarku? Come on wake up Andrew!” Ucap Nela seraya menarik-narik tangannya Andrew agar ia terbangun.
Namun Andrew tidak terbangun, dan dia tetap tertidur.
“Ihh, Andrew kenapa dia begitu cepat tertidur?” Gerutu Nela.
“Andrew, come on wake up! Bantu aku membawa alat-alat ini. Hey! Can you hear me? Andrew let's go wake up!” Ucap Nela.
Namun Andrew tidak juga terbangun.
“Baiklah kalau seperti itu, biar aku saja yang menaruh alat-alat ini dibagasi mobilnya Andrew” ucap Nela seraya mengambil alat-alat tadi yang ia keluarkan dari kotak itu.
Tak lupa Nela pun mengunci kotak berwarna coklat itu kembali. Dan ia segera mengambil kunci mobilnya Andrew didalam saku celanya Andrew, karena tasnya masih berada didalam mobilnya Andrew. Lalu ia berjalan keluar kamarnya, dan menuju garasi rumahnya seraya membawa alat-alat itu. Setelah sampai digarasi rumahnya, Nela pun segera memasuki alat-alat itu kedalam bagasi mobilnya Andrew.
Dan ia pun juga membuka pintu mobilnya Andrew untuk mengambil tasnya yang tertinggal dimobilnya Andrew. Tak lama Shane pun pulang, Nela pun segera membukakan pintu pagar rumahnya.
“Thank you adikku” ucap Shane yang berada didalam mobilnya.
Shane pun segera memasukkan mobilnya kedalam garasi mobilnya.
“Hey! Kau sedang apa?” Ucap Shane seraya keluar dari mobilnya.
“Tadi aku sedang mengambil tas ku yang tertinggal didalam mobilnya Andrew” ucap Nela.
“Oh, lalu Andrew nya mana?” Ucap Shane.
“Dia sedang tidur dikamar ku” ucap Nela.
“Kenapa dia tidur kamar mu? Baiklah, aku akan membangunkannya” ucap Shane seraya memasuki rumahnya dan di ikuti oleh Nela.
“Jangan dibangunkan Shane, kasihan sepertinya dia begitu lelah. Biarkan saja dia tidur di kamar ku” ucap Nela.
“Lalu bagaimana jika kau ingin beristirahat juga?” Ucap Shane.
“Aku bisa beristirahat dikamarnya Andrew” ucap Nela.
“Baiklah kalau seperti aku, aku ingin ganti baju dulu ya” ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Nela.
Shane pun segera menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya. Ternyata ia tidak berjalan menuju kamarnya, tetapi ia berjalan menuju kamarnya Nela. Perlahan ia mulai membuka pintu kamarnya Nela, dan berjalan masuk kedalam kamarnya Nela. Shane pun menghampiri Andrew yang sedang tertidur di atas tempat tidurnya Nela.
“Andrew wake up! Kenapa kau tertidur dikamarnya Nela?” Ucap Shane seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya Andrew.
“Shane, aku masih mengantuk. Don't disturb me Shane” ucap Andrew dengan mata yang masih terpejam.
“Kalau kau masih mengantuk kau bisa tidur dikamar mu, jangan tidur dikamarnya Nela. Dia juga ingin beristirahat” ucap Shane.
“Shane, please don't disturb me!” Ucap Andrew yang tentu saja dengan mata yang masih terpejam.
Tak lama Nela pun datang.
“Shane, bukankah sudah ku bilang jangan bangunkan Andrew kasihan dia begitu kelelahan” ucap Nela.
Andrew pun segera bangun dari posisi tidurnya dan segera duduk dengan mata yang masih terpejam. Nela pun segera menghampiri Andrew.
“Sudahlah, jika kau masih mengantuk kau bisa lanjutkan tidur mu. Nanti malam kita kan ingin pergi berburu Werewolf” bisik Nela tepat ditelinganya Andrew.
Andrew pun hanya tersenyum dan kembali melanjutkan tidurnya. Nela dan Shane pun segera keluar dari kamarnya Nela.
“Andrew itu terkadang suka sulit untuk dibangunkannya” ucap Shane.
“Tidak Shane, itu hanya menurut mu saja. Biasanya aku hanya menyentuh wajahnya saja, dan hal itu dapat membangunkannya” ucap Nela seraya menutup pintu kamarnya.
“Benarkah? Kenapa kau tidak pernah menyentuh wajah ku ketika aku sedang tertidur?” Ucap Shane seraya merangkul pundaknya Nela.
“Bagaimana aku dapat menyentuh wajah mu ketika kau tertidur, kalau kau selalu bangun lebih dulu dari ku” ucap Nela.
Shane pun hanya tertawa kecil.
“Baiklah, aku ganti baju dulu ya” ucap Shane seraya memasuki kamarnya.
“Ya” ucap Nela seraya berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang keluarga.
Setelah sampai diruang keluarga, Nela pun duduk disebuah sofa panjang berwarna coklat. Dan tak lama Shane pun datang, dan segera duduk disampingnya Nela.
“Oh ya, bagaimana apa nanti malam kau dan Andrew ingin ikut bersama ku untuk dinner bersama dirumahnya Gillian?” Ucap Shane.
“Maaf Shane, sepertinya aku dan Andrew tidak bisa ikut dengan mu untuk dinner bersama nanti malam” ucap Nela.
“Memangnya kenapa?” Ucap Shane.
“Karena kami ingin pergi ke toko buku, dan ku harap kau mengizinkan kami untuk pergi ke toko buku nanti malam” ucap Nela.
“Oh, ya tentu saja aku mengizinkan kalian berdua untuk pergi ke toko buku tapi ingat pulangnya jangan sampai larut malam ya” ucap Shane.
“Baik Shane, aku akan mengingat pesan mu itu” ucap Nela seraya mengedipkan sebelah matanya.
Shane pun hanya tersenyum seraya mengusap-usap rambutnya Nela.
“Baiklah, sekarang aku harus menyiapkan makan malam untuk kau dan Andrew” ucap Shane.
“Tidak perlu Shane! Nanti biar kami makan malam diluar saja” ucap Nela.
“Benarkah? Apa tidak apa-apa?” Ucap Shane.
“Tidak apa-apa Shane” ucap Nela.
“Oh ya Shane, Nicky dan Brian kemana? Kenapa dia tidak pernah datang kesini?” Ucap Nela.
“Nicky sedang ada pertandingan sepak bola di London beberapa hari ini, dan Brian entahlah dia pergi kemana. Aku hubungi ponselnya tidak pernah aktif” ucap Shane.
“Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar?” Ucap Nela.
“Tidak, mungkin dia sedang ada urusan lain. Lalu bagaimana dengan David? Sepertinya selama kau dekat dengan Hayden, David tidak pernah main kesini lagi” ucap Shane.
“Entahlah, aku tidak tahu Shane” ucap Nela.
“Apa kalian sedang bertengkar? Atau karena hal lain” ucap Shane.
“Hehm tidak Shane, Hayden dan David memang tidak begitu akur” ucap Nela.
“Maksud mu? Apa mereka berdua bermusuhan?” Ucap Shane.
“Entahlah Shane, sebenarnya mereka berdua mempunyai hubungan saudara. Tapi mereka berdua memang tidak pernah akur sejak dari pertama mereka bertemu” ucap Nela.
“Saudara? Tapi tidak pernah akur? Aneh sekali” ucap Shane heran.
“Ya, David lah yang membenci Hayden lebih dulu apalagi saat Hayden tinggal dirumahnya” ucap Nela.
“Aku pikir mereka tidak pernah akur karena mereka saling merebutkan mu” ucap Shane.
“Shane, kau ini ada-ada saja” ucap Nela tersipu malu.
Dan lagi-lagi Shane pun hanya tertawa kecil. Tak lama Andrew pun terbangun.
“Kenapa aku tidur dikamarnya Nela?” Ucap Andrew heran.
Andrew pun segera keluar dari kamarnya Nela dan berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang keluarga.
“Kalian berdua sedang membicarakan apa? Sepertinya seru sekali” ucap Andrew yang tiba-tiba datang dan segera duduk diantara Nela dan Shane.
“Andrew, kau ini seperti tidak ada tempat duduk lain saja” gerutu Shane.
“Shane, kau saja yang cari tempat duduk lain aku ingin duduk disebelah adik ku” ucap Andrew seraya menyandarkan kepalanya dipundaknya Nela.
“Hey! Jangan bersandar dipundaknya Nela, jika kau masih mengantuk kau tidur dikamar mu saja!” Pekik Shane.
“Shane, kau ini cerewet sekali” gerutu Andrew.
“Sudahlah, kenapa kalian berdua jadi bertengkar seperti anak kecil yang sedang berebut permen?” ucap Nela.
“Oh ya Nela, kunci mobil ku mana?” Ucap Andrew yang sedikit terkejut ketika ia tidak menemukan kunci mobilnya yang ia taruh disaku celananya.
Shane yang duduk disampingnya pun juga ikut terkejut seraya menoleh ke arah Andrew.
“Andrew, kau menghilangkan kunci mobil mu?” Ucap Shane.
“Tidak tahu, tadi aku taruh disaku celana ku tapi kenapa sekarang tidak ada” ucap Andrew.
“Ini yang kau cari Andrew” ucap Nela seraya menunjukkan sebuah kunci mobil, dan tentu saja itu adalah kunci mobilnya Andrew.
“Nela, kenapa kunci mobil ku ada pada mu?” Ucap Andrew seraya mengambil kunci mobilnya.
“Tadi saat kita mengobrol dikamarku tiba-tiba kau tertidur, padahal aku ingin mengambil tas ku yang masih tertinggal didalam mobil ku. Jadi aku memutuskan untuk mengambil kunci mobilmu didalam saku celana mu untuk mengambil tas ku” ucap Nela.
“Makanya kalau ingin tidur liat-liat tempat dulu, jangan sedang di kamar orang langsung tidur” ucap Shane.
“Iya maaf Shane, tadi kan aku lelah sekali jadinya aku ketiduran dikamarnya Nela. Dan lagipula kamarnya Nela itu wangi dan aku merasa nyaman berada disana, dan tentu saja hal itu dapat mengundang rasa kantuk ku” ucap Andrew.
“Kau memang pintar dalam mencari-cari alasan” ucap Shane.
“Oh ya Nela, kau sudah bilang pada Shane kalau nanti malam kita mau pergi” ucap Andrew.
“Tentu saja aku sudah bilang ke Shane kalau nanti malam kita mau pergi ke toko buku, dan Shane sudah mengizinkannya” ucap Nela.
“Ahh baguslah kalau seperti itu” ucap Andrew seraya menarik nafas lega.
“Ingat Andrew, kau harus menjaga Nela dengan sangat baik! Dan jangan lupa sebelum kalian pergi ketoko buku kalian harus pergi ke restoran atau ke cafe terdekat untuk makan malam” ucap Shane.
“Iya Shane, kau tenang saja aku akan menjalankan tugas ku dengan baik” ucap Andrew.
“Dan satu lagi, kalian jangan pulang sampai larut malam ya!” Ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Andrew dan Nela.
Tidak terasa waktu pun berjalan dengan cepat, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 17.30.
“Baiklah, aku harus siap-siap dulu ya” ucap Shane seraya beranjak pergi.
“Iya” ucap Nela dan Andrew.
“Akhirnya, nanti malam kita jadi pergi...” Ucap Andrew, Nela pun segera menutup mulut Andrew dengan tangannya.
“Sssssttt... Jangan dilanjutkan ucapan mu itu, nanti kalau Shane dengar bisa bahaya” ucap Nela pelan.
Andrew pun hanya mengangguk mengerti.
--------------------------
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 18.30. Shane sudah rapi dan wangi, kini dia memakai jas berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna merah. Dia pun berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui adik-adik nya yang juga sudah rapi.
“Shane, malam ini kau terlihat sangat tampan” ucap Nela yang terlihat kagum melihat ketampanan kakaknya itu.
“Terima kasih adik ku” ucap Shane seraya tersenyum.
“Kau seperti seorang pangeran dari sebuah kerajaan Shane” ucap Nela.
“Sudahlah honey, berhenti memuji ku jika kau terus memuji ku lama-lama aku bisa terbang ke langit ke tujuh” ucap Shane.
Nela pun hanya tertawa kecil.
“Nela, jadi hanya Shane saja yang bilang tampan malam ini?” Ucap Andrew.
Nela pun menoleh ke arah Andrew yang duduk disampingnya.
“Tentu saja malam ini kau juga begitu tampan Andrew” ucap Nela seraya tersenyum melihat Andrew yang juga sudah rapi dengan memakai jaket hangatnya.
Andrew pun hanya tersenyum seraya merangkul pundaknya Nela. Shane pun segera melihat ke arah jarum jam di jam tangannya.
“Sepertinya aku harus segera pergi, karena Gillian pasti sudah menunggu kedatangan ku” ucap Shane.
“Ya, kau benar Shane! You're princess already waiting you!” Ucap Nela.
“Baiklah, Nela, Andrew, aku pergi dulu ya” ucap Shane.
“Ya Shane, sampaikan maaf kami pada Gillian karena kami tidak bisa datang” ucap Nela.
“Ya, nanti akan ku sampaikan” ucap Shane seraya beranjak pergi.
Shane pun segera menuju kerumahnya Gillian.
“Apa kita berangkat sekarang?” Ucap Andrew.
“Nanti saja” ucap Nela.
“Tapi kan kita harus makan malam dulu” ucap Andrew.
Nela pun teringat dengan pesannya Shane tadi.
“Baiklah, ayo berangkat!” ucap Nela.
“Bagaimana dengan alat-alat berburu kita?” Ucap Andrew.
“Kau tenang saja, alat-alatnya sudah ku masukkan kedalam bagasi mobil mu” ucap Nela.
“Kapan kau memasukkannya?” Ucap Andrew.
“Tadi saat kau tertidur” ucap Nela.
Mereka pun segera berjalan menuju garasi rumah mereka. Dan tak lupa Nela mengunci pintu rumahnya.
“Nela, nanti kau tolong bukakan pintu pagarnya ya” ucap Andrew seraya masuk kedalam mobilnya.
“Ok” ucap Nela seraya segera membuka pintu pagar rumah mereka.
Andrew pun segera mengeluarkan mobil mereka. Dan juga tak lupa Nela menutup pintu pagar mereka dan juga menguncinya.
“Ayo, cepat masuk” ucap Andrew.
Dan Nela pun segera masuk kedalam mobilnya Andrew.
“Apa tidak ada yang tertinggal?” Ucap Andrew.
“Sepertinya tidak ada” ucap Nela.
Mereka pun segera pergi untuk menuju ke sebuah restoran atau cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
“Baru jam tujuh malam, tapi jalanan sekitar sini udah sepi seperti ini” ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
“Ya, bagaimana dengan London? Apakah sama seperti disini juga?” ucap Nela.
“Tidak, kalau di London jam tujuh malam jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang” ucap Andrew.
“Benarkah? Pasti kau tidak pernah merasa kesepian ketika kau di London” ucap Nela.
“Tidak, tetap saja aku merasa kesepian. Meskipun di London kota yang padat penduduk, tapi jika harus berjalan-jalan sendiri tetap saja aku merasa kesepian. Tetapi tidak dengan disini, meskipun di sini sepi tapi ada kau dan Shane yang selalu menemani ku. Dan kalau aku ingin jalan-jalan seperti ini, ada kau yang selalu menemani ku dan aku tidak merasa kesepian” ucap Andrew seraya tersenyum.
“Kurasa ketika kau pulang ke London, kau harus mencari kekasih lagi agar kau tak merasa kesepian saat berada di London” ucap Nela.
“Aku sedang tidak ingin mempunyai kekasih dulu, karena aku sedang ingin berfokus pada kuliah ku” ucap Andrew.
“Itu bagus Andrew” ucap Nela.
“Ya, lagipula percuma juga punya kekasih karena aku juga tetap merasa kesepian. Lebih baik punya kakak dan adik seperti Shane dan kau, karena ketika bersama dengan kalian aku tidak pernah merasa kesepian sedikit pun” ucap Andrew.
Nela pun hanya tersenyum. Dan tak lama mereka sampai disebuah restoran yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
Andrew dan Nela pun segera keluar dari mobilnya Andrew, dan mereka segera masuk kedalam restoran itu. Namun tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang pria.
“Hey! Kenapa kalian ada disini?” Ucap seorang pria itu.
Andrew dan Nela pun sedikit terkejut melihat pria itu.

Selasa, 20 Januari 2015

My Love is Vampire - Chapter IV

And this Chapter 4 ;)
Typo is everywhere. And enjoy read it...


==============================================================


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju ke kelasnya Nela.

“Entahlah, menurut ku kami tidak pernah bertengkar sekali pun. Aku hanya tinggal dirumahnya bersama dengan keluarganya selama satu tahun, saat aku baru datang ke Ireland” ucap Hayden.

“Namun kenapa sepertinya dia begitu membenci mu?” Ucap Nela.

“Biarkan saja, itu kan hak dia ingin membenci siapa pun termasuk ingin membenci ku” ucap Hayden.

Jawaban dari Hayden tentu saja belum memuaskan rasa penasarannya Nela. Dan Nela bermaksud menanyakan tentang hal itu kepada David saat waktu istirahat nanti.

“Kau memang begitu baik Hayden” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum.
Tak lama mereka pun sampai didepan kelasnya Nela.

“Baiklah Nela, sampai nanti ya” ucap Hayden.

“Ya” ucap Nela.

Hayden pun pergi meninggalkan kelasnya Nela, dan Nela segera memasuki ruang kelasnya.

3 jam pun berlalu...

Kini waktunya jam istirahat tiba.
Nela pun segera keluar dari ruang kelasnya, dan berjalan menuju kelasnya David. Setelah sampai didepan ruang kelasnya David, Nela pun segera memasukinya. Matanya begitu sibuk mencari keberadaan David. Namun dia tidak menemui David dikelasnya.

“Hey, apa kau melihat David?” Ucap Nela kepada seorang wanita didalam kelas itu yang sedang membaca buku.

“Tadi dia keluar, tapi aku tidak tahu dia pergi kemana” ucap wanita itu.

“Baiklah, terima kasih” ucap Nela seraya berjalan keluar dari kelasnya David.

“David pergi kemana ya?” Gumam Nela.

Nela pun mengambil ponselnya disaku bajunya, dan segera menghubungi David.


•••••••••••••••

“Hallo Dav” ucap Nela memulai pembicaraan ditelepon.

“Ya hallo, ada apa Nela?” Ucap David.

“Sekarang kau ada dimana Dav?” Ucap Nela.

“Aku sedang dihalaman belakang kampus, memangnya ada apa?” Ucap David.

“Baiklah, kau tunggu disana ya. Sekarang aku akan kesana, karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu” ucap Nela.

“Ya, baiklah” ucap David mengakhiri pembicaraan ditelepon.


•••••••••••••••••


Nela pun berjalan menuju halaman belakang kampusnya.
Ya, dibelakang kampusnya memang ada sebuah halaman terbuka yang begitu luas. Disana terdapat beberapa pohon besar dan rindang, dan udara disana memang begitu sejuk. Bila siang hari tidak pernah terasa panas sekali pun.
Siapapun yang berada disana, akan merasa nyaman dan rela berlama-lama ditempat itu karena udaranya yang begitu sejuk.
Tak lama Nela pun sampai dihalaman belakang kampusnya, dan ternyata benar David memang berada disana. Dia tengah menikmati udara yang sejuk seraya tiduran diatas rumput-rumput.
Nela pun berlari menghampiri David.

“Hey! Nela” ucap David seraya bangun dari posisi tidurannya.

“Dav!” Ucap Nela terengah-engah.

Seraya duduk, Nela pun mencoba untuk mengatur nafasnya.

“Ada apa Nela?” Ucap David.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu” ucap Nela.

“Tentang apa?” Ucap David.

“Tentang kau dan Hayden” ucap Nela.

David hanya menarik nafas panjang, seakan tak ingin membahas apa yang telah terjadi dengan dirinya dan Hayden.

“Aku tak ingin membicarakan hal itu” ucap David.

“Tapi Dav, aku begitu penasaran. Ada sesuatu yang mengganjal dipikiran ku” ucap Nela.

“Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu. Sebenarnya dari awal aku bertemu dengan Hayden, aku sudah mulai tidak suka dengannya. Hingga akhirnya dia datang dan tinggal dirumah ku bersama dengan keluarga ku. Cukup lama dia tinggal dirumahku. Namun kami seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain, dan kami tidak pernah saling menyapa atau mengobrol kecuali tentang hal yang penting” ucap David.

“Lalu kenapa kalian seperti orang yang bermusuhan?” Ucap Nela.

“Semenjak dia tinggal dirumahku, semuanya menjadi berubah. Kedua orang tua ku begitu menyayanginya, dan begitu juga dengan kakak perempuan ku. Mereka begitu sayang pada Hayden, dan mereka memberi perhatian lebih kepadanya. Semua itu membuat ku seperti orang asing dirumah ku sendiri, mereka semua seperti mengasingkan ku dan mengacuhkan ku begitu saja” ucap David.

“Mungkin karena Hayden jauh dari keluarganya, makanya keluarga mu memberi perhatian lebih kepadanya” ucap Nela.

“Aku tahu hal itu, tapi itu semua membuat keluarga ku menjadi tidak memperdulikan ku! Semuanya mengacuhkan ku begitu saja, aku seperti kehilangan perhatian dari mereka. Dan hal itu lah yang membuat ku begitu benci padanya. Hingga suatu saat, aku menanyakan kepada keluarga ku untuk memilih ku atau Hayden. Jika mereka memilih Hayden, maka aku akan pergi dari rumahku. Namun sebaliknya jika mereka memilih ku, maka Hayden harus pergi dari rumah ku. Seperti dengan berat hati, mereka memilih ku dan terpaksa Hayden harus pergi dari rumah ku” ucap David.

“Kau begitu egois Dav! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!” Bentak Nela.

“Nela, kau tidak mengerti bagaimana perasaan ku saat itu!” Ucap David.

“Tapi tidak seharusnya kau seperti itu Dav! Hayden pindah ke Ireland karena ada sebuah masalah di Canada” ucap Nela.

David hanya terdiam.

“Aku juga punya sebuah rahasia tentang Hayden. Kau tidak tahu kan siapa sebenarnya Hayden itu?” ucap David.

“Rahasia apa? Memangnya siapa Hayden sebenarnya” Ucap Nela.

“Aku tidak akan memberi tahu tentang rahasia dirinya kepada siapa pun termasuk pada dirimu, kecuali Hayden merebut seorang wanita yang sangat aku cintai” ucap David.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan Dav” ucap Nela.

“Nanti kau juga akan mengerti Nela” ucap David.

Nela hanya terdiam seraya masih bingung dengan apa yang David katakan. Dia begitu penasaran dengan rahasia tentang David.

“Sudahlah, sebaiknya sekarang kita kembali ke kelas. Karena sebentar lagi waktu istirahat akan habis” ucap David.

Dan mereka pun kembali ke kelas mereka masing-masing.


3 jam pun berlalu, dan kini waktunya para mahasiswa dan mahasiswi untuk pulang.
Nela pun berjalan keluar dari ruang kelasnya. Dan ternyata Hayden sudah menunggu didepan kelasnya Nela.

“Hey Nela! Ayo kita pulang bersama” ucap Hayden.

“Ya ayo” ucap Nela.

Dan mereka berdua pun berjalan menuju tempat parkir kampus mereka. Setelah sampai ditempat parkir kampus, mereka berdua segera memasuki mobilnya Hayden.

“Oh ya, maaf ya aku belum sempat membaca novel itu” ucap Nela.

“Ya, tidak apa-apa” ucap Hayden seraya menyalakan mesin mobilnya.

Dan mobil Hayden pun melaju meninggalkan kampus mereka.

“Aku masih penasaran dengan rahasia tentang Hayden. Aku ingin menanyakannya kepada Hayden, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat” ucap Nela dalam hati.

“Kenapa kau diam saja? Apa kau sedang sakit?” Ucap Hayden seraya berfokus menyetir mobilnya.

“Tidak, aku baik-baik saja” ucap Nela.


30 menit kemudian, mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Terima kasih ya, kau telah mengantar ku pulang” ucap Nela seraya keluar dari mobilnya Hayden.

“Ya, sama-sama Nela” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Apa kau mau masuk kedalam rumah ku?” Ucap Nela.

“Tidak, aku ingin segera pulang saja” ucap Hayden.

“Hehm, baiklah kalau seperti itu” ucap Nela.

“Aku pulang dulu ya, titip salam pada Shane dan Andrew. And see you tomorrow Nela” ucap Hayden.

“Ya, see you Hayden” ucap Nela.

Mobil Hayden pun melaju meninggalkan rumahnya Nela. Dan Nela segera masuk kedalam rumahnya.

“Ternyata adik ku sudah pulang” ucap Shane yang tentu saja sedang menyiapkan makan siang.

“Ya Shane, Andrew kemana?” Ucap Nela seraya celingak celinguk mencari keberadaannya Andrew.

“Tadi dia sedang keluar sebentar, katanya dia begitu rindu dengan Ireland. Jadi dia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sebentar dengan menggunakan sepeda” ucap Shane yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk makan siang.

“Apa dia tidak bilang padamu dia mau pergi kemana?” Ucap Nela.

“Tidak, kau tenang saja sebentar lagi dia juga akan datang” ucap Shane.

“Hehm baiklah, aku ganti baju dulu ya Shane” ucap Nela.

“Ya” ucap Shane.

Nela pun berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kekamarnya. Setelah sampai didepan kamarnya, Nela segera membuka pintu kamarnya, dan memasuki kamarnya.

“Hehm, kira-kira Andrew pergi kemana ya?” Gumam Nela.

Nela pun segera mengambil ponselnya yang ada disaku bajunya, dan dia bermaksud untuk mengirim pesan kepada Andrew.

“Andrew, kau sedang dimana? Baru saja aku sampai dirumah, namun kau tidak ada dirumah” Nela pun mengirim pesan itu ke nomor ponselnya Andrew.

Tak lama Andrew pun membalas pesannya Nela.

“Aku sedang berkeliling disekitar komplek dengan menggunakan sepeda, sudah sangat lama aku tidak melakukan hal ini. Baiklah, aku akan pulang sekarang juga” pesan dari Andrew.

“Ya, cepatlah pulang. Aku akan menunggu kedatangan mu!” Nela pun membalas pesan dari Andrew.

Dan Nela pun segera mengganti baju, dan bersiap untuk makan siang bersama dengan kakak-kakaknya. Setelah selesai mengganti baju, dia segera berjalan menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan.

“Shane, Andrew belum pulang juga?” Ucap Nela seraya berjalan menuju meja makan.

Tiba-tiba ada seseorang yang menutup kedua matanya dari arah belakang.

“Siapa ini?” Ucap Nel seraya menyentuh kedua tangan yang sedang menutupi matanya.

Shane yang melihat hal itu, hanya tertawa kecil seraya duduk disebuah kursi yang berada dibelakang meja makan.

“Ini pasti adalah Andrew” ucap Nela.

Seseorang itu pun melepaskan tangannya yang menutupi kedua matanya Nela.

“Kenapa kau bisa tahu, kalau ini adalah aku?” Ucap seseorang itu yang ternyata memang lah Andrew.

“Aku bisa menebak dari wangi parfume mu Andrew, karena aku sangatlah hafal dengan wangi parfume mu itu” ucap Nela.

“Sudahlah, ayo kita makan siang” ucap Shane.

Dan mereka pun makan siang bersama-sama.

“Oh ya, Andrew nanti malam seperti biasa aku harus pergi untuk berburu Vampire. Jadi aku minta tolong padamu, untuk menjaga dan menemani Nela dirumah” ucap Shane seraya menyantap makan siangnya.

“Ya, kau tenang saja Shane. Nela pasti aman jika bersama ku” ucap Andrew.

Shane pun hanya menggangguk mengerti seraya tetap menyantap makan siangnya.

“Shane, apa nanti malam aku boleh ikut berburu dengan mu?” ucap Nela.

“Sebaiknya kau jangan ikut berburu, aku takut Werewolf yang waktu itu masih mengincar mu” ucap Shane.

Tiba-tiba Andrew pun tersendak karena mendengar apa yang dikatakan oleh Shane.

“Andrew, kau ini kalau makan pelan-pelan agar tidak tersendak” ucap Nela seraya memberikan segelas air minum kepada Andrew.

Andrew pun meneguk air yang diberikan oleh Nela.

“Werewolf? Apa maksud mu Shane?” Ucap Andrew heran.

Shane pun menceritakan tentang kejadian malam itu kepada Andrew.

“Tapi Werewolf itu tidak melukai mu sedikit pun kan?” Ucap Andrew kepada Nela.

“Tentu saja tidak” ucap Nela.

“Syukurlah kalau seperti itu. Tapi aku masih tidak percaya kalau Werewolf itu benar-benar ada. Hal itu benar-benar tidak masuk akal, menurut ku Werewolf itu hanya ada difilm dan cerita saja” ucap Andrew.

“Menurut ku juga seperti itu, tapi setelah aku bertemu dengannya pada malam itu. Aku jadi begitu yakin, kalau Werewolf itu memang benar-benar ada” ucap Nela.

Seraya menyantap makan siangnya, Andrew masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nela dan Shane. Menurutnya Werewolf itu memang benar-benar tidak ada.
Tak lama mereka pun selesai makan siang.

“Shane, Andrew, aku ingin kekamar dulu ya. Aku harus membaca novel yang baru saja aku beli beberapa hari yang lalu” ucap Nela.

“Ternyata kau masih suka membaca novel” ucap Andrew.

“Ya, begitulah” ucap Nela seraya berjalan menuju kamarnya.

Setelah sampai didepan kamarnya, Nela segera membuka pintu kamarnya. Dan berjalan memasuki kamarnya.
Dia mengambil sebuah novel dari dalam laci, dan tentu saja itu adalah sebuah novel yang membuatnya bertemu dengan Hayden.
Sejenak Nela tersenyum melihat novel itu seraya duduk ditempat tidurnya. Sungguh tak pernah ia duga, karena novel itu dia bisa bertemu dengan seorang pria yang bagaikan seorang pangeran. Perlahan dia membuka novel itu, dan mulai membacanya.

Sementara disebuah kastil tua, Mark sedang melamunkan sesuatu. Dan tiba-tiba seorang pria yang berambut agak kekuningan datang menghampirinya.

“Mark, kau sedang apa?” Ucap pria itu.

“Aku sedang memikirkan sesuatu Ki” ucap Mark.

Pria itu adalah Kian Egan, dia juga seorang Vampire sama seperti Mark. Dan dia adalah salah satu Vampire yang begitu dekat dengan Mark.

“Kau sedang memikirkan apa?” Ucap Kian.

“Aku sedang memikirkan seseorang wanita” ucap Mark.

“Sudah ku duga kalau kau sedang memikirkan seorang wanita. Siapa wanita itu? Dan wanita itu juga seorang Vampire kan?” Ucap Kian.

Mark pun menarik nafas panjang.

“Dia bukan seorang Vampire seperti kita, tapi...” Ucap Mark seakan tidak bisa menlanjutkan ucapannya itu.

“Tapi apa Mark? Ku harap wanita itu bukan lah seorang manusia!” Ucap Kian.

“Ya, wanita itu adalah seorang manusia” ucap Mark.

“Apa? Kau pasti sedang bercanda kan Mark?” Ucap Kian yang seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mark.

“Aku sedang tidak bercanda Ki, wanita itu memang seorang manusia” ucap Mark.

“Jangan bilang kalau kau menyukai wanita itu!” Ucap Kian yang menatap Mark dengan begitu serius.

“Ya, kurasa aku mulai menyukainya” ucap Mark.

“Mark!” Pekik Kian.

Mark pun sedikit terkejut dan menoleh ke arah Kian.

“Ada apa Ki? Apa aku salah?” Ucap Mark dengan polosnya.

“Tentu saja kau salah Mark! Kau mencintai seorang wanita, dan hal itu seharusnya tidak boleh terjadi! Karena Vampire dan manusia dilarang untuk saling jatuh cinta” ucap Kian.

“Lalu apa hukumannya jika seorang Vampire tetap mencintai seorang manusia?” Ucap Mark.

“Tidak ada hukumannya Mark, selama cinta itu masih berada di sebelah pihak saja. Tapi jika manusia itu juga mencintai seorang Vampire yang mencintainya, dan mereka berdua menjalani hubungan yang terlarang. Dan hukuman untuk Vampire itu adalah, dia akan dimasukkan kedalam neraka!” Ucap Kian.

“Apa? Sebesar itu kah hukumannya?” Ucap Mark yang sedikit terkejut, tetapi seakan tidak memperdulikan apa hukuman yang akan dia dapat nantinya.

“Ya, karena tidak seharusnya Vampire dan Manusia saling jatuh cinta satu sama lain. Dan ku harap wanita itu tidak pernah menyukai mu Mark. Maaf, bukannya aku tidak mendukung mu dan bukannya aku tidak ingin melihat mu bahagia bersama dengannya. Tapi aku hanya tak ingin kau mendapat hukuman itu Mark” ucap Kian seraya menepuk pelan bahunya Mark dan beranjak pergi meninggalkan Mark.


------------------

Malam pun tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.

“Andrew, Nela, aku pergi berburu dulu ya” ucap Shane seraya memasukkan alat-alat berburunya kedalam bagasi mobilnya.

“Ya, kau hati-hati ya Shane. Ku harap kau tidak bertemu dengan Werewolf” ucap Nela.

“Ya, kau tenang saja. Aku akan begitu berhati-hati” ucap Shane.

Nela pun mengambil sesuatu dari saku belakang celananya.

“Oh ya, ini Shane untuk mu berjaga-jaga kalau nanti kau bertemu dengan Werewolf itu. Dan aku sudah mengisinya dengan peluru perak” ucap Nela seraya memberikan Shane sebuah pistol yang sudah ia isi dengan peluru perak.

“Wow! Bagaimana pistol itu bisa ada disaku belakang mu?” Ucap Andrew yang terlihat sedikit heran.

“Aku sudah mempersiapkannya sejak tadi” ucap Nela.

“Nela, kau benar-benar seperti seorang Werewolf Hunter!” Ucap Andrew.

Nela pun hanya tersenyum.

“Terima kasih adik ku, aku akan menjaga pistol ini dengan baik” ucap Shane seraya memasukkan pistol itu kedalam bagasi mobilnya.

Shane pun selesai memasukkan semua alat-alat yang nantinya akan dibutuhkannya kedalam bagasi mobilnya.

“Baiklah, aku pergi dulu ya. Dan kau Andrew, kau mempunyai tugas yang begitu penting yaitu kau harus menjaga dan menemani adik kita dengan sangat baik!” Ucap Shane.

“Kau tenang saja Shane, aku akan selalu menjaga dan menemaninya. Believe me!” Ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.

“Ya, aku percaya pada mu Andrew” ucap Shane seraya memasuki mobilnya.

Shane pun segera menyalakan mesin mobilnya, dan segera pergi meninggalkan rumahnya. Nela dan Andrew pun segera memasuki rumah mereka, tak lupa Andrew pun mengunci pintu rumahnya.
Dan mereka berjalan menuju ruang tamu.

“Apa sebelumnya kau pernah berburu Werewolf?” Ucap Andrew seraya duduk disebuah sofa.

“Tidak pernah” ucap Nela seraya duduk disamping Andrew.

“Lalu, kenapa kau bisa memiliki pistol untuk berburu Werewolf itu?” Ucap Andrew.

“Aku membelinya disebuah toko yang menjual benda-benda yang terbuat dari perak” ucap Nela.

“Oh, jadi membunuh Werewolf harus menggunakan pistol yang berisi dengan peluru perak?” Ucap Andrew.

“Tidak juga, membunuh Werewolf bisa juga menggunakan pisau perak atau dengan anak panah yang terbuat dari perak” ucap Nela.

“Jadi membunuh Werewolf harus menggunakan benda yang terbuat dari perak” ucap Andrew.

“Ya, dengan menggunakan benda tajam atau dengan pistol yang terbuat dari peluru perak” ucap Nela.

“Aku tidak pernah menyangka kalau adik ku tahu tentang hal itu” ucap Andrew.

“Aku pernah membacanya disebuah buku yang membahas makhluk-makhluk yang dianggap tidak pernah ada, seperti Werewolf, Vampire, dan Dracula” ucap Nela.

Andrew pun hanya mengganggukkan kepalanya.

“Aku jadi ingin berburu Werewolf, hal itu kedengarannya begitu menarik untuk dilakukan” ucap Andrew.

“Ya, hal itu memang begitu menarik untuk dilakukan namun juga begitu berbahaya dan dapat mengancam nyawa sang pemburu Werewolf. Karena jika kita gagal membunuh Werewolf itu, maka Werewolf itu akan menggigit kita dan mengubah kita menjadi seperti mereka” ucap Nela.

“Dan hal itu kedengarannya sangat menakutkan, namun tidak dapat mengurungkan niat ku untuk mencoba berburu Werewolf” ucap Andrew.

“Nanti aku akan mengajak mu untuk berburu Werewolf bersama dengan ku” ucap Nela.

“Benarkah?” Ucap Andrew.

“Ya, tapi jangan sampai Shane tahu akan hal ini. Karena tentu saja dia tidak akan mengizinkan kita untuk berburu Werewolf” ucap Nela.

“Kau tenang saja, aku tidak akan memberi tahu Shane tentang hal itu. Dan kapan kita akan pergi untuk berburu Werewolf?” Ucap Andrew.

“Kita tunggu waktu yang tepat untuk berburu Werewolf” ucap Nela.

“Kapan waktu yang tepat itu? Aku sudah tidak sabar untuk berburu Werewolf!” Ucap Andrew yang terlihat begitu bersemangat.

“Pada bulan purnama, karena ku yakin Werewolf akan banyak berkeliaran pada bulan purnama” ucap Nela.

“Baiklah, sepertinya aku harus sabar menunggunya” ucap Andrew.

Mereka pun terus mengobrol sampai larut malam.

“Nela, sekarang kau harus tidur. Lihatlah, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00” ucap Andrew.

“Baiklah Andrew, aku tidur dulu ya” ucap Nela.

“Apa kau ingin aku mengantar mu sampai dikamar mu?” Ucap Andrew.

“Sepertinya tidak perlu” ucap Nela seraya berjalan menaiki anak tangga dan menuju ke kamarnya.

Setelah Nela sampai dikamarnya, dia segera naik ketempat tidurnya. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mengentuk jendela kamarnya. Dia pun segera berjalan menghampiri jendela kamarnya, dan perlahan dia membuka jendela kamarnya.
Ternyata itu adalah seorang Vampire yang waktu itu menolongnya dari seekor Werewolf yang hampir saja menggigitnya.

“Mark” ucap Nela.

“Hi, bagaimana kabar mu?” Ucap Mark seraya masuk kedalam kamarnya Nela melalui jendela kamar.

“Kabar ku baik-baik saja, aku pikir setelah malam itu kita tidak akan bisa bertemu lagi” ucap Nela.

“Tentu saja tidak. Maaf aku baru sempat menemui lagi, karena kemarin malam ada seorang pria yang menjaga tidur mu” ucap Mark.

“Itu adalah salah satu kakak ku, namanya Andrew. Dan dia baru datang ke sini” ucap Nela.

Mark pun hanya mengganggukkan kepalanya.

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada mu?” Ucap Nela.

“Apa?” Ucap Mark.

“Bagaimana kau bisa menjadi Vampire seperti sekarang ini?” Ucap Nela.

My Love is Vampire - Chapter V

And this next nya ya ;) Enjoy read it...


=============================================================


Mark hanya terdiam seperti enggan untuk memberitahunya.

“Maaf, jika kau tidak menyukai pertanyaan itu. Aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa menjadi Vampire? Tapi jika kau tidak ingin memberitahu ku juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksanya” ucap Nela.

“Tentu saja aku menjadi Vampire seperti sekarang bukan karena keinginan ku. Tapi aku menjadi Vampire karena aku digigit oleh seorang Vampire” ucap Mark.

“Bagaimana bisa kau digigit oleh Vampire itu?” Ucap Nela.

“Malam itu, aku pulang dari rumah teman ku dan aku memutuskan pulang kerumah dengan berjalan kaki karena jarak rumah teman ku dengan rumah ku tidak begitu jauh. Malam itu memang sangat sepi dan begitu dingin, karena untuk mempersingkat waktu aku memutuskan untuk melewati sebuah hutan yang memang terkenal karena keangkerannya. Menurut orang-orang, hutan itu dihuni oleh makhluk-makhluk yang dianggap tidak pernah ada seperti Vampire dan Werewolf. Tapi aku tidak pernah mempercayai cerita itu, seakan tidak ada rasa takut aku memasuki hutan itu dengan santai. Tiba-tiba aku merasakan seperti ada seseorang yang mengikuti ku dari belakang, ketika aku menoleh ke arah belakang tetapi tidak melihat ada siapa-siapa. Dan aku pun melanjutkan langkah ku, namun tiba-tiba ada sesuatu yang menggigit leher ku dengan begitu cepat. Aku mencoba menoleh kearah belakang seraya menahan rasa sakit pada leher ku, ternyata sesuatu yang menggigit leher ku adalah seorang pria dengan taring yang begitu tajam. Aku tahu kalau pria itu adalah seorang Vampire, saat itu tidak ada yang bisa aku lakukan selain hanya pasrah pada keadaan ku” Mark belum menyelesaikan ceritanya, tetapi Nela sudah memotongnya.

“Kenapa kau tidak berteriak untuk meminta tolong?” Ucap Nela.

“Percuma jika aku berteriak untuk meminta tolong, karena di hutan itu sangatlah sepi tidak ada seorang pun yang melewati hutan itu selain aku. Saat itu hanya ada 2 kemungkinan yang terjadi pada diriku, yaitu Vampire itu menghisap darah ku sampai habis dan membuat ku mati atau Vampire itu hanya menghisap sedikit darah ku dan membuat ku menjadi Vampire sepertinya. Aku pikir Vampire itu akan menghisap darah ku sampai habis, tapi ternyata aku salah. Vampire itu hanya menghisap sedikit darah ku, setelah itu dia menjatuhkan tubuh ku begitu saja dan pergi meninggalkan aku yang sedang tak berdaya dengan luka dileher ku. Aku tak menyangka perubahan menjadi Vampire begitu cepat terjadi, aku mulai merasakan kepala ku begitu panas seperti sedang dibakar, keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhku, tenggorokkan ku yang terasa sangat kering, hingga tumbuhnya dua buah taring pada gigiku. Dan tiba-tiba aku tak sadarkan diri lagi, ketika aku sadarkan diri aku merasa suhu tubuhku begitu dingin seperti seseorang yang sedang demam. Dan rasa haus ku akan darah manusia begitu sulit untuk ku kendalikan, ingin rasanya saat itu aku meminum begitu banyak darah tapi aku tidak ingin melukai siapapun. Saat itu aku hanya dapat berjalan menyelusuri hutan itu seraya menahan rasa haus ku akan darah manusia. Hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang Vampire pria yang berambut agak kekuningan, dia adalah Kian Egan dan dia lah yang membawa ku ke sebuah kastil tua tempat dia dan para Vampire tinggal” ucap Mark.

“Apa sampai sekarang kau tidak pernah meminum darah manusia sekali pun?” Ucap Nela.

“Aku tetap meminum darah manusia, namun tidak langsung dari tubuh mereka. Kian selalu membelikan darah dari rumah sakit untuk ku dan beberapa Vampire yang ada dikastil itu” ucap Mark.

“Itu artinya kau tidak pernah melukai satu orang pun. Kau benar-benar Vampire yang hebat, aku sangat kagum padamu. Namun kenapa setiap kau bertemu dengan ku, kau tidak suka berlama-lama berada didekat ku? Apa ada yang salah dengan ku” ucap Nela.

“Karena aroma darah mu begitu menggoda ku untuk mencicipinya, dan darah mu bagaikan Heroin untuk ku...” Ucap Mark.

Nela pun segera memeluk Mark.

“Silahkan, hisaplah darah sebanyak yang kau inginkan” ucap Nela.

“Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu!” Ucap Mark.

Nela pun terkejut dan segera melepaskan pelukannya.

“Kenapa?” Ucap Nela.

“Karena aku tak ingin melukai mu sedikit pun, aku merasa aku harus menjaga dan melindungi mu” ucap Mark.

Nela pun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mark.

“Sepertinya tidak seharusnya kita bertemu. Karena aku tidak ingin kau terluka karena aku” ucap Nela.

“Kenapa kau berbicara seperti itu?” Ucap Mark.

“Mungkin kau belum tahu, kalau salah satu kakak ku yang bernama Shane adalah seorang pemburu Vampire. Ya, Shane memang begitu suka memburu Vampire setiap malam dihutan itu. Dan, aku tidak bisa menghentikannya. Tapi aku mohon pada mu, jangan kau lukai Shane karena aku sangat menyayanginya. Dan ku harap Vampire yang lain juga tidak pernah melukai Shane” ucap Nela.

“Kau tenang saja, aku berjanji aku tidak akan pernah melukai Shane. Dan aku akan menjaga kakak mu agar Vampire lain tidak bisa melukainya” ucap Mark.

“Terima kasih Mark, kau memang benar-benar Vampire yang baik” ucap Nela.

Mark pun hanya tersenyum.

“Baiklah, sepertinya aku harus segera pergi” ucap Mark.

“Kenapa kau terburu-buru? Apakah kita dapat bertemu kembali?” Ucap Nela.

“Ya, tentu saja” ucap Mark seraya pergi meninggalkan kamarnya Nela.

Nela pun hanya tersenyum seraya menaiki tempat tidurnya dan beranjak untuk tidur.


------------------


Matahari mulai memunculkan dirinya, burung-burung pun saling berkicauan dengan begitu merdu untuk menyambut pagi hari, dan seperti biasa yang Shane lakukan dipagi hari adalah mempersiapkan sarapan untuk dirinya dan kedua adiknya.
Sungguh tak bisa ia bayangkan, bagaimana jika nanti dia sudah menikah dengan Gillian. Siapa yang akan menyiapkan sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan semuanya. Itu semua sangat sulit untuk ia bayangkan.
Tak lama Andrew pun datang menghampirinya.

“Hi, pagi Shane” ucap Andrew.

“Pagi Andrew” ucap Shane.

Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat Shane yang begitu sibuk.

“Kenapa Ndrew?” Ucap Shane.

“Aku sangat kagum padamu Shane” ucap Andrew.

“Kagum kenapa?” Ucap Shane yang terlihat begitu sibuk untuk menyiapkan sarapan pagi.

“Setiap pagi kau selalu bangun lebih dulu hanya untuk menyiapkan sarapan pagi” ucap Andrew.

“Ya, aku memang harus melakukan hal itu setiap pagi, jika bukan aku yang menyiapkannya lalu siapa lagi? Kau tahu Nela begitu sibuk dengan kuliahnya, kadang pulang siang dan kadang pulang sore jika ada tugas tambahan. Dan dia suka lupa dengan waktu makannya” ucap Shane.

“Lalu bagaimana jika nanti kau menikah dengan Gillian? Siapa yang akan menyiapkan semuanya?” Ucap Andrew.

“Entahlah... Itu yang selalu aku pikirkan” ucap Shane.

“Bagaimana jika nanti kau sudah menikah dengan Gillian, Nela tinggal di London saja bersama dengan ku dan mamah papah?” Ucap Andrew.

“Ya, aku juga inginnya seperti itu saja. Tapi kau dan mamah papah juga sama-sama sibuk kan? Lalu bagaimana dengan adik kita? Siapa yang akan menyiapkan segala sesuatu untuknya?” Ucap Shane.

“Ya, kau benar juga Shane. Lalu bagaimana dengan adik kita?” Ucap Andrew.

“Mungkin jika nanti aku sudah menikah dengan Gillian, Nela akan tinggal bersama dengan ku dan Gillian” ucap Shane.

“Lalu rumah ini akan kosong begitu saja?” Ucap Andrew.

“Ya” ucap Shane.

“Morning kakak-kakak ku” ucap Nela yang baru saja datang.

“Morning adik ku” ucap Andrew dan Shane.

“Kalian sedang membicarakan apa?” Ucap Nela.

“Tidak, kami hanya sedang membicarakan tentang hubungan ku dengan Gillian” ucap Shane yang sedikit berbohong, karena Shane tahu Nela mungkin tidak akan sedikit suka jika membicarakan tentang hal itu.

“Memangnya hubungan kalian kenapa? Hubungan kalian baik-baik saja kan?” Ucap Nela.

“Ya, tentu saja hubungan ku dengan Gillian baik-baik saja” ucap Shane.

“Ah, syukurlah kalau seperti itu” ucap Nela seraya menarik nafas lega.

“Selesai... Ayo kita sarapan sekarang” ucap Shane ketika selesai menyiapkan sarapan pagi.

Mereka pun menyantap sarapan pagi bersama-sama.

“Nela, kau ingin diantar ke kampus dengan siapa? Dengan ku atau Andrew?” Ucap Shane seraya menyantap sarapan paginya.

“Ku rasa kita tidak perlu mengantar Nela ke kampusnya” ucap Andrew.

“Memangnya kenapa?” Ucap Shane yang sedikit heran.

“Karena sebentar lagi pangerannya Nela akan datang untuk menjemputnya dan mereka akan berangkat kekampus bersama” ucap Andrew.

“Siapa?” Ucap Nela bingung.

“Nanti kau juga akan tahu, dan aku yakin sebentar lagi pangeran mu akan datang” ucap Andrew.

Shane pun hanya tertawa kecil seraya tetap menyantap sarapan pagi. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.

“Itu pasti suara klakson mobilnya pangeran mu” ucap Andrew kepada Nela.

Nela pun hanya tersipu malu seraya berjalan untuk membukakan pintu pagar rumah mereka.

“Pagi Nela” ucap seorang pria yang tentu saja sudah ia kenal.

Ternyata apa yang diucapkan oleh Andrew memang sangat benar.

“Pagi Hayden, ayo silahkan masuk” ucap Nela.

Dan mereka pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan menuju ke ruang makan.

“Lihat Shane, apa yang tadi aku ucapkan memang benar kan?” Ucap Andrew.

“Ya, sangat benar!” Ucap Shane.

“Benar kenapa?” Ucap Nela bingung.

“Sudahlah, tidak perlu dibahas” ucap Shane seraya tertawa kecil.

“Hayden, ayo kita sarapan dulu” ajak Andrew.

“Tidak, terima kasih. Tadi aku sudah sarapan dirumah” ucap Hayden.

“Benarkah?” Ucap Shane seraya mengangkat kedua alisnya.

“Ya” ucap Hayden.

“Baiklah, Shane, Andrew, kami berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela.

“Nela, kau tidak menghabiskan sarapan mu dulu?” Ucap Shane.

“Tidak Shane, aku sudah kenyang” ucap Nela.

“Shane, Andrew, kami berangkat ke kampus dulu ya” ucap Hayden.

“Ya Hayden, kalian hati-hati ya” ucap Shane.

“Hayden, seperti biasa aku titip adik ku yang cuma satu-satunya ya” ucap Andrew.

“Ya Andrew, dia akan selalu akan aman bersama dengan ku” ucap Hayden.

“Ya, aku percaya itu” ucap Andrew.

Nela dan Hayden pun segera menuju ke luar rumahnya Shane. Lalu Nela dan Hayden segera memasuki mobilnya Hayden.

“Apa tidak ada yang tertinggal?” Ucap Hayden seraya menyalakan mesin mobilnya.

“Sepertinya tidak ada” ucap Nela.

Hayden hanya mengangguk mengerti dan mereka segera pergi menuju ke kampus mereka. Tak lama mereka pun sampai dikampus tempat mereka kuliah.

“Terima kasih, sampai nanti Hayden” ucap Nela seraya keluar dari mobilnya Hayden.

“Tunggu! Aku akan mengantar mu sampai ke kelas mu” ucap Hayden seraya keluar dari mobilnya.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya, dan mereka berjalan menuju kelasnya Nela.
Ketika Nela dan Hayden sedang berjalan menuju ke kelasnya Nela, semua orang ada disekitar mereka memperhatikan mereka.

“Kenapa mereka memperhatikan kita?” Ucap Nela.

“Entahlah, aku juga tidak tahu” ucap Hayden.

“Jadi kalian berdua sudah berpacaran, selamat ya” ucap seseorang yang tentu saja mahasiswa di kampus itu.

Nela dan Hayden yang mendengar itu hanya tersenyum seraya tak mengerti.

“Kenapa mereka beranggapan kita sudah berpacaran? Padahal kita berdua hanya berjalan bersama saja” ucap Nela heran.

“Biarkan saja, itu kan menurut mereka saja” ucap Hayden.

Tak lama mereka pun sampai dikelasnya Nela.

“Baiklah Nela, sampai nanti ya” ucap Hayden.

“Ya Hayden” uca Nela seraya memasuki ruang kelasnya.

Hayden pun berjalan meninggalkan kelasnya Nela, dan menuju ke ruang kelasnya sendiri.


3 jam pun berlalu, dan kini waktunya untuk mahasiswa dan mahasiswi istirahat.
Nela pun segera berjalan keluar dari kelasnya seraya membawa sebuah novel ditangannya. Dia berjalan menuju sebuah taman yang ada dikampusnya.
Setelah sampai ditaman itu, ia segera duduk disebuah kursi panjang dan membuka novel yang ia bawa. Tiba-tiba ponselnya bergetar, dia pun segera mengambil ponsel disaku bajunya dan ternyata itu adalah telepon dari Hayden. Dan Nela pun segera mengangkatnya.


••••••••••••••••

“Hallo” ucap Nela membuka pembicaraan ditelepon.

“Hallo Nela, kau ada dimana? Tadi aku ke kelas mu, tetapi kau tidak ada disana” ucap Hayden.

“Aku sedang ditaman, ada apa Hayden?” Ucap Nela.

“Baiklah, aku akan kesana sekarang” ucap Hayden.

“Ya” ucap Nela mengakhiri pembicaraan di telepon.


••••••••••••••••••

Nela pun mulai membaca novel itu. Tak lama Hayden pun datang dan menghampirinya.

“Hey, kau sedang apa?” Ucap Hayden seraya duduk disamping Nela.

“Aku sedang membaca novel yang mempertemukan kita berdua” ucap Nela.

Hayden pun hanya tertawa kecil.

“Oh ya, ini untuk mu” ucap Hayden seraya memberikan Nela sekaleng juice jeruk.

“Thank you” ucap Nela seraya mengambil minuman itu.

“Ya. Boleh kah aku ikut membacanya juga?” Ucap Hayden.

“Ya, tentu saja” ucap Nela.

“Biasanya kalau sedang membaca novel aku suka sambil mendengarkan musik karena dapat membuat ku semakin fokus dalam membaca novel tersebut. Apa kau ingin mendengarkannya juga?” ucap Hayden seraya mengeluarkan sebuah ipod beserta dengan headphones dari dalam saku celananya.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Hayden segera memasangkan sebelah headphones ke telinganya Nela dan headphones yang sebelahnya ia pasang ditelinganya sendiri.
Dan mereka pun membaca novel seraya mendengarkan musik bersama-sama. Tanpa mereka ketahui, ternyata David sedang mengawasi mereka dari balik sebuah pohon.

“Menyebalkan! Apa mau nya Hayden? Apa dia ingin mengingkari janji itu?” Ucap David yang terlihat begitu kesal karena melihat pemandangan itu didepannya.

David pun segera berjalan menuju ke halaman belakang kampus itu seraya mengetik sebuah pesan untuk Hayden.
Tak lama ponsel Hayden pun bergetar, ia segera mengambil ponselnya disaku celananya dan terlihat dilayar ponselnya “1 message from David”.

“David mengganggu waktu ku saja!” Gerutu Hayden dalam hati.

“Sebentar ya Nela” ucap Hayden.

“Ya” ucap Nela.

“Hayden, aku ingin berbicara dengan mu! Sekarang aku ingin kau menemui ku di halaman belakang kampus! Jika kau tidak ingin menjadi pengecut, maka datanglah!” Pesan dari David.

Terlihat raut muka Hayden yang sedikit kesal ketika usai membaca pesan dari David.

“Ada apa?” Ucap Nela.

“Hehm, tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang karena ada urusan yang aku harus selesaikan. Kau tunggu disini dulu ya, aku akan segera kembali” ucap Hayden beranjak pergi menuju halaman belakang kampus.

“Ya, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan segera lah hubungi aku!” Pekik Nela.

“Iya” pekik Hayden.

Hayden pun terus berjalan menuju halaman belakang kampus.

“Ada apa dengan David? Kenapa tiba-tiba dia ingin bertemu dengan ku?” Ucap Hayden seraya berjalan menuju halaman kampus.

Tak lama Hayden pun sampai dihalaman belakang kampus, dan benar saja David memang sedang berada disana.

“Ada apa Dav?” Ucap Hayden seraya berjalan menghampiri David yang sedang menunggu kedatangannya.

“Akhirnya kau datang juga sepupu ku. Aku pikir kau tidak akan datang” ucap David.

“Sudahlah tidak usah membuang-buang waktu, ada apa kau ingin bertemu dengan ku?” Ucap Hayden.

“Nampaknya kau sangat sibuk ya, sampai untuk berbicara dengan ku saja kau tidak punya waktu” ucap David.

Hayden pun hanya menarik nafas panjang, terlihat raut mukanya yang begitu kesal.

“Apa kau masih ingat pada perjanjian kita?” Ucap David.

“Perjanjian apa?” Ucap Hayden.

“Hayden, kau ini memang benar-benar lupa atau kau pura-pura tidak ingat?” Ucap David.

“Aku memang benar-benar tidak mengingatnya” ucap Hayden.

“Baiklah, aku akan memberitahu apa perjanjian yang aku maksud itu. Perjanjian itu adalah perjanjian yang kita buat satu tahun yang lalu, dan sekarang kau mengingkari perjanjian itu!” Ucap David.

Hayden pun mulai mengingat apa perjanjian yang dimaksud oleh David.

“Ya, sekarang aku ingat perjanjian itu. Menurut ku, aku tidak mengingkari perjanjian itu. Mungkin kau salah David” ucap Hayden.

“Aku tidak salah, kau memang benar-benar sudah mengingkari perjanjian yang kita buat!” Ucap David.

“Tapi aku tidak merebut wanita yang kau cintai” ucap Hayden.

“Kau merebutnya dari ku Hayden!” Ucap David.

“Memangnya siapa wanita yang kau cintai itu? Dan aku memang tidak pernah merebutnya dari mu” ucap Hayden.

“Wanita itu adalah Nela, dan telah kau merebutnya dari ku” ucap David.

“Tapi aku tidak tahu jika kau menyukainya” ucap Hayden.

“Aku menyukainya sejak beberapa bulan yang lalu, dan semenjak kau mengenalnya aku jadi tidak bisa mendekatinya lagi” ucap David.

“Maaf Dav, tapi aku tidak tahu soal itu” ucap Hayden.

“Tidak apa-apa, tapi sekarang kau sudah mengetahuinya dan aku ingin kau menjauhi nya atau aku akan memberi tahu kepada Nela siapa kau yang sebenarnya!” Ucap David.

“Aku tidak akan pernah menjauhi nya Dav!” Ucap Hayden.

“Baiklah kalau seperti itu, bersiap-siap lah karena sebentar lagi Nela akan mengetahui siapa diri mu yang sebenarnya” ucap David.

“Silahkan saja, aku tidak takut pada ancaman mu itu!” Ucap Hayden seraya beranjak pergi.

“Hayden! Lebih baik kau jauhi Nela, atau Roland akan membunuhnya seperti dia membunuh Rachel kekasih mu yang telah mati itu!” Pekik David.

Hayden pun menghentikan langkahnya.

“Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi! Dan aku berjanji Roland tidak akan bisa melukai Nela sedikit pun karena aku akan selalu menjaga dan melindunginya” ucap Hayden.

“Kau sangat keras kepala Hayden!” Ucap David.

Hayden pun tak mempedulikan ucapannya David dan segera pergi meninggalkan halaman belakang kampus.

“Kita tunggu saja tanggal mainnya Hayden! Nela akan tahu siapa kau yang sebenarnya” ucap David.

Tak lama Hayden pun sampai ditaman kampus.

“Hey, maaf aku telah membuat mu menunggu lama” ucap Hayden seraya duduk disampingnya Nela.

“Tidak apa-apa” ucap Nela seraya tersenyum.

“Sebaiknya sekarang kita ke kelas saja” ucap Hayden seraya merangkul pundaknya Nela.

Dan mereka pun segera berjalan menuju ke kelasnya Nela.

“Apa urusan mu sudah selesai?” Ucap Nela.

“Ya, tentu saja sudah selesai” ucap Hayden.

Tak lama mereka pun sampai didepan kelasnya Nela.

“Sampai nanti ya Nela” ucap Hayden.

“Ya, sampai nanti Hayden” ucap Nela seraya memasuki kelasnya.


3 jam kemudian... Kini waktunya untuk pulang, Nela pun segera keluar dari kelasnya.
Dan seperti biasa Hayden sudah menunggunya didepan kelasnya.

“Ayo kita pulang bersama” ucap Hayden.

Nela dan Hayden pun berjalan menuju tempat parkir kampus. Dan tak lama mereka sampai ditempat parkir kampus mereka.
Tiba-tiba David pun datang menghampiri mereka.

“Hey!” Ucap David.

“Ada apa Dav?” Ucap Nela.

“Apa aku mengganggu kalian?” Ucap David.

“Tidak, memangnya kenapa Dav?” Ucap Nela.

“Aku ingin berbicara dengan mu Nela” ucap David.

“Kau ingin berbicara apa?” Ucap Nela.

“Tadi bicaranya tidak disini, aku ingin berbicara dengan mu dihalaman belakang kampus. Bagaimana apa kau mau?” Ucap David.

“Tapi aku harus segera pulang Dav” ucap Nela.

“Ayo lah, aku mohon pada mu. Hanya sebentar saja” ucap David.

“Hehm, bagaimana ya?” Ucap Nela.

“Please, karena ini sangat penting” ucap David seraya melirik ke arah Hayden. Dan Hayden pun hanya memalingkan pandangannya dari David.

“Pasti David ingin mengatakan hal itu kepada Nela” ucap Hayden dalam hati.

“Hayden, apa tidak apa-apa kau pulang sendiri?” Ucap Nela.

“Ya, tidak apa-apa” ucap Hayden.

“Baiklah, kau hati-hati ya” ucap Nela.

Nela dan David pun segera berjalan menuju halaman belakang kampus mereka.

“Kau ingin berbicara apa Dav? Sepertinya penting sekali” ucap Nela.

“Nanti kau juga akan tahu” ucap David.

Tak lama mereka pun sampai dihalaman belakang kampus mereka. Dan mereka segera duduk diatas rumput-rumput.

“Kau ingin bicara apa Dav?” Ucap Nela.

“Aku ingin bicara tentang Hayden. Kau tidak tahu kan siapa Hayden yang sebenarnya?” Ucap David.

“Memangnya siapa Hayden yang sebenarnya? Bukankah dia hanya manusia biasa seperti kita” ucap Nela.

“Itu hanya menurut mu saja. Hayden bukanlah manusia biasa seperti kita” ucap David.

“Apakah Hayden itu seorang Vampire? Atau mungkin dia seorang Dracula?” Ucap Nela.

“Bukan kedua-dua nya” ucap David.

“Lalu siapa Hayden yang sebenarnya?” Ucap Nela.

Senin, 19 Januari 2015

My Love is Vampire - Chapter III

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter III”
Genre : Fantasy | Romance | Thriller
Cast : Westlife | Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife


==================================================


Dan mereka pun makan malam bersama.
Seraya makan malam, Nela melihat arah jarum jam diruang makan dan waktu sudah menunjukkan pukul 19.00.

“Sudah jam 7 malam, Shane apakah nanti kita akan menjemput Andrew dibandara?” Ucap Nela.

“Entahlah, aku ingin menghubunginya tapi sepertinya tidak mungkin. Karena sekarang dia pasti sedang dibandara untuk menunggu waktu keberangkatan pesawatnya” ucap Shane.

“Lalu bagaimana? Tidak mungkin jika dia harus naik taksi dari bandara, karena ini sudah malam” ucap Nela.

Shane hanya terdiam seperti sedang berpikir.

“Aku akan menghubungi Andrew sekarang!” Ucap Nela seraya mengambil ponsel disakunya dan segera menghubungi Andrew.

“Apakah ponselnya aktif?” Ucap Shane.

“Menyebalkan! Ponselnya tidak aktif!” Ucap Nela.

“Ternyata dugaan ku benar, sekarang dia pasti sedang dibandara untuk menunggu waktu keberangkatan pesawatnya” ucap Shane.

“Baiklah, Shane aku pinjam mobilmu!” Ucap Nela.

“Kau mau kemana?” Ucap Shane.

“Aku mau menunggunya dibandara, karena aku tidak akan membiarkannya naik taksi sendiri dari bandara karena ini sudah malam” ucap Nela.

“Kau jangan terburu-buru seperti ini. Sudahlah lebih baik kita tunggu saja sampai dia datang. Dan sekarang habisi makan malam mu” ucap Shane.

Nela hanya menarik nafas panjang. Dan mereka kembali melanjutkan makan malamnya.


-------------------


4 jam pun berlalu...

Nela dan Shane sedang duduk dan berbincang-bincang diruang tamu.

“Sudah pukul 11 malam, dan Andrew pun belum juga sampai” ucap Nela.

“Bersabarlah, sebentar lagi dia juga akan sampai. Lebih baik sekarang kau tidur, karena sekarang sudah larut malam” ucap Shane.

“Aku tidak akan tidur, sebelum Andrew datang!” Ucap Nela.

Tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu.

“Itu pasti Andrew!” Ucap Nela yang segera berlari menuju pintu rumahnya, dan diikuti oleh Shane.

Nela pun membuka pintu rumahnya, seorang pria bertubuh tinggi dan berambut agak kemerahan berlari menghampirinya dan memeluknya.

“Nela adikku!” Ucap pria itu.

“Andrew!” Ucap Nela menyambut hangat kedatangan pria itu.

Ya, pria itu adalah Andrew kakak kedua dari Nela.

“Aku sangat merindukanmu adikku. Sudah begitu lama kita tidak bertemu!” Ucap Andrew yang masih tetap memeluk Nela.

“Aku juga sangat merindukan mu Andrew” ucap Nela.

“Apakah kau tidak merindukan ku Andrew?” Ucap Shane seraya melipat kedua tangannya.

Andrew pun berjalan menghampiri Shane.

“Tentu saja aku juga merindukan mu Shane!” Ucap Andrew seraya memeluk Shane.

“Aku juga merindukan mu Andrew” ucap Shane seraya menepuk-nepuk pelan pundaknya Andrew.

“Ayo kita lanjutkan mengobrolnya didalam” ucap Shane seraya menutup pintu rumahnya.

Mereka pun berjalan menuju ruang tamu.

“Ternyata rumah ini tidak banyak mengalami perubahan” ucap Andrew seraya berjalan dan menarik koper miliknya.

“Ya begitulah, seperti yang kau lihat sekarang” ucap Shane.

“Aku sangat merindukan rumah ini” ucap Andrew seraya memperhatikan seluruh isi ruangan.

“Ya, karena kau sudah sangat lama meninggalkan kami dan rumah ini” ucap Shane.

“Ya” ucap Andrew seraya menarik nafas panjang.

Mereka pun terus berbincang-bincang hingga larut malam. Shane pun menoleh ke arah jarum jam yang ada diruang tamu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30.

“Nela, sudah larut malam kau harus cepat tidur karena kau besok kuliah” ucap Shane.

“Tapi Shane, aku masih ingin mengobrol dengan Andrew” ucap Nela.

“Mengobrolnya kan bisa lanjutkan besok” ucap Shane.

“Ayo lah Shane, sebentar aja. Nanti aku akan tidur” ucap Nela seperti sedang memohon.

“Nela adik ku, Shane benar kau harus cepat tidur karena ini sudah larut malam. Tidak bagus untuk kesehatan mu jika kau masih terjaga hingga larut malam, pikiran dan tubuh mu kan juga butuh istirahat” ucap Andrew.

Nela pun menarik nafas panjang.

“Hehm, baiklah...” Ucap Nela.

“Ayo, aku akan mengantar mu kekamarmu” ucap Andrew.

“Good night Shane” ucap Nela.

“Good night my little sist” ucap Shane.

Nela dan Andrew pun berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya Nela.

“Sudah sangat lama, kau tidak mengantar ku kekamarku. Dan aku sangat merindukan hal itu” ucap Nela.

“Ya, aku juga sangat merindukan hal itu” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela dan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya Nela.

Mereka berdua terlihat begitu bahagia. Ya, mereka berdua memang sama-sama saling merindukan satu sama lain. Karena satu setengah tahun mereka tidak pernah bertemu.

“Siapa kekasih mu saat ini?” Ucap Nela.

“Tidak ada” ucap Andrew.

“Benarkah?” Ucap Nela seraya mengangkat kedua alisnya.

“Ya, saat ini aku ingin berfokus pada kuliah ku dulu” ucap Andrew.

“Itu sangat bagus kakak ku! Dan aku begitu suka dengan jawabanmu itu” Ucap Nela.

“Ya, bagaimana dengan mu? Siapa kekasih mu saat ini?” Ucap Andrew.

“Hehm, tidak ada” ucap Nela.

“Kau pasti sedang bercanda kan?” Ucap Andrew.

“Aku sedang tidak bercanda, dan saat ini aku memang belum memiliki kekasih” ucap Nela.

Mereka pun sampai didepan kamarnya Nela.

“Silahkan masuk” ucap Nela seraya memasuki kamarnya.

“Kamar mu juga tidak banyak mengalami perubahan” ucap Andrew seraya memasuki kamarnya Nela.

“Ya begitulah, aku memang tidak pernah mengubah dekorasi kamarku” ucap Nela seraya menaiki tempat tidurnya.

Andrew hanya mengangguk mengerti.

“Ya sudah, sekarang kau tidur ya. Good night adik ku, have a nice dream” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.

“Good night too my brother Andrew, I very miss you” ucap Nela.

Andrew pun hanya tersenyum seraya ingin beranjak pergi dari kamarnya Nela, namun dengan cepat Nela menarik tangannya Andrew.

“Ada apa?” Ucap Andrew.

“Aku ingin kau menemani ku sampai aku terlelap” ucap Nela.

Andrew pun tersenyum kembali seraya duduk ditepi tempat tidurnya Nela. Andrew tahu, kalau adik satu-satunya itu memang sangat merindukannya.
Dan begitu juga pun dengannya, dia juga sangat merindukan Nela.

“I'll be loving you forever... Deep inside my heart you'll leave me never. Even if you took my heart, and tore it apart. I would love you still, forever... You are the sun, you are my light. And you're the last thing on my mind, before I go to sleep at night. You're always round when I'm in need, when trouble's on my mind you put my soul at ease. There is no one in this world who can love me like you do, that is the reason that I wanna spend forever with you” Andrew melantunkan sebuah lagu seraya mengusap-usap lembut rambutnya Nela.

Dan lagu itu dengan suara Andrew yang merdu dapat membawa Nela menuju alam mimpinya.

“Tidur yang nyenyak adikku, have a nice dream ya” ucap Andrew yang kembali mencium keningnya Nela.

Tak lama Shane pun datang.

“Sudah ku duga, kalau dia akan meminta mu untuk menemaninya sampai dia terlelap” ucap Shane seraya memasuki kamarnya Nela.

“Ya, seperti itu lah” ucap Andrew.

“Dia terlihat begitu merindukan mu” ucap Shane.

“Aku juga sangat merindukannya” ucap Andrew seraya memperhatikan wajahnya Nela yang sedang tertidur.

“Terima kasih Shane, kau telah menjaga Nela dengan begitu baik selama aku tidak melakukannya” ucap Andrew.

“Ya, itu juga adalah kewajiban ku. Karena dia adalah adikku, aku akan selalu menjaganya dengan begitu baik” ucap Shane.

“Rasanya aku tidak ingin meninggalkannya lagi, dan aku ingin tetap ada disampingnya untuk menemani dan menjaganya” ucap Andrew yang tidak berpaling dari pandangannya terhadap wajahnya Nela yang sedang tertidur.

“Sama seperti ku, aku juga tidak tega untuk meninggalkannya sendiri walaupun hanya sebentar saja. Bagiku dia begitu penting, selama ini dia yang selalu mengisi dan mewarnai hari-hari ku” ucap Shane.

Mereka berdua pun tersenyum melihat wajah Nela yang sedang tertidur.

“Baiklah, kau juga harus istirahat Andrew. Karena ku tahu, kau pasti begitu lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup lama untuk kesini” ucap Shane.

Mereka pun segera beranjak pergi meninggalkan kamarnya Nela.
Kamar mereka bertiga memang bersebelahan, dan sama-sama berada dilantai dua rumah mereka.

“Good night Shane” ucap Andrew seraya memasuki kamarnya.

“Ya, good night my little brother Andrew! Have a nice dream bro” ucap Shane yang juga memasuki kamarnya.


-----------------------


Seperti biasa Shane sudah terbangun untuk mempersiapkan sarapan pagi. Tak lama Nela pun datang, dan menghampirinya.

“Good morning Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

“Good morning adik ku” ucap Shane tersenyum seraya mempersiapkan sarapan untuk pagi hari.

“Apakah Andrew belum bangun?” Ucap Nela.

“Belum, sepertinya dia begitu lelah karena menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk kesini” ucap Shane.

“Hehm, aku ingin melihatnya ya” ucap Nela seraya berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya Andrew.

Setelah sampai didepan kamarnya Andrew, perlahan Nela mengetuk pintu kamarnya Andrew namun tidak ada jawaban dari dalam kamarnya Andrew.

“Sepertinya Shane benar, Andrew memang masih tertidur” ucap Nela.

Nela pun mencoba membuka pintu kamarnya Andrew, dan ternyata pintunya tidak terkunci. Lalu dia segera memasuki kamarnya Andrew, dan menghampiri Andrew yang masih tertidur dengan lelap.
Perlahan Nela duduk ditepi tempat tidurnya Andrew.

“Sudah begitu lama, aku tidak melihat wajahnya yang sedang tertidur” ucap Nela seraya memperhatikan wajah tampannya Andrew yang sedang tertidur.

“Meskipun sedang tertidur, namun dia tetap terlihat sangat tampan” ucap Nela seraya tersenyum tanpa berpaling dari pandangannya terhadap wajah Andrew yang masih tertidur dengan lelap.

Perlahan dia menyentuh wajahnya Andrew, didalam hatinya dia begitu senang karena dapat menyentuh kembali wajahnya kakaknya itu ketika dia sedang tertidur. Ya, dari dulu Nela memang senang menyentuh wajahnya Andrew dan Shane ketika mereka sedang tertidur.
Namun tidak dengan sekarang, karena sekarang Shane selalu bangun lebih dulu darinya.

“Hehm, andai saja sekarang ini aku juga bisa menyentuh wajahnya Shane ketika dia sedang tertidur” gumam Nela pelan seraya tetap menyentuh wajahnya Andrew.

Tiba-tiba Andrew terbangun, dan menyadari kalau sejak tadi Nela menyentuh wajahnya ketika dia sedang tertidur. Nela pun sedikit terkejut, ketika Andrew terbangun dari tidurnya.

“Ternyata kau sudah bangun” ucap Nela.

“Kau sedang apa dikamarku?” Ucap Andrew.

“Hehm... A... Aku hanya ingin membangunkan mu saja, tetapi aku tidak tega ketika melihat wajah mu yang terlihat begitu lelah” ucap Nela.

“Aku tahu apa yang sebenarnya kau lakukan” ucap Andrew.

“Sudahlah, cepat kau mandi karena Shane sudah menunggu untuk sarapan pagi bersama” ucap Nela.

“Kau ini begitu lucu adik ku” ucap Andrew seraya mengacak-acak rambutnya Nela.

“Andrew! Jangan mengacak-acak rambutku, karena aku sudah bersiap untuk berangkat ke kampus!” Pekik Nela.

Andrew pun hanya tertawa kecil seraya memeluk Nela dari belakang.

“Aku sangat menyayangi mu adik ku!” Bisik Andrew tepat ditelinganya Nela.

“Andrew! Lebih baik sekarang kau cepat mandi, dan lepaskan pelukannya karena kau bisa membuat bajuku menjadi kusut!” pekik Nela.

Lagi-lagi Andrew hanya tertawa kecil, dan berjalan menuju kamar mandi yang ada dikamarnya.

“Huh, dasar Andrew! Aku kan sudah menyisir rambutku, tapi dia mengacak-acaknya” Gerutu Nela seraya berjalan keluar dari kamarnya Andrew.

Nela pun kembali berjalan menuruni anak tangga, dan menuju ke ruang makan.

“Bagaimana apa dia sudah bangun?” Ucap Shane.

“Ya, sudah. Dan sekarang dia sedang mandi” ucap Nela seraya merapikan rambutnya.

Tiba-tiba ponselnya Nela pun berbunyi, terlihat dilayar ponselnya “1 call from David Reale”. Dan ternyata itu adalah telepon dari David.
Nela pun mengangkat telepon dari David dan memulai pembicaraan ditelepon.


•••••••••••••••••

“Hallo Dav, ada apa?” Ucap Nela.

“Nela maaf ya, sepertinya pagi ini kita tidak bisa berangkat ke kampus bersama-sama karena aku ada urusan” ucap David.

“Ya, tidak apa-apa Dav” ucap Nela.

“Lalu bagaimana dengan mu? Kau berangkat kekampus dengan siapa?” Ucap David.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku, nanti aku bisa berangkat sendiri atau aku akan meminta Shane atau Andrew yang mengantar ku ke kampus” ucap Nela.

“Oh, Andrew sedang ada disini” ucap David.

“Ya, kemarin malam dia baru datang dan sedang berlibur disini” ucap Nela.

“Ok, baiklah sekali lagi aku minta maaf ya. Sampai nanti di kampus” ucap David.

“Ya, see you Dav” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.


••••••••••••••

“Siapa itu Dav?” Ucap Andrew yang baru saja datang dari kamarnya seraya duduk dibelakang meja makan.

“Itu David, dia adalah senior dikampus ku” ucap Nela.

“Benarkah itu Shane?” Ucap Andrew.

“Ya” ucap Shane.

“Ayo kita sarapan, karena aku sudah begitu lapar” ucap Nela.

Dan mereka pun menyantap sarapan pagi bersama, namun tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.

“Siapa itu? Apakah itu David?” Ucap Shane.

“Entahlah, biar ku lihat dulu” ucap Nela seraya berjalan keluar rumahnya.

“Hey! Hayden” ucap Nela ketika melihat seorang pria yang baru saja kemarin ia kenalnya.

Nela pun membukakan pintu pagar rumahnya.

“Morning Nela” ucap Hayden.

“Morning Hayden, ada apa?” Ucap Nela.

“Aku ingin mengajak mu untuk berangkat ke kampus bersama ku” ucap Hayden.

“Hehm baiklah, ayo masuk dulu” ucap Nela.

Mereka pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan berjalan menuju ruang makan.

“Hey! Hayden” ucap Shane.

Andrew yang melihat seorang pria yang berdiri disamping adiknya itu, hanya bisa menduga kalau pria itu adalah kekasihnya Nela.

“Oh, ternyata pria ini adalah kekasihnya adikku. Shane, kenapa kau tidak memberitahu aku kalau Nela sudah memiliki seorang kekasih? Dan Nela, bukankah semalam kau bilang pada ku kalau saat ini kau belum memiliki kekasih” ucap Andrew heran.

Ternyata apa yang dikatakan oleh Andrew sama seperti yang Shane katakan, ketika mereka pertama kali melihat Hayden bersama dengan Nela.

“Andrew, dia bukan kekasih ku. Tapi dia adalah Hayden, dan dia juga senior ku dikampus ku” ucap Nela.

“Benarkah itu Shane?” Ucap Andrew.

“Ya, itu memang benar. Aku juga beranggapan seperti mu Andrew, aku pikir Hayden adalah kekasihnya Nela. Tetapi dugaan ku itu salah” ucap Shane.

“Hayden, ini adalah kakak ku yang kedua namanya Andrew. Dan Andrew ini adalah Hayden, senior dikampus ku” ucap Nela.

Mereka pun saling berjabat tangan seraya memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Baiklah, ayo kita sarapan dulu” ucap Shane.

“Terima kasih Shane, tadi aku sudah sarapan di apartemen ku” ucap Hayden.

“Ayo lah, kita sarapan pagi bersama” ucap Andrew.

Hayden menoleh ke arah, dan Nela hanya mengangkat kedua alisnya.

“Hehm baiklah” ucap Hayden.

Dan mereka pun sarapan pagi bersama-sama.

Setengah jam kemudian...

“Baiklah, Shane, Andrew, kami berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela.

“Iya adik ku, kau hati-hati ya” ucap Andrew.

“Ya, jaga diri mu ya” ucap Nela.

“Siap kakak-kakak ku!” Ucap Nela.

“Shane, Andrew, kami berdua berangkat ke kampus dulu ya. Maaf, aku sudah merepotkan kalian” ucap Hayden.

“Kau tidak merepotkan kami Hayden” ucap Shane.

“Hayden, aku titip Nela pada mu. Tolong jaga dia dengan baik, karena aku sangat menyayanginya” ucap Andrew.

“Ya, kau tenang saja. Aku akan menjaga dengan baik” ucap Hayden.

“Kalian hati-hati ya” ucap Shane dan Andrew.

“Iya” ucap Nela dan Hayden seraya berjalan menuju keluar rumah.

“Terima kasih ya” ucap Nela.

“Untuk apa?” Ucap Hayden seraya membukakan pintu mobil untuk Nela.

“Karena pagi ini, kau telah menjemput ku untuk berangkat ke kampus bersama dengan mu” ucap Nela seraya memasuki mobilnya Hayden.

“Ya, sama-sama” ucap Hayden seraya memasuki mobilnya dan segera menyalakan mesin mobilnya.

Dan mobil Hayden pun melaju meninggalkan rumahnya Nela dan menuju ke kampus mereka.

“Lagi-lagi aku membuat mu repot” ucap Nela.

“Sudah ku bilang, kau tidak pernah membuat ku repot” ucap Hayden seraya berfokus menyetir mobilnya.

Nela pun hanya tersenyum.

“Oh ya, maafkan Andrew ya karena dia pikir kau adalah kekasih ku. Sama halnya seperti Shane kemarin” ucap Nela.

“Ya, tidak apa-apa” ucap Hayden seraya tersenyum.

Tak lama mereka pun sampai dikampus mereka. Nela dan Hayden segera keluar dari mobilnya Hayden.

“Sekali lagi terima kasih ya, karena kau telah mengantar ku ke kampus” ucap Nela.

“Ya, sama-sama. Biar ku antar kau ke kelas mu” ucap Hayden.

Mereka pun berjalan menuju kelasnya Nela. Namun tiba-tiba David datang dan memanggil nama Nela dari belakang.

“Nela!” Pekik David seraya berlari menghampiri Nela dan Hayden.

Nela dan Hayden pun menghentikan langkah mereka, dan menoleh ke arah belakang.

“Hayden!” Ucap David terkejut ketika melihat Hayden sedang jalan bersama dengan Nela.

“Dav, kau mengenal Hayden?” Ucap Nela.

“Ya, tentu saja aku mengenalnya” ucap David.

“Jadi kalian berdua sudah saling mengenal” ucap Nela.

“Ya, kami sudah saling mengenal satu sama lain. Karena David adalah sepupu ku” ucap Hayden.

“Dav, kenapa kau tidak pernah cerita kepada ku kalau kau memiliki sepupu yang juga kuliah disini?” Ucap Nela.

“Karena hal itu tidak penting, jadi aku tidak pernah menceritakan hal itu kepada mu” ucap David dengan wajah yang terlihat sedikit kesal.

David pun pergi begitu saja, entah kenapa sepertinya David begitu tidak suka dengan Hayden.

“Sebenarnya ada apa dengan kalian? Kenapa kalian seperti tidak mengenal satu sama lain? Padahal kalian berdua bersaudara” Ucap Nela.

Minggu, 18 Januari 2015

My Love is Vampire - Chapter II

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter II”
Genre : Fantasy | Romance | Thriller
Cast : Westlife | Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife
Nb : Typo is Everywhere...


==================================================


Mark mencium bau darah yang mengalir didalam tubuhnya.
Dan dia pun segera memejamkan matanya.
Namun tiba-tiba Mark melepaskan pelukannya.Dan Nela bisa merasa lega karena Mark tidak jadi menghisap darahnya.Tetapi jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dengan sangat kencang karena Mark masih berdiri tepat didepannya.

“Maafkan aku,karena aku sudah membuatmu menjadi takut” ucap Mark.

“Ya,tidak apa-apa” ucap Nela.

“Dan akhirnya kau sudah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya.Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau aku adalah seorang Vampire?” ucap Mark.

“Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda pada dirimu.Yaitu kulitmu yang sangat dingin dan pucat,matamu yang berwarna merah,dan kau sangat kuat untuk memukul Werewolf itu” ucap Nela.

“Jawaban yang sangat bagus!Aku tak menyangka kau akan tahu tentang hal itu.Dan tidak semua orang tahu tentang hal itu” ucap Mark.

“Ya,aku tahu tentang hal itu karena aku membacanya disebuah buku yang membahas tentang Vampire,Dracula & Werewolf” ucap Nela.

Tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.

“Lebih baik kau cepat bersembunyi!Itu pasti kakakku dan teman-temannya” ucap Nela.

Dan Mark pun segera bersembunyi.

“Nela” ucap Shane dari luar kamarnya Nela.

“Iya Shane,masuk saja pintunya tidak ku kunci” ucap Nela.

“Baiklah” ucap Shane seraya membuka pintu kamarnya Nela.

“Ternyata kau belum tidur” ucap Shane seraya masuk kedalam kamarnya Nela diikuti oleh Nicky & Brian.

“Ya,aku belum tidur” ucap Nela.

“Nela,tadi aku tak sengaja mendengar suara kau sedang berbicara dengan seseorang” ucap Brian.

“Hehm,mungkin kau salah dengar Brian.Dari tadi aku sendiri dikamar ini,dan aku tidak berbicara dengan siapapun” ucap Nela.

“Nela,kau pasti lupa menutup jendela kamarmu ya?” Ucap Shane seraya menutup jendela kamarnya Nela.

“Hehm,ya sepertinya memang begitu” ucap Nela.

“Ya sudah,sekarang kau tidur ya maaf aku,Nicky dan Brian sudah mengganggu waktu tidurmu” ucap Shane.

“Tidak apa-apa Shane” ucap Nela.

“Good night adikku and have a nice dream baby” ucap Shane seraya mencium kening adiknya.

“Iya Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

Mereka pun segera pergi meninggalkan kamarnya Nela,dan Shane kembali menutup pintunya.

“Huh!Hampir saja ketahuan” ucap Nela seraya menarik nafas panjang.

Mark pun keluar dari tempat persembunyiannya.

“Lebih baik kau cepat pergi!Karena aku tak ingin kakakku berhasil menemukan mu” ucap Nela.

Tanpa mengeluarkan sedikit kata pun,Mark segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.

“Vampire yang aneh!” Ucap Nela.


---------------------


Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.

Seperti biasa Shane sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.Dan tak lama Nela pun datang.

“Good morning Shane” ucap Nela seraya duduk disebuah kursi yang berada dibelakang meja makan.

“Good morning adikku” ucap Shane yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.

“Apa perlu kubantu Shane?” Ucap Nela yang menawarkan bantuan karena Shane terlihat begitu sibuk untuk menyiapkan sarapan dipagi ini.

“Tidak perlu,sebentar lagi juga akan selesai kau duduk manis saja ya” ucap Shane.

Nela hanya mengangguk mengerti.
Dan tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar rumah mereka.

“Siapa itu?” Ucap Shane.

“Sebentar biar kulihat” ucap Nela seraya berjalan menuju halaman rumah mereka.

“David!” Ucap Nela ketika melihat seorang pria yang memang sudah dia kenal.

Pria itu adalah seniornya Nela dikampusnya,dia adalah David Reale.

“Hey!Silahkan masuk” ucap Nela.

Mereka pun segera masuk kedalam,dan berjalan menghampiri Shane.

“Shane,ini adalah David dia senior dikampusku.Dan David ini adalah Shane kakakku yang pernah aku ceritakan padamu” ucap Nela.

“Hey!Aku Shane kakaknya Nela.Senang bisa mengenalmu” ucap Shane seraya berjabat tangan dengan David.

“Ya” ucap David.

“Kalian hanya berteman saja atau...” Ucap Shane.

“Kami hanya berteman saja.Iya kan Dav?” Ucap Nela.

“Ya” ucap David.

“Oh... Tapi kalau lebih dari teman juga tidak apa-apa” ucap Shane.

“Ahh Shane!Kau ini” ucap Nela.

Shane pun hanya tertawa kecil.

“Ayo kita sarapan dulu” ucap Shane.

Setengah jam kemudian...

“Shane,kami berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela.

“Ya,kalian hati-hati ya.David,aku titip Nela ya” ucap Shane.

“Ya,kau tenang saja dia akan aman bersama ku Shane!” Ucap David.

Shane hanya tersenyum.
Nela & David pun segera pergi menuju kampus tempat mereka kuliah.

“Maafkan kakakku ya tentang hal tadi” ucap Nela.

“Ok,no problem” ucap David seraya berfokus menyetir mobilnya.

“Semalam ketika aku ikut berburu Vampire dengan kakak,aku tak sengaja bertemu dengan seekor Werewolf” ucap Nela.

“Hah?Werewolf?” Ucap David yang terlihat sangat terkejut.

“Ya,Werewolf” ucap Nela.

“Tapi Werewolf itu tidak melukai mu kan?” Ucap David.

“Tentu saja tidak” ucap Nela.

“Syukurlah,aku senang mendengarnya.Dan aku juga pernah berburu Werewolf,bahkan sampai sekarang aku masih suka berburu Werewolf namun jarang ku lakukan” ucap David.

“Benarkah?” Ucap Nela.

“Ya,biasanya aku berburu Werewolf dengan kakak perempuanku.Namun setelah kakak perempuan ku menikah,kami jadi jarang berburu Werewolf” ucap David.

“Sudah berapa banyak Werewolf yang berhasil kalian bunuh?” Ucap Nela.

“Entahlah aku lupa.Karena begitu banyak Werewolf yang sudah kami bunuh” ucap David.

“Aku jadi ingin berburu Werewolf” ucap Nela.

“Sebaiknya kau jangan lakukan hal itu!” Ucap David.

“Memangnya kenapa?Bukankah hal itu bisa memacu Adrenaline?” Ucap Nela.

“Ya,hal itu memang bisa memacu Adrenaline.Tapi hal itu sangat berbahaya untuk mu” ucap David.

“Dav,aku bukan anak kecil lagi.Aku bisa melawan Werewolf itu jadi kau tak perlu mengkhawatirkan ku” ucap Nela.

“Tapi sebaiknya kau jangan lakukan hal itu.Karena aku tak ingin kau terluka!” Ucap David seraya menatap Nela.

“Kau seperti kakak ku saja selalu berbicara seperti itu” ucap Nela.

Tak lama mereka pun sampai dikampus tempat mereka kuliah.
Nela & David pun segera keluar dari mobilnya David.

“Sampai nanti Dav!” Ucap Nela seraya berjalan menuju kelasnya.

“Nela!” Pekik David seraya berlari menghampiri Nela.

Nela pun menghentikan langkahnya.

“Ada apa Dav?” Ucap Nela.

“Sepertinya,nanti kita tidak bisa pulang bersama karena aku ada urusan” ucap David.

“Ya tidak apa-apa Dav” ucap Nela.

Tanpa sepengetahuan mereka,ternyata Mark sedang memperhatikan mereka berdua.

“Siapa pria itu?Apa mereka berdua berpacaran?” Ucap Mark.

“Lalu kau pulang dengan siapa?” Ucap David.

“Kau tak perlu khawatir,aku bisa meminta kakakku untuk menjemput ku” ucap Nela.

“Hehm baiklah,sekali lagi maaf ya” ucap David.

“Ya” ucap Nela seraya tersenyum.

Mark terus memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.

“Aku tak akan biarkan pria itu mendekatinya!” Ucap Mark.

Lalu Mark segera pergi meninggalkan kampus itu.

5 jam pun berlalu...
Dan kini waktunya untuk pulang,Nela pun sedang bergegas untuk pulang.Dia segera merapikan buku-bukunya dan memasukkannya kedalam tas.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi,dia segera mengambil ponselnya dan terlihat dilayar ponselnya “1 Message from My Brother Shane”.
Ternyata itu adalah pesan dari Shane,dia pun segera membaca pesan itu.

“Nela,aku sudah berada didepan kampusmu!”.

Setelah membaca pesan dari Shane,Nela segera berjalan menghampiri Shane yang sudah menunggunya didepan kampusnya.

“Hi Shane!Pasti kau sudah lama menunggu ku ya?” ucap Nela seraya memasuki mobilnya Shane.

“Tidak juga.Aku baru sampai sekitar 10 menit yang lalu” ucap Shane yang sedang mengutak-atik ponselnya.

“Aku pikir kau tak bisa menjemput ku,karena kau tak membalas pesan ku” ucap Nela.

“Tadi ponsel ku lowbet ketika aku ingin membalas pesanmu” ucap Shane seraya menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan kampus.

“Kau ingin makan siang diluar atau makan siang dirumah?Tapi dirumah aku sudah masak untuk makan siang” Ucap Shane seraya berfokus menyetir mobilnya.

“Aku ingin makan siang dirumah saja,karena masakan mu lebih enak dari semua masakan yang ada” ucap Nela.

Shane hanya tersenyum seraya menyetir mobilnya.
Dan tak lama mereka pun sampai dirumah mereka.

“Hehm,aku sudah tak sabar untuk makan siang” ucap Nela seraya keluar dari mobilnya Shane dan diikuti oleh Shane.

Mereka pun segera masuk kedalam rumah mereka dan menuju ke ruang makan.
Lalu mereka pun segera makan siang.

“Adikku,aku mau tanya?” Ucap Shane seraya memakan makan siangnya.

“Hehm,kau mau tanya apa Shane?” Ucap Nela.

“Apa benar kau dan David hanya berteman saja?” Ucap Shane.

“Ya,tentu saja kami hanya sekedar teman” ucap Nela.

“Oh... Tapi jika kalian berpacaran juga tidak apa-apa,aku akan menyetujui hubungan kalian” ucap Shane.

Tiba-tiba Nela pun tersendak.

“Kau ini kalau makan harus pelan-pelan,agar tidak tersendak” ucap Shane seraya memberi segelas air minum kepada Nela.

Nela pun segera minum,dan melanjutkan makan siangnya.

“Kami hanya berteman saja Shane,tidak lebih dari itu” ucap Nela.

“Tapi sepertinya dia menyukaimu.Dan jika kalian saling menyukai,kenapa kalian tidak berpacaran saja?” Ucap Shane.

“Shane,bisa tidak kau jangan bahas tentang hal itu?” Ucap Nela.

“I'm sorry baby... Aku hanya ingin ada seseorang yang selalu menjaga dan menemani mu,jadi ketika nanti aku menikah dengan Gillian aku bisa tenang karena sudah ada seseorang yang selalu menjaga dan menemani mu” ucap Shane.

“Kau tenang saja,aku bisa menjaga diriku sendiri” ucap Nela.

“Tapi aku tidak tenang jika harus meninggalkan mu sendiri” ucap Shane.

“Terserah kau saja Shane!” Ucap Nela segera pergi menuju kamarnya.

“Hehm,apa ada yang salah dengan ucapanku?” Ucap Shane.

“Kenapa tiba-tiba Shane membahas tentang hal seperti itu?” Ucap Nela.

Shane pun berjalan menuju kamarnya Nela.Dan setelah sampai didepan kamarnya Nela,dia segera mengetuk pintunya.

“Nela adikku,apa aku boleh masuk?” Ucap Shane dari luar kamarnya Nela.

“Ya,masuk saja pintunya tidak ku kunci” ucap Nela dari dalam kamarnya.

Shane pun membuka pintu kamarnya Nela,dan berjalan menghampiri Nela yang sedang duduk termenung diatas kasurnya.

“Apa kau marah padaku?” Ucap Shane seraya duduk disamping Nela.

“Tidak” ucap Nela singkat.

“Benarkah?Maafkan aku atas hal tadi” ucap Shane.

“Tidak apa-apa” ucap Nela.

Shane pun segera mendekap adiknya.

“Aku tahu kau pasti marah padaku...” Ucap Shane.

Nela hanya terdiam tanpa mengeluarkan sedikit kata pun.

“Tidak apa-apa jika kau marah padaku,karena itu memang salahku” ucap Shane.

“Kau tidak salah Shane.Aku tahu maksudmu benar,kau ingin ada seseorang yang selalu menjaga dan menemaniku” ucap Nela.

“Jadi kau tidak marah padaku?” Ucap Shane.

“Tentu saja tidak Shane,untuk apa aku marah padamu” ucap Nela seraya tersenyum kepada Shane.

“Kau tahu aku begitu takut jika kau marah padaku,karena aku selalu ingin menjadi kakak yang baik untuk mu” ucap Shane yang masih mendekap Nela.

“Dan kau sudah menjadi kakak yang baik untukku Shane” ucap Nela.

“Meskipun seperti itu,aku ingin tetap selalu dan selamanya menjadi kakak yang baik untuk mu” ucap Shane.

Nela pun hanya tersenyum.

“Shane,aku mau ke toko buku ya.Ada buku yang ingin aku beli” ucap Nela.

“Kenapa kau tak bilang dari tadi,kalau kau ingin ke toko buku” ucap Shane.

“Hehm,tadi aku lupa mengatakannya Shane” ucap Nela seraya bersiap-siap untuk pergi.

“Baiklah,aku temani ya?” Ucap Shane.

“Tidak perlu Shane,aku pergi sendiri saja” ucap Nela.

“Benarkah?” Ucap Shane.

“Ya” ucap Nela.

“Ya sudah kalau seperti itu,tapi jangan pulang sampai malam ya” ucap Shane.

“Iya Shane,kau tenang saja” ucap Nela.

“Baiklah Shane,aku pergi dulu ya” ucap Nela seraya beranjak pergi.

“Hati-hati,jaga dirimu!” Pekik Shane.

“Ya” ucap Nela seraya berjalan keluar rumahnya.


------------------


Nela pun sampai ditoko buku yang dia tuju.Dia segera memasuki toko buku itu,dan menuju ketempat buku yang dia cari.
Tak butuh waktu lama untuknya menemukan buku yang dia cari.

“Ini dia novel yang aku cari” ucap Nela ketika melihat sebuah novel yang sedang dia cari.

Nela pun segera mengambil novel itu,namun tiba-tiba ada seseorang yang juga sedang mengambil novel itu.
Dia pun segera menoleh ke arah sampingnya.Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang pria tampan,keren,dan bertubuh tinggi sedang mengambil novel itu juga.
Mereka pun saling menatap satu sama lain.

“Hehm maaf,ambil saja novelnya” ucap Nela.

“Tidak,novelnya untukmu saja” ucap pria itu.

“Tidak apa-apa,aku bisa mencari novel itu ditoko buku lain” ucap Nela.

Pria itu pun mengambil novel yang tadi ingin mereka ambil.

“Ini untuk mu” ucap pria itu seraya memberikan novel itu kepada Nela.

“Tidak,untuk mu saja” ucap Nela.

“Tidak,novel ini untuk mu” ucap pria itu.

“Hehm,benarkah?“ Ucap Nela.

“Ya” ucap pria itu.

“Lalu bagaimana dengan mu?” Ucap Nela.

“Sudahlah,kau tidak perlu memikirkan aku.Aku bisa cari novel ini ditoko buku lain” ucap pria itu.

“Apa tidak apa-apa,kau kan juga ingin membaca novel ini” ucap Nela.

“Tidak apa-apa.Namamu siapa?Nama ku Hayden” ucap pria itu seraya mengulurkan tangannya.

“Nama ku Nela” ucap Nela seraya berjabat tangan dengan pria itu.

“Nama yang bagus” ucap pria itu.

“Terima kasih” ucap Nela.

“Sepertinya sebelumnya aku pernah melihat mu” ucap pria itu.

“Benarkah?Dimana?” Ucap Nela.

“Di University College Cork,kau kuliah disana kan?Aku juga kuliah disana” Ucap pria itu.

“Ya,aku kuliah disana.Tapi kenapa aku tidak pernah melihat mu?” Ucap Nela.

“Hehm,mungkin karena kita beda kelas jadi kau tidak pernah melihatku” ucap pria itu.

“Ya,mungkin juga” ucap Nela.

“Bagaimana kalau mengobrolnya kita lanjutkan disebuah cafe yang tidak jauh dari sini?” Ucap pria itu.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya,dan mereka segera berjalan menuju sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari toko buku itu

Tak lama mereka pun sampai disebuah cafe. Lalu mereka segera duduk, dan memesan minuman.

“Apa kau datang sendiri?” Ucap Hayden.

“Ya, aku datang sendiri. Tadi kakak ku ingin menemani ku, namun aku menolaknya karena aku sedang ingin pergi sendiri” ucap Nela.

“Oh, lalu apa rumah mu tak jauh dari sini?” Ucap Hayden.

“Ya, rumahku tak jauh dari sini. Bagaimana dengan kau apa kau datang sendiri?” Ucap Nela.

“Ya, aku datang sendiri” ucap Hayden.

“Hehm, aku pikir kau datang dengan kekasihmu” ucap Nela.

“Saat ini aku tidak memiliki kekasih” ucap Hayden seraya tertawa.

“Kau pasti sedang bercanda” Ucap Nela.

“Aku sedang tidak bercanda, sejak pertama kali aku pindah ke Ireland aku belum terpikirkan untuk mencari seorang kekasih” ucap Hayden.

Nela seakan tidak percaya ketika Hayden mengatakan kalau dia belum memiliki kekasih, karena sepertinya tidak mungkin jika seorang pria tampan, keren, dan sebaik Hayden tidak memiliki kekasih.

“Apa kau baru pindah ke sini?” Ucap Nela.

“Tidak, aku pindah kesini sejak 2 tahun yang lalu. Dan sebelum nya aku tinggal di Canada” ucap Hayden.

“Lalu kenapa kau pindah kesini?” Ucap Nela.

“Karena ada sebuah masalah disana, jadi aku memutuskan untuk pindah ke Ireland” ucap Hayden.

Nela hanya menganggukkan kepalanya seraya melihat ke arah jarum jam yang ada di jam tangannya.

“Sepertinya aku harus segera pulang, karena aku sudah janji pada kakak ku kalau aku tidak akan pulang sampai sore” ucap Nela.

“Hehm baiklah, biar aku antar ya” ucap Hayden.

“Tidak perlu, aku tak ingin merepotkan mu lagi” ucap Nela.

“Tidak apa-apa, aku tidak merasa direpotkan olehmu” ucap Hayden.

“Tidak, aku ingin pulang sendiri saja” ucap Nela.

“Ayo lah, izinkan aku untuk mengantar mu pulang” ucap Hayden seperti sedang memohon.

“Baiklah, jika kau memaksa ku” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum,dan mereka segera pergi meninggalkan cafe itu.

“Kenapa kau diam saja?” Ucap Hayden seraya berfokus menyetir mobilnya dan sesekali menoleh ke arah Nela.

“Hehm, aku masih merasa tidak enak pada mu” ucap Nela.

“Kenapa harus merasa tidak enak?” Ucap Hayden.

“Karena aku sudah terlalu banyak merepotkan mu, yang pertama aku sudah mengambil novel yang ingin kau beli, lalu sekarang kau harus mengantar ku pulang” ucap Nela.

“Kau tenang saja, soal novel itu kau baca saja dulu sampai selesai. Nanti aku bisa pinjam pada mu, jika kau sudah selesai membacanya. Dan ku mohon kau jangan merasa tidak enak lagi padaku. Karena kau tidak merepotkan ku sedikit pun” ucap Hayden.

“Kau begitu baik pada ku, bagaimana caranya aku membalas semua kebaikkan mu pada ku?” Ucap Nela.

“Kau tidak perlu membalasnya, aku hanya ingin kau mau menjadi teman baik ku” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Senyumannya begitu indah, aku tak pernah melihat senyuman seindah itu sebelumnya. Pria ini benar-benar sempurna. Hanya melihat senyumannya saja, aku merasa bahagia” ucap Nela dalam hati.

Ternyata senyumannya Hayden dapat membuat Nela merasa seperti melayang ke angkasa.

“Hey, bagaimana apa kau mau menjadi teman baik ku?” Ucap Hayden yang membuat buyar semua lamunannya Nela.

“Ya, tentu saja aku mau menjadi teman baik mu” ucap Nela yang sedikit terkejut.

Hayden hanya tersenyum seraya berfokus menyetir mobilnya.

“Aku berharap kita bisa lebih dari sekedar teman” ucap Hayden dalam hati.

Tiba-tiba ponselnya Nela berbunyi membuat Nela & Hayden sedikit terkejut.
Dengan cepat Nela segera mengambil ponselnya, terlihat dilayar ponselnya “My Brother Shane”. Ternyata itu adalah telepon dari Shane.

“Sebentar ya, kakak ku menelpon” ucap Nela.

Hayden hanya menganggukkan kepalanya seraya tetap berfokus menyetir mobilnya.
Dan Nela pun mengangkat telepon dari Shane.

••••••••••••••••

“Hallo Shane” ucap Nela.

“Kau sedang dimana? Lebih kau cepat pulang, karena hari mulai menjelang petang” ucap Shane.

“Shane, bisa tidak kau jangan cerewet seperti itu? Lama-lama suara mu membuat telinga ku sakit!” Ucap Nela.

“Baiklah maafkan aku, sekarang kau ada dimana?”.

“Aku sudah dalam perjalanan menuju rumah, kau tenang saja aku dalam keadaan baik-baik saja sekarang”.

“Aku senang mendengar hal itu”.

“Ya, kau tenang saja sebentar lagi aku akan sampai dirumah”.

“Baiklah kalau seperti itu” ucap Shane menutup teleponnya.


••••••••••••••••

Nela pun kembali menaruh ponselnya didalam sakunya.

“Kakak mu pasti begitu mengkhawatirkan keadaan mu” ucap Hayden seraya berfokus menyetir mobilnya.

“Ya, begitulah Shane dia sangat cerewet” ucap Nela.

“Kakak mu cerewet seperti itu, karena dia sangat sayang padamu dan dia tidak ingin kehilanganmu” ucap Hayden.

“Ya, namun terkadang hal itu membuat ku sedikit kesal padanya” ucap Nela.

Dan mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Ayo masuk dulu, biar aku kenalkan kau dengan kakak ku yang cerewet itu” ucap Nela seraya keluar dari mobilnya Hayden.

Hayden hanya tertawa kecil seraya keluar dari mobilnya. Lalu mereka berjalan masuk kedalam rumahnya Nela.

“Shane, Shane!” Panggil Nela.

“Iya, sebentar!” Terdengar suara dari dapur. Dan itu adalah suaranya Shane yang sedang mempersiapkan makan malam.

Shane pun segera menghampiri Nela & Hayden yang sudah menunggu diruang tamu.
Setelah sampai diruang tamu, Shane begitu terkejut ketika melihat seorang pria yang sedang berdiri disamping adiknya itu. Shane pun menduga kalau pria itu adalah pacarnya Nela.

“Pantas saja kau tak mau aku menemani mu, ternyata kau ingin pergi kencan dengan pacar mu ini” ucap Shane.

Nela begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. Sungguh tak pernah dia duga, kalau Shane akan berbicara seperti itu didepan pria yang baru saja ia kenal.

“Shane, kau ini berbicara apa?” Ucap Nela.

“Tapi memang pria ini pacar mu kan?” Ucap Shane.

“Kau salah Shane, dia bukan pacar ku. Dia adalah senior dikampus ku” ucap Nela.

“Hehm benarkah? Kalau David memang senior mu, lalu apakah dia juga senior mu?” Ucap Shane seraya mengangkat sepasang alisnya.

“Iya Shane, dia adalah seniorku” ucap Nela.

“Hayden ini adalah kakak ku yang cerewet itu, namanya Shane. Dan Shane, ini Hayden dia adalah seniorku” ucap Nela.

Hayden & Shane pun saling berjabat tangan seraya memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Maaf ya, aku pikir kau benar-benar pacarnya adikku” ucap Shane.

“Ya, tidak apa-apa Shane” ucap Hayden.

“Hayden, kau mau minum apa?” Ucap Nela.

“Tidak perlu repot-repot, aku harus segera pulang karena hari sudah menjelang petang” ucap Hayden.

“Kenapa kau terburu-buru? Nanti saja pulangnya, aku sedang memasak untuk makan malam. Dan sebaiknya kau makan malam bersama kami” ucap Shane.

“Terima kasih Shane, lain waktu saja sekarang aku harus segera pulang” ucap Hayden.

“Baiklah kalau seperti itu, lain waktu kau harus makan malam bersama kami!” Ucap Shane.

“Pasti Shane! Baiklah aku pulang dulu ya, terima kasih kalian sudah menyambut ku dengan hangat” Ucap Hayden.

“Ya, sama-sama. Aku yang harus berterima kasih padamu, karena kau telah mengantar adikku pulang. Dan ku tahu, hal itu pasti membuatmu repot” ucap Shane.

“Tentu saja tidak Shane, aku senang bisa mengantar adikmu pulang” ucap Hayden.

“Baiklah, aku senang bisa mengenalmu Hayden” ucap Shane seraya menepuk pelan pundaknya Hayden.

“Ya, aku juga senang bisa mengenal kalian” ucap Hayden.

Shane & Nela hanya tersenyum.

“Baiklah Shane, Nela, aku pulang dulu ya” ucap Hayden.

“Ya, kau hati-hati ya. Dan Nela, kau antar dia sampai kedepan” ucap Shane.

“Siap kakakku!” Ucap Nela.

Nela & Hayden pun berjalan menuju halaman rumah.

“Aku pulang dulu ya” ucap Hayden seraya memasuki mobilnya.

“Iya, kau hati-hati. Dan thank you so much untuk hari ini” ucap Nela.

Hayden hanya tersenyum seraya menyalakan mesin mobilnya.

“Baiklah, see you tomorrow Nela!” Ucap Hayden.

“See you Hayden!” Ucap Nela.

Mobil Hayden pun melaju meninggalkan rumahnya Nela & Shane.
Lalu Nela kembali masuk kedalam rumahnya, dan berjalan menuju ke dapur.

“Apa ada yang perlu kubantu Shane?” Ucap Nela.

“Tidak perlu, sebentar lagi akan selesai” ucap Shane yang sedang sibuk memasak untuk makan malam.

Nela hanya menganggukkan kepalanya.

“Oh ya, nanti malam seperti biasa aku harus pergi berburu kehutan” ucap Shane.

“Ya, itu kan memang sudah menjadi kebiasaan mu setiap malam Shane” ucap Nela.

“Yang aku khawatirkan adalah dirimu. Karena Nicky & Brian sedang ada urusan, jadi mereka tidak bisa menemani mu malam ini” ucap Shane.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku, aku akan baik-baik saja Shane. Percayalah padaku” ucap Nela yang berusaha menyakinkan Shane.

“Seperti yang kau tahu, aku tidak pernah meninggalkan mu seorang diri dirumah” ucap Shane.

“Shane, aku bukanlah anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri” ucap Nela.

“Bagaimana jika aku meminta tolong kepada Andrew untuk menemanimu?” Ucap Shane.

“Tidak perlu Shane, dia kan juga punya kesibukkan sendiri. Dan tentu saja, aku tidak ingin merepotkannya” ucap Nela.

“Kalau dengan Gillian bagaimana? Aku akan menjemputnya untuk menemanimu dan menginap disini malam ini” ucap Shane.

“Shane!” Pekik Nela.

Shane pun sedikit terkejut, dan segera menoleh ke arah Nela.

“Aku tidak ingin merepotkan siapapun! Jika kau ingin pergi berburu, maka pergilah. Kau tak perlu meminta orang lain untuk sekedar menemaniku sampai kau pulang” ucap Nela.

Shane hanya terdiam seraya menatap adiknya.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku, karena aku akan baik-baik saja!” Ucap Nela seraya berjalan meninggalkan Shane.

Shane tahu kalau adiknya memang keras kepala, dia suka lupa waktu kalau sudah asyik dengan aktifitas yang sedang dia kerjakan. Sesekali dia ingin adiknya tinggal bersama dengan Andrew dan kedua orang tuanya di London, namun dia ingat kalau orang tuanya juga sangat sibuk dengan perkerjaannya. Begitu pun juga dengan Andrew, adik pertamanya Shane, yang juga sibuk dengan kuliahnya. Dan itulah mengapa dia memilih adiknya untuk tinggal bersama dengannya.

Shane pun memutuskan untuk meminta tolong kepada Andrew.

“Setelah selesai menyiapkan makan malam, aku akan menghubungi Andrew. Semoga saja dia sedang mendapat liburan dari kampusnya” ucap Shane.

Sementara Nela sedang berdiam diri dikamarnya seraya mengutak-atik ponselnya. Dia berpikir kalau Shane akan meminta tolong kepada Andrew, karena tidak ada lagi yang dapat ia mintai tolong.

“Lebih baik sekarang aku menghubungi Andrew saja!” Ucap Nela seraya menekan nomor ponselnya Andrew.

“Semoga dia sedang tidak sibuk sekarang” ucap Nela.

Tak lama teleponnya terhubung.

•••••••••••••

“Hallo” ucap Nela memulai pembicaraan ditelepon.

“Hallo Nela adikku! Sudah lama kita tidak berkomunikasi, karena kita sama-sama sibuk. Bagaimana kabarmu?” Ucap Andrew.

“Kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” ucap Nela.

“Aku baik-baik saja. Lalu bagaimana kabarnya Shane?” Ucap Andrew.

“Dia juga baik-baik saja sekarang. Bagaimana dengan kuliah mu?” ucap Nela.

“Sekarang kuliah ku sedang libur untuk menyambut musim dingin. Apakah hal itu sama denganmu?” Ucap Andrew.

“Hehm tidak, kampus ku belum mengadakan liburan untuk menyambut musim dingin” ucap Nela.

“Lalu, ada apa kau menghubungiku? Tidak biasanya kau menghubungiku” ucap Andrew.

“Kau tahu kan apa hobby kakak kita yang satu itu?” Ucap Nela.

“Ya, tentu saja aku tahu apa hobbynya Shane. Yaitu memburu Vampire. Hal itu kedengarannya begitu bodoh dan tak masuk akal! Karena banyak orang yang tidak percaya dengan adanya makhluk itu” ucap Andrew.

“Aku ingin meminta tolong padamu, dan kuharap kau bisa melakukannya” ucap Nela.

“Kau ingin meminta tolong apa?” Ucap Andrew.

“Aku yakin setelah ini Shane akan menghubungimu untuk meminta tolong agar kau berkunjung ke Ireland hanya untuk menemani ku selama ia pergi berburu. Karena Nicky dan Brian sedang urusan, jadi mereka tidak bisa menemaniku selama Shane pergi. Dan kuharap kau bisa menolak permintaannya Shane” ucap Nela.

“Tentu saja aku tidak akan menolak permintaannya Shane!” Ucap Andrew.

“Kenapa?” Ucap Nela.

“Aku sangat rindu padamu dan Shane, sudah sangat lama kita tidak bertemu. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk kita bertemu, aku akan menyesal jika aku menolaknya” ucap Andrew.

“Tapi aku tidak ingin menganggu waktu libur mu, dan aku tak ingin merepotkanmu Andrew!” Ucap Nela.

“Hey! Memangnya kau tak merindukan aku?” Ucap Andrew.

“Tentu saja aku sangat merindukanmu Andrew. Tapi...” Belum selesai Nela berbicara, tapi Andrew sudah memotong pembicaraannya.

“Kau tenang saja, malam ini juga aku akan menuju ke Ireland” ucap Andrew.

“Andrew, jika kau ingin berkunjung kesini kau bisa pergi besok pagi. Jangan pergi sekarang, karena hari sudah menjelang malam” ucap Nela.

“Aku tidak peduli, aku akan tetap pergi ke Ireland malam ini juga. Sekarang aku akan mengepaki barang-barangku. Sampai jumpa nanti adikku!” Ucap Andrew mengakhiri pembicaraan ditelepon.

“Andrew!” Pekik Nela, namun Andrew sudah menutup teleponnya.

••••••••••••••

“Aku harus memberi tahu Shane, kalau Andrew akan datang kesini malam ini!” Ucap Nela seraya berlari keluar kamarnya dan menghampiri Shane.

“Shane! Shane!” Pekik Nela.

“Iya, aku sedang diruang makan!” Pekik Shane.

Nela segera berlari menghampiri keruang makan.

“Ada apa, kau seperti sedang dikejar-kejar hantu saja?” Ucap Shane heran melihat adiknya yang begitu terburu-buru.

“Shane, malam ini juga Andrew akan berkunjung kesini...” ucap Nela dengan nafas yang terengah-engah.

“Kau sedang tidak bercanda kan?” Ucap Shane seraya mengangkat kedua alisnya.

“Ya, aku sedang tidak bercanda Shane. Tadi aku berbicara ditelepon dengannya, dan dia bilang dia akan datang ke Ireland malam ini juga” ucap Nela.

“Memangnya kampusnya sudah libur?” Ucap Shane.

“Sekarang kampusnya sedang mengadakan liburan untuk menyambut musim dingin. Lalu bagaimana ini Shane, apa kita tidak dapat menghentikannya?” ucap Nela.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan, seperti yang kau tahu kalau Andrew begitu keras kepala. Ketika dia mempunyai keinginan, maka tidak ada seorang pun yang dapat menghentikannya untuk menggapai keinginannya itu. Dan lebih baik sekarang kita makan malam sambil menunggu kedatangannya” ucap Shane.