Enjoy read this guys...
========================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================
“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud Dav” ucap Nela.
“Kau tidak akan pernah mengerti, sebelum kau melihatnya sendiri Nela” ucap David.
“Lalu bagaimana kau bisa tahu tentang hal ini? Apakah Hayden yang memberi tahu mu?” Ucap Nela.
“Waktu itu saat dia masih tinggal dirumah ku, aku tak sengaja lewat depan kamarnya dan aku melihat dia dapat menembus dinding. Saat itu aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Dan aku segera menghampiri Hayden dikamarnya, aku pun menanyakan tentang hal itu kepadanya tapi dia tidak mau jujur pada ku. Hingga aku terus memaksanya untuk mengatakan hal sebenarnya, dan akhirnya dia mau memberi tahu ku tentang siapa dirinya yang sebenarnya” ucap David.
“Aku masih tak percaya dengan apa yang kau ceritakan Dav. Itu begitu sulit untuk dipercaya” ucap Nela.
“Ya, memang hal itu begitu sulit untuk dipercaya dan memang tidak masuk akal. Awalnya pun aku juga berpikir itu adalah hal yang tidak mungkin bisa terjadi, tapi itu lah kenyataan yang aku lihat. Apa kau tahu kenapa Hayden pindah ke Ireland?” Ucap David.
“Karena ada masalah di Canada, jadi dia memutuskan untuk pindah dan tinggal disini” ucap Nela.
“Lalu apa kau tahu apa masalah itu?” Ucap David.
“Tidak, memangnya apa?” ucap Nela.
“Dia pindah ke Ireland, karena dia dikejar-kejar oleh pemburu Jumper yang bernama Roland” ucap David.
“Apa pemburu? Seorang Jumper seperti Hayden mempunyai seorang pemburu? Aku pikir hanya Vampire, Dracula, dan Werewolf yang saja yang mempunyai Hunter. Tapi ternyata seorang Jumper seperti Hayden juga mempunyai Hunter” ucap Nela.
“Ya, aku juga berpikir seperti itu” ucap David.
“Apakah seorang Jumper seperti Hayden berbahaya? Sampai ada pemburu yang mengejar-ngejarnya” ucap Nela.
“Menurut ku tidak, tapi entahlah kepada para pemburu Jumper itu mengejar-ngejar Hayden dan ingin membunuhnya” ucap David.
“Apa? Mereka ingin membunuh Hayden?” Ucap Nela yang begitu terkejut.
“Ya, Hayden sendiri yang mengatakan hal itu kepada ku. Selama ia tinggal di Canada, Roland selalu mengejar-ngejar dan mencoba untuk membunuhnya. Tetapi hal itu tidak pernah berhasil, hingga akhirnya Roland membunuh Rachel kekasinya Hayden” ucap Nela.
“Kenapa dia membunuh Rachel?” Ucap Nela.
“Karena Roland selalu gagal untuk membunuh Hayden. Jika seorang pemburu Jumper tidak pernah berhasil membunuh seorang Jumper yang menjadi incarannya, maka pemburu Jumper itu akan membunuh orang-orang yang mereka sayangi. Terutama kekasih atau wanita yang sangat dekat dengan Jumper tersebut” ucap David.
Nela pun hanya terdiam seakan tidak percaya jika Hayden mempunyai seorang pemburu yang selalu mencoba untuk membunuhnya.
“Dan hal yang paling aku takutkan adalah jika Roland mengikuti Hayden sampai kesini. Maka dia akan membunuh mu seperti dia membunuh Rachel, karena kau adalah wanita yang sangat dekat dengannya. Dan oleh karena itu, aku mohon padamu mulai sekarang jauhilah Hayden, agar Roland tidak membunuh mu dan dirimu akan aman dari Roland” ucap David.
“Aku tidak akan pernah menjauhi Hayden! Dan Roland tidak akan pernah bisa membunuh ku atau melukai ku sedikit pun” ucap Nela.
“Nela, aku mohon tolong kau jauhi Hayden agar dirimu aman. Karena Roland bisa datang kapan saja, dan dia bisa membunuh mu seperti dia membunuh Rachel kekasihnya Hayden” ucap Nela.
“Dav, sudah ku bilang aku tidak akan pernah menjauhi Hayden! Dan aku tidak takut pada Roland!” Ucap Nela.
“Lalu bagaimana jika Roland membunuh mu atau melukai mu?” Ucap David.
“Hal itu tidak akan pernah terjadi Dav! Dan Roland tidak akan pernah bisa membunuh Hayden atau melukainya sedikit pun!” Ucap Nela.
“Tapi jika kau tidak menjauhi Hayden, maka kau berada dalam bahaya” ucap David.
“Aku tidak pernah mempedulikan hal itu” ucap Nela seraya beranjak pergi meninggalkan David.
“Sungguh menyebalkan! Ternyata Nela tidak ingin menjauhi Hayden. Apa karena dia mencintai Hayden? Jadi dia tidak ingin menjauhinya” ucap David.
“Aku tidak akan pernah takut dengan ancaman itu, dan aku tidak akan membiarkan Roland membunuh Hayden atau melukainya sedikit pun” ucap Nela seraya berjalan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, dia pun segera mengambil ponselnya didalam saku bajunya. Dan ternyata itu telepon dari Andrew.
Dia pun segera mengangkatnya.
•••••••••••
“Hallo ada apa Andrew?” Ucap Nela memulai pembicaraan ditelepon.
“Kau sedang dimana?” Ucap Andrew.
“Aku masih dikampus” ucap Nela.
“Apa ada pelajaran tambahan?” Ucap Andrew.
“Tidak, tadi ada urusan sebentar” ucap Nela.
“Baiklah, sekarang aku sudah ada didepan kampus mu dan kau cepat kesini ya” ucap Andrew.
“Ya, aku akan kesana sekarang” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.
•••••••••••••
Nela pun berjalan menuju kedepan kampusnya untuk menemui Andrew yang sudah menjemputnya.
“Hi adikku” ucap Andrew seraya membukakan pintu mobilnya untuk Nela.
“Hi Andrew, aku pikir Shane yang akan menjemputku” ucap Nela seraya memasuki mobilnya Andrew.
“Tidak, Shane sedang pergi bersama dengan Gillian sejak beberapa jam yang lalu” ucap Andrew seraya menyalakan mesin mobilnya. Dan mereka pun pergi meninggalkan kampusnya Nela.
“Kemana mereka? Apa mereka pergi kencan?” Ucap Nela.
“Ya, mungkin juga. Tadi katanya Shane, Gillian memintanya untuk menemaninya membeli pakaian yang dibutuhkannya” ucap Andrew.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Sebaiknya kita makan siang diluar, karena Shane belum memasak untuk makan siang” ucap Andrew seraya berfokus menyetir mobilnya.
“Ya, baiklah aku juga berpikir seperti itu” ucap Nela.
Mobilnya Andrew pun melaju menuju sebuah restoran. Dan tak lama mereka pun sampai disebuah restoran. Andrew dan Nela pun segera keluar dari mobilnya Andrew, dan mereka memasuki restoran itu.
Mereka pun segera duduk.
“Kau ingin pesan apa?” Ucap Andrew.
“Terserah kau saja” ucap Nela.
Andrew pun segera memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Dan tak lama seorang pelayang mengantarkan makanan dan minuman untuk mereka.
“Terima kasih” ucap Andrew kepada pelayan itu.
Nela dan Andrew pun segera menyantap makan siang mereka. Seraya menyantap makan siangnya, Nela masih memikirkan apa yang dikatakan oleh David tadi. Dia masih tidak percaya kalau Hayden mempunyai kekuatan itu.
Dan tentu saja Andrew melihat adiknya seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Nela, apa kau baik-baik saja?” Ucap Andrew seraya menyentuh tangannya Nela.
“Ya, aku baik-baik saja” ucap Nela.
“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” Ucap Andrew seraya menyantap makan siangnya.
“Hehm, tidak ada” ucap Nela sedikit berbohong, karena tidak mungkin jika ia menceritakannya kepada Andrew.
“Benarkah?” Ucap Andrew yang berusaha menyakinkan kalau adiknya memang baik-baik saja.
“Ya, sepertinya aku hanya kelelahan saja” ucap Nela.
“Baiklah, cepat kau habisi makan siang mu lalu kita akan segera pulang” ucap Andrew.
Mereka pun kembali menyantap makan siang mereka.
Setengah jam kemudian mereka telah selesai menyantap makan siang mereka.
“Kau tunggu sini dulu ya, aku akan membayar makanan ini ke kasir” ucap Andrew seraya berjalan menuju kasir restoran itu.
Dan tak lama Andrew pun kembali.
“Baiklah, ayo kita pulang. Kau harus istirahat adik ku” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
Mereka pun keluar dari restoran itu, dan berjalan menuju mobilnya Andrew.
“Seharusnya kampus mu sudah mengadakan liburan untuk menyambut musim dingin” gerutu Andrew seraya membukakan pintu mobilnya untuk Nela.
“Ya, memang seharusnya seperti itu” ucap Nela seraya memasuki mobilnya Andrew.
“Apakah kampus tidak mengadakan libur seperti kampus ku?” Ucap Andrew seraya memasuki mobilnya dan segera menyalakan mesin mobilnya.
“Entahlah, aku tidak tahu” ucap Nela.
Dan mereka pun segera pergi meninggalkan restoran itu.
“Oh ya, kapan kita akan pergi untuk berburu Werewolf?” Ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
“Aku belum menemukan waktu yang tepat” ucap Nela.
“Bagaimana kalau nanti malam?” Ucap Andrew.
“Nanti malam? Bukankah nanti malam Shane juga akan berburu Vampire seperti biasa” ucap Nela.
“Aku tidak tahu, lalu kapan kita akan pergi untuk berburu Werewolf?” Ucap Andrew.
“Yang pasti kita akan pergi berburu Werewolf pada saat Shane sedang tidak ada dirumah dan dia sedang tidak berburu Vampire” ucap Nela.
“Aku punya ide! Bagaimana kalau kita perginya ketika Shane sedang ada dirumah saja atau ketika Shane sedang keluar rumah, lalu nanti kita cari alasan agar kita dapat di izinkan keluar rumah oleh Shane. Bagaimana menurut mu?” Ucap Andrew.
Nela pun segera menoleh ke arah Andrew dan tersenyum.
“Good idea Andrew! Dan aku setuju dengan ide mu itu” ucap Nela.
“Ku harap nanti malam Shane ada acara dengan Gillian atau dengan teman-temannya” ucap Andrew.
“Ya, aku juga berharap seperti itu” ucap Nela.
Tiba-tiba ponselnya Nela pun bergetar, dia pun segera mengambil ponselnya didalam saku bajunya.
“Apakah itu Shane?” Ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
“Ya” ucap Nela.
Ya, itu adalah telepon dari Shane. Dan Nela pun segera mengangkatnya.
•••••••••••••••
“Hallo Shane, ada apa?” Ucap Nela mengawali pembicaraan ditelepon.
“Kau sedang dimana? Apakah Andrew sudah menjemputmu? Lalu apakah kau sudah makan siang?” Ucap Shane.
“Shane, bisa tidak kau bicaranya satu-satu. Kalau kau berbicara seperti itu, bagaimana aku dapat menjawabnya” ucap Nela.
“Ya baiklah, maafkan aku honey. Sekarang kau sedang ada dimana?” Ucap Shane.
“Aku sedang berada dalam perjalanan untuk menuju kerumah bersama dengan Andrew” ucap Nela.
“Lalu apakah kau sudah makan siang?” Ucap Shane.
“Tentu saja sudah Shane, tadi kami mampir kesebuah restoran dan kami makan siang disana” ucap Nela.
“Baguslah kalau seperti itu. Maaf ya, hari ini aku tidak bisa menyiapkan makan siang untuk kalian karena aku harus pergi bersama dengan Gillian” ucap Shane.
“Ya, tidak apa-apa Shane. Kau kan juga punya kehidupan sendiri yang kau harus jalani” ucap Nela.
“Oh ya maaf juga, karena nanti malam aku ada acara dinner bersama dirumahnya Gillian. Apakah kalian mau ikut?” Ucap Shane.
“Entahlah, nanti biar ku tanya dulu pada Andrew” ucap Nela.
“Baiklah kalau seperti itu, sampai nanti ya” ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.
•••••••••••••••
Nela pun kembali memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya.
“Ada apa?” Ucap Andrew seraya berfokus menyetir mobilnya.
“Dia bilang nanti malam dia ada dinner bersama dirumahnya Gillian, dan dia menanyakan apakah kita ingin ikut atau tidak” ucap Nela.
“Tentu saja tidak! Karena inilah waktu yang kita tunggu-tunggu untuk pergi berburu Werewolf” ucap Andrew.
“Ya, lalu apa alasan agar Shane mengizinkan kita untuk keluar rumah?” Ucap Nela.
“Hehm, apa ya alasannya?” Ucap Andrew seraya menyetir mobilnya dan memutar otaknya untuk mencari alasan agar dia dan Nela di izinkan keluar rumah oleh Shane.
“Bagaimana kalau pergi ke toko buku?” Ucap Nela.
“Ya, itu ide yang bagus!” Ucap Andrew.
Nela pun hanya tersenyum, dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela. Andrew dan Nela pun segera keluar dari mobilnya Andrew.
“Baiklah, sekarang kita harus menyiapkan alat-alat berburu untuk nanti malam” ucap Nela seraya berlari masuk kedalam rumahnya.
“Hey! Kenapa kau terburu-buru seperti itu?” Ucap Andrew.
“Karena kita tidak punya banyak waktu! Kita harus cepat memasukkan alat-alat berburu kita kedalam bagasi mobil mu sebelum Shane pulang” ucap Nela.
Andrew dan Nela pun segera menaiki anak tangga.
“Memangnya dimana kau menyimpan alat-alat itu?” Ucap Andrew.
“Aku menyimpannya dikamar ku” ucap Nela.
Tak lama mereka pun sampai didepan kamarnya Nela, dan Nela segera membuka pintu kamarnya.
“Masuklah!” Ucap Nela seraya memasuki kamarnya dan di ikuti oleh Andrew.
“Ahh, aku lelah sekali” ucap Andrew seraya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya Nela.
Dan Nela pun segera berjalan menuju sebuah kotak berwarna coklat, tempat ia menyimpan alat-alat itu.
“Kotak apa itu?” Ucap Andrew.
“Di kotak ini tempat aku menyimpan alat-alat itu” ucap Nela seraya membuka kunci kotak itu.
Setelah kotak itu terbuka, Nela pun segera mengambil dua buah pistol beserta beberapa peluru perak, dua pisau yang terbuat dari perak, dan 1 buah panah beserta beberapa anak panah yang juga terbuat dari perak.
“Kurasa alat-alat ini cukup untuk kita berburu nanti malam” ucap Nela.
“Andrew” ucap Nela tanpa menoleh ke arah Andrew.
“Kenapa dia diam saja?” Ucap Nela.
Nela pun menoleh ke arah Andrew.
“Pantas aja dia diam saja, ternyata dia tertidur” ucap Nela seraya berjalan menghampiri Andrew yang sedang tertidur diatas kasurnya Nela.
“Andrew, wake up! Hey! Kenapa kau tertidur dikamarku? Come on wake up Andrew!” Ucap Nela seraya menarik-narik tangannya Andrew agar ia terbangun.
Namun Andrew tidak terbangun, dan dia tetap tertidur.
“Ihh, Andrew kenapa dia begitu cepat tertidur?” Gerutu Nela.
“Andrew, come on wake up! Bantu aku membawa alat-alat ini. Hey! Can you hear me? Andrew let's go wake up!” Ucap Nela.
Namun Andrew tidak juga terbangun.
“Baiklah kalau seperti itu, biar aku saja yang menaruh alat-alat ini dibagasi mobilnya Andrew” ucap Nela seraya mengambil alat-alat tadi yang ia keluarkan dari kotak itu.
Tak lupa Nela pun mengunci kotak berwarna coklat itu kembali. Dan ia segera mengambil kunci mobilnya Andrew didalam saku celanya Andrew, karena tasnya masih berada didalam mobilnya Andrew. Lalu ia berjalan keluar kamarnya, dan menuju garasi rumahnya seraya membawa alat-alat itu. Setelah sampai digarasi rumahnya, Nela pun segera memasuki alat-alat itu kedalam bagasi mobilnya Andrew.
Dan ia pun juga membuka pintu mobilnya Andrew untuk mengambil tasnya yang tertinggal dimobilnya Andrew. Tak lama Shane pun pulang, Nela pun segera membukakan pintu pagar rumahnya.
“Thank you adikku” ucap Shane yang berada didalam mobilnya.
Shane pun segera memasukkan mobilnya kedalam garasi mobilnya.
“Hey! Kau sedang apa?” Ucap Shane seraya keluar dari mobilnya.
“Tadi aku sedang mengambil tas ku yang tertinggal didalam mobilnya Andrew” ucap Nela.
“Oh, lalu Andrew nya mana?” Ucap Shane.
“Dia sedang tidur dikamar ku” ucap Nela.
“Kenapa dia tidur kamar mu? Baiklah, aku akan membangunkannya” ucap Shane seraya memasuki rumahnya dan di ikuti oleh Nela.
“Jangan dibangunkan Shane, kasihan sepertinya dia begitu lelah. Biarkan saja dia tidur di kamar ku” ucap Nela.
“Lalu bagaimana jika kau ingin beristirahat juga?” Ucap Shane.
“Aku bisa beristirahat dikamarnya Andrew” ucap Nela.
“Baiklah kalau seperti aku, aku ingin ganti baju dulu ya” ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Nela.
Shane pun segera menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya. Ternyata ia tidak berjalan menuju kamarnya, tetapi ia berjalan menuju kamarnya Nela. Perlahan ia mulai membuka pintu kamarnya Nela, dan berjalan masuk kedalam kamarnya Nela. Shane pun menghampiri Andrew yang sedang tertidur di atas tempat tidurnya Nela.
“Andrew wake up! Kenapa kau tertidur dikamarnya Nela?” Ucap Shane seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya Andrew.
“Shane, aku masih mengantuk. Don't disturb me Shane” ucap Andrew dengan mata yang masih terpejam.
“Kalau kau masih mengantuk kau bisa tidur dikamar mu, jangan tidur dikamarnya Nela. Dia juga ingin beristirahat” ucap Shane.
“Shane, please don't disturb me!” Ucap Andrew yang tentu saja dengan mata yang masih terpejam.
Tak lama Nela pun datang.
“Shane, bukankah sudah ku bilang jangan bangunkan Andrew kasihan dia begitu kelelahan” ucap Nela.
Andrew pun segera bangun dari posisi tidurnya dan segera duduk dengan mata yang masih terpejam. Nela pun segera menghampiri Andrew.
“Sudahlah, jika kau masih mengantuk kau bisa lanjutkan tidur mu. Nanti malam kita kan ingin pergi berburu Werewolf” bisik Nela tepat ditelinganya Andrew.
Andrew pun hanya tersenyum dan kembali melanjutkan tidurnya. Nela dan Shane pun segera keluar dari kamarnya Nela.
“Andrew itu terkadang suka sulit untuk dibangunkannya” ucap Shane.
“Tidak Shane, itu hanya menurut mu saja. Biasanya aku hanya menyentuh wajahnya saja, dan hal itu dapat membangunkannya” ucap Nela seraya menutup pintu kamarnya.
“Benarkah? Kenapa kau tidak pernah menyentuh wajah ku ketika aku sedang tertidur?” Ucap Shane seraya merangkul pundaknya Nela.
“Bagaimana aku dapat menyentuh wajah mu ketika kau tertidur, kalau kau selalu bangun lebih dulu dari ku” ucap Nela.
Shane pun hanya tertawa kecil.
“Baiklah, aku ganti baju dulu ya” ucap Shane seraya memasuki kamarnya.
“Ya” ucap Nela seraya berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang keluarga.
Setelah sampai diruang keluarga, Nela pun duduk disebuah sofa panjang berwarna coklat. Dan tak lama Shane pun datang, dan segera duduk disampingnya Nela.
“Oh ya, bagaimana apa nanti malam kau dan Andrew ingin ikut bersama ku untuk dinner bersama dirumahnya Gillian?” Ucap Shane.
“Maaf Shane, sepertinya aku dan Andrew tidak bisa ikut dengan mu untuk dinner bersama nanti malam” ucap Nela.
“Memangnya kenapa?” Ucap Shane.
“Karena kami ingin pergi ke toko buku, dan ku harap kau mengizinkan kami untuk pergi ke toko buku nanti malam” ucap Nela.
“Oh, ya tentu saja aku mengizinkan kalian berdua untuk pergi ke toko buku tapi ingat pulangnya jangan sampai larut malam ya” ucap Shane.
“Baik Shane, aku akan mengingat pesan mu itu” ucap Nela seraya mengedipkan sebelah matanya.
Shane pun hanya tersenyum seraya mengusap-usap rambutnya Nela.
“Baiklah, sekarang aku harus menyiapkan makan malam untuk kau dan Andrew” ucap Shane.
“Tidak perlu Shane! Nanti biar kami makan malam diluar saja” ucap Nela.
“Benarkah? Apa tidak apa-apa?” Ucap Shane.
“Tidak apa-apa Shane” ucap Nela.
“Oh ya Shane, Nicky dan Brian kemana? Kenapa dia tidak pernah datang kesini?” Ucap Nela.
“Nicky sedang ada pertandingan sepak bola di London beberapa hari ini, dan Brian entahlah dia pergi kemana. Aku hubungi ponselnya tidak pernah aktif” ucap Shane.
“Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar?” Ucap Nela.
“Tidak, mungkin dia sedang ada urusan lain. Lalu bagaimana dengan David? Sepertinya selama kau dekat dengan Hayden, David tidak pernah main kesini lagi” ucap Shane.
“Entahlah, aku tidak tahu Shane” ucap Nela.
“Apa kalian sedang bertengkar? Atau karena hal lain” ucap Shane.
“Hehm tidak Shane, Hayden dan David memang tidak begitu akur” ucap Nela.
“Maksud mu? Apa mereka berdua bermusuhan?” Ucap Shane.
“Entahlah Shane, sebenarnya mereka berdua mempunyai hubungan saudara. Tapi mereka berdua memang tidak pernah akur sejak dari pertama mereka bertemu” ucap Nela.
“Saudara? Tapi tidak pernah akur? Aneh sekali” ucap Shane heran.
“Ya, David lah yang membenci Hayden lebih dulu apalagi saat Hayden tinggal dirumahnya” ucap Nela.
“Aku pikir mereka tidak pernah akur karena mereka saling merebutkan mu” ucap Shane.
“Shane, kau ini ada-ada saja” ucap Nela tersipu malu.
Dan lagi-lagi Shane pun hanya tertawa kecil. Tak lama Andrew pun terbangun.
“Kenapa aku tidur dikamarnya Nela?” Ucap Andrew heran.
Andrew pun segera keluar dari kamarnya Nela dan berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang keluarga.
“Kalian berdua sedang membicarakan apa? Sepertinya seru sekali” ucap Andrew yang tiba-tiba datang dan segera duduk diantara Nela dan Shane.
“Andrew, kau ini seperti tidak ada tempat duduk lain saja” gerutu Shane.
“Shane, kau saja yang cari tempat duduk lain aku ingin duduk disebelah adik ku” ucap Andrew seraya menyandarkan kepalanya dipundaknya Nela.
“Hey! Jangan bersandar dipundaknya Nela, jika kau masih mengantuk kau tidur dikamar mu saja!” Pekik Shane.
“Shane, kau ini cerewet sekali” gerutu Andrew.
“Sudahlah, kenapa kalian berdua jadi bertengkar seperti anak kecil yang sedang berebut permen?” ucap Nela.
“Oh ya Nela, kunci mobil ku mana?” Ucap Andrew yang sedikit terkejut ketika ia tidak menemukan kunci mobilnya yang ia taruh disaku celananya.
Shane yang duduk disampingnya pun juga ikut terkejut seraya menoleh ke arah Andrew.
“Andrew, kau menghilangkan kunci mobil mu?” Ucap Shane.
“Tidak tahu, tadi aku taruh disaku celana ku tapi kenapa sekarang tidak ada” ucap Andrew.
“Ini yang kau cari Andrew” ucap Nela seraya menunjukkan sebuah kunci mobil, dan tentu saja itu adalah kunci mobilnya Andrew.
“Nela, kenapa kunci mobil ku ada pada mu?” Ucap Andrew seraya mengambil kunci mobilnya.
“Tadi saat kita mengobrol dikamarku tiba-tiba kau tertidur, padahal aku ingin mengambil tas ku yang masih tertinggal didalam mobil ku. Jadi aku memutuskan untuk mengambil kunci mobilmu didalam saku celana mu untuk mengambil tas ku” ucap Nela.
“Makanya kalau ingin tidur liat-liat tempat dulu, jangan sedang di kamar orang langsung tidur” ucap Shane.
“Iya maaf Shane, tadi kan aku lelah sekali jadinya aku ketiduran dikamarnya Nela. Dan lagipula kamarnya Nela itu wangi dan aku merasa nyaman berada disana, dan tentu saja hal itu dapat mengundang rasa kantuk ku” ucap Andrew.
“Kau memang pintar dalam mencari-cari alasan” ucap Shane.
“Oh ya Nela, kau sudah bilang pada Shane kalau nanti malam kita mau pergi” ucap Andrew.
“Tentu saja aku sudah bilang ke Shane kalau nanti malam kita mau pergi ke toko buku, dan Shane sudah mengizinkannya” ucap Nela.
“Ahh baguslah kalau seperti itu” ucap Andrew seraya menarik nafas lega.
“Ingat Andrew, kau harus menjaga Nela dengan sangat baik! Dan jangan lupa sebelum kalian pergi ketoko buku kalian harus pergi ke restoran atau ke cafe terdekat untuk makan malam” ucap Shane.
“Iya Shane, kau tenang saja aku akan menjalankan tugas ku dengan baik” ucap Andrew.
“Dan satu lagi, kalian jangan pulang sampai larut malam ya!” Ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Andrew dan Nela.
Tidak terasa waktu pun berjalan dengan cepat, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 17.30.
“Baiklah, aku harus siap-siap dulu ya” ucap Shane seraya beranjak pergi.
“Iya” ucap Nela dan Andrew.
“Akhirnya, nanti malam kita jadi pergi...” Ucap Andrew, Nela pun segera menutup mulut Andrew dengan tangannya.
“Sssssttt... Jangan dilanjutkan ucapan mu itu, nanti kalau Shane dengar bisa bahaya” ucap Nela pelan.
Andrew pun hanya mengangguk mengerti.
--------------------------
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 18.30. Shane sudah rapi dan wangi, kini dia memakai jas berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna merah. Dia pun berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui adik-adik nya yang juga sudah rapi.
“Shane, malam ini kau terlihat sangat tampan” ucap Nela yang terlihat kagum melihat ketampanan kakaknya itu.
“Terima kasih adik ku” ucap Shane seraya tersenyum.
“Kau seperti seorang pangeran dari sebuah kerajaan Shane” ucap Nela.
“Sudahlah honey, berhenti memuji ku jika kau terus memuji ku lama-lama aku bisa terbang ke langit ke tujuh” ucap Shane.
Nela pun hanya tertawa kecil.
“Nela, jadi hanya Shane saja yang bilang tampan malam ini?” Ucap Andrew.
Nela pun menoleh ke arah Andrew yang duduk disampingnya.
“Tentu saja malam ini kau juga begitu tampan Andrew” ucap Nela seraya tersenyum melihat Andrew yang juga sudah rapi dengan memakai jaket hangatnya.
Andrew pun hanya tersenyum seraya merangkul pundaknya Nela. Shane pun segera melihat ke arah jarum jam di jam tangannya.
“Sepertinya aku harus segera pergi, karena Gillian pasti sudah menunggu kedatangan ku” ucap Shane.
“Ya, kau benar Shane! You're princess already waiting you!” Ucap Nela.
“Baiklah, Nela, Andrew, aku pergi dulu ya” ucap Shane.
“Ya Shane, sampaikan maaf kami pada Gillian karena kami tidak bisa datang” ucap Nela.
“Ya, nanti akan ku sampaikan” ucap Shane seraya beranjak pergi.
Shane pun segera menuju kerumahnya Gillian.
“Apa kita berangkat sekarang?” Ucap Andrew.
“Nanti saja” ucap Nela.
“Tapi kan kita harus makan malam dulu” ucap Andrew.
Nela pun teringat dengan pesannya Shane tadi.
“Baiklah, ayo berangkat!” ucap Nela.
“Bagaimana dengan alat-alat berburu kita?” Ucap Andrew.
“Kau tenang saja, alat-alatnya sudah ku masukkan kedalam bagasi mobil mu” ucap Nela.
“Kapan kau memasukkannya?” Ucap Andrew.
“Tadi saat kau tertidur” ucap Nela.
Mereka pun segera berjalan menuju garasi rumah mereka. Dan tak lupa Nela mengunci pintu rumahnya.
“Nela, nanti kau tolong bukakan pintu pagarnya ya” ucap Andrew seraya masuk kedalam mobilnya.
“Ok” ucap Nela seraya segera membuka pintu pagar rumah mereka.
Andrew pun segera mengeluarkan mobil mereka. Dan juga tak lupa Nela menutup pintu pagar mereka dan juga menguncinya.
“Ayo, cepat masuk” ucap Andrew.
Dan Nela pun segera masuk kedalam mobilnya Andrew.
“Apa tidak ada yang tertinggal?” Ucap Andrew.
“Sepertinya tidak ada” ucap Nela.
Mereka pun segera pergi untuk menuju ke sebuah restoran atau cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
“Baru jam tujuh malam, tapi jalanan sekitar sini udah sepi seperti ini” ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
“Ya, bagaimana dengan London? Apakah sama seperti disini juga?” ucap Nela.
“Tidak, kalau di London jam tujuh malam jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang” ucap Andrew.
“Benarkah? Pasti kau tidak pernah merasa kesepian ketika kau di London” ucap Nela.
“Tidak, tetap saja aku merasa kesepian. Meskipun di London kota yang padat penduduk, tapi jika harus berjalan-jalan sendiri tetap saja aku merasa kesepian. Tetapi tidak dengan disini, meskipun di sini sepi tapi ada kau dan Shane yang selalu menemani ku. Dan kalau aku ingin jalan-jalan seperti ini, ada kau yang selalu menemani ku dan aku tidak merasa kesepian” ucap Andrew seraya tersenyum.
“Kurasa ketika kau pulang ke London, kau harus mencari kekasih lagi agar kau tak merasa kesepian saat berada di London” ucap Nela.
“Aku sedang tidak ingin mempunyai kekasih dulu, karena aku sedang ingin berfokus pada kuliah ku” ucap Andrew.
“Itu bagus Andrew” ucap Nela.
“Ya, lagipula percuma juga punya kekasih karena aku juga tetap merasa kesepian. Lebih baik punya kakak dan adik seperti Shane dan kau, karena ketika bersama dengan kalian aku tidak pernah merasa kesepian sedikit pun” ucap Andrew.
Nela pun hanya tersenyum. Dan tak lama mereka sampai disebuah restoran yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
Andrew dan Nela pun segera keluar dari mobilnya Andrew, dan mereka segera masuk kedalam restoran itu. Namun tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang pria.
“Hey! Kenapa kalian ada disini?” Ucap seorang pria itu.
Andrew dan Nela pun sedikit terkejut melihat pria itu.