And this next nya ya ;) Enjoy read it...
=============================================================
Mark hanya terdiam seperti enggan untuk memberitahunya.
“Maaf, jika kau tidak menyukai pertanyaan itu. Aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa menjadi Vampire? Tapi jika kau tidak ingin memberitahu ku juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksanya” ucap Nela.
“Tentu saja aku menjadi Vampire seperti sekarang bukan karena keinginan ku. Tapi aku menjadi Vampire karena aku digigit oleh seorang Vampire” ucap Mark.
“Bagaimana bisa kau digigit oleh Vampire itu?” Ucap Nela.
“Malam itu, aku pulang dari rumah teman ku dan aku memutuskan pulang kerumah dengan berjalan kaki karena jarak rumah teman ku dengan rumah ku tidak begitu jauh. Malam itu memang sangat sepi dan begitu dingin, karena untuk mempersingkat waktu aku memutuskan untuk melewati sebuah hutan yang memang terkenal karena keangkerannya. Menurut orang-orang, hutan itu dihuni oleh makhluk-makhluk yang dianggap tidak pernah ada seperti Vampire dan Werewolf. Tapi aku tidak pernah mempercayai cerita itu, seakan tidak ada rasa takut aku memasuki hutan itu dengan santai. Tiba-tiba aku merasakan seperti ada seseorang yang mengikuti ku dari belakang, ketika aku menoleh ke arah belakang tetapi tidak melihat ada siapa-siapa. Dan aku pun melanjutkan langkah ku, namun tiba-tiba ada sesuatu yang menggigit leher ku dengan begitu cepat. Aku mencoba menoleh kearah belakang seraya menahan rasa sakit pada leher ku, ternyata sesuatu yang menggigit leher ku adalah seorang pria dengan taring yang begitu tajam. Aku tahu kalau pria itu adalah seorang Vampire, saat itu tidak ada yang bisa aku lakukan selain hanya pasrah pada keadaan ku” Mark belum menyelesaikan ceritanya, tetapi Nela sudah memotongnya.
“Kenapa kau tidak berteriak untuk meminta tolong?” Ucap Nela.
“Percuma jika aku berteriak untuk meminta tolong, karena di hutan itu sangatlah sepi tidak ada seorang pun yang melewati hutan itu selain aku. Saat itu hanya ada 2 kemungkinan yang terjadi pada diriku, yaitu Vampire itu menghisap darah ku sampai habis dan membuat ku mati atau Vampire itu hanya menghisap sedikit darah ku dan membuat ku menjadi Vampire sepertinya. Aku pikir Vampire itu akan menghisap darah ku sampai habis, tapi ternyata aku salah. Vampire itu hanya menghisap sedikit darah ku, setelah itu dia menjatuhkan tubuh ku begitu saja dan pergi meninggalkan aku yang sedang tak berdaya dengan luka dileher ku. Aku tak menyangka perubahan menjadi Vampire begitu cepat terjadi, aku mulai merasakan kepala ku begitu panas seperti sedang dibakar, keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhku, tenggorokkan ku yang terasa sangat kering, hingga tumbuhnya dua buah taring pada gigiku. Dan tiba-tiba aku tak sadarkan diri lagi, ketika aku sadarkan diri aku merasa suhu tubuhku begitu dingin seperti seseorang yang sedang demam. Dan rasa haus ku akan darah manusia begitu sulit untuk ku kendalikan, ingin rasanya saat itu aku meminum begitu banyak darah tapi aku tidak ingin melukai siapapun. Saat itu aku hanya dapat berjalan menyelusuri hutan itu seraya menahan rasa haus ku akan darah manusia. Hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang Vampire pria yang berambut agak kekuningan, dia adalah Kian Egan dan dia lah yang membawa ku ke sebuah kastil tua tempat dia dan para Vampire tinggal” ucap Mark.
“Apa sampai sekarang kau tidak pernah meminum darah manusia sekali pun?” Ucap Nela.
“Aku tetap meminum darah manusia, namun tidak langsung dari tubuh mereka. Kian selalu membelikan darah dari rumah sakit untuk ku dan beberapa Vampire yang ada dikastil itu” ucap Mark.
“Itu artinya kau tidak pernah melukai satu orang pun. Kau benar-benar Vampire yang hebat, aku sangat kagum padamu. Namun kenapa setiap kau bertemu dengan ku, kau tidak suka berlama-lama berada didekat ku? Apa ada yang salah dengan ku” ucap Nela.
“Karena aroma darah mu begitu menggoda ku untuk mencicipinya, dan darah mu bagaikan Heroin untuk ku...” Ucap Mark.
Nela pun segera memeluk Mark.
“Silahkan, hisaplah darah sebanyak yang kau inginkan” ucap Nela.
“Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu!” Ucap Mark.
Nela pun terkejut dan segera melepaskan pelukannya.
“Kenapa?” Ucap Nela.
“Karena aku tak ingin melukai mu sedikit pun, aku merasa aku harus menjaga dan melindungi mu” ucap Mark.
Nela pun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mark.
“Sepertinya tidak seharusnya kita bertemu. Karena aku tidak ingin kau terluka karena aku” ucap Nela.
“Kenapa kau berbicara seperti itu?” Ucap Mark.
“Mungkin kau belum tahu, kalau salah satu kakak ku yang bernama Shane adalah seorang pemburu Vampire. Ya, Shane memang begitu suka memburu Vampire setiap malam dihutan itu. Dan, aku tidak bisa menghentikannya. Tapi aku mohon pada mu, jangan kau lukai Shane karena aku sangat menyayanginya. Dan ku harap Vampire yang lain juga tidak pernah melukai Shane” ucap Nela.
“Kau tenang saja, aku berjanji aku tidak akan pernah melukai Shane. Dan aku akan menjaga kakak mu agar Vampire lain tidak bisa melukainya” ucap Mark.
“Terima kasih Mark, kau memang benar-benar Vampire yang baik” ucap Nela.
Mark pun hanya tersenyum.
“Baiklah, sepertinya aku harus segera pergi” ucap Mark.
“Kenapa kau terburu-buru? Apakah kita dapat bertemu kembali?” Ucap Nela.
“Ya, tentu saja” ucap Mark seraya pergi meninggalkan kamarnya Nela.
Nela pun hanya tersenyum seraya menaiki tempat tidurnya dan beranjak untuk tidur.
------------------
Matahari mulai memunculkan dirinya, burung-burung pun saling berkicauan dengan begitu merdu untuk menyambut pagi hari, dan seperti biasa yang Shane lakukan dipagi hari adalah mempersiapkan sarapan untuk dirinya dan kedua adiknya.
Sungguh tak bisa ia bayangkan, bagaimana jika nanti dia sudah menikah dengan Gillian. Siapa yang akan menyiapkan sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan semuanya. Itu semua sangat sulit untuk ia bayangkan.
Tak lama Andrew pun datang menghampirinya.
“Hi, pagi Shane” ucap Andrew.
“Pagi Andrew” ucap Shane.
Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat Shane yang begitu sibuk.
“Kenapa Ndrew?” Ucap Shane.
“Aku sangat kagum padamu Shane” ucap Andrew.
“Kagum kenapa?” Ucap Shane yang terlihat begitu sibuk untuk menyiapkan sarapan pagi.
“Setiap pagi kau selalu bangun lebih dulu hanya untuk menyiapkan sarapan pagi” ucap Andrew.
“Ya, aku memang harus melakukan hal itu setiap pagi, jika bukan aku yang menyiapkannya lalu siapa lagi? Kau tahu Nela begitu sibuk dengan kuliahnya, kadang pulang siang dan kadang pulang sore jika ada tugas tambahan. Dan dia suka lupa dengan waktu makannya” ucap Shane.
“Lalu bagaimana jika nanti kau menikah dengan Gillian? Siapa yang akan menyiapkan semuanya?” Ucap Andrew.
“Entahlah... Itu yang selalu aku pikirkan” ucap Shane.
“Bagaimana jika nanti kau sudah menikah dengan Gillian, Nela tinggal di London saja bersama dengan ku dan mamah papah?” Ucap Andrew.
“Ya, aku juga inginnya seperti itu saja. Tapi kau dan mamah papah juga sama-sama sibuk kan? Lalu bagaimana dengan adik kita? Siapa yang akan menyiapkan segala sesuatu untuknya?” Ucap Shane.
“Ya, kau benar juga Shane. Lalu bagaimana dengan adik kita?” Ucap Andrew.
“Mungkin jika nanti aku sudah menikah dengan Gillian, Nela akan tinggal bersama dengan ku dan Gillian” ucap Shane.
“Lalu rumah ini akan kosong begitu saja?” Ucap Andrew.
“Ya” ucap Shane.
“Morning kakak-kakak ku” ucap Nela yang baru saja datang.
“Morning adik ku” ucap Andrew dan Shane.
“Kalian sedang membicarakan apa?” Ucap Nela.
“Tidak, kami hanya sedang membicarakan tentang hubungan ku dengan Gillian” ucap Shane yang sedikit berbohong, karena Shane tahu Nela mungkin tidak akan sedikit suka jika membicarakan tentang hal itu.
“Memangnya hubungan kalian kenapa? Hubungan kalian baik-baik saja kan?” Ucap Nela.
“Ya, tentu saja hubungan ku dengan Gillian baik-baik saja” ucap Shane.
“Ah, syukurlah kalau seperti itu” ucap Nela seraya menarik nafas lega.
“Selesai... Ayo kita sarapan sekarang” ucap Shane ketika selesai menyiapkan sarapan pagi.
Mereka pun menyantap sarapan pagi bersama-sama.
“Nela, kau ingin diantar ke kampus dengan siapa? Dengan ku atau Andrew?” Ucap Shane seraya menyantap sarapan paginya.
“Ku rasa kita tidak perlu mengantar Nela ke kampusnya” ucap Andrew.
“Memangnya kenapa?” Ucap Shane yang sedikit heran.
“Karena sebentar lagi pangerannya Nela akan datang untuk menjemputnya dan mereka akan berangkat kekampus bersama” ucap Andrew.
“Siapa?” Ucap Nela bingung.
“Nanti kau juga akan tahu, dan aku yakin sebentar lagi pangeran mu akan datang” ucap Andrew.
Shane pun hanya tertawa kecil seraya tetap menyantap sarapan pagi. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.
“Itu pasti suara klakson mobilnya pangeran mu” ucap Andrew kepada Nela.
Nela pun hanya tersipu malu seraya berjalan untuk membukakan pintu pagar rumah mereka.
“Pagi Nela” ucap seorang pria yang tentu saja sudah ia kenal.
Ternyata apa yang diucapkan oleh Andrew memang sangat benar.
“Pagi Hayden, ayo silahkan masuk” ucap Nela.
Dan mereka pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan menuju ke ruang makan.
“Lihat Shane, apa yang tadi aku ucapkan memang benar kan?” Ucap Andrew.
“Ya, sangat benar!” Ucap Shane.
“Benar kenapa?” Ucap Nela bingung.
“Sudahlah, tidak perlu dibahas” ucap Shane seraya tertawa kecil.
“Hayden, ayo kita sarapan dulu” ajak Andrew.
“Tidak, terima kasih. Tadi aku sudah sarapan dirumah” ucap Hayden.
“Benarkah?” Ucap Shane seraya mengangkat kedua alisnya.
“Ya” ucap Hayden.
“Baiklah, Shane, Andrew, kami berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela.
“Nela, kau tidak menghabiskan sarapan mu dulu?” Ucap Shane.
“Tidak Shane, aku sudah kenyang” ucap Nela.
“Shane, Andrew, kami berangkat ke kampus dulu ya” ucap Hayden.
“Ya Hayden, kalian hati-hati ya” ucap Shane.
“Hayden, seperti biasa aku titip adik ku yang cuma satu-satunya ya” ucap Andrew.
“Ya Andrew, dia akan selalu akan aman bersama dengan ku” ucap Hayden.
“Ya, aku percaya itu” ucap Andrew.
Nela dan Hayden pun segera menuju ke luar rumahnya Shane. Lalu Nela dan Hayden segera memasuki mobilnya Hayden.
“Apa tidak ada yang tertinggal?” Ucap Hayden seraya menyalakan mesin mobilnya.
“Sepertinya tidak ada” ucap Nela.
Hayden hanya mengangguk mengerti dan mereka segera pergi menuju ke kampus mereka. Tak lama mereka pun sampai dikampus tempat mereka kuliah.
“Terima kasih, sampai nanti Hayden” ucap Nela seraya keluar dari mobilnya Hayden.
“Tunggu! Aku akan mengantar mu sampai ke kelas mu” ucap Hayden seraya keluar dari mobilnya.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya, dan mereka berjalan menuju kelasnya Nela.
Ketika Nela dan Hayden sedang berjalan menuju ke kelasnya Nela, semua orang ada disekitar mereka memperhatikan mereka.
“Kenapa mereka memperhatikan kita?” Ucap Nela.
“Entahlah, aku juga tidak tahu” ucap Hayden.
“Jadi kalian berdua sudah berpacaran, selamat ya” ucap seseorang yang tentu saja mahasiswa di kampus itu.
Nela dan Hayden yang mendengar itu hanya tersenyum seraya tak mengerti.
“Kenapa mereka beranggapan kita sudah berpacaran? Padahal kita berdua hanya berjalan bersama saja” ucap Nela heran.
“Biarkan saja, itu kan menurut mereka saja” ucap Hayden.
Tak lama mereka pun sampai dikelasnya Nela.
“Baiklah Nela, sampai nanti ya” ucap Hayden.
“Ya Hayden” uca Nela seraya memasuki ruang kelasnya.
Hayden pun berjalan meninggalkan kelasnya Nela, dan menuju ke ruang kelasnya sendiri.
3 jam pun berlalu, dan kini waktunya untuk mahasiswa dan mahasiswi istirahat.
Nela pun segera berjalan keluar dari kelasnya seraya membawa sebuah novel ditangannya. Dia berjalan menuju sebuah taman yang ada dikampusnya.
Setelah sampai ditaman itu, ia segera duduk disebuah kursi panjang dan membuka novel yang ia bawa. Tiba-tiba ponselnya bergetar, dia pun segera mengambil ponsel disaku bajunya dan ternyata itu adalah telepon dari Hayden. Dan Nela pun segera mengangkatnya.
••••••••••••••••
“Hallo” ucap Nela membuka pembicaraan ditelepon.
“Hallo Nela, kau ada dimana? Tadi aku ke kelas mu, tetapi kau tidak ada disana” ucap Hayden.
“Aku sedang ditaman, ada apa Hayden?” Ucap Nela.
“Baiklah, aku akan kesana sekarang” ucap Hayden.
“Ya” ucap Nela mengakhiri pembicaraan di telepon.
••••••••••••••••••
Nela pun mulai membaca novel itu. Tak lama Hayden pun datang dan menghampirinya.
“Hey, kau sedang apa?” Ucap Hayden seraya duduk disamping Nela.
“Aku sedang membaca novel yang mempertemukan kita berdua” ucap Nela.
Hayden pun hanya tertawa kecil.
“Oh ya, ini untuk mu” ucap Hayden seraya memberikan Nela sekaleng juice jeruk.
“Thank you” ucap Nela seraya mengambil minuman itu.
“Ya. Boleh kah aku ikut membacanya juga?” Ucap Hayden.
“Ya, tentu saja” ucap Nela.
“Biasanya kalau sedang membaca novel aku suka sambil mendengarkan musik karena dapat membuat ku semakin fokus dalam membaca novel tersebut. Apa kau ingin mendengarkannya juga?” ucap Hayden seraya mengeluarkan sebuah ipod beserta dengan headphones dari dalam saku celananya.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Hayden segera memasangkan sebelah headphones ke telinganya Nela dan headphones yang sebelahnya ia pasang ditelinganya sendiri.
Dan mereka pun membaca novel seraya mendengarkan musik bersama-sama. Tanpa mereka ketahui, ternyata David sedang mengawasi mereka dari balik sebuah pohon.
“Menyebalkan! Apa mau nya Hayden? Apa dia ingin mengingkari janji itu?” Ucap David yang terlihat begitu kesal karena melihat pemandangan itu didepannya.
David pun segera berjalan menuju ke halaman belakang kampus itu seraya mengetik sebuah pesan untuk Hayden.
Tak lama ponsel Hayden pun bergetar, ia segera mengambil ponselnya disaku celananya dan terlihat dilayar ponselnya “1 message from David”.
“David mengganggu waktu ku saja!” Gerutu Hayden dalam hati.
“Sebentar ya Nela” ucap Hayden.
“Ya” ucap Nela.
“Hayden, aku ingin berbicara dengan mu! Sekarang aku ingin kau menemui ku di halaman belakang kampus! Jika kau tidak ingin menjadi pengecut, maka datanglah!” Pesan dari David.
Terlihat raut muka Hayden yang sedikit kesal ketika usai membaca pesan dari David.
“Ada apa?” Ucap Nela.
“Hehm, tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang karena ada urusan yang aku harus selesaikan. Kau tunggu disini dulu ya, aku akan segera kembali” ucap Hayden beranjak pergi menuju halaman belakang kampus.
“Ya, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan segera lah hubungi aku!” Pekik Nela.
“Iya” pekik Hayden.
Hayden pun terus berjalan menuju halaman belakang kampus.
“Ada apa dengan David? Kenapa tiba-tiba dia ingin bertemu dengan ku?” Ucap Hayden seraya berjalan menuju halaman kampus.
Tak lama Hayden pun sampai dihalaman belakang kampus, dan benar saja David memang sedang berada disana.
“Ada apa Dav?” Ucap Hayden seraya berjalan menghampiri David yang sedang menunggu kedatangannya.
“Akhirnya kau datang juga sepupu ku. Aku pikir kau tidak akan datang” ucap David.
“Sudahlah tidak usah membuang-buang waktu, ada apa kau ingin bertemu dengan ku?” Ucap Hayden.
“Nampaknya kau sangat sibuk ya, sampai untuk berbicara dengan ku saja kau tidak punya waktu” ucap David.
Hayden pun hanya menarik nafas panjang, terlihat raut mukanya yang begitu kesal.
“Apa kau masih ingat pada perjanjian kita?” Ucap David.
“Perjanjian apa?” Ucap Hayden.
“Hayden, kau ini memang benar-benar lupa atau kau pura-pura tidak ingat?” Ucap David.
“Aku memang benar-benar tidak mengingatnya” ucap Hayden.
“Baiklah, aku akan memberitahu apa perjanjian yang aku maksud itu. Perjanjian itu adalah perjanjian yang kita buat satu tahun yang lalu, dan sekarang kau mengingkari perjanjian itu!” Ucap David.
Hayden pun mulai mengingat apa perjanjian yang dimaksud oleh David.
“Ya, sekarang aku ingat perjanjian itu. Menurut ku, aku tidak mengingkari perjanjian itu. Mungkin kau salah David” ucap Hayden.
“Aku tidak salah, kau memang benar-benar sudah mengingkari perjanjian yang kita buat!” Ucap David.
“Tapi aku tidak merebut wanita yang kau cintai” ucap Hayden.
“Kau merebutnya dari ku Hayden!” Ucap David.
“Memangnya siapa wanita yang kau cintai itu? Dan aku memang tidak pernah merebutnya dari mu” ucap Hayden.
“Wanita itu adalah Nela, dan telah kau merebutnya dari ku” ucap David.
“Tapi aku tidak tahu jika kau menyukainya” ucap Hayden.
“Aku menyukainya sejak beberapa bulan yang lalu, dan semenjak kau mengenalnya aku jadi tidak bisa mendekatinya lagi” ucap David.
“Maaf Dav, tapi aku tidak tahu soal itu” ucap Hayden.
“Tidak apa-apa, tapi sekarang kau sudah mengetahuinya dan aku ingin kau menjauhi nya atau aku akan memberi tahu kepada Nela siapa kau yang sebenarnya!” Ucap David.
“Aku tidak akan pernah menjauhi nya Dav!” Ucap Hayden.
“Baiklah kalau seperti itu, bersiap-siap lah karena sebentar lagi Nela akan mengetahui siapa diri mu yang sebenarnya” ucap David.
“Silahkan saja, aku tidak takut pada ancaman mu itu!” Ucap Hayden seraya beranjak pergi.
“Hayden! Lebih baik kau jauhi Nela, atau Roland akan membunuhnya seperti dia membunuh Rachel kekasih mu yang telah mati itu!” Pekik David.
Hayden pun menghentikan langkahnya.
“Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi! Dan aku berjanji Roland tidak akan bisa melukai Nela sedikit pun karena aku akan selalu menjaga dan melindunginya” ucap Hayden.
“Kau sangat keras kepala Hayden!” Ucap David.
Hayden pun tak mempedulikan ucapannya David dan segera pergi meninggalkan halaman belakang kampus.
“Kita tunggu saja tanggal mainnya Hayden! Nela akan tahu siapa kau yang sebenarnya” ucap David.
Tak lama Hayden pun sampai ditaman kampus.
“Hey, maaf aku telah membuat mu menunggu lama” ucap Hayden seraya duduk disampingnya Nela.
“Tidak apa-apa” ucap Nela seraya tersenyum.
“Sebaiknya sekarang kita ke kelas saja” ucap Hayden seraya merangkul pundaknya Nela.
Dan mereka pun segera berjalan menuju ke kelasnya Nela.
“Apa urusan mu sudah selesai?” Ucap Nela.
“Ya, tentu saja sudah selesai” ucap Hayden.
Tak lama mereka pun sampai didepan kelasnya Nela.
“Sampai nanti ya Nela” ucap Hayden.
“Ya, sampai nanti Hayden” ucap Nela seraya memasuki kelasnya.
3 jam kemudian... Kini waktunya untuk pulang, Nela pun segera keluar dari kelasnya.
Dan seperti biasa Hayden sudah menunggunya didepan kelasnya.
“Ayo kita pulang bersama” ucap Hayden.
Nela dan Hayden pun berjalan menuju tempat parkir kampus. Dan tak lama mereka sampai ditempat parkir kampus mereka.
Tiba-tiba David pun datang menghampiri mereka.
“Hey!” Ucap David.
“Ada apa Dav?” Ucap Nela.
“Apa aku mengganggu kalian?” Ucap David.
“Tidak, memangnya kenapa Dav?” Ucap Nela.
“Aku ingin berbicara dengan mu Nela” ucap David.
“Kau ingin berbicara apa?” Ucap Nela.
“Tadi bicaranya tidak disini, aku ingin berbicara dengan mu dihalaman belakang kampus. Bagaimana apa kau mau?” Ucap David.
“Tapi aku harus segera pulang Dav” ucap Nela.
“Ayo lah, aku mohon pada mu. Hanya sebentar saja” ucap David.
“Hehm, bagaimana ya?” Ucap Nela.
“Please, karena ini sangat penting” ucap David seraya melirik ke arah Hayden. Dan Hayden pun hanya memalingkan pandangannya dari David.
“Pasti David ingin mengatakan hal itu kepada Nela” ucap Hayden dalam hati.
“Hayden, apa tidak apa-apa kau pulang sendiri?” Ucap Nela.
“Ya, tidak apa-apa” ucap Hayden.
“Baiklah, kau hati-hati ya” ucap Nela.
Nela dan David pun segera berjalan menuju halaman belakang kampus mereka.
“Kau ingin berbicara apa Dav? Sepertinya penting sekali” ucap Nela.
“Nanti kau juga akan tahu” ucap David.
Tak lama mereka pun sampai dihalaman belakang kampus mereka. Dan mereka segera duduk diatas rumput-rumput.
“Kau ingin bicara apa Dav?” Ucap Nela.
“Aku ingin bicara tentang Hayden. Kau tidak tahu kan siapa Hayden yang sebenarnya?” Ucap David.
“Memangnya siapa Hayden yang sebenarnya? Bukankah dia hanya manusia biasa seperti kita” ucap Nela.
“Itu hanya menurut mu saja. Hayden bukanlah manusia biasa seperti kita” ucap David.
“Apakah Hayden itu seorang Vampire? Atau mungkin dia seorang Dracula?” Ucap Nela.
“Bukan kedua-dua nya” ucap David.
“Lalu siapa Hayden yang sebenarnya?” Ucap Nela.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar