Tittle : My Love is Vampire - Chapter VIII
Genre : Fantasy | Romance | Thriller
Cast : Westlife |Other's
Tags : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife
=========================================================
“Nela, apa kau belum tidur?” Ucap Andrew.
Ternyata yang membuka pintu kamarnya Nela adalah Andrew.
“Be... Belum, baru saja aku mau tidur” ucap Nela sedikit gugup karena hampir saja Andrew tahu kalau ia sedang mengobrol dengan seorang Vampire.
“Lalu kenapa kau masih berdiri saja?” Ucap Andrew.
“Hehm... Tadi aku hehm...” Ucap Nela seraya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
“Ya sudah, sekarang kau harus tidur adik ku. Beristirahatlah, kau pasti sangat lelah” ucap Andrew seraya mengusap-usap kepalanya Nela.
“Ya, baiklah” ucap Nela seraya berjalan menuju tempat tidurnya dan segera menaikinya.
“Good night adik ku, have a nice dream ya” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.
“Ya, good night too kakak ku” ucap Nela.
Andrew pun hanya tersenyum seraya beranjak pergi dan kembali menutup pintu kamarnya Nela.
“Hampir saja ketahuan sama Andrew” ucap Nela seraya menarik nafas lega.
Dan Mark segera keluar dari persembunyiannya dibalik jendela kamarnya Nela.
“Sebaiknya aku harus cepat pergi dari sini! Sampai jumpa nanti” ucap Mark seraya beranjak pergi dari kamarnya Nela.
“Tapi... Ahh! Dia kan belum menjawab pertanyaan ku, tapi kenapa dia pergi begitu saja” Gerutu Nela.
“Sudahlah biarkan saja, dan aku berharap besok malam aku dapat bertemu dengannya kembali” ucap Nela seraya memejamkan matanya.
--------------------
Matahari pun kembali memunculkan dirinya untuk menandakan pagi telah tiba. Seperti biasa setiap pagi yang dilakukan Shane adalah menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya.
Ya, kini Shane memang sedang sibuk untuk menyiapkan sarapan pagi. Dan tak lama Andrew pun datang.
“Good morning my bro” ucap Andrew.
“Morning Andrew” ucap Shane yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.
“Shane, Nela kemana? Apa dia belum bangun?” Ucap Andrew.
“Tidak tahu, mungkin dia masih dikamarnya” ucap Shane.
“Baiklah, aku akan ke kamarnya” ucap Andrew seraya berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya Nela.
Setelah sampai didepan kamarnya Nela, Andrew segera mengetuk pintunya.
“Nela, wake up baby” ucap Andrew dari luar kamarnya Nela seraya mengetuk pintunya.
“Iya sebentar, aku sedang bersiap-siap” ucap Nela dari dalam kamarnya.
“Ok, I'll wait you in here” ucap Andrew.
Tiba-tiba ponselnya Nela pun berbunyi, ia pun segera mengambil ponselnya dan melihatnya. Dan ternyata itu adalah telepon dari Hayden, lalu ia pun segera mengangkatnya.
••••••••••••••
“Hallo, ada apa Hayden?” Ucap Nela memulai pembicaraan ditelepon.
“I'm sorry Nela, sepertinya pagi ini kita tidak bisa berangkat ke kampus bersama karena ada urusan yang harus aku selesaikan” ucap Hayden.
“Ok, tidak apa-apa Hayden” ucap Nela.
“Lalu bagaimana dengan mu? Kau berangkat ke kampus dengan siapa?” Ucap Hayden.
“Don't worry, aku bisa meminta Andrew atau Shane untuk mengantar ku” ucap Nela.
“Baiklah, once again I'm sorry Nela” ucap Hayden.
“Ya, tidak apa-apa” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.
••••••••••
Dan Nela pun keluar dari kamarnya.
“Ternyata kau masih menunggu disini” ucap Nela.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
Nela dan Andrew pun segera menuruni anak tangga, dan berjalan menuju ruang makan.
Setelah sampai diruang makan, mereka segera duduk dikursi yang berada dibelakang meja makan.
“Morning Shane” ucap Nela.
“Morning adik ku. Ayo kita menyantap sarapan bersama” ucap Shane seraya tersenyum.
Dan mereka pun segera menyantap sarapan pagi bersama-sama.
“Oh ya, tadi Hayden menghubungi ku katanya pagi ini dia tidak bisa menjemput ku untuk berangkat ke kampus bersama” ucap Nela seraya menyantap sarapannya.
“Don't worry baby, aku yang akan mengantar mu ke kampus” ucap Andrew seraya menyantap sarapan paginya.
“Are you sure?” Ucap Nela.
“Yeah! Of course I'm sure” ucap Andrew.
“Baiklah, kalau seperti itu” ucap Nela seraya menyantap sarapan paginya.
Shane pun hanya tersenyum melihat kedua adiknya itu seraya menyantap sarapannya. Tak lama mereka pun selesai menyantap sarapan paginya.
“Sebentar ya, aku akan mengambil kunci mobil ku dulu dikamar ku” ucap Andrew seraya beranjak pergi.
“Pakai mobil ku saja” ucap Shane.
“Tidak!” Pekik Andrew seraya berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
Dan tak lama Andrew pun kembali.
“Ayo kita berangkat” ucap Andrew yang terlihat begitu semangat.
“Shane, aku berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela.
“Iya Nela, kau hati-hati ya. Nanti kau hubungi aku atau Andrew saja untuk menjemput mu” ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Nela seraya tersenyum.
Nela dan Andrew pun berjalan menuju halaman rumah mereka.
“Kau tahu, sudah lama sekali aku ingin mengantar mu ke kampus. Tapi tidak bisa, karena pangeran mu itu selalu menjemput mu untuk berangkat ke kampus bersama” ucap Andrew.
“Pangeran?” Ucap Nela yang sedikit bingung.
“Ya, your prince” ucap Andrew seraya masuk kedalam mobilnya di ikuti oleh Nela.
“Siapa?” Ucap Nela.
“Hayden, bukankah ia pangeran mu?” Ucap Andrew.
“Ahh, kau ini. He is not my prince, we're just friend” ucap Nela.
“Benarkah? Tapi kalian begitu dekat, dan menurut ku kalian saling menyukai satu sama lain” Ucap Andrew seraya menyalakan mesin mobilnya.
“Mungkin itu hanya menurut kau saja, kami berdua hanya teman tidak lebih dari itu” ucap Nela.
Andrew pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mobilnya Andrew pun melaju menuju kampusnya Nela.
“Pasti begitu menyenangkan kalau kita bisa satu kampus” ucap Nela.
“Ya, kau benar. Maka dari itu kau tinggal di London saja, lalu nanti kau kuliah dikampus ku” ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
“Aku tidak bisa Andrew, bagaimana pun aku harus tetap berada di Ireland” ucap Nela.
“Honestly, aku juga tidak bisa meninggalkan mu lagi dan rasanya aku tak ingin kembali ke London tanpa mu” ucap Andrew.
“Kalau seperti itu, kau tinggal disini saja dan kau tak perlu kembali ke London” ucap Nela.
“Ya, aku juga pernah berpikir seperti itu. Rasanya begitu berat untuk meninggalkan mu kembali” ucap Andrew.
“Aku juga tidak ingin ditinggal kau lagi Andrew” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya.
“Tenang saja adikku, waktu liburku kan masih lama jadi kita masih bisa bersama-sama. Dan nanti akan aku pikirkan lagi tentang hal itu” ucap Andrew pun seraya tersenyum.
“I love you so much Andrew!” Ucap Nela seraya mencium pipi kirinya Andrew.
Andrew pun begitu terkejut seraya menyentuh pipi kirinya.
“I love you so much Nela. Dan aku pikir kau sudah tidak ingin mencium ku lagi” ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
“Tentu saja tidak Andrew, karena itu adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa sayang ku pada mu” ucap Nela.
Andrew pun hanya tersenyum. Dan tak lama mereka sampai dikampusnya Nela.
“Thank you my brother” ucap Nela seraya keluar dari mobilnya Andrew.
“Sama-sama adik ku” ucap Nela.
“Nanti kalau sudah pulang kau hubungi aku saja ya” ucap Andrew.
“Ok” ucap Nela.
Dan Hayden pun datang menghampiri mereka.
“Your prince!” Ucap Andrew pelan.
“Hey! Sorry ya, tadi aku tidak bisa menjemput mu” ucap Hayden.
“Iya, tidak apa-apa” ucap Nela.
“Sepertinya kalau aku terus berada disini, aku hanya akan menjadi penganggu dan sebaiknya aku pulang saja” ucap Andrew.
Nela dan Hayden pun hanya tertawa kecil.
“Baiklah, hati-hati ya Andrew” ucap Nela.
“Iya. Hayden, aku titip adik ku ya” ucap Andrew.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Dan Andrew pun segera pergi meninggalkan kampusnya Nela.
Lalu Hayden dan Nela berjalan menuju kelasnya Nela.
“Andrew terlihat begitu menyayangi mu” ucap Hayden.
“Ya, memang seperti itu lah dia. Saat dia tinggal di London, kami tidak pernah berkomunikasi sedikit pun karena kami sama-sama sibuk. Dan ketika ia berada disini, kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama” ucap Nela.
“Andrew dan Shane sangat beruntung mempunyai adik seperti mu” ucap Hayden seraya tersenyum.
Nela pun hanya tersenyum.
“Oh ya, bagaimana nanti jika kita ke toko buku? Ya, tapi itu jika kau tidak keberatan” ucap Hayden.
“Tentu saja aku tidak akan merasa keberatan” ucap Nela.
Dan mereka pun sampai didepan kelasnya Nela.
“Baiklah, sampai nanti ya” ucap Hayden.
“Ya” ucap Nela.
Hayden pun berjalan menuju kelasnya, dan Nela segera memasuki ruang kelasnya.
3 jam pun berlalu dan kini waktunya istirahat, Nela pun berjalan keluar dari kelasnya seraya membawa sebuah novel ditangan kanannya. Ia berjalan menuju taman kampus, dan duduk disebuah kursi panjang.
Dan tak lama David pun datang menghampirinya dan duduk disebelahnya.
“Hey, ternyata kau ada disini. Pantas saja tadi aku ke kelas mu tapi kau tidak ada” ucap David.
“Ya, ada apa Dav?” Ucap Nela seraya membaca novel.
“Hehm tidak, aku pikir kau marah pada ku karena cerita ku yang kemarin siang” ucap David.
“Kenapa aku harus marah? Cerita itu kan belum tentu kebenarannya” ucap Nela.
“Jadi kau belum dapat kebenaran dari cerita itu?” Ucap David.
“Ya” ucap Nela.
Dan Hayden pun datang menghampiri mereka seraya membawa dua minuman kaleng, dan duduk disebelah kanannya Nela.
“Hey! Kalian sedang apa?” Ucap Hayden.
“Kami hanya sedang mengobrol saja” ucap David.
“Nela, nanti setelah pulang kuliah kita jadi kan ke toko buku?” Ucap Hayden.
“Ya, tentu saja kita jadi ke toko buku” ucap Nela.
Hayden pun menganggukkan kepalanya.
“Oh ya Nela, ini minuman untuk mu. Langsung aku bukakan saja ya penutupnya” ucap Hayden seraya membukakan penutup minuman kaleng itu.
“Ini untuk mu” ucap Hayden seraya memberikan Nela sebuah minuman kaleng.
“Terima kasih Hayden, aku jadi merepotkan mu” ucap Nela.
“Bukankah sudah ku bilang, kalau kau tak pernah membuat ku repot” ucap Hayden.
Nela pun hanya tersenyum seraya meneguk minumannya.
“Ternyata Nela belum tahu kalau Hayden memang lah seorang Jumper” ucap David dalam hati.
“Baiklah Nela, Hayden, aku pergi dulu ya” ucap David.
“Kenapa kau terburu-buru Dav?” Ucap Nela.
“Ada urusan yang harus aku selesaikan” ucap David.
“Oh, baiklah” ucap Nela.
Dan David pun beranjak pergi meninggalkan taman kampus.
----------------
Kini waktunya pulang, seperti biasa Hayden sudah menunggu didepan kelasnya Nela. Dan Nela pun berjalan keluar dari kelasnya.
“Hey!” Ucap Hayden.
Nela pun hanya tersenyum, dan mereka berdua pun berjalan menuju tempat parkir kampus. Tanpa mereka sadari, David mengikuti mereka dari belakang secara diam-diam.
Setelah sampai ditempat parkir kampus, Nela dan Hayden pun masuk kedalam mobilnya Hayden, dan mereka segera pergi meninggalkan kampus.
“Sudah ku duga kalau Nela belum tau jika Hayden memang seorang Jumper!” Ucap David.
30 menit kemudian, Nela dan Hayden pun sampai di sebuah toko buku. Hayden dan Nela segera keluar dari mobilnya Hayden, dan berjalan masuk kedalam toko buku.
“Kau mau cari buku apa?” Ucap Nela.
“Entahlah, mungkin aku akan mencari novel saja. Tapi aku belum tahu apa judul novelnya” ucap Hayden.
“Tapi kau tahu siapa pengarang novel itu?” Ucap Nela.
“Tidak, dan aku juga tidak tahu bagaimana isi novel itu. Ya, bisa bilang aku belum punya rencana mau mencari novel apa” ucap Hayden.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka berjalan menuju rak novel yang bergenre fantasy.
“Sepertinya ada begitu banyak novel baru” ucap Nela seraya melihat-lihat kearah rak novel yang ada didepannya.
“Ya, dan hal ini membuat kita bingung ingin membeli novel yang mana” ucap Hayden yang berdiri dibelakangnya Nela.
Nela pun hanya tertawa kecil seraya mengambil sebuah novel yang berjudul “The White Angel”.
“Itu novel apa?” Ucap Hayden.
“Entahlah, dari judulnya sepertinya ceritanya menarik” ucap Nela seraya membuka cover novel itu.
Nela pun mulai membaca novel itu. Dan Hayden tetap berdiri dibelakangnya seraya melihat-lihat novel. Namun tiba-tiba ada seorang karyawan toko buku yang berjalan ke arah mereka dengan membawa begitu banyak tumpukkan buku-buku hingga menghalangi wajahnya. Karyawan toko buku itu terus berjalan mendekati Nela dan Hayden, dengan cepat Hayden menarik Nela ke arah belakang hingga mereka berdua terjatuh.
Brukkk...
Nela dan Hayden pun terjatuh, tetapi ada yang aneh mereka bukan terjatuh ke lantai toko buku itu tetapi mereka terjatuh ke suatu tempat.
Nela pun menyadari kalau sekarang mereka bukan sedang berada ditoko buku lagi. Dia segera berdiri dan melihat ke sekelilingnya.
“Ternyata David benar, kau memang seorang Jumper” ucap Nela yang menyadari kalau sekarang mereka sudah berada dihalaman belakang kampus mereka.
“Sudah ku duga kalau David akan mengatakan tentang hal itu pada mu” ucap Hayden seraya berdiri.
“Sungguh sulit untuk dipercaya, kalau kau benar-benar seorang Jumper dan kau memiliki kekuatan Teleportation. Tapi kenapa kau tidak pernah mengatakan hal ini kepada ku?” Ucap Nela.
“Maafkan aku, ini memang adalah sebuah rahasia yang tak banyak orang tahu. Sebenarnya aku juga ingin memberi tahu pada mu, tapi aku tak ingin kau terluka hanya karena kau tahu siapa aku yang sebenarnya” ucap Hayden.
“Apa maksud mu?” Ucap Nela heran.
“Mungkin David sudah banyak cerita tentang hal ini pada mu. Dan mungkin David juga sudah cerita tentang Roland dan Rachel kepada mu” ucap Hayden.
“Rachel? Kekasih mu itu kan?” Ucap Nela.
“Ya, Rachel adalah kekasih ku yang telah mati karena dibunuh oleh Roland. Karena peristiwa itu, aku jadi memutuskan untuk pindah ke Ireland” ucap Hayden.
“Dari mana kau bisa mendapatkan kekuatan itu?” Ucap Nela.
“Entahlah, aku juga tidak tahu dari kekuatan ini datang. Tiba-tiba saja aku mempunyai kekuatan ini” ucap Hayden.
Nela pun hanya terdiam seraya masih belum percaya kalau Hayden memang lah seorang Jumper. Tapi itu lah kenyataannya, Hayden memang benar-benar seorang Jumper dan memiliki kekuatan Teleportation.
“Tak seharusnya kita saling mengenal dan dekat seperti ini. Mungkin seharusnya dari awal kita tidak pernah bertemu” ucap Hayden.
“Apa maksud mu?” Ucap Nela yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Hayden.
“Maksud ku, tidak seharusnya kita saling mengenal dan berteman karena aku tak ingin kau terluka hanya karena kau dekat dengan ku” ucap Hayden.
“Hayden, aku masih tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan” ucap Nela.
“Nela, maksud ku adalah aku tak ingin kau terluka hanya karena kau dekat dengan ku. Karena Roland pasti akan mengejar ku sampai ke Ireland, dan jika kau tetap dekat dan berteman dengan ku maka kau bisa terluka bahkan kau bisa terbunuh seperti Rachel” ucap Hayden.
“Kenapa dia harus melukai ku?” Ucap Nela.
“Karena jika Pemburu Jumper tidak berhasil membunuh Jumper incarannya, maka ia akan membunuh orang-orang yang Jumper sayang terutama adalah seorang wanita yang begitu dekat dengan Jumper itu” ucap Hayden.
Dan lagi-lagi Nela hanya terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun.
“Maafkan aku Nela, aku tak bermaksud ingin melukai mu sedikit pun. Dan aku berjanji, mulai sekarang aku akan menjauhi mu agar kau tetap aman dari Roland atau pemburu Jumper manapun. Terima kasih kau telah menjadi teman baik ku” ucap Hayden seraya beranjak pergi, namun dengan cepat Nela menarik tangannya.
“Ada apa Nela? Sungguh, aku tak ingin mengulang kesalahan ku yang kedua kali. Aku tak ingin lagi melihat wanita yang aku sayang dibunuh oleh Roland. Sudah cukup hanya Rachel saja yang menjadi korban karena Roland tidak pernah berhasil membunuh ku” ucap Hayden seraya menundukkan kepalanya.
“Please, still stay in here Hayden! Don't be afraid about me or Roland” ucap Nela.
Hayden pun mengangkat kepalanya dan menatap wajahnya Nela.
“Kau tidak perlu pergi dan menjauhi ku. Jangan takut tentang Roland, dia tidak akan pernah bisa membunuh kita! Kau tenang saja, kita akan menghadapi Roland bersama-sama. Dan ku pastikan dia tidak akan bisa melukai kita sedikit pun” ucap Nela seraya menatap matanya Hayden.
Hayden pun segera memeluk Nela.
“Benarkah itu? Aku hanya tak ingin Roland melukai mu” ucap Hayden.
“Ya, aku berjanji aku akan membantu mu untuk menghadapi Roland. Jadi kau tidak perlu takut jika Roland datang” ucap Nela seraya tersenyum.
“Terima kasih Nela, aku senang bisa bertemu dan berteman dengan mu” ucap Hayden.
“Bagaimana jika untuk ucapan terima kasihnya, aku akan mengajak mu ke tempat yang ingin kau kunjungi?” Ucap Hayden.
“Hehm, bagaimana ya?” Ucap Nela seraya berpikir.
“Atau kau ingin jalan-jalan keliling dunia?” Ucap Hayden.
“Sepertinya lain kali saja, karena sekarang bukan waktunya yang tepat” ucap Nela.
“Baiklah kalau seperti itu. Lalu sekarang kita mau kemana?” Ucap Hayden.
“Mungkin sebaiknya sekarang kita pulang saja, aku takut Andrew dan Shane sudah menunggu ku dirumah” ucap Nela.
“Baiklah, sekarang peganglah tangan ku” ucap Hayden.
Nela pun segera memegang tangannya Hayden.
“Dan sekarang kita berjalan ke pohon itu saja ya” ucap Hayden seraya menunjuk ke sebuah pohon yang cukup besar.
“Lalu apakah pohon itu akan menjadi jalan untuk menuju ke rumah ku?” Ucap Nela.
“Ya tentu saja, karena disini tidak ada lagi pohon atau yang lainnya untuk menjadi jalan ke rumah mu” ucap Hayden.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya, dan mereka segera berjalan mendekati pohon itu.
“Tetaplah berpegang pada ku, jangan lepaskan genggaman tangan kita” ucap Hayden.
“Ya” ucap Nela.
“Apakah kau sudah siap untuk jump bersama ku?” Ucap Hayden.
“Yeah, of course!” Ucap Nela.
Dan mereka melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke dalam pohon itu. Lalu tiba-tiba saja mereka sudah sampai didepan rumahnya Nela.
“Kita sudah sampai didepan rumah mu” ucap Hayden.
“Ini kita benar-benar sudah berada didepan rumah ku?” Ucap Nela seraya melihat ke sekelilingnya, seakan tidak percaya kalau dia baru saja jump bersama dengan Hayden.
“Ya” ucap Hayden.
“Kau benar-benar hebat Hayden! Sungguh tak pernah ku duga kalau aku akan jump bersama dengan seorang Jumper yang ada didunia ini” ucap Nela.
Hayden pun hanya tersenyum.
“Oh ya, apa kau mau masuk dulu?” Ucap Nela.
“Tidak perlu, aku harus mengambil mobil ku yang masih berada ditempat parkir toko buku tadi” ucap Hayden.
“Baiklah, dan terima kasih tadi kau sudah menyelamatkan ku dari orang yang membawa begitu banyak tumpukkan buku tadi” ucap Nela.
“Ya, sama-sama Nela” ucap Hayden.
“Ya sudah aku masuk dulu ya” ucap Nela.
Hayden pun hanya tersenyum dan Nela segera berjalan memasuki rumahnya.
“Hey! Adik ku sudah pulang” ucap Andrew seraya menyambut hangat kedatangannya Nela.
“Iya. Hehm, maafkan aku ya karena aku pulangnya telat” ucap Nela.
“Tidak apa-apa adik ku. Pasti kau pulang dengan Hayden ya?” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela, dan berjalan menuju ke ruang makan.
“Ya, kenapa kau bisa tahu?” Ucap Nela yang sedikit heran.
“Aku hanya menebak-nebak saja, dan ternyata tebakkan ku benar” ucap Andrew.
“Oh ya, Shane kemana?” Ucap Nela.
“Dia sedang didapur untuk menyiapkan makan siang” ucap Andrew.
Dan Nela pun segera berjalan menuju dapur. Setelah sampai didapur, ia segera menghampiri Shane yang sedang memasak dan memeluknya dari belakang.
“Shane!” Ucap Nela.
“Ternyata adik ku sudah pulang” ucap Shane seraya memasak.
“Iya Shane, tapi maaf aku pulangnya telat karena tadi aku pergi ke toko buku bersama dengan Hayden” ucap Nela.
“Iya adik ku, tidak apa-apa” ucap Shane.
“Baiklah, aku ganti baju dulu ya” ucap Nela.
“Ya, tapi jangan lama-lama karena sebentar lagi makanannya sudah siap untuk dihidangkan” ucap Shane.
“Siap Shane!” Ucap Nela seraya mengedipkan sebelah matanya dan beranjak pergi meninggalkan dapur.
10 menit kemudian...
Mereka sudah berkumpul diruang makan untuk menyantap makan siang bersama.
“Nela, tadi kau beli buku apa?” Ucap Andrew seraya menyantap makan siangnya.
“Hehm, aku tidak beli buku apa-apa” ucap Nela.
“Lalu kenapa kau ke toko buku jika kau tidak beli satu buku pun?” Ucap Shane.
“Tadi aku hanya menemani Hayden saja, tapi buku yang ingin ia beli sedang tidak ada” ucap Nela.
“Oh” ucap Shane dan Andrew seraya menganggukkan kepala mereka.
-------------------
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Seperti biasa Shane sedang bersiap-siap untuk pergi berburu Vampire.
“Shane, apa kau tidak jenuh hampir setiap kau pergi hanya untuk berburu Vampire” ucap Nela.
“Kenapa aku harus jenuh? Bukankah aku sudah melakukan hal ini sejak lama” ucap Shane.
“Memangnya Vampire itu benar-benar ada?” Ucap Andrew.
“Ya, Vampire itu memang benar-benar ada didunia ini” ucap Shane.
“Tapi aku tetap tidak percaya jika mereka benar-benar ada meskipun kakak ku adalah seorang pemburu Vampire” ucap Andrew.
“Same with me!” Ucap Nela.
“Kalian tidak akan pernah percaya jika kalian belum pernah bertemu langsung dengan mereka” ucap Shane.
“Tapi bagaimana caranya agar kami dapat bertemu dengan mereka?” Ucap Andrew.
“Mungkin kami harus ikut berburu dengan mu Shane, agar kami dapat bertemu langsung dengan Vampire” ucap Nela.
“Tidak! Kalian berdua tidak boleh ikut berburu Vampire bersama dengan ku” ucap Shane.
“Why Shane?” Ucap Andrew.
“Karena itu dapat membahayakan kalian berdua. Aku tak ingin Vampire atau siapapun menyakiti adik-adik ku” ucap Shane.
“Shane, come on biarkan kami ikut berburu Vampire bersama dengan mu” ucap Andrew seperti sedang memohon.
“Tidak Andrew. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kalian berdua ikut berburu Vampire bersama dengan ku” ucap Shane.
“Tapi waktu itu kau biarkan aku menemani mu berburu Vampire. Namun sayangnya malam itu aku tidak bertemu dengan Vampire, tapi aku bertemu dengan Werewolf” ucap Nela.
“It's my mistakes! Dan aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Maafkan aku Nela karena waktu itu aku membiarkan mu untuk menemani ku berburu Vampire. Kalau saja waktu itu Werewolf itu berhasil melukai mu, maka aku tidak pernah memaafkan diri ku sendiri” ucap Shane.
“Shane, tidak seharusnya waktu itu kau membiarkan Nela untuk menemani mu!” Pekik Andrew.
“Ya, itu adalah kesalahan ku Andrew” ucap Shane.
“Sudahlah Andrew, tidak apa-apa. Kau jangan terus menyalahkan Shane. Lagi pula Werewolf itu tidak melukai ku sedikit pun” ucap Nela.
“Ya sudah, aku pergi berburu Vampire dulu ya. Andrew, aku titip Nela tolong kau jaga dia dengan baik. Aku tak ingin siapapun melukainya sedikit pun” ucap Shane seraya mengusap-usap Nela.
“Kau tenang saja Shane, aku akan selalu menjaga dan melindungi Nela karena aku sangat menyayanginya” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
Shane pun hanya tersenyum.
“Aku sangat menyayangi kalian berdua kakak-kakak ku” ucap Nela seraya memeluk Andrew dan Shane.
“Kami juga sangat menyayangi mu Nela” ucap Andrew dan Shane.
“Baiklah, aku pergi berburu Vampire dulu ya” ucap Shane.
“Iya Shane, kau hati-hati ya. Jaga diri mu baik-baik” ucap Nela.
Shane pun hanya menganggukkan kepalanya seraya memasuki mobilnya. Ia pun menyalakan mobilnya dan segera pergi menuju hutan untuk berburu Vampire.
“Ayo kita masuk, disini begitu dingin” ucap Andrew.
Andrew dan Nela pun berjalan memasuki rumah mereka.
“Kita sudah membohongi Shane” ucap Nela.
“Ya, kau benar. Karena rasa penasaran ku terhadap Werewolf, jadi kita terpaksa harus berbohong pada Shane” ucap Andrew.
“Tapi jika kita berbicara jujur pada Shane, ia tidak akan mengizinkan kita untuk pergi berburu Werewolf” ucap Nela.
“Hehm ya, liat saja tadi ia bersikeras untuk melarang kita agar tidak ikut berburu Vampire dengannya” ucap Andrew.
“Ya, seperti itu lah Shane. Padahal ketika ia pergi berburu Vampire aku begitu mengkhawatirkan dirinya, aku takut makhluk di hutan itu melukainya” ucap Nela.
“Kau tenang saja adik ku, Shane akan baik-baik saja. Dia bisa menjaga dirinya sendiri” ucap Andrew.
Andrew dan Nela pun terus mengobrol hingga larut malam.
“Adik ku, sudah larut malam sebaiknya sekarang kau tidur” ucap Andrew.
“Ya Andrew” ucap Nela.
“Ayo, aku akan mengantar mu ke kamar mu” ucap Andrew.
Andrew dan Nela pun berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya Nela. Setelah sampai didepan kamarnya Nela, mereka berdua segera masuk kedalam. Dan Nela pun segera naik ketempat tidurnya.
“Baiklah, good night adik ku and have a nice dream” ucap Andrew seraya menyelimuti tubuhnya Nela dengan selimut.
“Good night too kakak ku” ucap Nela.
“I always love you my honey” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.
“Me too my brother, I always love you. And I always want in beside you” ucap Nela.
“Don't worry honey, I swear I always in beside you. And I always protected you” ucap Andrew seraya tersenyum.
“Thank you my brother” ucap Nela.
“Ya, and now you should sleep honey” ucap Andrew.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan Andrew segera beranjak pergi dari kamarnya Nela.
“Aku bahagia mempunyai kakak seperti Andrew dan Shane” ucap Nela.
Ketika Nela ingin memejamkan matanya, tiba-tiba saja ia melihat sebuah bayangan yang melintas dari belakang pintu kamarnya. Ia pun segera bangkit dari tempat tidurnya.
“Siapa itu?” Ucap Nela seraya menyalakan lampu kamarnya.