Nela dan Hayden pun begitu terkejut mendengar suara ketukkan itu.
“My babe, apa kau sudah tidur?” ucap seseorang dari luar kamarnya Nela, dan orang itu adalah Andrew.
“Hehm... Aku sudah mau tidur my bro.” ucap Nela.
“Ya sudah, good night my babe and have a nice dream.” ucap Andrew dari luar kamarnya Nela.
“Ya, good night too my bro.” ucap Nela.
Dan Andrew pun segera pergi dari depan kamarnya Nela.
“Syukurlah, kita aman.” ucap Hayden seraya menarik nafas lega.
“Ya sudah, ayo sekarang kita harus pergi!” ucap Nela.
Nela dan Hayden pun segera pergi kerumahnya David.
Dan tak lama mereka pun sudah tiba dirumahnya David, lebih tepatnya diruang tamunya David.
“Ternyata kalian sudah sampai, baru saja aku ingin menelpon.” ucap David.
“Keluargamu sedang kemana Dav?” ucap Hayden.
“Mereka sedang pergi ke London untuk berlibur.” ucap David.
“Lalu kenapa kau tidak ikut bersama dengan mereka Dav?” ucap Nela.
“Sebentar lagi kan kita masuk kuliah lagi, jadi tidak mungkin jika aku ikut berlibur dengan mereka.” ucap David.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Nela, kau tidak membawa apapun kan?” ucap David.
“Maksudmu alat-alat untuk berburu Werewolf?” ucap Nela.
“Ya.” ucap David.
“Tidak, memangnya kenapa?” ucap Nela.
“Tidak apa-apa, karena aku sudah menyiapkan alat-alat berburu Werewolf untuk kalian.” ucap David.
“Oh ya, ini alat-alat berburu kalian. Cepatlah dipasang untuk berjaga-jaga!” ucap David seraya memberikan dua buah pistol yang sudah diisi dengan peluru perak, dan dua buah pisau yang terbuat dari perak.
Dan mereka pun segera memasang alat-alat itu.
“Bagaimana? Apa kalian sudah siap?” ucap David.
Nela dan Hayden pun serentak menganggukkan kepala.
“Baiklah, sekarang kita pergi kehutan itu untuk berburu Werewolf. Tapi ingat, kalian harus berhati-hati. Karena Werewolf atau makhluk yang ada dihutan itu bisa menyerang kalian secara tiba-tiba.” ucap David.
Dan mereka pun segera menuju ke garasi rumahnya David.
“Ayo silahkan masuk!” ucap David.
Nela dan Hayden pun segera masuk kedalam mobilnya David, dan diikuti oleh David. Dengan cepat David pun menyalakan mesin mobilnya.
Dan mereka segera pergi menuju hutan untuk berburu Werewolf.
Jalan yang mereka lewati begitu sepi, tidak ada satupun orang yang melewati jalan itu. Tak lama mereka pun sampai dihutan yang mereka tuju.
“Ingat! Tetaplah berhati-hati! Dan jangan sampai langkah kita menganggu ketenangan makhluk yang ada dihutan ini!” ucap David.
“Dan terutama kau Hayden. Kau harus sangat berhati-hati, karena baru kali ini kau berburu Werewolf. Dan ku minta kau jangan ceroboh! Tetaplah berwaspada!” ucap David.
“Iya Dav!” ucap Hayden.
“Dan kau Nela, aku rasa kau sudah tahu jadi aku tidak perlu memberitahu mu lagi. Tapi kau harus tetap berhati-hati!” ucap David.
“Ya Dav.” ucap Nela.
Mereka pun segera keluar dari mobilnya Hayden. Suasana malam itu benar-benar sepi dan begitu dingin, membuat malam itu terasa begitu mencekam.
“Kalian harus ingat dengan apa yang tadi aku ucapkan!” ucap David.
Hayden dan Nela pun kembali menganggukkan kepala mereka. Dan perlahan mereka pun mulai memasuki hutan itu. Baru saja mereka memasuki hutan itu, tapi mereka sudah disambut oleh sebuah lolongan serigala yang cukup panjang.
“Apa itu suara seekor serigala biasa atau suara seekor Werewolf?” ucap Hayden.
“Menurutku itu adalah suara seekor Werewolf yang sedang kelaparan!” ucap David.
“Hayden, tetaplah berada disamping ku!” ucap Nela.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka segera masuk kedalam hutan itu.
Perlahan mereka terus menyelusuri hutan itu yang begitu sepi. Namun tiba-tiba jalan mereka dihalangi oleh seekor Werewolf yang entah datang dari mana. Dengan cepat David pun menembak Werewolf itu.
Seketika Werewolf itu langsung terbakar dan berubah menjadi abu.
“Menganggu saja! Baru juga kami datang, tapi kau sudah mencari masalah dengan kami!” ucap David.
“Kau hebat Dav!” ucap Hayden.
“Ya, kau benar-benar seperti Werewolf Hunter profesional!” ucap Nela.
David pun hanya tersenyum. Dan mereka segera melanjutkan langkah mereka.
“Ternyata Werewolf itu datangnya tiba-tiba, aku saja tidak tahu dari mana Werewolf tadi datang. Tiba-tiba saja dia sudah berada didepan kita, dan menghalangi jalan kita.” ucap Hayden.
“Ya, maka dari itu kita harus sangat berhati-hati.” ucap Nela.
Nela pun merasakan ada sesuatu yang mengikutinya dari arah belakang, dia pun menghentikan langkahnya dan segera menoleh kebelakang. Dan ternyata ada seekor Werewolf yang sedang mengikutinya.
Dengan cepat ia melayangkan satu tembakkan kearah Werewolf itu.
Seketika Werewolf itu terbakar dan berubah menjadi abu.
David yang melihat hal itu hanya tersenyum.
“Kau juga hebat! Bagaimana bisa kau merasakan kalau ada seekor Werewolf yang sedang mengikutimu?” ucap Hayden.
“Aku merasa ada hawa panas yang mengikutiku, dan ku yakin hawa panas itu berasal dari tubuh Werewolf itu.” ucap Nela.
“Ya, kau benar Nela! Hawa panas itu berasal dari tubuh Werewolf itu.” ucap David.
“Ya, sekarang kita lanjutkan lagi langkah kita. Tapi kita harus tetap berhati-hati, karena mereka bisa menyerang kita secara tiba-tiba. ” ucap Nela.
Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka. Baru saja mereka berjalan sebentar, tapi tiba-tiba ada seekor Werewolf yang kembali menghalangi jalan mereka.
“Menyebalkan! Mereka kembali menghalangi jalan kita!” gerutu David.
David pun segera melayangkan sebuah tembakkan kearah Werewolf itu. Namun tanpa David sadari, ternyata ia juga diikuti oleh seekor Werewolf.
Tanpa banyak bicara, Hayden segera menghampiri Werewolf itu dan menusuknya dengan pisau perak dari arah belakang.
David yang baru saja menyadari hal itu segera menoleh kearah belakang, dan ia melihat kini Werewolf yang tadi mengikutinya sudah terbakar dan berubah menjadi abu.
“Hampir saja Werewolf itu menggigitmu!” ucap Hayden.
“Terima kasih Hayden, kau sudah menyelamatkanku dari Werewolf itu!” ucap David dengan wajah datar, tanpa sedikit senyum dari bibirnya.
“Ya, sama-sama Dav! Kita memang harus saling melindungi satu sama lain.” ucap Hayden.
“Aku salut padamu, baru kali ini kau berburu Werewolf. Dan kau berhasil menyelamatkan sepupumu dari Werewolf itu. Sepertinya kau juga berbakat jadi Pemburu Werewolf.” ucap Nela.
“Terima kasih Nela. Yang tadi itu belum apa-apa, hanya sekedar latihan saja.” ucap Hayden seraya tertawa kecil.
Nela pun hanya tertawa kecil.
“Sudahlah, ayo kita lanjutkan kembali perjalanan kita!” ucap David.
Dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Semakin lama semakin banyak Werewolf yang datang dan menyerang mereka, tapi dengan cepat mereka segera membunuh Werewolf-Werewolf itu.
“Nela, apa kau sudah lelah? Kalau kau sudah merasa lelah, sebaiknya kita pulang saja.” ucap David.
“Tidak Dav! Aku masih ingin berburu Werewolf-Werewolf itu!” ucap Nela yang masih terlihat bersemangat untuk berburu Werewolf.
“Baiklah kalau seperti itu, ayo kita lanjutkan kembali langkah kita.” ucap David.
Baru saja mereka ingin melanjutkan kembali langkah mereka, namun tiba-tiba ada sesuatu yang mendorong Hayden dari belakang dan membuat tubuh Hayden tersungkur hingga berjarak 3 meter.
“Ternyata kau ada disini ya!” ucap seorang pria separuh baya yang berdiri tepat didepannya.
“Roland!” ucap Nela ketika melihat seorang pria paruh baya yang berdiri tepat didepannya Hayden.
Ya, pria itu adalah Roland. Dan Roland lah yang mendorong Hayden hingga ia jatuh tersungkur.
Hayden pun segera berdiri.
“Kenapa kau bisa ada disini?” ucap Hayden.
“Bukankah kau sudah tahu kalau aku akan akan selalu mengikutimu kemana saja kau pergi?” ucap Roland.
“Kau mau apa Roland?” ucap Hayden.
“Pertanyaan yang bodoh! Tentu saja aku ingin kau menyerahkan diri kepadaku! Tapi kau tak pernah melakukan hal itu.” ucap Roland.
“Tolong berikan aku waktu, aku berjanji aku akan menyerahkan diri kepadamu.” ucap Hayden.
“Apa? Berikan waktu? Maaf, aku tidak bisa memberikan waktu lagi. Karena kau selalu melalaikan janjimu itu. Setiap aku menemuimu, kau selalu melarikan diri dariku. Jadi kali ini aku tidak akan memberikan waktu lagi! Dan sepertinya hutan ini cocok untuk membunuh seorang Jumper sepertimu! Hutan yang sangat luas dan begitu sepi.” ucap Roland.
Tanpa mengucapkan apapun, Hayden pun segera melarikan diri. Tapi dengan cepat Roland segera melemparkan sebuah pisau kearah Hayden, dan pisau itu berhasil melesat ketangan kanannya Hayden. Hingga meninggalkan sebuah goresan yang cukup besar ditangan kanannya Hayden.
“Hayden!” pekik Nela seraya ingin menghampiri Hayden, tapi dengan cepat David menahan tangannya.
“Lepaskan tanganku Dav!” ucap Nela.
“Kau tidak boleh kesana, karena itu sangat berbahaya untuk dirimu!” ucap David.
“Tapi aku harus menyelamatkan Hayden, dia dalam bahaya!” ucap Nela.
“Ya, tapi jika kau kesana maka dirimu juga dalam bahaya!” ucap David.
Roland pun segera menghampiri Hayden.
“Sayang sekali, pisau itu hanya mengenai tanganmu.” ucap Roland.
Hayden pun hanya terdiam seraya menutupi luka ditangan kanannya. Darah pun terus mengalir ditangan kanannya Hayden, hingga membuat baju yang ia pakai penuh dengan darah.
“Dan sepertinya kau tidak akan bertahan lama, karena darah terus keluar dari tanganmu. Itu artinya kau bisa kehilangan banyak darah!” ucap Roland.
Wajah Hayden pun mulai pucat karena darah yang terus mengalir ditangan kanannya.
Dan tanpa Roland sadari, ternyata ada seekor Werewolf yang berdiri tepat dibelakangnya. Dengan cepat Werewolf itu segera menggigit lehernya Roland.
David yang melihat hal itu segera melayangkan sebuah tembakkan kearah Werewolf itu. Seketika Werewolf itu pun terbakar dan berubah menjadi abu. Sementara Roland mulai menunjukkan perubahan menjadi seekor Werewolf.
Lalu Nela pun segera berlari kearah Hayden dan Roland, dengan cepat Nela pun segera melayangkan pisau ketubuh Roland.
“Itulah pembalasan dariku karena kau telah melukai Hayden!” ucap Nela ketika pisau itu berhasil menancap ditubuhnya Roland.
Seketika Roland pun terbakar dan berubah menjadi abu seperti Werewolf yang lain. Dan Nela pun segera menghampiri Hayden dan memeluknya.
“Hayden!” ucap Nela.
Walau dengan luka ditangan kanannya dan dengan wajah yang pucat, namun Hayden tetap menyambut hangat pelukannya Nela.
“Tanganmu!” ucap Nela yang segera melepaskan pelukannya.
“Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja.” ucap Hayden.
“Tidak Hayden! Lukamu harus segera diobati!” ucap Nela.
David pun segera berlari menghampiri Hayden dan Nela.
“Ini kain untuk menutup lukanya, agar darahnya tidak terus mengalir.” ucap David seraya memberikan seuntai kain kepada Nela.
Dengan cepat Nela pun segera menutup luka ditangannya Hayden dengan kain itu.
“Lebih baik sekarang kita segera pulang!” ucap Nela.
“Kalian pulang duluan saja, aku masih ingin berburu Werewolf.” ucap David.
“Tidak Dav! Kau harus pulang bersama dengan kami, karena aku tak ingin kau terluka juga!” ucap Nela.
Dan mereka pun segera berjalan menuju mobilnya David.
“Lebih baik sekarang kita kerumah sakit!” ucap Nela.
“Tidak perlu, nanti lukanya juga akan sembuh.” ucap Hayden.
Mereka pun segera masuk kedalam mobilnya David.
“Gara-gara Hayden, acara berburuku malam ini jadi hancur!” gerutu David dalam hati seraya menyalakan mesin mobilnya.
“Maaf ya Dav, karena aku acara berburumu malam ini jadi berantakkan.” ucap Hayden.
“Ya, tidak apa-apa.” ucap David.
Dan mereka pun segera pergi meninggalkan hutan itu.
“Bagaimana Hayden apa darahnya masih terus keluar?” ucap Nela.
“Sepertinya tidak.” ucap Hayden.
“Sebaiknya kita langsung kerumah sakit saja, agar lukamu bisa segera diobati.” ucap David seraya menyetir mobilnya.
“Ya, David benar! Kita kerumah sakit saja ya.” ucap Nela kepada Hayden.
“Tidak perlu! Nanti juga lukanya akan sembuh, dan biar aku sendiri yang mengobati lukanya.” ucap Hayden.
“Ya sudah, biar aku saja yang mengobati lukamu.” ucap Nela.
“Tidak! Aku tidak ingin merepotkanmu.” ucap Hayden.
“Tidak apa-apa Hayden, kau tidak pernah membuatku repot sekali pun. Dan Dav, kita langsung kerumah ku saja karena aku ingin mengobati lukanya Hayden.” ucap Nela.
“Menyebalkan! Sudah kuduga kalau Nela akan mengobati lukanya Hayden!” gerutu David dalam hati seraya berfokus menyetir mobilnya.
“Terima kasih Nela, kau selalu baik padaku.” ucap Hayden seraya tersenyum.
Nela pun hanya tersenyum. Dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela.
“Terima kasih Dav, maaf aku sudah merepotkanmu. Dan gara-gara aku, acara berburumu jadi berantakkan.” ucap Hayden.
“Ya, tidak apa-apa Hayden.” ucap David dengan wajah yang datar tanpa ekspresi sedikitpun.
“Terima kasih ya Dav, maaf kami jadi merepotkanmu. Dan terima kasih untuk hari ini, lain kali kita lanjutkan lagi berburu Werewolfnya.” ucap Nela.
“Ya, sama-sama Nela. Pasti! Lain kali kita harus melanjutkan berburunya!” ucap David.
Hayden dan Nela pun segera keluar dari mobilnya David. Dan David pun segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.
“Ayo kita masuk.” ucap Nela seraya ingin membuka pintu pagar rumahnya, namun dengan cepat Hayden menahan tangannya.
“Ada apa?” ucap Nela.
“Apa kau lupa, kalau kita pergi secara diam-diam?” ucap Hayden.
“Ahh! Oh iya benar! Aku hampir saja lupa.” ucap Nela seraya menepuk dahinya pelan.
“Ya sudah, sekarang kau pegang tanganku ya.” ucap Hayden.
Nela pun menurut, dan ia segera memegang tangannya Hayden. Lalu mereka pun segera berjalan menuju pintu gerbang rumahnya Nela, dan secara tiba-tiba mereka sudah sampai dikamarnya Nela.
“Baiklah, kau tunggu disini dulu ya. Aku akan mengambilkan obat untuk mengobati lukamu.” ucap Nela.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya seraya duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
Dan tak lama Nela pun kembali dengan membawa sebuah wadah yang berisi air dan beberapa obat yang diperlukan untuk mengobati lukanya Hayden.
“Maaf ya, kau pasti sudah terlalu lama menunggu.” ucap Nela seraya duduk disebelah kanannya Hayden.
“Tidak apa-apa.” ucap Hayden.
“Boleh aku lihat lukamu?” ucap Nela.
“Sebaiknya bajunya kubuka dulu, agar kau lebih mudah untuk mengobati lukanya.” ucap Hayden.
Hayden pun segera membuka bajunya dan menyodorkan tangannya kepada Nela. Dan perlahan Nela pun membuka kain yang menutupi luka ditangan kanannya Hayden.
“Darahnya sudah tidak mengalir lagi.” ucap Nela.
Nela pun segera mengambil kapas dan menyelupkannya kedalam sebuah wadah yang berisi air.
“Biar aku bersihkan dulu lukanya. Tapi kau harap bersabar ya, karena ini akan sedikit perih.” ucap Nela.
Perlahan Nela pun membersihkan luka ditangannya Hayden.
“Awww!” ucap Hayden.
“Sabar ya, ini memang akan sedikit perih.” ucap Nela.
Setelah selesai, kini Nela pun segera mengobati lukanya Hayden.
Namun Hayden pun hanya terdiam seraya memperhatikan Nela yang sedang mengobati luka ditangannya.
“Dia benar-benar seperti seorang malaikat. Dia begitu cantik dan baik. Andai saja aku bisa memilikinya seutuhnya...” ucap Hayden dalam hati seraya terus memperhatikan Nela.
Nela pun belum sadar kalau Hayden sedang memperhatikannya. Ia terus berfokus mengobati lukanya Hayden.
Beberapa saat kemudian...
“Selesai!” ucap Nela setelah selesai mengobati lukanya Hayden.
“Terima kasih ya, malam ini kau telah menyelamatkanku. Dan sekarang kau telah mengobati lukaku.“ ucap Hayden seraya tersenyum.
“Ya, sama-sama Hayden.” ucap Nela seraya tersenyum.
Tiba-tiba Hayden pun mendekatkan wajahnya kewajahnya Nela.
Namun Nela pun hanya terdiam seraya menutup kedua matanya. Dan tiba-tiba terasa sebuah sentuhan hangat dibibirnya. Sebuah sentuhan yang benar-benar hangat yang kini sedang menempel dibibirnya.
Ya, Hayden kini sedang menciumnya dengan begitu mesra.
Hayden pun tetap mencium Nela seraya menopangkan tangan kirinya di dinding kamarnya Nela.
Malam yang begitu dingin, dan ciuman itu benar-benar membuat mereka berdua merasa hangat.
Tangan kanannya Hayden pun tidak tinggal diam. Ya, Hayden menggunakan tangan kanannya untuk memeluk pinggangnya Nela, agar ciuman mereka semakin dalam.
Seraya memejamkan matanya, batinnya Nela pun memanggil-manggil nama Mark. Dan tiba-tiba Nela melepaskan ciuman mereka.
Lalu ia hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya.
“Maafkan aku...” ucap Hayden seraya menatap Nela.
“Ya, tidak apa-apa.” ucap Nela.
Hayden pun segera memeluk Nela dengan begitu erat.
“Aku benar-benar minta maaf!” ucap Hayden.
“Ya, tidak apa-apa Hayden. Aku sudah memaafkannya.” ucap Nela.
Hayden pun segera melepaskan pelukannya. Lalu ia melihat kearah jam dikamarnya Nela. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 waktu sekitar.
“Sudah larut malam, sebaiknya sekarang kau tidur.” ucap Hayden.
“Tapi bagaimana denganmu?” ucap Nela.
“Kau tenang saja, sekarang aku sudah aman karena sekarang Roland sudah mati. Dan itu semua karenamu, kau lah yang menyelamatkanku dari Roland. Kini tidak akan ada lagi pemburu Jumper yang mengejar-ngejarku! Sekali lagi terima kasih Nela.” ucap Hayden seraya tersenyum.
“Ya, sama-sama Hayden. Dan aku senang bisa menyelamatkanmu dari Roland. Yang terpenting adalah sekarang kau sudah aman dari Roland dan Pemburu Jumper yang lain.” ucap Nela seraya tersenyum.
“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur ya.” ucap Hayden.
“Bagaimana denganmu? Apa kau ingin pulang ke apartementmu?” ucap Nela.
“Ya, aku harus pulang ke apartementku. Dan sekali lagi, aku sangat berterima kasih padamu karena kau telah menyelamatkanku.” ucap Hayden.
“Ya, sama-sama Hayden. Aku begitu senang bisa menyelamatkanmu dari Roland.” ucap Nela.
“Ya sudah, aku pergi dulu ya. Dan beristirahatlah My Angel. Good night and have a nice dream.” ucap Hayden seraya tersenyum.
“Good night Hayden.” ucap Nela seraya membalas senyumannya Hayden.
------------------
Beberapa hari kemudian...
Matahari mulai menyinari dunia ini, burung-burung pun bernyayi menyambut pagi hari.
Perlahan Nela pun membuka matanya, namun ia begitu terkejut ketika melihat Mark yang berada disebelahnya.
“Mark!” ucap Nela yang segera bangkit dari posisi tidurnya.
Mark yang berada disebelahnya hanya tersenyum.
“Tidak! Aku pasti sedang bermimpi!” ucap Nela seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan tidak percaya kalau sekarang Mark berada disampingnya.
“Dunia mimpi memang lebih indah daripada kenyataan. Tuhan, kalau sekarang aku sedang bermimpi tolong jangan bangunkan aku. Agar aku tetap bisa bersama dengan Mark.” ucap Nela.
“Hey! Kau sedang tidak bermimpi My Love!” ucap Mark seraya menepuk pelan pundaknya Nela.
“Benarkah?” ucap Nela.
Mark pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Lalu apa kau sudah berhasil menemukan dan membunuh Vampire itu?” ucap Nela.
“Ya, tentu saja! Jika aku belum berhasil menemukan dan membunuh Vampire itu, maka sekarang aku tidak akan berada disini.” ucap Mark.
“Syukurlah, aku senang mendengarnya.” ucap Nela.
“Apa kau tidak merindukanku?” ucap Mark.
“Tentu saja aku sangat merindukanmu!” ucap Nela.
“Lalu kenapa kau tidak memelukku?” ucap Mark seraya membuka lebar kedua tangannya.
Nela pun hanya tertawa kecil. Dan Mark pun segera memeluknya dengan begitu erat.
“I'm very miss you my love!” ucap Mark.
“Mark, apa kau ingin membunuhku?” ucap Nela.
“Apa? Membunuhmu? Mana mungkin aku ingin melakukan hal yang sangat bodoh itu! Jika aku membunuhmu, maka sama saja aku membunuh diriku sendiri!” ucap Mark.
“Ya, karena kau memelukku dengan sangat erat hingga aku sulit untuk bernafas.” ucap Nela.
Mark pun segera melepaskan pelukannya.
“Maafkan aku my love! Tapi kau baik-baik saja kan?” ucap Mark.
“Ya, aku baik-baik saja.” ucap Nela seraya tersenyum.
Mark pun hanya tersenyum, dan kembali memeluk Nela.
“Mark...” ucap Nela.
“Iya, ada apa My Love?” ucap Mark.
“Kenapa sekarang tubuhmu begitu hangat? Beda sekali saat pertama aku memeluk, saat itu tubuhmu sangat dingin.” ucap Nela.
“Itu karena sekarang aku sudah menjadi manusia seutuhnya maka dari itu tubuhku begitu hangat. Dan saat itu tubuhku sangat dingin, karena aku adalah seorang Vampire.” ucap Mark.
“Jadi sekarang kau sudah menjadi manusia seutuhnya?” ucap Nela.
“Ya, sekarang aku sudah menjadi manusia seutuhnya. Dan kita bisa selalu bersama-sama untuk selamanya.” ucap Mark.
Tiba-tiba Shane membuka pintu kamarnya Nela, dan tentu saja ia melihat adiknya sedang berpelukkan bersama dengan Mark.
“Nela!” pekik Shane.
Nela pun segera melepaskan pelukannya Mark.
“Shane!” ucap Nela yang terkejut ketika melihat Shane.
“Apa yang kalian lakukan?” ucap Shane.
Dan tak lama Andrew pun datang.
“Ada apa ribut-ribut?” ucap Andrew.
“Mark?” ucap Andrew yang terkejut ketika melihat Mark yang berada disampingnya Nela.
“Hey! Kau Vampire! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak pernah datang kesini sebelum kau menjadi manusia seutuhnya?” ucap Shane.
“Shane, tapi sekarang Mark sudah menjadi manusia seutuhnya.” ucap Nela.
“Ya Shane, sekarang aku sudah menjadi manusia seutuhnya.” ucap Mark.
“Aku tidak percaya dengan ucapan seorang Vampire! Lebih baik sekarang kau buktikan kalau kau sudah kembali menjadi manusia seutuhnya!” ucap Shane.
“Baiklah, aku akan membuktikannya kepada kalian.” ucap Mark.
“Tapi bagaimana caranya Shane?” ucap Andrew.
“Caranya adalah ia harus berdiri tepat ditempat yang terkena sinar matahari, jika tubuhnya terbakar atau keluar asap itu artinya ia masih menjadi Vampire!” ucap Shane.
“Ya, aku bersedia melakukannya!” ucap Mark.
“Mark! Tapi...” ucap Nela seraya menahan tangannya Mark.
“Kau tenang saja My Love, aku akan baik-baik saja. Dan sekarang adalah waktunya yang tepat untuk membuktikan kalau aku sudah menjadi manusia seutuhnya.” ucap Mark.
“Ya sudah, sekarang kau harus membuktikannya!” ucap Shane seraya beranjak pergi, diikuti oleh Andrew.
“Apa kau yakin ingin melakukannya?” ucap Nela.
“Ya, aku sangat yakin!” ucap Mark seraya tersenyum.
Mereka pun berjalan menuju ke halaman samping rumahnya Shane untuk mencari tempat yang terkena sinar matahari.
Tak lama mereka pun sampai dihalaman samping rumahnya Shane.
“Hey! Vampire! Apa kau sudah siap untuk berdiri disana?” ucap Shane seraya menunjuk kesebuah tempat yang terkena sinar matahari.
“Ya, tentu saja aku sudah siap!” ucap Mark.
“Mark...” ucap Nela seraya menahan tangannya Mark.
“My Love, percayalah aku akan baik-baik saja.” ucap Mark seraya tersenyum.
“Oh ya, buka bajumu! Aku ingin melihat langsung apakah tubuhmu berasap atau terbakar saat terkena sinar matahari!” ucap Shane.
“Tapi Shane...” ucap Nela.
“Tidak apa-apa My Love.” ucap Mark seraya tersenyum.
Dan Mark pun segera membuka baju yang ia pakai.
“Kau tidak boleh melihatnya my babe!” ucap Andrew yang segera menutup kedua matanya Nela dengan kedua tangannya.
“Andrew!” pekik Nela.
Andrew pun segera melepaskan kedua tangannya dari matanya Nela.
Dan perlahan Mark pun segera berjalan menuju tempat yang terkena sinar matahari. Setelah sampai, ia segera berdiri tepat dibawah sinar matahari.
“Shane, aku akan benar-benar marah padamu jika terjadi sesuatu kepada Mark!” ucap Nela kepada Shane.
Shane pun hanya terdiam.
Sinar matahari pun mulai meresap ketubuhnya Mark, namun Mark hanya terdiam seraya merasakan sinar matahari yang meresap kedalam tubuhnya.
“Shane, dia baik-baik saja!” ucap Andrew.
Shane pun hanya terdiam seraya tetap memperhatikan Mark.
Beberapa menit kemudian...
Mark masih tetap berdiri dibawah sinar matahari, namun ia baik-baik saja. Tubuhnya tidak terbakar dan tidak mengeluarkan asap sedikitpun.
“Cukup!” ucap Shane kepada Mark.
Dan Mark pun segera kembali menghampiri Andrew, Nela, dan Shane.
“Mark!” ucap Nela yang segera memeluk Mark.
“My Babe!” pekik Andrew.
“Mark, tubuhmu berkeringat.” ucap Nela.
“Sayang, lepaskan dulu pelukannya.” ucap Shane kepada Nela.
Nela pun segera melepaskan pelukannya.
“Mark, ternyata sekarang kau telah menjadi manusia seutuhnya. Dan sekarang aku mengizinkan kau berpacaran dengan adikku.” ucap Shane seraya tersenyum.
“Benarkah Shane?” ucap Nela yang begitu terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Shane.
“Ya, benar sayang. Sekarang aku mengizinkanmu untuk berpacaran dengan Mark.” ucap Shane seraya tersenyum.
“Terima kasih Shane!” ucap Nela yang langsung memeluk Shane.
“Terima kasih Shane, kau telah mengizinkan aku berpacaran dengan Nela.” ucap Mark.
“Ya, sama-sama Mark. Tapi aku minta tolong kepadamu, tolong kau jaga dan lindungi dia. Dan ingat, jangan pernah menyakitinya sedikitpun, jika kau lakukan hal itu maka kau tahu sendiri akibatnya!” ucap Shane.
“Ya, benar apa yang dikatakan oleh Shane! Jangan pernah menyakiti Nela sedikitpun! Jika kau lakukan hal itu, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!” ucap Andrew.
“Kalian tenang saja, aku berjanji aku tidak akan pernah menyakitinya sedikitpun. Dan aku akan menjaganya dengan begitu baik.” ucap Mark seraya merangkul pundaknya Nela.
“Kami pegang janjimu Mark!” ucap Andrew dan Shane.
Lalu Andrew dan Shane pun segera masuk kedalam rumah mereka.
“Mark...” ucap Nela seraya memeluk Mark.
“My Love, sekarang hubungan kita bukan hubungan terlarang lagi. Karena sekarang kita sudah sama-sama menjadi manusia.” ucap Mark.
“Dan sekarang Pangeran Vampireku telah menjadi manusia seutuhnya.” ucap Nela.
“I love you so much My Love. Aku berjanji aku akan selalu berada disamping mu dalam duka dan suka. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” ucap Mark.
“I love you too Mark. Aku sangat bahagia karena sekarang dan selamanya kau akan selalu bersama denganku.” ucap Nela.
“Dan tidak ada seorangpun yang dapat memisahkan kita. Karena kita telah ditakdirkan untuk selalu bersama.” ucap Mark.
Mark pun mempererat pelukan mereka.
Namun tanpa mereka sadari, ternyata Hayden sedang mengawasi mereka dari balik pohon.
“Oh, jadi sekarang Vampire itu telah kembali menjadi manusia. Dan Shane telah menyetujui hubungan mereka berdua.” ucap Hayden pelan.
“Tenang saja, aku tidak akan membiarkan Nela dan Mark untuk bersama! Dan aku berjanji, aku akan merebut Nela dari Mark!” ucap Hayden.
- The End -
Rabu, 08 Juli 2015
My Love is Vampire - Chapter XIX
“Ayo kita pergi dari sini!” ucap Hayden pelan.
Hayden dan Gustin pun segera pergi meninggalkan Roland.
“Syukurlah, kita berhasil melarikan diri dari Roland.” ucap Gustin.
“Ya, tapi kita tetap harus berhati-hati.” ucap Hayden.
“Lalu sekarang kita mau kemana?” ucap Gustin.
“Aku ingin kerumah Nela saja.” ucap Hayden.
“Nela? Siapa dia? Apa dia adalah kekasih baru mu?” ucap Gustin.
“Bukan, dia adalah teman kampusku.” ucap Hayden.
“Teman? Aku tidak yakin kalau dia hanyalah teman bagimu.” ucap Gustin.
“Ya, dia hanyalah temanku.” ucap Hayden.
“Sudahlah Hayden, jujur saja kepadaku. Aku tahu kalau kau mencintai wanita itu kan?” ucap Gustin.
Hayden pun hanya terdiam.
“Hayden, kau tak perlu berbohong kepadaku. Aku senang jika kau mencintai wanita itu, karena itu artinya kau sudah bisa melepaskan Rachel.” ucap Gustin.
“Ya, aku memang mencintai Nela. Tapi...” ucap Hayden yang tiba-tiba memotong ucapannya.
“Tapi apa?” ucap Gustin.
“Tapi dia sudah mempunyai seorang kekasih. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kekasihnya itu adalah seorang Vampire.” ucap Hayden.
“Apa? Seorang Vampire?” ucap Gustin yang terlihat begitu terkejut.
“Ya, awalnya aku juga tidak percaya sampai aku melihatnya dengan mataku sendiri.” ucap Hayden.
“Seperti dicerita dan difilm-film saja, seorang manusia berpacaran dengan seorang Vampire? Sungguh tidak bisa kubayangkan.” ucap Gustin.
“Ya, tapi sekarang Vampire itu sedang pergi.” ucap Hayden.
“Sedang pergi? Itu artinya kau mempunyai kesempatan untuk mendekatinya!” ucap Gustin.
“Tidak semudah itu Gustin. Karena selama kekasihnya pergi, ada seorang Vampire yang selalu menjaga dan melindunginya. Dan Vampire itu adalah Robert, teman dari kekasihnya.” ucap Hayden.
“Lalu kau ingin menyerah begitu saja untuk dapat memiliki wanita itu? Jika iya, maka itu artinya kau harus siap kehilangan wanita yang kau cinta untuk kedua kalinya!” ucap Gustin.
“Tentu saja tidak! Aku akan terus berusaha sampai aku dapat memilikinya! Karena aku tak ingin kehilangan wanita yang kucinta untuk kedua kalinya!” ucap Hayden.
“Good! Itu baru Hayden yang kukenal!” ucap Gustin seraya menepuk pundaknya Hayden pelan.
“Ya sudah, ayo kita segera kerumahnya Nela!” ucap Hayden.
Mereka pun segera pergi kerumahnya Nela. Dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela.
“Akhirnya kita sampai juga dirumahnya Nela.” ucap Hayden.
“Ini rumahnya? Lalu sekarang ia ada dimana?” ucap Gustin.
“Ayo kita masuk, tapi kita langsung kekamarnya saja karena sepertinya ia sedang ada dikamarnya.” ucap Hayden.
“Kekamarnya? Lewat mana?” ucap Gustin.
“Gustin, apa kau lupa kalau kita adalah seorang Jumper?” ucap Hayden.
Gustin pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera menuju kekamarnya Nela.
Lalu mereka pun sampai dikamarnya Nela.
“Itu dia wanita yang bernama Nela!” ucap Hayden seraya menunjuk ke arah Nela yang sedang melamunkan sesuatu.
Hayden dan Gustin pun segera berjalan menghampiri Nela.
“Hey!” Ucap Hayden seraya menepuk pundaknya Nela pelan.
Nela pun sedikit terkejut.
“Hey, Hayden.” ucap Nela.
“Ini siapa?” Ucap Nela seraya menunjuk ke arah Gustin yang berdiri disebelahnya Hayden.
“Oh ya, ini adalah sahabatku namanya Gustin.” ucap Hayden.
“Oh, Gustin yang kemarin kau ceritakan padaku?” ucap Nela.
“Ya.” ucap Hayden.
“Hey! Namaku Gustin.” ucap Gustin seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Namaku Nela” ucap Nela seraya berjabat tangan dengan Gustin.
“Senang dapat bertemu denganmu. Dan ternyata Hayden benar, kau memang cantik.” ucap Gustin seraya tersenyum.
Nela pun hanya tersenyum, namun Hayden hanya terdiam seperti sedang cemburu.
“Kau disini tinggal bersama dengan siapa?” ucap Gustin.
“Aku disini tinggal bersama dengan dua orang kakakku yaitu Andrew dan Shane.” ucap Nela.
“Lalu sekarang mereka kemana?” ucap Gustin.
“Mereka sedang mengobrol diruang tamu.” ucap Nela.
“Sudahlah Gustin, kau tidak perlu banyak tanya.” ucap Hayden.
“Kau tenang saja Hayden, aku tidak akan menjadi pesaingmu.” ucap Gustin.
“Oh ya, kalian mau minum apa?” ucap Nela.
“Tidak perlu, kami tidak ingin merepotkanmu.” ucap Hayden.
“Tidak apa-apa, kalian tidak akan merepotkanku.” ucap Nela.
“Tidak perlu Nela, karena kami tidak haus.” ucap Gustin.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Katanya Hayden, kemarin kau dikejar-kejar oleh Roland?” ucap Nela kepada Gustin.
“Ya, tapi untungnya aku bisa melarikan diri darinya.” ucap Gustin.
“Roland benar-benar keterlaluan, kenapa dia masih mengejar-ngejar kalian?” ucap Nela.
“Entahlah, tadi saja ia mengejarku sampai apartementnya Hayden. Dan hampir saja kami tertangkap olehnya.” ucap Gustin.
“Tapi kalian tidak apa-apa kan?” ucap Nela.
“Ya, kami tidak apa-apa. Karena kami bisa melarikan diri darinya.” ucap Gustin.
“Syukurlah kalau begitu.” ucap Nela.
“Ya sudah, lebih baik sekarang kita pergi dari sini.” ucap Hayden.
“Kenapa terburu-buru sekali Hayden?” ucap Nela.
“Aku takut kalau Roland mengikuti kami dan dia tahu kalau kita ada dirumah mu.” ucap Hayden.
“Tapi sepertinya dia tidak mengikuti kita.” ucap Gustin.
“Sudahlah Gustin, ayo kita pergi dari sini sebelum Roland mengetahui kalau kita ada disini.” ucap Hayden.
“Ya sudah, Nela kami pergi dulu ya. Sekali lagi, aku senang dapat bertemu denganmu.” ucap Gustin.
“Iya Gustin, aku juga senang dapat bertemu denganmu.” ucap Nela.
“Nela, kami pergi dulu ya. Maaf kami terburu-buru, karena kami sedang dikejar oleh Roland.” ucap Hayden.
“Iya Hayden, kalian hati-hati ya. Jika terjadi sesuatu cepat beritahu aku! Dan jaga diri kalian baik-baik, jangan sampai tertangkap oleh Roland!” ucap Nela.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.
“Hayden, kau cemburu padaku ya?” ucap Gustin.
“Tidak!” ucap Hayden.
“Sudahlah, jujur saja jika kau cemburu padaku.” ucap Gustin.
“Ya, aku cemburu karena kau terlihat ingin dekat pada Nela!” ucap Hayden.
“Lalu oleh karena itu kau mengajakku untuk segera pergi dengan alasan takut Roland mengejar kita sampai rumahnya Nela?” ucap Gustin.
“Ya!” ucap Hayden dengan singkat, seperti enggan untuk menjawab pertanyaannya Gustin.
“Baiklah, maafkan aku jika sikapku tadi membuatmu cemburu padaku.” ucap Gustin.
Hayden pun hanya terdiam.
“Dan kau tenang saja, aku tidak akan mengambil dia darimu.” ucap Gustin.
Beberapa minggu kemudian...
Musim dingin pun telah berakhir.
“Tak terasa musim dingin telah berakhir. Tapi Mark belum juga kembali...” ucap Nela.
“Mark, dimana kau? Cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu.” ucap Nela seraya melihat kearah luar jendela kamarnya.
Dan tiba-tiba Robert pun datang.
“Hey!” ucap Robert.
“Hey Robert.” ucap Nela.
“Kupikir kau sudah tidur.” ucap Robert seraya duduk disebelahnya Nela.
“Belum.” ucap Nela.
“Oh ya, maaf ya beberapa hari aku tidak datang kesini soalnya aku ada urusan mendadak.” ucap Robert.
“Ya, tidak apa-apa Robert.” ucap Nela.
“Tapi kau baik-baik saja kan? Roland tidak melukaimu sedikitpun kan?” ucap Robert.
“Ya, aku baik-baik saja. Roland tidak melukaiku sedikit pun.” ucap Nela.
“Syukurlah. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Roland melukaimu sedikit pun!” ucap Robert.
“Kau tenang saja aku akan baik-baik saja.” ucap Nela.
“Tapi aku tetap tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau terluka sedikit pun!” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum seraya berjalan menuju jendela kamarnya.
“Robert...” ucap Nela.
“Ya, ada apa?” ucap Robert.
“Apa kau belum mendapat kabar dari Mark?” ucap Nela.
“Belum.” ucap Robert.
“Lalu bagaimana dengan Kian, apa dia juga belum mendapat kabar dari Mark?” ucap Nela.
“Ya, sama dengan Kian. Dia juga belum mendapat kabar dari Mark.” ucap Robert.
Nela pun hanya menarik nafas panjang. Robert pun segera menghampiri Nela dan berdiri disebelahnya.
“Kenapa? Kau sangat merindukannya ya?” ucap Robert.
“Ya, aku sangat merindukannya.” ucap Nela.
“Dan sama halnya dengan Mark, ia juga sangat merindukanmu. Tapi kau tenang saja, setelah dia berhasil bertemu dan membunuh Vampire itu, maka ia akan segera kembali untukmu.” ucap Robert.
“Aku juga berharap seperti itu.” ucap Nela.
Robert pun hanya tersenyum.
“Oh ya, Robert apa kau bisa membaca pikiran seseorang?” ucap Nela.
“Ya, tentu saja bisa.” ucap Robert.
“Kalau seperti itu, coba kau tebak apa yang sekarang sedang aku pikirkan?” ucap Nela.
Robert pun segera menatap Nela seperti sedang membaca pikirannya.
Beberapa menit kemudian...
“Bagaimana?” ucap Nela.
“Tidak ada apa-apa. Pikiranmu begitu kosong.” ucap Robert.
“Apa? Mungkin kau salah lihat.” ucap Nela.
“Aku tidak salah lihat. Pikiranmu memang benar-benar kosong.” ucap Robert.
“Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya Nela? Apa aku... Ahh! Tidak! Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya!” ucap Robert dalam hati.
“Kenapa kau tidak bisa membaca pikiranku?” ucap Nela.
“Entahlah. Mungkin itu karena di pikiranmu hanya ada Mark.” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum malu. Dan Robert pun hanya tersenyum.
“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur karena sekarang sudah hampir larut malam.” ucap Robert.
“Ya baiklah.” ucap Nela yang segera berjalan menuju tempat tidurnya.
Nela pun segera menaiki tempat tidurnya, dan merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.
“Good night Robert.” ucap Nela.
“Good night Nela and have a nice dream. Aku akan tetap berada disini untuk menjaga dan menemani tidurmu.” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum seraya memejamkan matanya. Dan perlahan Robert pun berjalan menghampiri Nela, dan duduk ditepi tempat tidurnya.
“Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya? Bukankah aku hanya tidak bisa membaca pikiran seorang wanita yang aku cinta?” ucap Robert pelan.
“Apa aku jatuh cinta padanya? Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya! Dan aku tidak boleh merebut Nela dari Mark!” ucap Robert.
“Tapi entah mengapa aku merasa nyaman saat berada didekatnya.” ucap Robert.
“Mark, maafkan aku karena aku telah jatuh cinta pada Nela. Tapi aku berjanji aku tidak akan merebutnya darimu.” ucap Robert.
----------------
Seperti biasa Nela sedang melamun seraya memikirkan Mark yang belum juga kembali. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.
“Siapa?” ucap Nela.
“Ini aku sayang.” ucap seseorang dari luar kamarnya Nela.
“Masuk saja Shane, pintunya tidak ku kunci.” ucap Nela.
Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya Nela itu adalah Shane.
Shane pun segera membuka pintu kamarnya Nela, dan berjalan menghampiri Nela.
“Kau sedang apa sayang?” ucap Shane seraya duduk disampingnya Nela.
Nela pun hanya menggelengkan kepalanya.
“What happens sayang?” ucap Shane.
“I'm just so bored Shane.” ucap Nela.
“Why?” ucap Shane.
“I don't know Shane.” ucap Nela.
Shane pun segera merangkul pundaknya Nela.
“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan agar kau tidak bosan lagi?” ucap Shane.
“Aku sedang tidak ingin pergi jalan-jalan Shane.” ucap Nela.
“Bermain game bersama?” ucap Shane.
Nela pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Shane pun hanya terdiam seperti sedang berpikir.
Lalu beberapa saat kemudian...
“Bagaimana kalau kita bernyanyi bersama?” ucap Shane.
“Good idea Shane! Come on we're singing together!” ucap Nela yang terlihat begitu bersemangat.
“Come on my honey!” ucap Shane.
Nela dan Shane pun segera berjalan menuju keruang keluarga untuk bernyanyi bersama. Dan tak lama mereka pun sampai diruang keluarga.
“Kau tunggu disini ya, aku akan mengambil gitar dulu.” ucap Shane seraya beranjak pergi untuk mengambil gitar.
Dan tak lama Shane pun kembali dengan membawa sebuah gitar ditangannya. Lalu Shane pun segera duduk disebelahnya Nela.
“Kau ingin menyanyikan lagu apa sayang?” ucap Shane.
“What Makes A Man.” ucap Nela.
“What? That is sad song honey.” ucap Shane yang sedikit terkejut ketika mendengar sebuah judul lagu yang ingin mereka nyanyikan.
“Ya, I know that Shane.” ucap Nela.
“Hehm, ya sudah.” ucap Shane seraya mulai memetik gitarnya.
“Ohhh... Uhhhh... Yeaahhh... This isn't goodbye. Even as I watch you leave, this isn't goodbye... I swear I won't cry, even as tears fill my eyes. I swear I won't cry... Any other girl I'd let you walk away. Any other girl I'm sure I'd be okay...” Nela dan Shane pun bernyanyi bersama.
“Lalu kau ingin menyanyikan lagu apa lagi sayang?” ucap Shane.
“Hehm... Terserah kau saja Shane.” ucap Nela.
“Bagaimana kalau lagi I Wanna Grow Old With You?” ucap Shane.
“Ya, I'm agree with you my bro.” ucap Nela.
“Ok. This song is special for you my honey. You're my little sister. I love you so much my honey!” ucap Shane seraya kembali memetik gitarnya.
“Another day without your smile. Another day just passed by. But now I know how much it means, For you to stay right here with me. The time we spent apart, will make our love grow stronger. But it hurts so bad I can't take it any longer. I wanna grow old with you, I wanna die lying in your arms. I wanna grow old with you, I wanna be looking in your eyes. I wanna be there for you, sharing everything you do. I wanna grow old with you..” Shane bernyanyi seraya menatap matanya Nela dengan begitu lekat.
“I love you forever my honey.” ucap Shane.
“I love you forever my bro. But I think that song not for me, but for you love that is Gillian.” ucap Nela.
“Ya, I know that honey. But that song for you too, because you're my little sister. And you're very important for me!” ucap Shane.
Nela pun hanya tersenyum. Dan Shane pun segera memeluk Nela.
“Thanks for all my honey. I can't life without you. And forever I want always together with you.” ucap Shane.
“Please, don't leave me my honey. I gotta be where you are, right where you are. I don’t wanna face this world alone, without you by my side. You’re the only one that makes it feel like home, and i need you in my life. When you’re not around, I’m feeling like a piece of me is missing.” ucap Shane yang masih memeluk Nela.
Nela pun meneteskan air mata, dia begitu terharu mendengar apa saja yang baru diucapkan oleh Shane. Dan sekarang dia sadar, kalau Shane benar-benar sangat menyayanginya.
Nela pun memeluk Shane dengan begitu erat.
“I love you forever Shane. I promise, I'm never leave you. I'll always in here together with you! You're was important for me too. You're the best brother for me. I'm so lucky have brother like you Shane.” ucap Nela disela tangisannya.
Dan tak lama Andrew pun datang. Andrew pun melihat Nela menangis didalam pelukannya Shane.
“Shane! What you doing with my babe? You make my babe crying?” pekik Andrew.
Shane pun segera melepaskan pelukannya.
“Aku tidak membuatnya menangis Andrew.” ucap Shane.
“Tapi dia menangis didalam pelukanmu Shane! Dan itu pasti karena mu!” ucap Andrew.
“Shane benar Andrew, dia tidak membuatku menangis. Aku hanya terharu setelah apa yang diucapkan oleh Shane.” ucap Nela seraya mengusap pipinya yang basah dengan air matanya.
“Benarkah?” ucap Andrew.
“Ya Andrew.” ucap Nela.
“Syukurlah kalau seperti itu. Memangnya kalian sedang apa?” ucap Andrew.
“Kami sedang bernyanyi bersama.” ucap Nela.
“It's very cool! Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” ucap Andrew.
“Ya, tentu saja boleh Andrew.” ucap Shane.
“Oh, thank you my bro!” ucap Andrew.
“Oh ya, kalian ingin minum apa? Aku ingin membuat minuman.” ucap Nela.
“Aku orange juice saja sayang.” ucap Shane.
“Ya my babe, aku juga orange juice.” ucap Andrew.
“Baiklah kalian tunggu disini ya, aku akan membuatkan minuman untuk kalian.” ucap Nela.
Nela pun berjalan menuju dapur untuk membuat minuman. Sementara Andrew dan Shane menunggu diruang keluarga seraya mengobrol bersama.
“Tidak bisa kubayangkan jika nanti aku sudah menikah dengan Gillian, pasti aku tidak akan punya banyak waktu untuk Nela seperti sekarang.” ucap Shane.
“Ya, itu adalah resiko yang harus kau terima Shane. Maka dari itu sekarang aku lebih memilih untuk tidak berpacaran dulu agar aku mempunyai banyak waktu untuk bersama dengan Nela.” ucap Andrew.
Shane pun hanya menarik nafas panjang. Dan tak lama Nela pun kembali dengan membawa 3 gelas orange juice.
“Ini Shane orang juicemu.” ucap Nela seraya menyodorkan segelas orange juice kepada Shane.
“Thank you my honey.” ucap Shane.
“Dan ini orange juice untukmu Andrew.” ucap Nela seraya menyodorkan segelas orange juice kepada Andrew.
“Oh, thank you my babe.” ucap Andrew.
Dan Nela pun segera duduk disebelahnya Andrew dan Shane.
Sementara Hayden sedang melamunkan sesuatu dibalkon apartementnya.
“Aku lelah terus-menerus dikejar-kejar oleh Roland. Tapi aku hanya dua pilihan, yaitu menyerahkan diri kepada Roland atau aku akan kehilangan wanita yang aku cinta untuk yang kedua kalinya...” ucap Hayden.
“Tapi tetap saja dua pilihan itu, sama-sama membuatku sulit untuk bersama dengan Nela! Dan dua pilihan itu sama-sama membuatku kehilangan wanita yang aku cinta untuk yang kedua kalinya!” ucap Hayden.
“Roland! Andai saja aku bisa membunuhmu!” ucap Hayden seraya mengepalkan tangannya.
Dan tiba-tiba Gustin pun datang.
“Hayden!” ucap Gustin dengan tergesa-gesa.
“Gustin! Kau ini selalu saja membuatku terkejut!” pekik Hayden.
“Maafkan aku Hayden. Tadi aku dikejar-kejar oleh pemburu Jumper yang lain!” ucap Gustin dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Apa? Pemburu Jumper yang lain?” ucap Hayden yang sedikit terkejut.
“Iya.” ucap Gustin.
“Bagaimana bisa mereka mengikutimu?” ucap Hayden.
“Entahlah, tapi untuk sementara kita aman karena aku sudah menyesatkan mereka ke Forks.” ucap Gustin.
“Apa? Kau menyesatkan mereka ke Forks? Itu kan kotanya para Vampire & Werewolf!” ucap Hayden.
“Ya aku tahu hal ini. Dan aku memang sengaja menyesatkan mereka ke Forks, agar mereka dimakan oleh para Werewolf yang ada disana!” ucap Gustin.
“Ya, terserah kau saja Gustin yang penting kita aman dari para pemburu Jumper itu.” ucap Hayden.
“Ya, tapi tetap saja kita tidak aman dari Roland.” ucap Gustin.
“Roland adalah seorang Pemburu Jumper yang terlalu pintar. Dia sudah banyak membunuh para Jumper yang ada didunia ini. Dan dia selalu tahu dimana saja kita berada.” ucap Hayden.
“Aku lelah terus-menerus harus melarikan diri dari Roland. Tapi jika aku menyerahkan diri kepada Roland, maka aku adalah seseorang yang sangat bodoh!” ucap Gustin.
“Gustin, kita tidak boleh menyerahkan diri kepada Roland atau kepada pemburu Jumper yang lain!” ucap Hayden.
“Ya, kau benar Hayden!” ucap Gustin.
“Ya sudah, aku harus pergi dulu!” ucap Hayden.
“Kau ingin pergi kemana?” ucap Gustin.
“Jika aku memberi tahu kalau aku ingin kerumahnya Nela, pasti Gustin akan ikut bersama denganku.” ucap Hayden.
“Hey! Hayden, kau ingin pergi kemana?” ucap Gustin.
“Ada urusan yang harus aku selesaikan!” ucap Hayden yang pergi meninggalkan Gustin.
Dan setelah sampai dirumahnya Nela, seperti biasa Hayden segera masuk kedalam kamarnya Nela.
“Hey!” ucap Hayden seraya duduk disebelahnya Nela.
Nela pun hanya tersenyum seraya menoleh ke arahnya Hayden.
“Kau sedang apa?” ucap Hayden.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang aku sedang tidak melakukan apapun.” ucap Nela.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ponselnya Nela berdering. Dengan cepat Nela pun segera mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas meja dekat tempat tidurnya.
“Siapa?” ucap Hayden.
“Telepon dari David.” ucap Nela seraya kelayar ponselnya.
“Ada perlu apa David menghubungi Nela?” ucap Hayden dalam hati.
“Sebentar ya, aku angkat telepon dari David dulu.” ucap Nela.
“Ya baiklah.” ucap Hayden.
Dan Nela pun segera mengangkat telepon dari David.
~~~~~~~~~~~~~~~
“Ya, Hallo Dav.” ucap Nela.
“Hallo, kau sedang apa? Apa aku menganggu waktumu?” ucap David.
“Tidak. Ada perlu apa Dav?”
“Apa kau masih ingat kalau aku mempunyai janji kepadamu?”
“Janji? Janji apa Dav?”
“Aku pernah berjanji kalau aku akan mengajakmu untuk berburu Werewolf bersama denganku. Apa kau masih ingat?
“Oh, ya tentu saja aku masih ingat Dav. Lalu?”
“Ya, dan sepertinya nanti malam adalah waktu yang tepat untuk berburu Werewolf.”
“Apa Dav? Nanti malam kita berburu Werewolf?”
“Ya, bagaimana apa kau mau?”
“Ya aku mau, dan tentu saja itu ide yang bagus Dav!”
“Baiklah, nanti malam aku akan menjemputmu.”
“Ya, baiklah Dav! Sampai ketemu nanti malam ya!” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.
~~~~~~~~~~~
Hayden pun begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nela.
“Apa? Nanti malam Nela ingin berburu Werewolf bersama dengan David? Kalau seperti itu, aku juga harus ikut! Karena aku tidak akan membiarkan David pergi berdua dengan Nela!” ucap Hayden dalam hati.
“Nanti malam kalian ingin pergi berburu Werewolf?” ucap Hayden.
“Ya, David mengajakku untuk berburu Werewolf.” ucap Nela.
“Apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian?” ucap Hayden.
“Ya, tentu saja boleh Hayden.” ucap Nela.
“Benarkah?” ucap Hayden.
“Ya, tapi...” ucap Nela yang sengaja memotong ucapannya.
“Tapi apa?” ucap Hayden.
“Tapi aku bingung mau bilang apa kepada Shane. Karena jika aku bilang ingin pergi berburu Werewolf, maka dia tidak akan mengizinkannya.” ucap Nela.
“Kau tenang saja. Kau tidak perlu izin kepada Shane.” ucap Hayden.
“Lalu? Bagaimana kalau nanti David datang? Karena nanti malam ia akan menjemputku.” ucap Nela.
“Sebentar, biar aku hubungi David.” ucap Hayden seraya mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
“Boleh aku pinjam ponselmu untuk menghubungi David? Karena jika aku yang menghubunginya, maka dia tidak akan mengangkat teleponnya.” ucap Hayden.
“Ini, silahkan.” ucap Nela seraya memberikan ponselnya kepada Hayden.
Lalu Hayden pun segera menghubungi David dengan memakai ponselnya Nela.
Dan dengan cepat David mengangkat teleponnya.
~~~~~~~~~~~
“Hallo, ada apa Nela?” ucap David.
“Ini aku Hayden!” ucap Hayden.
“Apa? Kenapa ponselnya Nela bisa ada ditanganmu?” ucap David yang begitu terkejut ketika mendengar suara Hayden.
“Ya, sekarang aku sedang berada dirumahnya Nela. Jadi aku meminjam ponselnya sebentar untuk menghubungimu.” ucap Hayden.
“Ada apa kau menghubungiku?” ucap David.
“Aku dengar nanti malam kau ingin berburu Werewolf bersama dengan Nela.” ucap Hayden.
“Ya, lalu?” ucap David.
“Apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian?” ucap Hayden.
“Hayden pasti tidak ingin aku pergi berdua dengan Nela. Maka dari itu ia ingin ikut untuk berburu Werewolf nanti malam.” ucap David dalam hati.
“Bagaimana Dav?” ucap Hayden.
“Ya, kau boleh ikut bersama dengan kami.” ucap David.
“Terima kasih Dav. Tapi sebaiknya nanti malam kau jangan menjemput Nela.” ucap Hayden.
“Kenapa kau melarangku untuk menjemput Nela? Oh, itu pasti karena kau ingin menjemputnya juga kan!” ucap David.
“Bukan seperti itu Dav. Tapi Nela tidak punya alasan untuk meminta izin kepada Shane, dan tidak mungkin jika ia bilang kalau ia ingin pergi berburu Werewolf. Karena Shane tidak akan pernah mengizinkannya.” ucap Hayden.
“Ya, kau benar juga. Lalu bagaimana?” ucap David.
“Bagaimana kalau nanti malam aku dan Nela yang akan menjemputmu. Lalu kita baru pergi kehutan itu.” ucap Hayden.
“Lalu bagaimana dengan Nela? Siapa yang akan menjemputnya?” ucap David.
“Kau tenang saja, aku yang akan menjemput Nela. Dan kau tak perlu memikirkan bagaimana caranya.” ucap Hayden.
“Ya ya, aku tahu kalau kau adalah seorang Jumper!” ucap David.
“Ya. Bagaimana apa kau setuju dengan ideku?” ucap Hayden.
“Ya, aku setuju dengan idemu.” ucap David.
“Ya sudah, nanti malam pukul 21.00 aku dan Nela akan datang kerumah mu!” ucap Hayden.
“Ya baiklah.” ucap David mengakhiri pembicaraan ditelepon.
~~~~~~~~~~~~~
Hayden pun segera mengembalikan ponselnya Nela.
“Bagaimana?” ucap Nela.
“Tenang saja, semuanya sudah ku atur. Jadi nanti malam aku akan menjemputmu, dan kita langsung kerumahnya David. Lalu setelah kita baru pergi kehutan itu.” ucap Hayden.
“Ya, baiklah kalau seperti itu.” ucap Nela.
“Ya sudah, sekarang aku pergi dulu ya. Sampai ketemu nanti malam!” ucap Hayden seraya tersenyum.
“Ya.” ucap Nela seraya membalas senyumannya Hayden.
Dan Hayden pun segera beranjak pergi dari kamarnya Nela.
“Semoga saja nanti malam Robert tidak datang.” ucap Nela.
Tiba-tiba ponselnya Nela pun berbunyi, dan ia pun segera melihat kelayar ponselnya.
“Gillian? Ada apa dia menelponku?” ucap Nela ketika melihat ada satu panggilan dari Gillian.
Dengan cepat ia pun segera mengangkat teleponnya.
~~~~~~~~~~~~~~
“Ya, Hallo Gill.” ucap Nela.
“Hi! Bagaimana kabarmu adikku?” ucap Gillian.
“Kabarku baik. Ada perlu apa Gill? Apakah ponselnya Shane sedang tidak aktif?” ucap Nela.
“Oh, tidak! Aku menelponmu bukan untuk menanyakan tentang Shane.” ucap Gillian.
“Lalu?” ucap Nela.
“Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Apakah aku menganggumu?” ucap Gillian.
“Tentu saja tidak Gill.” ucap Nela.
“Oh, baiklah. Bagaimana dengan liburan musim dinginmu?” ucap Gillian.
“Semuanya berjalan dengan cukup baik. Kau sendiri bagaimana hubunganmu dengan kakakku? Aku dengar kalian sudah berencana untuk menikah.” ucap Nela.
“Ya, kami memang sudah merencanakan hal itu. Tapi kami belum menentukan tanggalnya.” ucap Gillian.
“Kenapa seperti itu?” ucap Nela.
“Kami tidak ingin terlalu terburu-buru. Karena sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru tidak akan berjalan dengan baik.” ucap Gillian.
“Ya, kau benar juga.” ucap Nela.
~~~~~~~~~~~~~~~
Mereka pun terus mengobrol.
Dan tak terasa malam pun sudah datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.50.
Nela sudah rapi, kini ia sedang menunggu kedatangannya Hayden.
Dan tak lama Hayden pun datang.
“Hey! Maaf ya, aku datangnya telat. Kau pasti sudah terlalu lama menungguku ya?” ucap Hayden.
“Ya, tidak apa-apa Hayden.” ucap Nela seraya tersenyum.
“Apakah kau sudah siap?” ucap Hayden.
“Ya.” ucap Nela.
“Kalau seperti itu, ayo sekarang kita segera pergi kerumahnya David.” ucap Hayden.
Baru saja mereka ingin beranjak pergi, namun tiba-tiba terdengan suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.
Hayden dan Gustin pun segera pergi meninggalkan Roland.
“Syukurlah, kita berhasil melarikan diri dari Roland.” ucap Gustin.
“Ya, tapi kita tetap harus berhati-hati.” ucap Hayden.
“Lalu sekarang kita mau kemana?” ucap Gustin.
“Aku ingin kerumah Nela saja.” ucap Hayden.
“Nela? Siapa dia? Apa dia adalah kekasih baru mu?” ucap Gustin.
“Bukan, dia adalah teman kampusku.” ucap Hayden.
“Teman? Aku tidak yakin kalau dia hanyalah teman bagimu.” ucap Gustin.
“Ya, dia hanyalah temanku.” ucap Hayden.
“Sudahlah Hayden, jujur saja kepadaku. Aku tahu kalau kau mencintai wanita itu kan?” ucap Gustin.
Hayden pun hanya terdiam.
“Hayden, kau tak perlu berbohong kepadaku. Aku senang jika kau mencintai wanita itu, karena itu artinya kau sudah bisa melepaskan Rachel.” ucap Gustin.
“Ya, aku memang mencintai Nela. Tapi...” ucap Hayden yang tiba-tiba memotong ucapannya.
“Tapi apa?” ucap Gustin.
“Tapi dia sudah mempunyai seorang kekasih. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kekasihnya itu adalah seorang Vampire.” ucap Hayden.
“Apa? Seorang Vampire?” ucap Gustin yang terlihat begitu terkejut.
“Ya, awalnya aku juga tidak percaya sampai aku melihatnya dengan mataku sendiri.” ucap Hayden.
“Seperti dicerita dan difilm-film saja, seorang manusia berpacaran dengan seorang Vampire? Sungguh tidak bisa kubayangkan.” ucap Gustin.
“Ya, tapi sekarang Vampire itu sedang pergi.” ucap Hayden.
“Sedang pergi? Itu artinya kau mempunyai kesempatan untuk mendekatinya!” ucap Gustin.
“Tidak semudah itu Gustin. Karena selama kekasihnya pergi, ada seorang Vampire yang selalu menjaga dan melindunginya. Dan Vampire itu adalah Robert, teman dari kekasihnya.” ucap Hayden.
“Lalu kau ingin menyerah begitu saja untuk dapat memiliki wanita itu? Jika iya, maka itu artinya kau harus siap kehilangan wanita yang kau cinta untuk kedua kalinya!” ucap Gustin.
“Tentu saja tidak! Aku akan terus berusaha sampai aku dapat memilikinya! Karena aku tak ingin kehilangan wanita yang kucinta untuk kedua kalinya!” ucap Hayden.
“Good! Itu baru Hayden yang kukenal!” ucap Gustin seraya menepuk pundaknya Hayden pelan.
“Ya sudah, ayo kita segera kerumahnya Nela!” ucap Hayden.
Mereka pun segera pergi kerumahnya Nela. Dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela.
“Akhirnya kita sampai juga dirumahnya Nela.” ucap Hayden.
“Ini rumahnya? Lalu sekarang ia ada dimana?” ucap Gustin.
“Ayo kita masuk, tapi kita langsung kekamarnya saja karena sepertinya ia sedang ada dikamarnya.” ucap Hayden.
“Kekamarnya? Lewat mana?” ucap Gustin.
“Gustin, apa kau lupa kalau kita adalah seorang Jumper?” ucap Hayden.
Gustin pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera menuju kekamarnya Nela.
Lalu mereka pun sampai dikamarnya Nela.
“Itu dia wanita yang bernama Nela!” ucap Hayden seraya menunjuk ke arah Nela yang sedang melamunkan sesuatu.
Hayden dan Gustin pun segera berjalan menghampiri Nela.
“Hey!” Ucap Hayden seraya menepuk pundaknya Nela pelan.
Nela pun sedikit terkejut.
“Hey, Hayden.” ucap Nela.
“Ini siapa?” Ucap Nela seraya menunjuk ke arah Gustin yang berdiri disebelahnya Hayden.
“Oh ya, ini adalah sahabatku namanya Gustin.” ucap Hayden.
“Oh, Gustin yang kemarin kau ceritakan padaku?” ucap Nela.
“Ya.” ucap Hayden.
“Hey! Namaku Gustin.” ucap Gustin seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Namaku Nela” ucap Nela seraya berjabat tangan dengan Gustin.
“Senang dapat bertemu denganmu. Dan ternyata Hayden benar, kau memang cantik.” ucap Gustin seraya tersenyum.
Nela pun hanya tersenyum, namun Hayden hanya terdiam seperti sedang cemburu.
“Kau disini tinggal bersama dengan siapa?” ucap Gustin.
“Aku disini tinggal bersama dengan dua orang kakakku yaitu Andrew dan Shane.” ucap Nela.
“Lalu sekarang mereka kemana?” ucap Gustin.
“Mereka sedang mengobrol diruang tamu.” ucap Nela.
“Sudahlah Gustin, kau tidak perlu banyak tanya.” ucap Hayden.
“Kau tenang saja Hayden, aku tidak akan menjadi pesaingmu.” ucap Gustin.
“Oh ya, kalian mau minum apa?” ucap Nela.
“Tidak perlu, kami tidak ingin merepotkanmu.” ucap Hayden.
“Tidak apa-apa, kalian tidak akan merepotkanku.” ucap Nela.
“Tidak perlu Nela, karena kami tidak haus.” ucap Gustin.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Katanya Hayden, kemarin kau dikejar-kejar oleh Roland?” ucap Nela kepada Gustin.
“Ya, tapi untungnya aku bisa melarikan diri darinya.” ucap Gustin.
“Roland benar-benar keterlaluan, kenapa dia masih mengejar-ngejar kalian?” ucap Nela.
“Entahlah, tadi saja ia mengejarku sampai apartementnya Hayden. Dan hampir saja kami tertangkap olehnya.” ucap Gustin.
“Tapi kalian tidak apa-apa kan?” ucap Nela.
“Ya, kami tidak apa-apa. Karena kami bisa melarikan diri darinya.” ucap Gustin.
“Syukurlah kalau begitu.” ucap Nela.
“Ya sudah, lebih baik sekarang kita pergi dari sini.” ucap Hayden.
“Kenapa terburu-buru sekali Hayden?” ucap Nela.
“Aku takut kalau Roland mengikuti kami dan dia tahu kalau kita ada dirumah mu.” ucap Hayden.
“Tapi sepertinya dia tidak mengikuti kita.” ucap Gustin.
“Sudahlah Gustin, ayo kita pergi dari sini sebelum Roland mengetahui kalau kita ada disini.” ucap Hayden.
“Ya sudah, Nela kami pergi dulu ya. Sekali lagi, aku senang dapat bertemu denganmu.” ucap Gustin.
“Iya Gustin, aku juga senang dapat bertemu denganmu.” ucap Nela.
“Nela, kami pergi dulu ya. Maaf kami terburu-buru, karena kami sedang dikejar oleh Roland.” ucap Hayden.
“Iya Hayden, kalian hati-hati ya. Jika terjadi sesuatu cepat beritahu aku! Dan jaga diri kalian baik-baik, jangan sampai tertangkap oleh Roland!” ucap Nela.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.
“Hayden, kau cemburu padaku ya?” ucap Gustin.
“Tidak!” ucap Hayden.
“Sudahlah, jujur saja jika kau cemburu padaku.” ucap Gustin.
“Ya, aku cemburu karena kau terlihat ingin dekat pada Nela!” ucap Hayden.
“Lalu oleh karena itu kau mengajakku untuk segera pergi dengan alasan takut Roland mengejar kita sampai rumahnya Nela?” ucap Gustin.
“Ya!” ucap Hayden dengan singkat, seperti enggan untuk menjawab pertanyaannya Gustin.
“Baiklah, maafkan aku jika sikapku tadi membuatmu cemburu padaku.” ucap Gustin.
Hayden pun hanya terdiam.
“Dan kau tenang saja, aku tidak akan mengambil dia darimu.” ucap Gustin.
Beberapa minggu kemudian...
Musim dingin pun telah berakhir.
“Tak terasa musim dingin telah berakhir. Tapi Mark belum juga kembali...” ucap Nela.
“Mark, dimana kau? Cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu.” ucap Nela seraya melihat kearah luar jendela kamarnya.
Dan tiba-tiba Robert pun datang.
“Hey!” ucap Robert.
“Hey Robert.” ucap Nela.
“Kupikir kau sudah tidur.” ucap Robert seraya duduk disebelahnya Nela.
“Belum.” ucap Nela.
“Oh ya, maaf ya beberapa hari aku tidak datang kesini soalnya aku ada urusan mendadak.” ucap Robert.
“Ya, tidak apa-apa Robert.” ucap Nela.
“Tapi kau baik-baik saja kan? Roland tidak melukaimu sedikitpun kan?” ucap Robert.
“Ya, aku baik-baik saja. Roland tidak melukaiku sedikit pun.” ucap Nela.
“Syukurlah. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Roland melukaimu sedikit pun!” ucap Robert.
“Kau tenang saja aku akan baik-baik saja.” ucap Nela.
“Tapi aku tetap tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau terluka sedikit pun!” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum seraya berjalan menuju jendela kamarnya.
“Robert...” ucap Nela.
“Ya, ada apa?” ucap Robert.
“Apa kau belum mendapat kabar dari Mark?” ucap Nela.
“Belum.” ucap Robert.
“Lalu bagaimana dengan Kian, apa dia juga belum mendapat kabar dari Mark?” ucap Nela.
“Ya, sama dengan Kian. Dia juga belum mendapat kabar dari Mark.” ucap Robert.
Nela pun hanya menarik nafas panjang. Robert pun segera menghampiri Nela dan berdiri disebelahnya.
“Kenapa? Kau sangat merindukannya ya?” ucap Robert.
“Ya, aku sangat merindukannya.” ucap Nela.
“Dan sama halnya dengan Mark, ia juga sangat merindukanmu. Tapi kau tenang saja, setelah dia berhasil bertemu dan membunuh Vampire itu, maka ia akan segera kembali untukmu.” ucap Robert.
“Aku juga berharap seperti itu.” ucap Nela.
Robert pun hanya tersenyum.
“Oh ya, Robert apa kau bisa membaca pikiran seseorang?” ucap Nela.
“Ya, tentu saja bisa.” ucap Robert.
“Kalau seperti itu, coba kau tebak apa yang sekarang sedang aku pikirkan?” ucap Nela.
Robert pun segera menatap Nela seperti sedang membaca pikirannya.
Beberapa menit kemudian...
“Bagaimana?” ucap Nela.
“Tidak ada apa-apa. Pikiranmu begitu kosong.” ucap Robert.
“Apa? Mungkin kau salah lihat.” ucap Nela.
“Aku tidak salah lihat. Pikiranmu memang benar-benar kosong.” ucap Robert.
“Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya Nela? Apa aku... Ahh! Tidak! Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya!” ucap Robert dalam hati.
“Kenapa kau tidak bisa membaca pikiranku?” ucap Nela.
“Entahlah. Mungkin itu karena di pikiranmu hanya ada Mark.” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum malu. Dan Robert pun hanya tersenyum.
“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur karena sekarang sudah hampir larut malam.” ucap Robert.
“Ya baiklah.” ucap Nela yang segera berjalan menuju tempat tidurnya.
Nela pun segera menaiki tempat tidurnya, dan merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.
“Good night Robert.” ucap Nela.
“Good night Nela and have a nice dream. Aku akan tetap berada disini untuk menjaga dan menemani tidurmu.” ucap Robert.
Nela pun hanya tersenyum seraya memejamkan matanya. Dan perlahan Robert pun berjalan menghampiri Nela, dan duduk ditepi tempat tidurnya.
“Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya? Bukankah aku hanya tidak bisa membaca pikiran seorang wanita yang aku cinta?” ucap Robert pelan.
“Apa aku jatuh cinta padanya? Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya! Dan aku tidak boleh merebut Nela dari Mark!” ucap Robert.
“Tapi entah mengapa aku merasa nyaman saat berada didekatnya.” ucap Robert.
“Mark, maafkan aku karena aku telah jatuh cinta pada Nela. Tapi aku berjanji aku tidak akan merebutnya darimu.” ucap Robert.
----------------
Seperti biasa Nela sedang melamun seraya memikirkan Mark yang belum juga kembali. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.
“Siapa?” ucap Nela.
“Ini aku sayang.” ucap seseorang dari luar kamarnya Nela.
“Masuk saja Shane, pintunya tidak ku kunci.” ucap Nela.
Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya Nela itu adalah Shane.
Shane pun segera membuka pintu kamarnya Nela, dan berjalan menghampiri Nela.
“Kau sedang apa sayang?” ucap Shane seraya duduk disampingnya Nela.
Nela pun hanya menggelengkan kepalanya.
“What happens sayang?” ucap Shane.
“I'm just so bored Shane.” ucap Nela.
“Why?” ucap Shane.
“I don't know Shane.” ucap Nela.
Shane pun segera merangkul pundaknya Nela.
“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan agar kau tidak bosan lagi?” ucap Shane.
“Aku sedang tidak ingin pergi jalan-jalan Shane.” ucap Nela.
“Bermain game bersama?” ucap Shane.
Nela pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Shane pun hanya terdiam seperti sedang berpikir.
Lalu beberapa saat kemudian...
“Bagaimana kalau kita bernyanyi bersama?” ucap Shane.
“Good idea Shane! Come on we're singing together!” ucap Nela yang terlihat begitu bersemangat.
“Come on my honey!” ucap Shane.
Nela dan Shane pun segera berjalan menuju keruang keluarga untuk bernyanyi bersama. Dan tak lama mereka pun sampai diruang keluarga.
“Kau tunggu disini ya, aku akan mengambil gitar dulu.” ucap Shane seraya beranjak pergi untuk mengambil gitar.
Dan tak lama Shane pun kembali dengan membawa sebuah gitar ditangannya. Lalu Shane pun segera duduk disebelahnya Nela.
“Kau ingin menyanyikan lagu apa sayang?” ucap Shane.
“What Makes A Man.” ucap Nela.
“What? That is sad song honey.” ucap Shane yang sedikit terkejut ketika mendengar sebuah judul lagu yang ingin mereka nyanyikan.
“Ya, I know that Shane.” ucap Nela.
“Hehm, ya sudah.” ucap Shane seraya mulai memetik gitarnya.
“Ohhh... Uhhhh... Yeaahhh... This isn't goodbye. Even as I watch you leave, this isn't goodbye... I swear I won't cry, even as tears fill my eyes. I swear I won't cry... Any other girl I'd let you walk away. Any other girl I'm sure I'd be okay...” Nela dan Shane pun bernyanyi bersama.
“Lalu kau ingin menyanyikan lagu apa lagi sayang?” ucap Shane.
“Hehm... Terserah kau saja Shane.” ucap Nela.
“Bagaimana kalau lagi I Wanna Grow Old With You?” ucap Shane.
“Ya, I'm agree with you my bro.” ucap Nela.
“Ok. This song is special for you my honey. You're my little sister. I love you so much my honey!” ucap Shane seraya kembali memetik gitarnya.
“Another day without your smile. Another day just passed by. But now I know how much it means, For you to stay right here with me. The time we spent apart, will make our love grow stronger. But it hurts so bad I can't take it any longer. I wanna grow old with you, I wanna die lying in your arms. I wanna grow old with you, I wanna be looking in your eyes. I wanna be there for you, sharing everything you do. I wanna grow old with you..” Shane bernyanyi seraya menatap matanya Nela dengan begitu lekat.
“I love you forever my honey.” ucap Shane.
“I love you forever my bro. But I think that song not for me, but for you love that is Gillian.” ucap Nela.
“Ya, I know that honey. But that song for you too, because you're my little sister. And you're very important for me!” ucap Shane.
Nela pun hanya tersenyum. Dan Shane pun segera memeluk Nela.
“Thanks for all my honey. I can't life without you. And forever I want always together with you.” ucap Shane.
“Please, don't leave me my honey. I gotta be where you are, right where you are. I don’t wanna face this world alone, without you by my side. You’re the only one that makes it feel like home, and i need you in my life. When you’re not around, I’m feeling like a piece of me is missing.” ucap Shane yang masih memeluk Nela.
Nela pun meneteskan air mata, dia begitu terharu mendengar apa saja yang baru diucapkan oleh Shane. Dan sekarang dia sadar, kalau Shane benar-benar sangat menyayanginya.
Nela pun memeluk Shane dengan begitu erat.
“I love you forever Shane. I promise, I'm never leave you. I'll always in here together with you! You're was important for me too. You're the best brother for me. I'm so lucky have brother like you Shane.” ucap Nela disela tangisannya.
Dan tak lama Andrew pun datang. Andrew pun melihat Nela menangis didalam pelukannya Shane.
“Shane! What you doing with my babe? You make my babe crying?” pekik Andrew.
Shane pun segera melepaskan pelukannya.
“Aku tidak membuatnya menangis Andrew.” ucap Shane.
“Tapi dia menangis didalam pelukanmu Shane! Dan itu pasti karena mu!” ucap Andrew.
“Shane benar Andrew, dia tidak membuatku menangis. Aku hanya terharu setelah apa yang diucapkan oleh Shane.” ucap Nela seraya mengusap pipinya yang basah dengan air matanya.
“Benarkah?” ucap Andrew.
“Ya Andrew.” ucap Nela.
“Syukurlah kalau seperti itu. Memangnya kalian sedang apa?” ucap Andrew.
“Kami sedang bernyanyi bersama.” ucap Nela.
“It's very cool! Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” ucap Andrew.
“Ya, tentu saja boleh Andrew.” ucap Shane.
“Oh, thank you my bro!” ucap Andrew.
“Oh ya, kalian ingin minum apa? Aku ingin membuat minuman.” ucap Nela.
“Aku orange juice saja sayang.” ucap Shane.
“Ya my babe, aku juga orange juice.” ucap Andrew.
“Baiklah kalian tunggu disini ya, aku akan membuatkan minuman untuk kalian.” ucap Nela.
Nela pun berjalan menuju dapur untuk membuat minuman. Sementara Andrew dan Shane menunggu diruang keluarga seraya mengobrol bersama.
“Tidak bisa kubayangkan jika nanti aku sudah menikah dengan Gillian, pasti aku tidak akan punya banyak waktu untuk Nela seperti sekarang.” ucap Shane.
“Ya, itu adalah resiko yang harus kau terima Shane. Maka dari itu sekarang aku lebih memilih untuk tidak berpacaran dulu agar aku mempunyai banyak waktu untuk bersama dengan Nela.” ucap Andrew.
Shane pun hanya menarik nafas panjang. Dan tak lama Nela pun kembali dengan membawa 3 gelas orange juice.
“Ini Shane orang juicemu.” ucap Nela seraya menyodorkan segelas orange juice kepada Shane.
“Thank you my honey.” ucap Shane.
“Dan ini orange juice untukmu Andrew.” ucap Nela seraya menyodorkan segelas orange juice kepada Andrew.
“Oh, thank you my babe.” ucap Andrew.
Dan Nela pun segera duduk disebelahnya Andrew dan Shane.
Sementara Hayden sedang melamunkan sesuatu dibalkon apartementnya.
“Aku lelah terus-menerus dikejar-kejar oleh Roland. Tapi aku hanya dua pilihan, yaitu menyerahkan diri kepada Roland atau aku akan kehilangan wanita yang aku cinta untuk yang kedua kalinya...” ucap Hayden.
“Tapi tetap saja dua pilihan itu, sama-sama membuatku sulit untuk bersama dengan Nela! Dan dua pilihan itu sama-sama membuatku kehilangan wanita yang aku cinta untuk yang kedua kalinya!” ucap Hayden.
“Roland! Andai saja aku bisa membunuhmu!” ucap Hayden seraya mengepalkan tangannya.
Dan tiba-tiba Gustin pun datang.
“Hayden!” ucap Gustin dengan tergesa-gesa.
“Gustin! Kau ini selalu saja membuatku terkejut!” pekik Hayden.
“Maafkan aku Hayden. Tadi aku dikejar-kejar oleh pemburu Jumper yang lain!” ucap Gustin dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Apa? Pemburu Jumper yang lain?” ucap Hayden yang sedikit terkejut.
“Iya.” ucap Gustin.
“Bagaimana bisa mereka mengikutimu?” ucap Hayden.
“Entahlah, tapi untuk sementara kita aman karena aku sudah menyesatkan mereka ke Forks.” ucap Gustin.
“Apa? Kau menyesatkan mereka ke Forks? Itu kan kotanya para Vampire & Werewolf!” ucap Hayden.
“Ya aku tahu hal ini. Dan aku memang sengaja menyesatkan mereka ke Forks, agar mereka dimakan oleh para Werewolf yang ada disana!” ucap Gustin.
“Ya, terserah kau saja Gustin yang penting kita aman dari para pemburu Jumper itu.” ucap Hayden.
“Ya, tapi tetap saja kita tidak aman dari Roland.” ucap Gustin.
“Roland adalah seorang Pemburu Jumper yang terlalu pintar. Dia sudah banyak membunuh para Jumper yang ada didunia ini. Dan dia selalu tahu dimana saja kita berada.” ucap Hayden.
“Aku lelah terus-menerus harus melarikan diri dari Roland. Tapi jika aku menyerahkan diri kepada Roland, maka aku adalah seseorang yang sangat bodoh!” ucap Gustin.
“Gustin, kita tidak boleh menyerahkan diri kepada Roland atau kepada pemburu Jumper yang lain!” ucap Hayden.
“Ya, kau benar Hayden!” ucap Gustin.
“Ya sudah, aku harus pergi dulu!” ucap Hayden.
“Kau ingin pergi kemana?” ucap Gustin.
“Jika aku memberi tahu kalau aku ingin kerumahnya Nela, pasti Gustin akan ikut bersama denganku.” ucap Hayden.
“Hey! Hayden, kau ingin pergi kemana?” ucap Gustin.
“Ada urusan yang harus aku selesaikan!” ucap Hayden yang pergi meninggalkan Gustin.
Dan setelah sampai dirumahnya Nela, seperti biasa Hayden segera masuk kedalam kamarnya Nela.
“Hey!” ucap Hayden seraya duduk disebelahnya Nela.
Nela pun hanya tersenyum seraya menoleh ke arahnya Hayden.
“Kau sedang apa?” ucap Hayden.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang aku sedang tidak melakukan apapun.” ucap Nela.
Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ponselnya Nela berdering. Dengan cepat Nela pun segera mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas meja dekat tempat tidurnya.
“Siapa?” ucap Hayden.
“Telepon dari David.” ucap Nela seraya kelayar ponselnya.
“Ada perlu apa David menghubungi Nela?” ucap Hayden dalam hati.
“Sebentar ya, aku angkat telepon dari David dulu.” ucap Nela.
“Ya baiklah.” ucap Hayden.
Dan Nela pun segera mengangkat telepon dari David.
~~~~~~~~~~~~~~~
“Ya, Hallo Dav.” ucap Nela.
“Hallo, kau sedang apa? Apa aku menganggu waktumu?” ucap David.
“Tidak. Ada perlu apa Dav?”
“Apa kau masih ingat kalau aku mempunyai janji kepadamu?”
“Janji? Janji apa Dav?”
“Aku pernah berjanji kalau aku akan mengajakmu untuk berburu Werewolf bersama denganku. Apa kau masih ingat?
“Oh, ya tentu saja aku masih ingat Dav. Lalu?”
“Ya, dan sepertinya nanti malam adalah waktu yang tepat untuk berburu Werewolf.”
“Apa Dav? Nanti malam kita berburu Werewolf?”
“Ya, bagaimana apa kau mau?”
“Ya aku mau, dan tentu saja itu ide yang bagus Dav!”
“Baiklah, nanti malam aku akan menjemputmu.”
“Ya, baiklah Dav! Sampai ketemu nanti malam ya!” ucap Nela mengakhiri pembicaraan ditelepon.
~~~~~~~~~~~
Hayden pun begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nela.
“Apa? Nanti malam Nela ingin berburu Werewolf bersama dengan David? Kalau seperti itu, aku juga harus ikut! Karena aku tidak akan membiarkan David pergi berdua dengan Nela!” ucap Hayden dalam hati.
“Nanti malam kalian ingin pergi berburu Werewolf?” ucap Hayden.
“Ya, David mengajakku untuk berburu Werewolf.” ucap Nela.
“Apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian?” ucap Hayden.
“Ya, tentu saja boleh Hayden.” ucap Nela.
“Benarkah?” ucap Hayden.
“Ya, tapi...” ucap Nela yang sengaja memotong ucapannya.
“Tapi apa?” ucap Hayden.
“Tapi aku bingung mau bilang apa kepada Shane. Karena jika aku bilang ingin pergi berburu Werewolf, maka dia tidak akan mengizinkannya.” ucap Nela.
“Kau tenang saja. Kau tidak perlu izin kepada Shane.” ucap Hayden.
“Lalu? Bagaimana kalau nanti David datang? Karena nanti malam ia akan menjemputku.” ucap Nela.
“Sebentar, biar aku hubungi David.” ucap Hayden seraya mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
“Boleh aku pinjam ponselmu untuk menghubungi David? Karena jika aku yang menghubunginya, maka dia tidak akan mengangkat teleponnya.” ucap Hayden.
“Ini, silahkan.” ucap Nela seraya memberikan ponselnya kepada Hayden.
Lalu Hayden pun segera menghubungi David dengan memakai ponselnya Nela.
Dan dengan cepat David mengangkat teleponnya.
~~~~~~~~~~~
“Hallo, ada apa Nela?” ucap David.
“Ini aku Hayden!” ucap Hayden.
“Apa? Kenapa ponselnya Nela bisa ada ditanganmu?” ucap David yang begitu terkejut ketika mendengar suara Hayden.
“Ya, sekarang aku sedang berada dirumahnya Nela. Jadi aku meminjam ponselnya sebentar untuk menghubungimu.” ucap Hayden.
“Ada apa kau menghubungiku?” ucap David.
“Aku dengar nanti malam kau ingin berburu Werewolf bersama dengan Nela.” ucap Hayden.
“Ya, lalu?” ucap David.
“Apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian?” ucap Hayden.
“Hayden pasti tidak ingin aku pergi berdua dengan Nela. Maka dari itu ia ingin ikut untuk berburu Werewolf nanti malam.” ucap David dalam hati.
“Bagaimana Dav?” ucap Hayden.
“Ya, kau boleh ikut bersama dengan kami.” ucap David.
“Terima kasih Dav. Tapi sebaiknya nanti malam kau jangan menjemput Nela.” ucap Hayden.
“Kenapa kau melarangku untuk menjemput Nela? Oh, itu pasti karena kau ingin menjemputnya juga kan!” ucap David.
“Bukan seperti itu Dav. Tapi Nela tidak punya alasan untuk meminta izin kepada Shane, dan tidak mungkin jika ia bilang kalau ia ingin pergi berburu Werewolf. Karena Shane tidak akan pernah mengizinkannya.” ucap Hayden.
“Ya, kau benar juga. Lalu bagaimana?” ucap David.
“Bagaimana kalau nanti malam aku dan Nela yang akan menjemputmu. Lalu kita baru pergi kehutan itu.” ucap Hayden.
“Lalu bagaimana dengan Nela? Siapa yang akan menjemputnya?” ucap David.
“Kau tenang saja, aku yang akan menjemput Nela. Dan kau tak perlu memikirkan bagaimana caranya.” ucap Hayden.
“Ya ya, aku tahu kalau kau adalah seorang Jumper!” ucap David.
“Ya. Bagaimana apa kau setuju dengan ideku?” ucap Hayden.
“Ya, aku setuju dengan idemu.” ucap David.
“Ya sudah, nanti malam pukul 21.00 aku dan Nela akan datang kerumah mu!” ucap Hayden.
“Ya baiklah.” ucap David mengakhiri pembicaraan ditelepon.
~~~~~~~~~~~~~
Hayden pun segera mengembalikan ponselnya Nela.
“Bagaimana?” ucap Nela.
“Tenang saja, semuanya sudah ku atur. Jadi nanti malam aku akan menjemputmu, dan kita langsung kerumahnya David. Lalu setelah kita baru pergi kehutan itu.” ucap Hayden.
“Ya, baiklah kalau seperti itu.” ucap Nela.
“Ya sudah, sekarang aku pergi dulu ya. Sampai ketemu nanti malam!” ucap Hayden seraya tersenyum.
“Ya.” ucap Nela seraya membalas senyumannya Hayden.
Dan Hayden pun segera beranjak pergi dari kamarnya Nela.
“Semoga saja nanti malam Robert tidak datang.” ucap Nela.
Tiba-tiba ponselnya Nela pun berbunyi, dan ia pun segera melihat kelayar ponselnya.
“Gillian? Ada apa dia menelponku?” ucap Nela ketika melihat ada satu panggilan dari Gillian.
Dengan cepat ia pun segera mengangkat teleponnya.
~~~~~~~~~~~~~~
“Ya, Hallo Gill.” ucap Nela.
“Hi! Bagaimana kabarmu adikku?” ucap Gillian.
“Kabarku baik. Ada perlu apa Gill? Apakah ponselnya Shane sedang tidak aktif?” ucap Nela.
“Oh, tidak! Aku menelponmu bukan untuk menanyakan tentang Shane.” ucap Gillian.
“Lalu?” ucap Nela.
“Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Apakah aku menganggumu?” ucap Gillian.
“Tentu saja tidak Gill.” ucap Nela.
“Oh, baiklah. Bagaimana dengan liburan musim dinginmu?” ucap Gillian.
“Semuanya berjalan dengan cukup baik. Kau sendiri bagaimana hubunganmu dengan kakakku? Aku dengar kalian sudah berencana untuk menikah.” ucap Nela.
“Ya, kami memang sudah merencanakan hal itu. Tapi kami belum menentukan tanggalnya.” ucap Gillian.
“Kenapa seperti itu?” ucap Nela.
“Kami tidak ingin terlalu terburu-buru. Karena sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru tidak akan berjalan dengan baik.” ucap Gillian.
“Ya, kau benar juga.” ucap Nela.
~~~~~~~~~~~~~~~
Mereka pun terus mengobrol.
Dan tak terasa malam pun sudah datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.50.
Nela sudah rapi, kini ia sedang menunggu kedatangannya Hayden.
Dan tak lama Hayden pun datang.
“Hey! Maaf ya, aku datangnya telat. Kau pasti sudah terlalu lama menungguku ya?” ucap Hayden.
“Ya, tidak apa-apa Hayden.” ucap Nela seraya tersenyum.
“Apakah kau sudah siap?” ucap Hayden.
“Ya.” ucap Nela.
“Kalau seperti itu, ayo sekarang kita segera pergi kerumahnya David.” ucap Hayden.
Baru saja mereka ingin beranjak pergi, namun tiba-tiba terdengan suara ketukkan pintu dari luar kamarnya Nela.
Langganan:
Komentar (Atom)