Senin, 23 Maret 2015

My Love is Vampire - Chapter VII

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter VII”
Genre : Fantasy | Romance | Thriller
Cast : Westlife | Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife
===================================
“Brian” ucap Nela.
Ternyata pria itu adalah Brian McFadden, salah satu sahabatnya Shane.
“Baiklah ayo masuk, mengobrolnya kita lanjutkan didalam saja” ucap Brian.
Mereka bertiga pun segera masuk kedalam restoran itu.
“Apakah pria ini adalah Andrew?” Ucap Brian seraya melihat kearah Andrew yang berdiri disebelahnya Nela.
“Ya, dia adalah Andrew. Memangnya kau pikir dia siapa?” Ucap Nela.
“Aku pikir dia adalah kekasih mu” ucap Brian seraya tertawa kecil.
“Tentu saja bukan Bri” ucap Nela.
“Sekarang kau semakin tinggi saja ya. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Sejak kapan kau datang ke Ireland?” ucap Brian kepada Andrew.
“Ya. Baru beberapa hari yang lalu” ucap Andrew.
Dan mereka pun segera duduk di kursi.
“Apakah kau datang ke Ireland untuk berlibur?” Ucap Brian.
“Ya, dan memang aku sudah rindu sekali pada Nela dan Shane” ucap Andrew.
“Brian, kau sedang apa disini?” Ucap Nela.
“Oh ya, selama beberapa hari ini aku memang berada disini untuk membantu paman ku yang merupakan pemilik restoran ini. Dan kenapa kalian hanya berdua saja? Memangnya kalian mau pergi kemana?” Ucap Brian.
“Kami ingin pergi ke toko buku, jadi sebelum pergi ke toko buku kami memutuskan untuk makan malam dulu. Sedangkan Shane, ia sedang dinner dirumahnya Gillian” ucap Nela.
“Oh ya, kalian mau pesan apa?” Ucap Brian seraya memberikan Nela dan Andrew sebuah daftar menu restoran itu.
“Aku pikir kau sedang bertengkar dengan Shane, karena beberapa hari ini kau dan Nicky tidak pernah datang berkunjung ke rumah kami” ucap Nela seraya melihat-lihat daftar menu.
“Tentu saja kami sedang tidak bertengkar, hanya saja memang beberapa hari ini aku begitu sibuk. Sedangkan Nicky, ia sedang ada pertandingan sepak bola di London” ucap Brian.
“Jika ada waktu berkunjung lah ke rumah kami Brian, tapi itu jika kau sedang tidak sibuk” ucap Nela.
“Ya, pasti kau tenang saja Nela. Aku berjanji nanti kalau aku sedang tidak sibuk, aku akan berkunjung ke rumah mu” ucap Brian.
“Baiklah, aku akan menunggu janji mu itu Bri” ucap Nela.
1 jam kemudian...
Nela dan Andrew telah selesai menyantap makan malam mereka direstoran milik pamannya Brian.
“Baiklah Nela, aku ke kasir dulu ya untuk membayar makanan ini” ucap Brian.
“Kau tenang saja Andrew, makan malam ini biar aku bayar” ucap Brian.
“Tidak perlu Brian, kami tidak merepotkan mu” ucap Andrew.
“Kalian tidak merepotkan ku. Anggap saja malam ini aku mentraktir kalian untuk makan malam di restoran paman ku ini” ucap Brian seraya tersenyum.
“Tapi Bri...” Ucap Nela.
“Tapi apa? Sudahlah, tidak apa-apa. Kalian kan sudah aku anggap sebaik adik-adik ku” ucap Brian.
“Kami sangat berterima kasih pada mu Brian” ucap Andrew.
“Terima kasih Brian” ucap Nela seraya tersenyum.
“Ya, sama-sama” ucap Brian.
“Baiklah Brian, kami pamit dulu karena kami harus pergi ke toko buku” ucap Andrew.
“Iya Andrew, kalian jangan pulang sampai larut malam dan Andrew kau harus menjaga Nela dengan baik” ucap Brian.
“Iya Brian, aku akan selalu menjaganya dengan baik karena dia adalah adik ku satu-satunya” ucap Andrew.
Nela, Andrew, dan Brian pun berjalan keluar dari restoran itu.
“Sekali lagi terima kasih ya Brian” ucap Nela seraya masuk kedalam mobilnya Andrew dan di ikuti oleh Andrew.
Brian pun hanya tersenyum. Dan Andrew segera menyalakan mesin mobilnya. Lalu mereka segera pergi meninggalkan restoran milik pamannya Brian itu.
“Andrew, kau masih ingat kan jalan menuju hutan itu?” Ucap Nela.
“Ya, tentu saja aku masih mengingatnya” ucap Andrew seraya menyetir mobilnya.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya memperhatikan jalanan disekitarnya yang memang terlihat sedikit sepi. Namun tiba-tiba Nela seperti melihat sosok Mark dari balik sebuah pohon, dan hal itu membuatnya terkejut.
“Mark!” Ucap Nela yang terkejut.
“Ada apa?” Ucap Andrew.
“Hehm, tidak apa-apa Andrew. Sepertinya tadi aku sedang melamun” ucap Nela.
“Sebaiknya kau jangan melamun Nela” ucap Andrew.
“Ya” ucap Nela yang masih memikirkan apakah tadi itu adalah benar-benar Mark atau sekedar halusinasinya saja.
Semakin lama jalanan yang mereka lewati semakin sepi. Hal itu karena sekarang mereka sudah mulai memasuki jalan menuju hutan itu.
“Jalanan ini semakin lama semakin sepi saja” gerutu Andrew seraya menyetir mobilnya.
Dan tak lama mereka pun tiba dihutan itu, Andrew pun segera memakirkan mobilnya dan mereka berdua segera keluar dari mobilnya Andrew. Baru saja mereka tiba dihutan itu, tapi mereka sudah disambut oleh suara lolongan serigala yang begitu panjang.
“Baru saja kita datang, tapi sepertinya salah satu penghuni di hutan ini sudah menyambut kedatangan kita” ucap Andrew seraya membuka bagasi mobilnya.
“Sepertinya itu bukan suara lolongan serigala biasa” ucap Nela seraya mengambil alat-alat berburunya.
“Maksud mu?” Ucap Andrew.
“Maksud ku adalah itu suara lolongan seekor Werewolf” ucap Nela.
“Benarkah?” Ucap Andrew yang begitu terkejut.
“Ya, karena aku pernah bertemu dengan seekor Werewolf dihutan ini. Dan oleh karena hal itu, Shane tidak mengizinkan ku lagi untuk datang ke hutan ini” ucap Nela.
“Kalau seperti itu, kita harus sangat berhati-hati” ucap Andrew.
“Ya, terutama kau Andrew. Aku tidak ingin ada seekor Werewolf atau makhluk lain yang menyakiti mu sedikit pun” ucap Nela.
“Aku juga tidak ingin ada seekor Werewolf atau makhluk lain yang menyakiti mu sedikit pun” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
“Ini alat-alat berburu mu” ucap Nela seraya memberikan pistol yang sudah ia isi dengan beberapa peluru perak, pisau yang terbuat dari perak, dan panah beserta anak panah yang terbuat dari perak kepada Andrew.
“Apa sekarang kau sudah siap untuk memulai pemburuan kita dimalam ini?” Ucap Nela.
“Ya, tentu saja aku sudah siap!” Ucap Andrew.
“Bagus kalau seperti itu. Baiklah, sekarang kita mulai memasuki hutan ini. Tapi ingat, kita harus sangat berhati-hati karena makhluk dihutan ini bisa kapan saja menyerang kita. Dan jangan buat suara yang dapat mengundang kedatangan mereka” ucap Nela.
Andrew pun hanya mengangguk mengerti, dan mereka berdua mulai berjalan memasuki hutan itu dengan sangat berhati-hati.
30 menit kemudian...
Mereka terus berjalan menyelusuri hutan itu, mencari keberadaan para Werewolf. Namun sudah setengah jam mereka berjalan, tapi mereka belum juga menemukan seekor Werewolf pun.
“Kenapa kita juga belum menemukan satu ekor Werewolf?” Ucap Andrew pelan.
“Entahlah, padahal tadi pada saat kita baru datang kita sudah disambut oleh suara lolongan seekor serigala yang begitu panjang” ucap Nela.
“Mungkin itu hanya suara lolongan seekor serigala biasa, bukan seekor Werewolf” ucap Andrew.
“Tapi aku sangat yakin, kalau itu adalah suara lolongan seekor Werewolf!” Ucap Nela.
Dan tiba-tiba Nela mendengar sebuah suara dari balik semak-semak. Nela pun mencoba untuk menajamkan pendengarannya.
“Ada apa?” Ucap Andrew.
“Ssssttt... Aku seperti mendengar suara dari balik semak-semak itu” ucap Nela seraya menujuk ke arah semak-semak yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.
Andrew pun juga ikut menajamkan pendengarannya.
“Iya, aku juga mendengarnya” ucap Andrew.
“Aku akan menghampirinya” ucap Nela yang ingin beranjak pergi, tapi dengan cepat Andrew menahan tangannya.
“Jangan terburu-buru, aku tidak ingin kau terluka sedikit pun” ucap Andrew pelan.
“Tenang saja, aku akan baik-baik saja” ucap Nela yang juga dengan suara pelan, agar suara mereka tidak mengganggu makhluk yang ada dihutan itu.
“Tidak! Kita hampiri suara itu bersama-sama” ucap Andrew.
Nela pun hanya menarik nafas. Dan mereka berdua segera berjalan menghampiri sumber suara itu.
Seraya berjalan menghampiri sumber suara itu, Nela sudah menyiapkan pistol yang sudah ia isi dengan beberapa peluru perak.
“Andrew, siapkan pistol yang tadi aku berikan padamu. Jika kau melihat seekor hewan yang bertubuh besar dan aneh, maka kau harus cepat menembaknya sebelum ia melukai kita” ucap Nela.
Andrew pun hanya mengangguk mengerti. Dan mereka semakin dekat dengan sumber suara itu. Jantung mereka berdetak dengan sangat kencang, keringat pun mulai membahasi tubuh mereka.
Dan tiba-tiba ada seekor makhluk bertubuh besar dan aneh yang keluar dari balik semak-semak itu. Sontak Nela dan Andrew pun sangat terkejut melihat makhluk aneh itu. Sekilas makhluk itu memang terlihat seperti serigala biasa, tapi makhluk aneh itu bukanlah serigala biasa tetapi makhluk itu adalah seekor Werewolf.
Werewolf itu berjalan mendekati Nela dan Andrew. Dengan cepat Nela pun mengarahkan pistol yang ia pegang ke arah Werewolf itu, dan Nela pun langsung melepaskan tembakkan kearah Werewolf itu.
Tembakkannya Nela pun mengenai tubuh Werewolf itu, seketika Werewolf itu langsung terbakar dan berubah menjadi abu.
Andrew tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, itu seperti sebuah film. Namun itu bukanlah sebuah film, itu adalah nyata dan sungguhan.
“Tetap berhati-hati Andrew, karena ku yakin di hutan ini pasti masih ada Werewolf yang lain” ucap Nela.
“Nela, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Malam ini aku bertemu dengan Werewolf, dan seketika kau membunuh Werewolf itu hanya dengan satu tembakkan saja. Bagaimana bisa kau melakukannya? Apakah sebelumnya kau pernah berburu Werewolf?” ucap Andrew.
“Sungguh mudah untuk melakukannya Andrew, dan sebelumnya aku tidak pernah berburu Werewolf” ucap Nela.
“Kau benar-benar hebat adikku!” Ucap Andrew.
“Iya, ayo kita lanjutkan pemburuan kita” ucap Nela.
Nela dan Andrew pun segera melanjutkan pemburuan mereka. Dan tiba-tiba mereka dihadang oleh dua ekor Werewolf.
“Andrew, kini saatnya kau membunuh Werewolf itu! Dan aku akan membunuh yang satunya lagi, dalam hitungan ketiga kau harus lepaskan tembakkan mu.” Ucap Nela.
Andrew pun hanya menganggukkan kepalanya seraya mengarahkan pistol yang ia pegang kearah salah satu Werewolf yang kini berjalan mendekatinya.
“1, 2, 3!” Ucap Nela.
Mereka berdua melepaskan tembakkan ke arah dua ekor Werewolf itu. Dan tentu saja mereka berdua berhasil membunuh dua ekor Werewolf itu hanya dengan satu tembakkan. Seketika dua ekor Werewolf itu terbakar dan berubah menjadi abu.
“Andrew! Kau berhasil membunuh Werewolf itu” ucap Nela.
“Ya, aku berhasil melakukannya!” Ucap Andrew.
Tanpa Andrew sadari, ternyata dibelakangnya ada seekor Werewolf yang dari tadi mengikutinya. Nela pun merasakan akan keberadaan Werewolf didekatnya, ia pun menoleh ke arah belakang dan ternyata benar seekor Werewolf sedang berada dibelakangnya Andrew. Dengan cepat Nela menusuk Werewolf itu dengan pisau yang terbuat dari perak. Lalu ia segera menarik tangannya Andrew dan pergi menjauh dari Werewolf itu yang kini sedang terbakar.
“Apa kau baik-baik saja Andrew?” Ucap Nela seraya melihat ke arah lehernya Andrew untuk memastikan Werewolf itu tidak menggigit Andrew sedikit pun.
“Ya, aku baik-baik saja” ucap Andrew.
“Baguslah, Werewolf itu belum sempat menggigit mu Andrew” ucap Nela.
“Terima kasih Nela! Untung kau cepat menoleh ke arah belakang dan menusuk Werewolf itu, coba kalau tidak pasti Werewolf itu sudah menggigit ku” ucap Andrew.
“Ya, sebaiknya kita pulang saja Andrew. Semakin lama Werewolf disini semakin memunculkan dirinya” ucap Nela.
“Tapi kita kan baru saja memulai pemburuan kita” ucap Andrew.
“Lupakan saja tentang pemburuan itu. Sekarang kita harus cepat pergi dari hutan ini, sebelum Werewolf itu semakin banyak” ucap Nela seraya menarik tangannya Andrew dan berlari untuk keluar dari hutan itu.
Tanpa Nela sadari, ternyata dari tadi Mark sedang mengawasinya dari atas pohon. Nela dan Andrew pun segera berlari menuju tempat Andrew memakirkan mobilnya.
Setelah sampai ditempat Andrew memakirkan mobilnya, Nela pun segera memasukkan alat-alat berburunya kedalam bagasi mobilnya.
“Ayo kita cepat masuk! Sebelum ada Werewolf yang mengejar kita” ucap Nela seraya masuk kedalam mobilnya Andrew, dan di ikuti oleh Andrew.
Andrew pun segera menyalakan mesin mobilnya, dan mereka segera pergi meninggalkan hutan itu.
“Ahh syukurlah, kita tidak apa-apa” ucap Nela seraya menarik nafas lega.
“Ya, dan itu karena kau. Hampir saja aku digigit oleh Werewolf itu. Terima kasih Nela adik ku, kau telah menyelamatkan ku dari Werewolf itu” ucap Andrew seraya tersenyum dan menyetir mobilnya.
“Ya sama-sama Andrew, sudah ku bilang aku tak ingin Werewolf atau makhluk lain dihutan itu melukai mu sedikit pun. Jadi aku harus menjaga dan melindungi mu dari Werewolf itu atau makhluk lain yang yang ada dihutan itu” ucap Nela.
Andrew pun hanya tersenyum seraya mengusap-usap rambutnya Nela.
“Ku harap Shane belum pulang, karena kita belum sempat menaruh alat-alat berburu kita didalam bagasi mobil mu” ucap Nela.
“Ya, ku harap juga seperti itu” ucap Andrew.
Satu jam kemudian...
Mereka pun disampai dirumah mereka, Andrew dan Nela segera keluar dari mobilnya Andrew.
“Sepertinya Shane belum pulang” ucap Nela ketika melihat mobilnya Shane tidak ada.
“Ya” ucap Andrew.
Nela pun segera mengambil alat-alat berburunya dari dalam mobilnya Andrew.
“Kita harus cepat membawa barang-barang ini masuk kedalam” ucap Nela.
“Sini biar ku bantu” ucap Andrew yang juga segera mengambil alat-alat berburu yang tadi mereka bawa.
Dan mereka pun segera masuk kedalam rumah mereka.
“Andrew, cepat bawa alat-alat ini kekamar ku!” Ucap Nela seraya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
Setelah sampai didepan kamarnya Nela, mereka segera masuk kedalam kamarnya Nela. Dan Nela berjalan menuju kotak berwarna coklat tempat ia menyimpan alat-alat itu.
“Ini alat-alatnya” ucap Andrew seraya memberikan Nela dua buah pistol, dan buah pisau.
Nela pun segera membuka kotak berwarna coklat itu dan memasukkan alat-alat itu kedalamnya.
“Akhirnya selesai juga” ucap Nela seraya menutup kotak itu kembali.
“Ahh, aku benar-benar lelah sekali malam ini” ucap Andrew seraya merebahkan tubuhnya diatas kasurnya Nela.
“Andrew!” Pekik Nela.
“Apa?” Ucap Andrew.
“Ganti baju mu dulu, tadi aku baru saja membereskan tempat tidur ku dan mengganti seprainya” ucap Nela.
“Ahh iya-iya” ucap Andrew seraya bangkit dari tempat tidurnya Nela.
“Ayo ganti baju mu dulu Andrew” ucap Nela seraya mendorong pelan tubuhnya Andrew.
“Tapi bajunya kan ada dikamar ku” ucap Andrew.
“Ya ganti bajunya dikamar mu!” Pekik Nela.
Andrew pun hanya tertawa kecil seraya berjalan menuju kamarnya. Dan Nela pun segera keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
“Aku haus sekali” ucap Nela.
Lalu ia pun berjalan menuju dapur untuk membuat minuman. Ketika ia sedang membuat minuman, tiba-tiba Andrew datang dan memeluknya dari belakang.
“Andrew!” Pekik Nela.
“Apa lagi? Sekarang aku kan sudah ganti baju” ucap Andrew dengan polosnya.
“Iya, tapi sekarang aku mau membuat minuman jika kau memeluk ku seperti ini bagaimana aku bisa membuat minuman” ucap Nela.
“Baiklah, tapi buatkan minuman untuk ku juga ya” ucap Andrew.
“Iya cerewet” ucap Nela.
Andrew pun hanya tertawa seraya mengucak-ngucak rambutnya Nela.
“Aku benar-benar bahagia berada disini, dan rasanya aku tak ingin kembali ke London” ucap Andrew.
“Lalu bagaimana dengan kuliah mu?” Ucap Nela yang sedang membuat dua gelas minuman.
“Entahlah... Tapi bagaimana jika kau kuliah di kampus ku saja?” Ucap Andrew.
“Tidak bisa Andrew. Aku sudah merasa nyaman kuliah disini” ucap Nela.
“Tapi jika kau tinggal di London bersama dengan ku dan kuliah dikampus ku, kita kan bisa selalu bersama-sama” ucap Andrew.
Nela pun hanya terdiam seraya membuat minuman. Didalam hatinya ia begitu ingin tinggal bersama dengan Andrew di London dan kuliah dikampusnya Andrew, namun itu artinya ia harus meninggalkan Shane dan Ireland dan juga ia harus meninggalkan Mark. Dia juga tidak bisa meninggalkan Hayden, dan David yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Ayolah, aku ingin selalu bersama dengan mu karena kau adalah adik ku satu-satunya. Dan aku tak ingin meninggalkan mu lagi” ucap Andrew.
“Aku pun juga selalu ingin bersama dengan mu Andrew. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Ireland dan Shane” ucap Nela.
“Kenapa tidak bisa? Bukankah nanti ketika Shane menikah, ia akan meninggalkan mu dan tinggal bersama dengan Gillian. Dan itu artinya kau akan jauh dari Shane” ucap Andrew.
“Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan kampus ku Andrew, aku sudah merasa nyaman kuliah disana” ucap Nela.
“Tidak bisa meninggalkan kampus mu atau tidak bisa meninggalkan seseorang yang ada di kampus mu?” Ucap Andrew seraya mengangkat kedua alisnya.
“Andrew! Kau ini!” Pekik Nela.
“Aku tahu kau pasti tidak bisa meninggalkan Hayden” ucap Andrew seraya memperhatikan wajahnya Nela.
“Hehm, tidak!” Ucap Nela.
“Benarkah? Sudahlah, jangan membohongi perasaan mu adikku” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
“Sudahlah Andrew, kau tidak perlu membahas hal itu” ucap Nela.
“Baiklah, tapi kau harus janji nanti jika kau mempunyai kekasih kau harus memperkenalkannya kepada ku” ucap Andrew.
“Iya, aku janji pada mu” ucap Nela.
Beberapa menit kemudian...
“Ini minumannya sudah jadi” ucap Nela.
“Terima kasih adikku” ucap Andrew.
“Iya” ucap Nela.
Dan mereka pun berjalan menuju ke ruang keluarga.
“Kenapa kampus mu belum mengadakan libur?” Ucap Andrew.
“Entahlah, mungkin liburan musim dingin ini kampus ku tidak mengadakan libur” ucap Nela.
Andrew pun menarik nafas panjang seperti sedikit kecewa.
“Padahal liburan kali ini, aku ingin sekali pergi berlibur bersama dengan mu dan Shane” ucap Andrew seraya mengambil minumannya dan meneguknya.
Nela pun memperhatikan wajahnya Andrew yang terlihat sedikit kecewa.
“Hey!” Pekik Nela.
Andrew pun segera menoleh ke arah Nela.
“Jangan pasang wajah seperti itu, aku tidak suka melihatnya. Tersenyumlah kakak ku! Kalau wajah mu ditekuk seperti itu nanti ketampanan mu bisa hilang” ucap Nela seraya mencubit pelan pipinya Andrew.
“Aku tidak peduli. Saat ini aku hanya ingin pergi berlibur dengan kau dan Shane, tapi sepertinya kalian berdua tidak ada waktu untuk itu” ucap Andrew.
“Kau tenang saja Andrew. Kampus ku pasti akan mengadakan liburan untuk menyambut musim dingin, dan kita akan pergi berlibur bersama-sama” ucap Nela seraya tersenyum.
“Benarkah?” Ucap Andrew.
“Ya tentu saja benar” ucap Nela.
Andrew pun tersenyum seraya memeluk Nela. Dan tak lama terdengar suara klakson mobil dari luar rumah mereka.
“Itu sepertinya klakson mobilnya Shane” ucap Nela.
“Kau benar! Ayo kita bukakan pintu untuk Shane” ucap Andrew.
Mereka pun segera berjalan menuju ke halaman rumah mereka.
Setelah sampai dihalaman rumah mereka, Andrew segera membukakan pintu pagar rumahnya.
“Terima kasih Andrew” ucap Shane seraya melajukan mobilnya.
Dan Andrew pun kembali menutup pintu pagar rumah mereka.
“Ternyata kalian sudah pulang” ucap Shane seraya keluar dari mobilnya.
“Ya, kami baru saja sampai sekitar lima belas menit yang lalu” ucap Nela.
Lalu mereka pun segera masuk kedalam rumah mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.
“Nela, kau harus segera tidur karena sekarang sudah hampir larut malam” ucap Shane seraya menaiki anak tangga untuk menuju kekamarnya.
“Iya Shane” ucap Nela seraya segera menaiki anak tangga.
Dan Nela pun berjalan menuju kamarnya.
“Aku berharap malam ini Mark datang dan menemui ku” ucap Nela dalam hati seraya membuka pintu kamarnya.
Ketika ia membuka pintu kamarnya ia terkejut melihat seorang pria sedang berdiri seraya bersandar dijendela kamarnya.
“Mark!” Ucap Nela yang terkejut seraya segera masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
“Hey” ucap Mark.
“Kau ini mengagetkan ku saja” ucap Nela.
“Apakah kau baru pulang?” Ucap Mark.
“Baru pulang? Baru pulang dari mana?” Ucap Nela heran mendengar Mark berbicara seperti itu.
“Bukankah kau tadi pergi ke hutan itu bersama dengan kakak mu?” Ucap Mark.
Nela hanya terdiam seraya berpikir kenapa Mark bisa mengetahui hal itu.
“I... Iya, kenapa kau bisa tahu?” Ucap Nela sedikit gugup.
“Tadi aku melihat mu dihutan itu” ucap Mark dingin.
“Jadi tadi kau mengawasi ku?” Ucap Nela.
“Ya, aku mengawasi mu dari atas pohon. Karena aku takut ada Werewolf atau makhluk lain yang menyakiti mu” ucap Mark seraya berjalan ke arah Nela yang masih berdiri dibelakang pintu kamarnya.
“Kenapa kau mengawasi ku? Dan kenapa kau selalu ingin melindungi ku?” Ucap Nela.
“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya kepada mu, kalau aku merasa aku harus selalu menjaga dan melindungi mu” ucap Mark.
“Tidak mungkin! Pasti kau punya alasan lain” ucap Nela.
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamarnya Nela.

My Love is Vampire - Chapter XI

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter XI”
Genre : Fantasy, Romance, Thriller.
Cast : Westlife & Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife
============================
Pria itu pun duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
“Maaf atas sikap ku tadi dikampus. Sejujurnya aku tak ingin bersikap seperti itu padamu, aku hanya cemburu ketika aku mendengar kau sudah memiliki seorang kekasih” ucap pria itu.
Ternyata pria itu adalah Hayden.
“Aku berjanji aku akan selalu menjaga dan melindungi mu dari siapa pun, terutama dari Roland. Dan akan ku pastikan Roland tidak akan bisa membunuh mu atau melukai sedikit pun” ucap Hayden.
Hayden pun menarik nafas.
“Apa benar yang dikatakan oleh Roland, kalau kau sudah memiliki seorang kekasih? Dan kekasih mu itu adalah seorang Vampire?” Ucap Hayden seraya menatap Nela yang sedang tak sadarkan diri.
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamarnya Nela, dengan cepat Hayden pun segera pergi meninggalkan kamarnya Nela.
“Hehm, ternyata dia belum sadar juga” ucap Andrew seraya memasuki kamarnya Nela dengan membawa makanan dan minuman.
Andrew pun meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa dimeja yang berada disamping tempat tidurnya Nela.
“Nela my little sist, please wake up. Open your eyes... I very need you in here” ucap Andrew seraya duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
“Andai kau tahu, aku begitu sedih melihat mu seperti ini. Kau adalah adik ku satu-satunya, dan aku sangat menyayangi mu” ucap Andrew seraya mengusap-usap rambutnya Nela.
Tak lama Nela pun mulai sadarkan diri, perlahan ia membuka kedua matanya.
“Aku ada dimana?” Ucap Nela.
“Baby, syukurlah kau sudah sadar. Aku begitu mengkhawatirkan diri mu” ucap Andrew.
“Sadar? Memangnya aku kenapa?” Ucap Nela.
“Tadi kau tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri” ucap Andrew.
Nela pun mulai mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
“Hehm, ya aku ingat kalau tadi aku tak sadarkan diri” ucap Nela.
“Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kau baru saja sadar, dan kata dokter kau butuh banyak istirahat agar kondisi mu cepat pulih kembali” ucap Andrew.
“Andrew, Shane kemana?” Ucap Nela.
“Shane sedang pergi bersama dengan Gillian, dan aku belum memberi tahu kalau kau sempat tak sadarkan diri” ucap Andrew.
“Sebaiknya kau tak perlu memberi tahunya, karena jika ia tahu pasti ia akan begitu mengkhawatirkan diriku” ucap Nela.
“Tidak apa-apa, dia memang harus tahu tentang hal itu. Lebih baik sekarang kau makan dulu ya, aku sudah membuatkan makan siang untuk mu” ucap Andrew.
“Nanti saja Andrew, sekarang aku belum lapar” ucap Nela.
“Kau harus makan adik ku. Ya, meskipun masakkan ku tidak seenak masakkannya Shane, tapi setidaknya makanan yang ku masak bisa membuat perut mu menjadi kenyang” ucap Andrew.
“Tidak seperti itu Andrew, masakkan mu tidak kalah enak dengan masakkannya Shane” ucap Nela.
“Kalau seperti itu, sekarang kau harus makan! Karena makanan ini spesial aku masak hanya untuk mu” ucap Andrew.
“Really?” Ucap Nela seraya mengangkat kedua alisnya.
“Yeah, of course my baby!” Ucap Andrew seraya menganggukkan kepalanya.
“Ya, I'm trust you my bro” ucap Nela seraya menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah, sekarang kau makan dulu ya” ucap Andrew.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku suapin ya?” Ucap Andrew.
“Tidak perlu, memangnya kau pikir aku anak kecil” ucap Nela.
“Bukan seperti itu. Tapi aku ingin menyuapi mu, lagi pula kau kan lagi sakit” ucap Andrew.
“Ya, baiklah kalau seperti itu” ucap Nela.
Andrew pun hanya tersenyum seraya menyuapi Nela. Dan tak lama Shane pun pulang. Shane segera masuk kedalam rumahnya.
“Kenapa rumah ini sepi sekali? Adik-adik ku ada dimana ya?” Gumam Shane seraya menaiki anak tangga untuk menuju kekamarnya dan kamar adik-adiknya.
“Nela! Andrew! Kalian ada dimana?” Pekik Shane seraya terus berjalan menaiki anak tangga.
“Kami sedang berada dikamarnya Nela!” Pekik Andrew dari dalam kamarnya Nela.
Shane pun berjalan menuju kamarnya Nela. Setelah sampai dikamarnya Nela, Shane melihat Andrew sedang menyuapi Nela. Dan Nela tampak sedikit pucat, Shane pun segera berlari menghampiri Nela dan Andrew.
“Nela, apa terjadi pada mu? Kenapa kau terlihat pucat? Apa kau sedang sakit?” Ucap Shane yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaannya Nela.
“Kau tenang saja Shane, aku baik-baik saja” ucap Nela yang mencoba membuat Shane menjadi sedikit lebih tenang.
“Tapi kenapa kau terlihat pucat? Andrew, apa terjadi pada Nela?” Ucap Shane.
Andrew pun hanya terdiam seraya menoleh ke arah Nela.
“Hey! Kenapa kau diam saja?” Ucap Shane.
“Shane, kau tidak perlu begitu khawatir seperti itu karena aku baik-baik saja” ucap Nela.
“Kalau kau baik-baik saja tidak mungkin kau pucat sepert itu. Kau pasti sedang sakit” ucap Shane.
“Nela hanya kelelahan saja Shane, tadi dia sempat tak sadarkan diri. Tapi kau tenang saja, kata dokter dia baik-baik saja namun ia membutuhkan banyak istirahat agar kondisinya cepat pulih kembali” ucap Andrew.
“Apa? Tak sadarkan diri? Kenapa kau tak menghubungi ku?” Ucap Shane yang terlihat marah pada Andrew.
“Maaf Shane, aku hanya tak ingin menganggu waktu mu dengan Gillian. Karena ku tahu Gillian begitu penting untuk mu, jadi aku memutuskan untuk tidak menghubungi mu” ucap Andrew.
“Ya, kau benar. Gillian memang begitu penting untuk ku, namun Nela juga sangat penting untuk ku! Jadi jika terjadi sesuatu padanya, kau harus menghubungi ku!” Ucap Shane.
“Iya Shane, maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengulangnya kembali” ucap Andrew.
“Sudahlah Shane, kau jangan terus memarahi Andrew. Kasihan dia, dan lagi pula ini bukan salahnya” ucap Nela.
“Tapi seharusnya ia menghubungi ku, agar aku bisa cepat-cepat pulang. Bukan seperti ini!” Ucap Shane yang masih terlihat marah pada Andrew.
“Sudahlah Shane, tidak perlu diperbesar masalahnya” ucap Nela seraya mengusap-usap bahunya Shane.
“Tidak apa-apa Nela, ini memang salah ku jadi kau tidak perlu membela ku. Sekali lagi maafkan aku Shane” ucap Andrew.
Shane pun hanya terdiam, namun wajahnya masih terlihat sedikit kesal.
“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap Shane pada Nela.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang” ucap Nela.
“Syukurlah kalau kau baik-baik saja” ucap Shane seraya mengusap-usap kepalanya Nela.
Nela pun hanya tersenyum.
“Baiklah, aku mau ganti baju dulu ya” ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Nela.
Shane pun segera pergi meninggalkan kamarnya Nela. Sementara Andrew masih tetap berada dikamarnya Nela. Kini ia hanya terdiam setelah Shane memarahinya.
“Andrew my bro, sudahlah jangan kau pikirkan, Shane kalau sedang marah memang seperti itu” ucap Nela seraya memeluk Andrew dari belakang.
“Tidak apa-apa adik ku, itu memang salah ku. Seharusnya aku segera menghubungi Shane ketika kau tak sadarkan diri” ucap Andrew.
“Sudahlah, lupakan saja tentang hal itu. Kau tidak perlu memikirkannya” ucap Nela.
Andrew pun hanya terdiam. Nela pun juga terdiam seraya menatap wajahnya Andrew.
----------------------
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 21.00. Malam ini Shane tidak pergi berburu Vampire, karena ia masih mengkhawatirkan keadaannya Nela.
Dan kini Nela sedang termenung didalam kamarnya seraya menatap keluar jendela kamarnya. Namun tiba-tiba Hayden datang dan duduk disampingnya.
“Hey!” Ucap Hayden.
Nela pun menoleh ke arah Hayden.
“Ada apa kau datang ke sini malam-malam?” Ucap Nela.
“Aku hanya ingin meminta maaf pada mu atas sikap ku pada mu tadi dikampus” ucap Hayden.
“Ya, aku sudah memaafkannya” ucap Nela yang terlihat sedikit dingin.
“Bagaimana keadaan mu sekarang? Apa kau sudah lebih baik?” Ucap Hayden.
Nela pun sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Hayden.
“Dari mana kau tahu kalau tadi aku sempat tak sadarkan diri?” Ucap Nela.
“Tadi aku datang kesini ketika kau tak sadarkan diri” ucap Hayden.
Nela pun hanya terdiam seraya terus menatap keluar jendela kamarnya.
“Apa kau masih marah pada ku?” Ucap Hayden seraya menatap Nela.
“Tidak” ucap Nela dingin.
“Aku benar-benar minta maaf, aku bersikap dingin dan menjauhi mu agar Roland tidak membunuh mu” ucap Hayden.
Nela pun hanya terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun.
“Aku akan segera menyerahkan diri pada Roland, agar kau tetap aman dan Roland tidak akan membunuh mu” ucap Hayden.
“Kau tidak perlu lakukan itu! Jangan pernah menyerahkan diri mu kepada Roland” ucap Nela.
“Memangnya kenapa?” Ucap Hayden.
“Roland adalah seorang pemburu Jumper, dan kau ingin menyerahkan diri begitu saja kepadanya? Jika kau melakukannya, maka kau adalah orang yang sangat bodoh!” Ucap Nela.
“Aku lakukan itu demi kau, aku tak ingin Roland membunuh atau melukai mu sedikit pun” ucap Hayden.
Nela pun menoleh ke arah Hayden.
“Kenapa kau lakukan itu?” Ucap Nela.
“Karena aku mencintai mu” ucap Hayden seraya menatap Nela.
Suasana pun berubah menjadi hening, dan Nela hanya terdiam ketika mendengar jawaban dari Hayden.
Lalu Nela pun kembali menatap keluar jendela kamarnya, dan tiba-tiba ia melihat Mark yang sedang berdiri didepan jendela kamarnya.
“Hayden, lebih baik sekarang kau pergi dari kamar ku” ucap Nela.
“Kenapa? Apa kau marah karena aku mengatakan hal itu?” Ucap Hayden.
“Aku tidak marah, aku hanya mengantuk dan aku harus istirahat” ucap Nela.
“Baiklah kalau seperti itu, besok aku akan menjemput mu seperti biasa, tapi kalau kau masih sakit kau jangan memaksakan diri untuk pergi ke kampus” ucap Hayden.
“Iya” ucap Nela.
“Good night Nela, beristirahatlah agar kau cepat sembuh” ucap Hayden seraya tersenyum.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya membalas senyumannya Hayden. Dan Hayden pun segera pergi meninggalkan kamarnya Nela. Lalu dengan cepat Nela berjalan menuju jendela kamarnya, dan segera membukanya.
“Mark, masuklah” ucap Nela ketika melihat Mark yang dari tadi sudah berdiri diluar jendela kamarnya Nela.
Mark pun segera masuk, dan mereka duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
“Siapa pria tadi?” Ucap Mark yang terlihat sedikit dingin.
“Dia adalah Hayden, dan dia adalah senior dikampus ku” ucap Nela.
“Ada perlu apa dia malam-malam menemui mu?” Ucap Mark.
“Tidak ada, dia hanya menjenguk ku saja” ucap Nela.
“Menjenguk? Memangnya kau sakit apa?” Ucap Mark.
“Aku hanya kelelahan saja hingga tadi siang aku sempat tak sadarkan diri” ucap Nela.
“Tapi sekarang kau baik-baik saja kan?” Ucap Mark.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang” ucap Nela.
“Apakah seorang Jumper yang pak tua maksud itu adalah Hayden?” Ucap Mark.
“Ya, seorang Jumper yang Roland maksud adalah Hayden” ucap Nela.
“Kau terlihat begitu dekat dengannya” ucap Mark.
“Kami dekat hanya sebagai senior dan junior saja, tidak lebih dari itu jadi kau tidak perlu cemburu padanya” ucap Nela.
Mark pun hanya terdiam. Dan tanpa mereka sadari Hayden sedang memperhatikan mereka berdua dari belakang pintu kamarnya Nela.
“Ternyata benar apa yang Roland katakan, Nela memang sudah memiliki seorang kekasih dan kekasihnya itu adalah seorang Vampire” ucap Hayden dalam hati.
Hayden terus memperhatikan Nela dan Mark yang mengobrol.
“Aku tak peduli, meskipun Nela sudah memiliki seorang kekasih tapi aku akan terus mendekatinya!” Ucap Hayden dalam hati.
“Aku ingin sekarang kau mengajak ku ke kastil tempat kau dan para Vampire tinggal, tapi itu jika kau tidak merasa keberatan” ucap Nela.
“Kenapa kau ingin sekali ke kastil tempat ku tinggal?” Ucap Mark.
“Entahlah, aku hanya ingin melihat bagaimana kastil tempat kau tinggal. Apakah kastil itu sepertil kastil para Vampire yang ku lihat di film-film?” Ucap Nela.
Mark pun kembali terdiam, kini ia seperti sedang berpikir. Dan ia pun menarik nafas panjang.
“Baiklah, sekarang aku akan mengajak mu ke kastil tempat aku tinggal” ucap Mark.
“Benarkah?” Ucap Nela.
“Ya” ucap Mark.
“Tapi bagaimana caranya?” Ucap Nela.
“Mendekatlah pada ku” ucap Mark.
Nela pun berjalan mendekati Mark.
“Peluklah aku dengan kuat, agar nanti kau tidak terjatuh” ucap Mark.
Dan Nela pun segera memeluk Mark dari samping.
“Apa sekarang kau sudah siap untuk menuju ke kastil ku?” Ucap Mark.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera meninggalkan kamarnya Nela dan menuju ke kastilnya Mark.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk tiba dikastilnya Mark, hanya dengan hitungan menit saja mereka sudah sampai dikastilnya Mark.
Baru saja mereka tiba dikastilnya Mark, tapi mereka sudah disambut oleh beberapa Vampire.
“Tetaplah berada disamping ku!” Ucap Mark
Nela pun kembali menganggukkan kepalanya. Vampire-Vampire itu melihat ke arah Nela dan Mark, dan ada salah satu dari mereka yang berjalan mendekati Nela.
“Jangan dekati wanita ini jika kalian ini tetap hidup!” Pekik Mark.
“Mark, sepertinya kau bawa makan malam untuk kami” ucap seorang Vampire.
“Wanita ini adalah kekasih ku” ucap Mark.
“Apa? Kekasih mu? Tapi aku mencium aroma darah segar yang mengalir didalam tubuhnya. Dan sepertinya tidak mungkin jika dia adalah Clan Vampire seperti kita” ucap Vampire itu.
Mark pun segera membawa Nela masuk kedalam kastil.
“Apa mereka adalah Vampire yang masih yang kau maksud itu?” Ucap Nela.
“Ya, mereka adalah Vampire yang masih meminum darah langsung dari tubuh korbannya” ucap Mark.
Tiba-tiba mereka disambut oleh seorang Vampire pria yang berambut agak kekuningan, dan ia adalah Kian, teman dekatnya Mark.
“Hey Ki!” Ucap Mark.
“Hey Mark! Siapa wanita yang berdiri disamping mu itu?” Ucap Kian.
Mark pun terdiam seraya menoleh ke arah Nela.
“Apakah dia adalah seorang wanita yang kau ceritakan pada ku?” Ucap Kian.
“Kau benar Ki, dia memang seorang wanita yang aku ceritakan pada mu dan dia juga kekasih ku” ucap Mark.
Kian pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Oh ya, Nela ini adalah Kian Egan teman dekat ku. Dan Kian ini adalah Nela kekasih ku” ucap Mark.
Nela dan Kian pun saling berjabat tangan.
“Oh, aroma darahnya... Mark, bagaimana bisa kau bertahan berada disampingnya?” Ucap Kian seraya menutup hidungnya.
“Itu karena cinta ku kepadanya Ki” ucap Mark.
“Mark, ku harap kau tak pernah ingin untuk mencoba mencicipi darahnya dan ku harap kau tak tergoda dengan aroma darahnya” ucap Kian.
“Ya, ku pastikan itu tidak akan pernah terjadi” ucap Mark.
Dan tak lama seorang Vampire wanita pun datang menghampiri mereka.
“Hey, kalian sedang apa disini?” Ucap Vampire wanita itu.
“Hey Jodi! Kami hanya sedang mengobrol saja” ucap Mark.
Jodi pun juga mencium aroma darah yang mengalir didalam tubuhnya Nela.
“Mark, siapa wanita ini? Sepertinya dia adalah seorang manusia” ucap Vampire wanita itu yang bernama Jodi, kekasihnya Kian.
“Ya, dia memang seorang manusia, dan namanya Nela ia adalah kekasih ku” ucap Mark.
“Apa? Kekasih mu? Kau berpacaran dengan seorang manusia?” Ucap Jodi yang sedikit terkejut.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang Jodi” ucap Mark.
“Benar-benar sulit untuk dipercaya” ucap Jodi.
“Tapi itu lah kenyataannya babe” ucap Kian.
“Tapi kau hebat Mark, kau bisa bertahan berada disampingnya padahal aroma darahnya begitu menggoda” ucap Jodi.
“Aku sudah berjanji kalau aku tidak akan pernah mencicipi darahnya sedikit pun, karena aku tak ingin ia menjadi Vampire seperti kita” ucap Mark.
Nela pun hanya terdiam seraya menoleh ke arah Mark. Mark pun hanya tersenyum seraya merangkul pundaknya Nela.
“Mark, sebaiknya kau cepat bawa Nela pergi dari sini karena disini bukan tempat yang aman untuknya” ucap Kian.
“Iya Mark, benar apa yang dikatakan oleh Kian” ucap Jodi.
“Baiklah kalau seperti itu, aku akan segera membawanya pergi dari sini” ucap Mark.
Mark pun segera membawa Nela pergi meninggalkan kastilnya.
--------------------
Tak lama mereka pun tiba dikamarnya Nela.
“Sekarang kau harus tidur dan beristirahatlah agar kesehatan mu cepat pulih kembali” ucap Mark.
“Tapi aku masih ingin bersama dengan mu” ucap Nela.
“Kau tenang saja, malam ini aku akan menjaga dan menemani tidur mu” ucap Mark.
“Benarkah?” Ucap Nela.
“Ya, sekarang kau tidurlah My Love” ucap Mark seraya memegang pundaknya Nela.
“Baiklah” ucap Nela seraya menaiki tempat tidurnya.
Nela pun merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, dan Mark duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
“Good night My Vampire” ucap Nela.
“Good night too My Love” ucap Mark seraya tersenyum dan mencium keningnya Nela.
Nela pun hanya tersenyum seraya memejamkan matanya.
30 menit kemudian...
Mark tetap menemani tidurnya Nela seraya menatap wajahnya Nela, dan tiba-tiba Hayden datang.
“Ternyata kekasihnya Nela adalah kau” ucap Hayden.
“Kau pasti Hayden? Seorang Jumper yang membuat Roland ingin melukai kekasihku” ucap Mark.
“Ya, kau benar. Aku adalah Hayden, dan aku memanglah seorang Jumper. Kalau soal Roland, kau tak perlu khawatir akan ku pastikan Roland tidak akan bisa membunuh atau melukai Nela sedikit pun” ucap Hayden.
“Kenapa kau bisa memastikan hal itu?” Ucap Mark.
“Karena aku akan selalu menjaga dan melindungi Nela” ucap Hayden.
“Aku berterima kasih pada mu karena kau melakukan hal itu” ucap Mark.
“Kau tak perlu berterima kasih, karena aku melakukan hal itu bukan karena kau tapi karena Nela” ucap Hayden.
“Apa maksud mu berbicara seperti itu?” Ucap Mark.
“Kau tak perlu tahu kenapa aku berbicara seperti itu!” Ucap Hayden.
“Apa kau juga mencintai nya?” Ucap Mark.
“Kau ini pintar sekali dalam menebak! Dan tebakkan mu memanglah benar, bahkan sangat benar” ucap Hayden seraya tertawa.
“Kenapa kau juga mencintainya?” Ucap Mark.
“Aku mencintainya sejak pertama aku bertemu dengannya” ucap Hayden.
“Lebih baik mulai sekarang kau jauhi dia” ucap Mark.
“Apa kau bilang? Jauhi dia? Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menjauhi Nela meskipun aku harus menyerahkan diriku pada Roland!” Ucap Hayden.
“Ternyata kau keras kepala juga ya. Dia sudah memiliki kekasih, jadi kau harus menjauhinya!” Ucap Mark.
“Apa kau tidak mengerti dengan yang aku ucapkan? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjauhinya!” Ucap Hayden.
“Apa mau mu?” Ucap Mark.
“Aku ingin memilikinya! Dan aku ingin selalu bersama dengannya” ucap Hayden.
“Kau tidak akan bisa memilikinya, karena aku tidak akan pernah melepaskannya!” Ucap Mark.
“Ya, kita lihat saja nanti! Dan aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya sampai dia menjadi milik ku” ucap Hayden.
Mark pun menatap Hayden dengan tatapan yang tajam, terlihat sekali Mark begitu marah dengan Hayden namun ia tidak ingin bertengkar dengan Hayden.
“Sudahlah kita jangan berisik, karena kita bisa menganggu tidurnya Nela. Kasihan dia terlihat begitu lelah” ucap Hayden seraya menatap wajahnya Nela.
Mark pun hanya terdiam seraya menarik nafas.

Minggu, 08 Maret 2015

My Love is Vampire - Chapter X

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter X“
Genre : Fantasy | Rmance | Triller
Cast : Westlife | Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife



==================================================


“Menyebalkan! Sudah bosan hidup kau rupanya!” Ucap orang itu seraya mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku celananya.

“Kau tidak akan bisa membunuhku!” Ucap pria itu seraya tersenyum.

“Rupanya kau adalah seorang Vampire!” Ucap orang itu ketika melihat dua buah taring dari balik bibir pria itu.

“Ya, kau benar pak tua! Dan sekarang kau harus pergi dari sini” ucap pria itu.

“Aku tidak akan pergi dari sini karena aku ingin membunuh wanita itu!” Ucap orang itu.

“Kau tidak akan bisa membunuh atau melukai wanita itu karena aku akan selalu menjaga dan melindunginya” ucap pria itu.

“Untuk apa kau melindunginya?” Ucap Roland.

“Karena dia adalah kekasih ku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun membunuh atau melukainya sedikit pun!” Ucap Mark.

“Oh, rupanya wanita itu adalah kekasih mu. Pantas saja sekarang kau ada disini” ucap orang itu.

“Jangan banyak bicara, sebaiknya sekarang kau pergi dari sini sebelum aku menghisap habis darah mu!” Ucap pria itu.

“Bukankah sudah ku bilang, aku tidak akan pergi dari sini!” Ucap orang itu seraya menembakkan pistol ke arah pria itu.

DORRR...

Suara tembakkan terdengar begitu jelas, hingga membuat Nela tersadar dari lamunannya.

“Suara apa itu? Seperti suara tembakkan” ucap Nela seraya berjalan menuju jendela kamarnya.

Perlahan Nela pun membuka jendela kamarnya, dan ia melihat Mark sedang bersama seorang pria paruh baya.

“Mark!” Ucap Nela.

Dan Mark pun menoleh ke arahnya.

“Dan kau siapa?” Ucap Nela ketika melihat pria paruh baya yang sedang memegang sebuah pistol ditangannya.

“Sepertinya aku tidak perlu memberi tahu siapa aku, karena sepertinya seorang Jumper itu telah menceritakan tentang diriku kepada mu” ucap orang itu.

“Roland! Jadi kau adalah Roland!” Ucap Nela.

“Ya, aku adalah Roland. Ternyata begitu cepat kau tahu tentang aku” ucap orang itu yang ternyata memanglah Roland.

“Nela, sebaiknya sekarang kau masuk dan tutup kembali jendelanya!” Ucap Mark.

“Tapi bagaimana dengan mu Mark?” Ucap Nela.

“Kau tenang saja karena aku akan baik-baik saja. Sekarang aku harus menyelesaikan urusan ku dengan bapak tua ini!” Ucap Mark.

“Sebenarnya urusan ku bukan dengan mu, tapi dengan Jumper itu dan wanita ini. Tapi sepertinya kau benar-benar menghalangi langkah ku” ucap Roland.

Suasana semakin panas, malam yang dingin pun kini tidak terasa lagi. Dan tiba-tiba terdengar suara Andrew yang mengetuk pintu kamarnya Nela.

“My baby Nela... What happens baby?” Ucap Andrew dari luar kamarnya Nela.

“Cepat tutup jendelanya!” Pekik Mark.

Dan dengan cepat Nela menutup jendela kamarnya.

“My baby, apa kau sudah tidur?” Ucap Andrew.

“Belum, tunggu sebentar aku akan membukakan pintunya” ucap Nela yang segera berlari ke arah pintu kamarnya.

Nela pun membuka pintu kamarnya.

“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan?” Ucap Andrew seraya memastikan kalau Nela tetap baik-baik saja.

“Ya, aku baik-baik saja Andrew. Ada apa?” Ucap Nela.

“Tadi aku sempat mendengar suara tembakkan dari kamar mu, dan itu membuat ku begitu mengkhawatirkan mu” ucap Andrew.

“Suara tembakkan? Mungkin kau salah dengar, karena dari tadi aku tidak mendengar suara tembakkan” ucap Nela.

“Iya, tadi aku mendengar suara tembakkan dari kamar mu” ucap Andrew.

“Kakak ku sayang, mungkin kau salah dengar karena dari tadi tidak ada suara apapun dari sini” ucap Nela seraya memegang kedua pundaknya Andrew.

“Hehm, ya kau benar mungkin saja aku salah dengar” ucap Andrew.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, sekarang kau harus tidur. Tapi jika terjadi sesuatu, cepatlah berteriak” ucap Andrew.

“Iya my bro” ucap Nela seraya tersenyum.

“Good night my baby and have a nice dream” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.

“Ya, good night too my bro” ucap Nela.

Andrew pun beranjak pergi dari kamarnya Nela, dan Nela kembali menutup pintu kamarnya.

“Mark!” Ucap Nela seraya berlari ke arah jendela kamarnya.

Dengan cepat ia membuka jendela kamarnya. Namun ia tidak menemukan Mark dan Roland diluar jendela kamarnya.

“Kemana mereka?” Ucap Nela.

“Apa Mark baik-baik saja?” Ucap Nela.

Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang, dan hal itu membuatnya begitu terkejut.

“Kau tenang saja, karena aku baik-baik saja” bisik seseorang tepat ditelinganya.

Dan Nela pun segera membalikkan tubuhnya.

“Mark!” Ucap Nela.

Mark pun hanya tersenyum.

“Kau dari mana saja? Aku begitu mengkhawatirkan mu” ucap Nela seraya memeluk Mark.

“Seperti yang kau tahu, aku telah membuat pak tua itu pergi dari sini. Dan sekarang kau sudah aman” ucap Mark.

“Tapi bagaimana jika besok malam dia datang kembali?” Ucap Nela.

“Kau tenang saja My Love, meskipun dia datang tapi dia tidak akan bisa membunuh atau melukai mu sedikit pun karena aku akan selalu menjaga dan melindungi mu” ucap Mark.

Nela pun hanya tersenyum.

“Memangnya siapa seorang Jumper yang pak tua itu maksud?” Ucap Mark.

“Seorang Jumper yang Roland maksud adalah Hayden, seorang pria yang kemarin malam bersama dengan ku” ucap Nela.

“Lalu ada hubungan apa kau dengannya?” Ucap Mark yang mulai dingin.

“Kau tak perlu cemburu dengan Hayden, karena ia adalah senior dikampus ku. Dan kami berdua hanya berteman, tak lebih dari itu” ucap Nela ketika melihat wajah Mark yang terlihat cemburu.

“Ya, aku percaya kalau kalian berdua hanya teman biasa” ucap Mark seraya tersenyum.

“Kau tahu, aku begitu senang ketika melihat kau tersenyum” ucap Nela.

Mark pun kembali tersenyum seraya memeluk Nela.

“Mark” ucap Nela.

“Ya, ada apa?” Ucap Mark.

“Aku ingin sekali datang ke kastil tempat kau dan para Vampire tinggal” ucap Nela.

“Ya, nanti aku akan mengajak mu ke ke kastil ku. Tapi kau harus berhati-hati, karena disana masih banyak Vampire yang masih mengisap darah manusia secara langsung” ucap Mark.

“Lalu apa disana ada Vampire wanita juga?” Ucap Nela.

“Tentu saja ada, dan salah satunya adalah Jodi kekasihnya Kian” ucap Mark.

“Hehm, pasti mereka begitu cantik” gumam Nela.

“Ya, mereka semua memang cantik. Tapi diantara mereka tidak ada satupun Vampire wanita yang aku cintai, karena yang aku cintai hanyalah kau” ucap Mark.

Nela pun hanya tersipu malu. Nela dan Mark pun terus mengobrol hingga larut malam.

“Sudah jam 12, sebaiknya sekarang kau tidur karena besok kau harus kuliah kan?” Ucap Mark.

“Tak bisakah kita berdua lebih lama lagi?” Ucap Nela.

“Tentu saja bisa, tapi sekarang sudah larut malam kau harus istirahat. Aku tak ingin kau sakit karena kelelahan” ucap Mark.

“Ya, baiklah kalau seperti itu” ucap Nela seraya menarik nafas.

“Baiklah, sampai besok My Love. Kau tenang saja, besok aku pasti datang lagi” ucap Mark.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya menaiki tempat tidurnya.

“Good night My Love” ucap Mark seraya tersenyum dan beranjak pergi dari kamarnya Nela.

Sementara Hayden baru saja ingin memejamkan matanya, namun Roland sudah datang dan menganggu waktu tidurnya.

“Rupanya kau sudah ingin tidur” ucap Roland seraya berdiri dibelakang pintu kamarnya Hayden.

“Kau! Sedang apa kau disini?” Ucap Hayden seraya bangkit dari tempat tidurnya.

“Kau tidak perlu berpura-pura lupa Hayden, bukankah kita masih punya urusan yang harus kita selesaikan?” Ucap Roland.

“Sebaiknya urusan itu kita lanjutkan besok saja, karena sekarang aku ingin tidur dan besok aku harus kuliah!” Ucap Hayden.

“Ya ya baiklah, tapi sepertinya ada sesuatu yang harus kau tahu” ucap Roland.

“Hey! Kau tidak bisa mendengar ucapan ku?” Pekik Hayden yang mulai kesal, karena Roland benar-benar menganggu waktu tidurnya.

“Sepertinya kau tidak tahu, kalau wanita itu sudah memiliki seorang kekasih. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, kekasih wanita itu adalah seorang Vampire” ucap Roland.

“Apa maksud mu? Siapa wanita yang kau maksud?” Ucap Hayden.

“Seorang wanita yang kini sedang dekat mu, dan kau sangat menyayangi wanita itu” ucap Roland.

“Nela. Apa yang kau maksud adalah Nela?” Ucap Hayden.

“Ya, memangnya siapa lagi wanita yang kini sedang dekat dengan mu” ucap Roland.

“Kau pasti salah! Tidak mungkin dia menjalin hubungan asmara dengan seorang Vampire” ucap Hayden.

“Tapi itu adalah kenyataannya” ucap Roland.

“Dari mana kau bisa tahu tentang hal itu?” Ucap Hayden.

“Tadi aku datang kerumahnya, dan tadinya aku memang ingin melukai dia tapi tiba-tiba ada seorang pria yang menghalangi langkah ku. Awalnya aku memang menganggap dia adalah seorang manusia, tapi ketika dia tersenyum aku melihat ada dua buah taring dari balik bibirnya” ucap Roland.

“Lalu dari mana kau tahu kalau dia adalah kekasihnya Nela?” Ucap Hayden.

“Vampire itu sama dengan mu begitu ingin melindungi wanita itu, dan menurut ku dia memang benar-benar kekasihnya wanita itu” ucap Roland.

Hayden pun hanya terdiam. Tiba-tiba Roland mengeluarkan sebuah alat dari saku celananya. Ternyata Roland mengeluarkan alat untuk menyetrum seorang Jumper seperti Hayden.
Dengan cepat Roland mengarahkan alat itu ke arah Hayden.

“Kau terlalu lama berpikir hingga membuat ku jenuh berada disini” ucap Roland.

“Awww!” Teriak Hayden ketika alat itu mengenai tangannya.

“Sudahlah jangan berlama-lama berpikir, bagaimana dengan urusan kita? Seperti yang sudah ku bilang tadi siang, kau ingin menyerahkan diri mu atau aku akan membunuh wanita itu?” Ucap Roland.

“Jangan lukai Nela sedikit pun!” Ucap Hayden.

“Ternyata benar, kau memang sangat mencintai wanita itu. Itu artinya kau ingin menyerahkan diri mu kepada ku, dan kau siap mati ditangan ku?” Ucap Roland.

“Ya, tapi tidak untuk sekarang. Berikan aku waktu, dan nanti aku akan datang untuk menyerahkan diri ku kepada mu” ucap Hayden.

“Baiklah kalau seperti itu, aku pegang kata-kata mu. Tapi kalau kau berbohong, maka aku tak akan segan-segan untuk membunuh wanita itu!” Ucap Roland.

“Ya, kau tenang saja aku tidak akan berbohong pada mu” ucap Hayden.

Dan Roland pun segera pergi dari kamarnya Hayden.

“Bagaimana ini? Aku tak ingin Roland membunuh Nela seperti ia membunuh Rachel. Sepertinya aku memang harus menyerahkan diri ku pada Roland, agar Nela tetap aman dan Roland tidak akan membunuhnya” ucap Hayden.

Hayden pun kembali ketempat tidurnya, ia mulai memejamkan matanya tapi pikirannya terus melayang untuk mencari jalan keluar agar masalahnya dengan Roland cepat selesai.


----------------


Pagi pun tiba, dan seperti biasa Shane sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kedua adiknya. Nela pun sudah rapi, dan ia segera beranjak pergi meninggalkan kamarnya.

“Oh ya, Andrew sudah bangun atau belum ya?” Ucap Nela.

Dan ia pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke kamarnya Andrew. Setelah sampai didepan kamarnya Andrew, ia pun segera mengetuk pintu kamarnya Andrew.

“Andrew, come on wake up!” Ucap Nela seraya mengetuk pintu kamarnya Andrew.

Namun tidak ada jawaban dari dalam kamarnya Andrew.

“Hehm, apa dia belum bangun?” Gumam Nela.

“Andrew my brother, come on wake up!” Ucap Nela.

“Iya, tunggu sebentar baby karena aku sedang ganti baju” ucap Andrew dari dalam kamarnya.

“Ya, baiklah kalau seperti aku ke ruang makan duluan ya” ucap Nela.

“Jangan! Tunggu saja, sebentar lagi aku akan keluar” ucap Andrew.

“Ya sudah, aku akan menunggu disini” ucap Nela.

Tak lama Andrew pun keluar dari dalam kamarnya.

“Ayo kita ke ruang makan” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.

Mereka berdua pun berjalan menuju ke ruang makan untuk menyantap sarapan bersama. Setelah sampai diruang makan, Nela melihat Shane sedang mengobrol dengan David.

“Hey! Dav” ucap Nela.

David pun hanya tersenyum.

“Nela, dia pasti kekasih mu ya?” Ucap Andrew.

“Bukan Andrew, dia adalah David senior ku juga. Dan David, ini adalah Andrew kakak ku juga” ucap Nela.

Andrew dan David pun saling berjabat tangan seraya memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Baru saja aku ingin memanggil mu karena dari tadi David sudah menunggu mu” ucap Shane.

“Benarkah itu Dav?” Ucap Nela.

“Ahh tidak, baru saja aku tiba disini 10 menit yang lalu” ucap David.

“Maaf ya, aku jadi membuat mu lama menunggu” ucap Nela.

“Tidak apa-apa. Oh ya, aku kesini karena aku ingin mengajak mu ke kampus bersama” ucap David.

“Nela, bukankah kau berangkat kekampus bersama dengan Hayden?” Ucap Andrew.

“Hehm entahlah, sepertinya tidak untuk hari ini” ucap Nela.

“Memangnya kenapa? Apa hari ini dia tidak masuk?” Ucap Shane.

“Aku tidak tahu Shane, mungkin dia sedang ada urusan jadi dia tidak bisa menjemput ku” ucap Nela.

Shane pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Baiklah Dav, aku akan berangkat ke kampus bersama dengan mu” ucap Nela seraya tersenyum.

David pun hanya menganggukkan kepalanya, dan wajahnya pun tampak bahagia karena hari ini ia berangkat ke kampus bersama dengan wanita yang ia cintai.

“Ayo sekarang kita sarapan dulu” ucap Shane.

Mereka pun segera menyantap sarapan bersama-sama.
Setelah selesai menyantap sarapan, Nela dan David segera bergegas untuk berangkat ke kampus.

“Baiklah, Shane, Andrew, aku berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela seraya berpamitan kepada Andrew dan Shane.

“Ya, kau hati-hati ya adik ku” ucap Shane seraya tersenyum dan mencium keningnya Nela.

“Ya my baby, benar kata Shane kau hati-hati ya. Jaga dirimu baik-baik baby” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.

“Iya kakak-kakak ku” ucap Nela seraya tersenyum.

“Apa tidak ada yang tertinggal?” Ucap Shane.

“Sepertinya tidak ada Shane” ucap Nela.

“Benarkah tidak ada yang tertinggal?” Ucap Andrew.

“Ya, benar Andrew” ucap Nela.

“Tapi hatiku masih tertinggal didalam hatimu baby” ucap Andrew.

Nela, Shane, dan David pun hanya tertawa.

“Baiklah, Shane, Andrew, aku berangkat ke kampus dulu ya. Terima kasih atas sarapannya, maaf aku jadi merepotkan kalian” ucap David.

“Tentu saja kau tidak merepotkan kami David. Oh ya, aku titip Nela ya tolong jaga dia baik-baik” ucap Shane.

“Aku juga titip Nela ya, tolong jaga dia dengan begitu baik. Karena dia adalah adik ku satu-satunya” ucap Andrew.

“Kalian tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik” ucap David.

Andrew dan Shane pun hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala. Lalu Nela dan David segera pergi menuju ke kampus mereka. Saat sedang dalam perjalanan menuju kampus, Nela begitu sibuk memainkan ponselnya. Dan tentu saja David yang duduk disebelahnya menyadari hal itu.

“Ada apa? Sepertinya kau tampak gelisah? Apa kau sedang sakit?” Ucap David seraya menyetir mobilnya.

“Tidak, aku baik-baik saja Dav” ucap Nela yang masih sibuk memainkan ponselnya.

“Lalu kenapa kau tampak gelisah seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan?” Ucap David.

“Tidak ada Dav” ucap Nela.

“Benarkah?” Ucap David.

“Iya Dav. Oh ya, apa kau tahu kemana Hayden? Dari tadi aku menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif” ucap Nela.

“Oh, jadi dari tadi kau gelisah karena kau sedang memikirkan Hayden” ucap David.

“Tidak seperti itu Dav, aku hanya merasa sedikit khawatir kepadanya karena biasanya jika ia tidak bisa menjemput ku ia selalu menghubungi ku atau mengirim pesan pada ku. Tapi tidak dengan hari ini” ucap Nela.

“Apa kau menyukainya?” Ucap David.

Nela pun sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh David.

“Ti... Tidak Dav, aku hanya menganggap sebagai senior ku sama seperti mu” ucap Nela dengan sedikit terbata-bata.

“Mungkin David benar, aku memang menyukai Hayden. Jika aku tidak menyukainya, tidak mungkin aku mengkhawatirkannya seperti ini” ucap Nela dalam hati.

“Lalu kenapa kau terlihat begitu mengkhawatirkannya?” Ucap David.

“Aku takut Roland melukainya atau membunuhnya Dav!” Ucap Nela.

“Oh, jadi kau sudah tahu kalau Hayden memanglah seorang Jumper?” Ucap David.

“Iya Dav, aku sudah mengetahuinya dan semua yang kau ceritakan itu adalah benar” ucap Nela.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau Hayden memang lah seorang Jumper?” Ucap David.

Nela pun menceritakan peristiwa ditoko buku itu kepada David.

“Mungkin sekarang ia sedang menjauhi mu agar kau tetap aman dari Roland, begitu pun juga dengan dirinya” ucap David.

“Apa? Hayden menjauhi ku agar aku tetap aman dari Roland? Sepertinya itu tidak mungkin” ucap Nela dalam hati.

“Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Biarkan saja, dia memang seperti itu” ucap David.

Dan tak lama mereka pun sampai dikampus tempat mereka kuliah. Nela dan David segera keluar dari mobilnya David.

“Terima kasih Dav, hari ini kau sudah mengantar ku ke kampus” ucap Nela.

“Ya, sama-sama Nela” ucap David seraya tersenyum.

Nela pun hanya tersenyum, matanya begitu sibuk mencari keberadaannya Hayden.

“Itu seperti Hayden” ucap Nela dalam hati ketika melihat seorang pria yang sedang berjalan.

“Oh ya, bagaimana jika nanti kau pulang bersama dengan ku?” Ucap David.

Nela pun hanya terdiam, lalu segera berlari menghampiri pria itu.

“Hayden!” Pekik Nela seraya berlari menghampiri pria itu.

Pria itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nela.

“Hayden” ucap Nela dengan nafas yang terengah-engah.

Dan ternyata benar, pria itu memanglah Hayden.

“Kau kemana saja? Dari tadi aku mencari mu, dan kenapa ponsel mu tidak aktif?” Ucap Nela.

Hayden hanya terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun dan pagi ini ia memang terlihat berbeda, tidak seperti biasanya jika ia bertemu dengan Nela ia tampak selalu ceria.

“Ada apa dengan mu? Apa kau marah pada ku?” Ucap Nela seraya menatap Hayden.

Namun Hayden tetap terdiam seraya menatap Nela dengan tatapan yang tidak biasanya.

“Hey! Kenapa kau diam saja?” Ucap Nela.

Hayden pun tetap terdiam dan segera pergi.

“Ada apa dengannya? Apa dia marah pada ku?” Ucap Nela yang begitu heran.

David pun segera menghampiri Nela yang masih terpaku.

“Hey! Apa kau baik-baik saja?” Ucap David seraya memegang pundaknya Nela.

“Ya, aku baik-baik saja Dav” ucap Nela.

“Ada apa dengan Hayden?” Ucap David.

“Entahlah, aku tidak tahu kenapa pagi ini ia terlihat begitu berbeda, benar-benar tidak seperti biasanya” ucap Nela.

“Sudahlah, biarkan saja mungkin ia sedang ingin sendiri” ucap David.

Nela pun hanya terdiam.

“Lebih baik sekarang kita ke kelas mu” ucap David seraya memegang pundaknya Nela.

“Ada apa dengan Hayden? Kenapa pagi ini ia terlihat begitu berbeda?” Ucap Nela dalam hati.


-------------


Saat waktu istirahat pun Nela menghampiri Hayden ke kelasnya, namun ia tidak ada disana.

“Kemana ya Hayden?” Ucap Nela seraya berjalan menuju taman kampus, dan berharap Hayden ada disana.

Dan ternyata benar, Hayden memang berada disana. Nela pun segera berlari menghampiri Hayden yang sedang duduk disebuah kursi seraya mendengarkan lagu dengan ipod dan earphone nya. Dan Nela segera duduk disampingnya Hayden, namun Hayden tidak ada reaksi apa-apa ia tetap terdiam seraya mendengarkan lagu. Nela pun juga terdiam seraya memperhatikan wajahnya Hayden yang terlihat tidak seperti biasanya.
Hayden pun ingin beranjak pergi, namun Nela menahan tangannya.

“Tolong lepaskan tangan ku” ucap Hayden.

“Aku tidak akan melepaskan tangan mu” ucap Nela.

“Apa mau mu?” Ucap Hayden yang tidak ingin menoleh ke arah Nela.

“Ada apa dengan mu? Kenapa hari ini kau terlihat sungguh berbeda? Apa kau marah pada ku?” Ucap Nela.

“Aku tidak marah pada mu” ucap Hayden.

“Lalu kenapa dari tadi kau selalu menjauh dari ku? Apa kau lakukan ini agar aku tetap aman dari Roland?” Ucap Nela.

“Tidak, aku hanya tak ingin Roland melukai mu” ucap Hayden.

“Kalau seperti ini Roland memang tidak akan melukai ku, tapi kau yang melukai ku!” Ucap Nela.

Hayden pun terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nela, ia segera menoleh ke arah Nela.
Lalu Nela pun melepaskan tangannya Hayden dan segera pergi meninggalkannya.

“Apa maksud kata-katanya Nela? Apa aku telah melukainya?” Ucap Hayden dalam hati.

Waktu pulang pun tiba, dan Nela segera pergi meninggalkan kelasnya.

“Nela!” Pekik David seraya berlari menghampirinya.

“Hey Dav” ucap Nela.

“Hey! Aku pikir kau sudah pulang duluan” ucap David.

“Tidak Dav” ucap Nela.

“Baiklah, bagaimana kalau kau pulang bersama dengan ku saja?” Ucap David.

“Ya” ucap Nela.

Dan mereka berdua berjalan menuju tempat parkir kampus, setelah sampai ditempat parkir kampus, mereka segera masuk kedalam mobilnya David dan mobilnya David melaju meninggalkan kampus.

“Maafkan aku Nela, aku tidak bermaksud bersikap seperti itu kepada mu. Aku hanya cemburu karena kau sudah memiliki kekasih, dan kekasih mu itu adalah seorang Vampire” ucap Hayden dalam hati seraya melihat ke arah Nela dan David yang sudah pergi meninggalkan kampus.

Sepanjang perjalanan menuju pulang Nela hanya terdiam saja.

“Apa kau masih memikirkan Hayden?” Ucap David seraya menyetir mobilnya.

“Tidak” ucap Nela.

“Lalu kenapa kau diam saja? Apa kau sedang sakit?” Ucap David.

“Tidak Dav, aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku” ucap Nela.

“Baiklah kalau seperti itu. Oh ya, apa kau ingin makan siang dulu?” Ucap David.

“Tidak Dav, aku ingin langsung pulang saja” ucap Nela.

“Baiklah kalau seperti itu” ucap David seraya menganggukkan kepalanya.

Dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela.
David dan Nela segera keluar dari mobilnya David, dan mereka segera masuk kedalam rumahnya Nela.

“Hey! Adik ku sudah pulang” ucap Andrew seraya menyambut hangat.

“Ya my bro” ucap Nela dengan nada pelan, seperti sedang tidak bersemangat.

“Hey! What happens baby?” Ucap Andrew yang menyadari kalau sikap adiknya tidak seperti biasanya.

Nela pun hanya menggelengkan kepalanya.

“David, apa yang terjadi dengan adik ku?” Ucap Andrew.

“Tidak ada, tapi hari ini dia memang seperti sedang tidak bersemangat” ucap David yang berdiri disampingnya Nela.

“Baby what happens?” Ucap Andrew seraya memegang kedua pundaknya Nela.

Nela pun kembali menggelengkan kepalanya, dan tiba-tiba saja ia terjatuh, namun dengan cepat Andrew segera menangkapnya.

“Nela! Nela my baby, come on wake up!” Ucap Andrew seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya Nela.

“Apa terjadi dengannya?” Ucap David.

“Entahlah, lebih baik sekarang kita bawa dia kekamarnya. Dan tolong hubungi dokter!” Ucap Andrew seraya menggendong Nela dan membawanya kekamarnya.

Setelah sampai dikamarnya Nela, Andrew segera merebahkan tubuhnya Nela diatas tempat tidur.

“Oh my baby, come on wake up! Tolong jangan buat aku begitu khawatir sepert ini” ucap Andrew yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaannya Nela.

“Aku sudah menghubungi dokternya, dan sebentar lagi ia akan datang ke sini” ucap David.

“Thank you David” ucap Andrew.

“Apa kau sudah menghubungi Shane?” Ucap David.

“Belum” ucap Andrew.

“Sebaiknya sekarang aku menghubunginya” ucap David seraya bersiap untuk menghubungi Shane.

“Jangan!” Pekik Andrew.

“Memangnya kenapa?” Ucap David.

“Shane sedang pergi bersama dengan kekasihnya, dan sebaiknya jangan ganggu dia” ucap Andrew.

“Tapi bukankah hal ini sangat penting? Shane harus tahu kalau sekarang Nela sedang tak sadarkan diri seperti ini” ucap David.

“Sebaiknya jangan beri tahu dia dulu. Biarkan saja, tunggu ia pulang karena aku tak ingin menganggu waktunya bersama dengan Gillian” ucap Andrew.

“Baiklah kalau seperti itu” ucap David seraya memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.

Sebenarnya Andrew begitu ingin menghubungi Shane dan memberi tahu kalau sekarang Nela sedang tak sadarkan diri, tapi ia tak ingin menganggu waktunya Shane.

“Sebenarnya apa terjadi dengannya di kampus?” Ucap Andrew.

“Tidak ada, setahu ku dia hanya sedang bertengkar dengan Hayden” ucap David.

“Bertengkar? Memangnya berdua sudah berpacaran?” Ucap Andrew.

“Tidak, mereka hanya berteman. Tapi sekarang mereka sedang bertengkar, dan aku tak tahu mereka bertengkar karena apa” ucap David.

“Pantas saja hari ini Hayden tidak menjemputnya” ucap Andrew.

Dan tak lama dokter pun datang dan memeriksa Nela.

“Bagaimana dengan keadaannya?” Ucap Andrew pada dokter.

“Anda tidak perlu khawatir, karena adik anda baik-baik saja dia hanya butuh banyak istirahat agar kondisinya cepat pulih kembali” ucap dokter yang memeriksa Nela.

“Baiklah kalau seperti itu, terima kasih dokter” ucap Andrew.


--------------


30 menit kemudian...

Andrew pun membuka pintu kamarnya Nela dengan pelan, dan ia berjalan menghampiri Nela.

“Adik ku, apa yang terjadi pada mu? Aku benar-benar khawatir pada mu. Ku mohon cepatlah sadar” ucap Andrew seraya mengusap-usap rambutnya Nela.

Andrew pun menatap Nela yang sedang tak sadarkan diri.

“Kalau seperti ini aku jadi benar-benar tak ingin kembali ke London. Aku ingin tetap berada disini, agar aku bisa selalu menjaga dan menemaninya” ucap Andrew seraya menatap wajahnya Nela.

Andrew pun menoleh ke arah jarum jam di jam dinding kamarnya Nela.

“Sudah siang, sebaiknya sekarang aku memasak sesuatu untuk Nela. Agar nanti ketika ia sadar, ia bisa langsung makan siang” ucap Andrew.

“Adik ku, kau tunggu dulu ya. Aku ingin memasak makan siang untuk mu, dan cepatlah sadar” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.

Andrew pun beranjak pergi meninggalkan kamarnya Nela, dan ia kembali menutup pintu kamarnya. Namun tiba-tiba ada seorang pria yang masuk kedalam kamarnya Nela.

“Nela, apa yang terjadi pada mu?” Ucap pria itu seraya menghampiri Nela.






My Love is Vampire - Chapter IX

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter IX”
Genre : Fantasy |  Romance | Thriller
Cast : Westlife | Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife


==================================================



Setelah ia menyalakan lampu kamarnya terlihat seorang pria bertubuh tinggi yang sedang berdiri dibelakang pintu kamarnya.

“Hayden” ucap Nela ketika melihat pria itu.

“Hey! Maaf ya, aku kesini malam-malam seperti ini” ucap Hayden.

Ternyata bayangan itu adalah bayangannya Hayden.

“Tidak apa-apa, ada perlu apa kau kerumah ku?” Ucap Nela.

“Tidak ada, aku hanya tidak bisa tidur jadi aku memutuskan untuk kerumah mu. Maaf ya, aku jadi menganggu waktu tidur mu kau pasti sudah ingin tidur ya. Sekali lagi maaf, sekarang aku akan pergi dari sini” ucap Hayden seraya ingin beranjak pergi.

“Hey! Tunggu” ucap Nela.

“Ada apa?” Ucap Hayden.

“Kenapa kau terburu-buru seperti itu? Kau kan baru saja datang” ucap Nela.

“Ya, tapi sekarang sudah malam sebaiknya aku pulang saja” ucap Hayden.

Tiba-tiba jendela kamarnya Nela terbuka dengan sendiri membuat Nela dan Hayden begitu terkejut.

“Kenapa jendelanya terbuka sendiri?” Ucap Hayden.

“Entahlah, aku juga tidak tahu” ucap Nela.

Nela pun mencoba melangkahkan kakinya untuk mendekati jendela kamarnya, namun Hayden menahan tangannya.

“Jangan kesana!” Ucap Hayden.

“Memangnya kenapa? Aku ingin melihat kenapa jendela kamarnya terbuka sendiri” Ucap Nela.

“Biar aku saja yang melihatnya” ucap Hayden.

Hayden pun berjalan mendekati jendela kamarnya Nela, lalu ia melihat keluar jendela kamarnya Nela.

“Tidak ada apa-apa” ucap Hayden.

Dan Nela pun berjalan mendekati Hayden.

“Tapi kenapa jendela kamarnya terbuka sendiri?” Ucap Nela.

“Mungkin tadi kau kurang benar menutupnya, makanya jendelanya terbuka sendiri” ucap Hayden.

“Tapi tadi aku sudah menutupnya dengan benar” ucap Nela.

Hayden pun segera menutup kembali jendela kamarnya Nela.

“Sebaiknya sekarang kau tidur ya. Dan aku harus segera pulang, sekali lagi maaf aku sudah menganggu waktu tidur mu” ucap Hayden.

“Ya, tidak apa-apa Hayden” ucap Nela.

“Baiklah, good night Nela and have a nice dream. Besok aku akan menjemput mu ya” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Iya Hayden, good night too” ucap Nela seraya tersenyum.

Hayden pun hanya tersenyum seraya segera berjalan menuju dinding kamarnya Nela, dan ia pun menghilang dengan cepat.

“Mark kemana ya? Kenapa malam ini dia tidak datang?” Ucap Nela seraya membalikkan badannya.

Ketika ia membalikkan badannya, betapa terkejutnya ia ketika melihat Mark yang sedang duduk ditepi tempat tidurnya.

“Mark!” Ucap Nela yang segera menghampiri Mark.

Mark pun hanya terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun.

“Mark, sejak kapan kau ada disini?” Ucap Nela.

“Memangnya aku tidak boleh berada disini?” Ucap Mark dingin.

“Tidak seperti itu” ucap Nela seraya duduk disampingnya Mark.

“Siapa pria tadi? Kenapa dia bisa ada dikamar mu?” Ucap Mark.

Nela pun hanya terdiam.

“Kenapa kau hanya diam saja? Siapa pria tadi? Sepertinya ia bukan manusia biasa” ucap Mark.

Dan lagi-lagi Nela pun hanya terdiam, karena tidak mungkin jika ia katakan tentang siapa Hayden yang sebenarnya.

“Kenapa kau tetap diam saja?” Ucap Mark.

“Hehm tidak, dia bukan siapa-siapa” ucap Nela.

“Lalu kenapa bisa berada dikamar mu?” Ucap Mark.

Dan Nela pun terdiam kembali.

“Sudahlah, kau tidak perlu mengatakannya karena aku sudah tahu siapa pria itu” ucap Mark.

Nela pun begitu terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mark.

“Tapi kau tenang saja, meskipun aku tahu siapa pria itu yang sebenarnya tapi aku tidak akan mengatakannya kepada siapa pun” ucap Mark.

“Benarkah itu?” Ucap Nela.

“Ya” ucap Mark dingin.

“Hehm, kenapa kau baru datang. Dari tadi aku sudah menunggu kedatangan mu” ucap Nela.

Mark pun hanya terdiam.

“Hey! Ada apa dengan mu? Kenapa malam ini kau terlihat begitu berbeda?” Ucap Nela.

“Sepertinya kau tidak perlu menanyakan hal itu pada ku” ucap Mark.

“Memangnya kenapa?” Ucap Nela.

Dan lagi-lagi Mark pun terdiam kembali.

“Kau sungguh berbeda malam ini” ucap Nela seraya menatap wajahnya Mark.

“Aku sudah datang dari tadi, tapi sepertinya kau begitu asyik dengan pria itu hingga kau tidak menyadari kedatangan ku” ucap Mark dengan wajah yang terlihat dingin.

“Apa kau cemburu dengan pria itu?” Ucap Nela.

Mark pun terdiam kembali.

“Oh ya, kau belum menjawab pertanyaan ku yang kemarin malam. Apa kau masih ingat dengan pertanyaan itu?” Ucap Nela.

Kini Mark hanya terdiam kembali, dan tentu saja hal itu membuat Nela menjadi sedikit kesal karena Mark selalu diam tanpa mengeluarkan satu kata pun.

“Hey! Kau bisa mendengar ku kan? Kenapa kau hanya diam saja!” Pekik Nela.

Dan Mark hanya terdiam kembali.

“Seharusnya waktu itu kau tidak perlu menyelamatkan ku dari Werewolf itu dan kau tidak perlu merasa harus selalu menjaga dan melindungi ku” ucap Nela.

“Aku melakukan hal itu karena aku menyukai mu!” ucap Mark seraya menoleh ke arah Nela.

Nela pun begitu terkejut mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Mark, dia tidak menyangka kalau Mark akan mengatakan kalimat itu.

“Apa kau serius dengan ucapan mu?” Ucap Nela.

“Ya, aku serius dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Aku menyukai mu sejak pertama kita bertemu, dan karena hal itu aku menyelamatkan mu dari Werewolf itu” ucap Mark.

Nela masih tidak percaya dengan kata-katanya Mark, ini seperti dalam sebuah cerita.

“Ya, aku tahu kita memang berbeda. Kau manusia dan aku hanya lah seorang Vampire, tapi tidak dapat aku mengelak, aku benar-benar mencintai mu sejak pertama kita bertemu dihutan itu” ucap Mark.

Jantungnya Nela berdetak dengan sangat kencang, disatu sisi ia begitu senang karena Mark juga mencintainya, namun disisi lain ia merasa bingung apa yang harus ia lakukan.

“Aku juga mencintai mu Mark. Sama seperti mu, aku mencintai mu sejak pertama kita bertemu” ucap Nela.

“Benarkah itu? Aku pikir pria tadi adalah kekasih mu” ucap Mark.

“Tidak, dia hanya senior di kampus ku” ucap Nela.

“Maafkan aku, tadi aku sempat cemburu dengan pria itu” ucap Mark.

“Ya, tidak apa-apa” ucap Nela.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada mu, mungkin aku bukanlah tipe seorang pria yang romantis. Tapi aku hanya ingin menjadi kekasih mu, meskipun kita berbeda” ucap Mark.

Nela pun hanya terdiam, sekarang dia benar-benar bingung harus mengatakan apa kepada Mark.

“Tapi itu semua terserah pada mu, aku tidak akan memaksa mu untuk menjadi kekasih ku karena ku tahu cinta tidak dapat dipaksakan” ucap Mark seraya menundukkan kepalanya.

“Aku mau menjadi kekasih mu!” Ucap Mark.

Sontak Mark pun terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nela.

“Meskipun kita berbeda?” Ucap Mark.

“Ya, perbedaan tidak dapat menghalangi Cinta” ucap Nela.

Mark pun hanya tersenyum seraya memeluk Nela.

“Itu artinya mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih” ucap Mark.

“Ya, kau benar. Tapi tolong lepaskan pelukannya, karena tubuh mu begitu dingin” ucap Nela.

Dan Mark pun segera melepaskan pelukannya.

“Aku tidak peduli jika nantinya aku akan dihukum atau dimasukkan kedalam neraka, karena yang terpenting adalah aku bisa selalu bersama dengan mu” ucap Mark.

“Ini seperti seekor Singa yang jatuh cinta pada Kelinci buruannya” ucap Nela.

“Ya kau benar! Tidak seharusnya sang singa jatuh cinta pada kelinci itu” ucap Mark.

Nela pun hanya tersenyum.

“Sekarang sudah larut malam, kau harus cepat tidur” ucap Mark.

“Lalu bagaimana dengan mu?” Ucap Nela.

“Aku akan kembali ke kastil” ucap Mark.

“Hehm baiklah kalau seperti itu” ucap Nela.

“Ya, selamat tidur ya semoga kau mimpi indah malam ini. Sampai nanti My Love” ucap Mark.

“Ya, sampai nanti My Vampire” ucap Nela.

Dan Mark pun segera pergi melalui jendela kamarnya Nela. Tak lupa ia kembali menutup jendela kamarnya.

“Sekarang aku dan Mark sudah menjadi sepasang kekasih. Lalu bagaimana dengan Andrew dan Shane? Tidak mungkin aku memberi tahu hal ini kepada mereka” gumam Nela seraya menaiki tempat tidurnya.

Dan Nela pun segera memejamkan matanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30. Dan seperti biasa yang dilakukan Shane saat pagi hari adalah menyiapkan sarapan pagi. Tak lama Nela pun datang dan segera memeluknya dari belakang.

“Good morning my brother” ucap Nela.

“Morning honey. Sepertinya pagi ini kau terlihat begitu ceria” ucap Shane.

“Benarkah?” Ucap Nela yang sedikit terkejut.

“Ya, what happens honey?” Ucap Shane.

“Hehm, nothing Shane” ucap Nela.

“Tapi tidak biasanya kau seperti ini” ucap Shane.

“Mungkin itu hanya menurut kau saja Shane” ucap Nela.

“Ya, mungkin saja” ucap Shane.

“Oh ya, Andrew kemana? Apa dia belum bangun?” Ucap Nela.

“Aku tidak tahu, mungkin dia masih dikamarnya” ucap Shane.

“Baiklah, aku akan segera ke kamarnya” ucap Nela seraya beranjak pergi menuju kamarnya Andrew.

“Maaf Shane, aku harus berbohong lagi pada mu, bahkan aku juga harus berbohong pada Andrew. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi sungguh tidak mungkin jika aku mengatakan hal yang sebenarnya kepada mu dan Andrew” ucap Nela dalam hati seraya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya Andrew.

Setelah sampai didepan pintu kamarnya Andrew, Nela segera mengetuk pintunya.

“Andrew, apa kau sudah bangun?” Ucap Nela dari luar kamarnya Andrew.

“Ya, aku sudah bangun” ucap Andrew dari dalam kamarnya.

“Lalu sedang apa kau didalam?” Ucap Nela.

“Aku sedang ganti baju! Kau tunggu saja, sebentar lagi aku akan keluar” ucap Andrew.

“Ya, baiklah” ucap Nela.

Seraya menunggu, Nela pun kembali memikirkan tentang hubungannya dengan Mark.

“Tapi mau bagaimana pun, suatu saat nanti Shane dan Andrew pasti akan mengetahui tentang hubungan ku dengan Mark” ucap Nela dalam hati.

Tanpa Nela sadari, Andrew pun sudah berdiri didepannya seraya memperhatikannya.

“What your thinking baby?” Ucap Andrew seraya menepuk pelan pundaknya Nela, dan tentu saja itu membuat lamunannya Nela menjadi buyar.

“Sejak kapan kau ada didepan ku?” Ucap Nela yang sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Andrew sudah berdiri didepannya.

“Mungkin sejak beberapa menit yang lalu. Apa yang sedang kau pikirkan?” Ucap Andrew.

“Tidak ada” ucap Nela.

“Benarkah?” Ucap Andrew seraya menaikkan kedua alisnya.

“Ya” ucap Nela.

“Adik ku, jika sedang ada yang kau pikirkan jangan ragu untuk berbagi cerita dengan ku. Aku selalu siap untuk mendengarkan cerita mu” ucap Andrew.

“Ya, tapi saat ini tidak ada yang sedang aku pikirkan” ucap Nela.

“Tapi kenapa tadi kau melamun?” Ucap Andrew.

“Hehm, aku hanya sedang memikirkan tugas kuliah saja” ucap Nela.

“Ya sudah kalau seperti itu. Sekarang ayo kita menuju ke ruang makan karena Shane pasti sudah menunggu kita disana” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.

Nela dan Andrew pun berjalan menuju ke ruang makan. Setelah sampai diruang makan, Nela sedikit terkejut melihat Shane yang sedang mengobrol dengan Hayden.

“Hayden” ucap Nela.

“Hey!” Ucap Hayden.

“Ternyata kau sudah datang” ucap Nela.

“Ya, aku baru saja datang” ucap Hayden.

“Ayo sekarang kita sarapan bersama” ucap Shane.

Mereka semua pun merapat ke meja makan, dan menyantap sarapan pagi bersama-sama.
30 menit kemudian mereka pun selesai menyantap sarapan pagi.

“Baiklah, Andrew, Shane, aku berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela seraya berpamitan kepada Andrew dan Shane.

“Iya adik ku, kau hati-hati ya” ucap Shane dan Andrew.

“Iya kakak-kakakku” ucap Nela.

“Andrew, Shane, aku juga berangkat ke kampus dulu ya. Terima kasih untuk sarapannya, maaf aku jadi merepotkan kalian” ucap Hayden.

“Tidak apa-apa Hayden, kita tidak merasa direpotkan oleh mu” ucap Shane.

“Terima kasih Shane, kalian begitu baik kepada ku” ucap Hayden.

Shane pun hanya tersenyum. Nela dan Hayden segera berjalan menuju halaman rumahnya Nela. Lalu mereka segera masuk kedalam mobilnya Hayden.

“Aku pikir pagi ini kita akan ke kampus dengan Jump” ucap Nela.

Hayden pun hanya tertawa kecil seraya menyalakan mesin mobilnya. Dan mobil Hayden melaju meninggalkan rumahnya Nela.

“Sebenarnya, aku takut jika Roland tiba-tiba datang” ucap Hayden seraya menyetir mobilnya.

“Kenapa kau harus takut?” Ucap Nela.

“Aku takut jika ia melukai mu” ucap Hayden.

“Kau tak perlu takut, dia tidak akan bisa melukai ku” ucap Nela.

“Sebaiknya jika ia datang aku menyerahkan diri saja agar ia tidak melukai mu” ucap Hayden.

“Kau tidak perlu lakukan itu!” Pekik Nela yang membuat Hayden sedikit terkejut.

“Tapi bagaimana dengan mu? Aku tak ingin dia melukai mu sedikit pun” Ucap Hayden.

“Percayalah padaku, Roland tidak akan melukai ku. Dan kau tak perlu menyerahkan diri kepadanya” ucap Nela.


---------------------


Waktu istirahat pun tiba. Nela berjalan keluar dari kelasnya seraya membawa sebuah novel ditangan kanannya.

“Hey! Pasti kau ingin ke taman ya?” Ucap Hayden.

“Ya, seperti yang kau tahu aku selalu menghabiskan waktu istirahat ku untuk membaca novel ditaman kampus” ucap Nela.

Nela dan Hayden pun berjalan menuju taman kampus. Setelah sampai ditaman kampus, mereka berdua segera duduk disebuah kursi panjang. Baru saja mereka duduk, tapi Hayden sudah melihat seseorang yang sedang mengawasi mereka.

“Ada apa?” Ucap Nela ketika melihat Hayden yang seperti sedang memandang seorang mata-mata.

“Tidak ada apa-apa. Kau tunggu disini ya, karena sekarang aku harus pergi!” Ucap Hayden.

“Kau mau kemana?” Ucap Nela.

“Ada urusan yang harus aku selesaikan, tenang saja aku akan segera kembali” ucap Hayden yang berlari menuju halaman belakang kampus.

“Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia terlihat seperti dikejar oleh seseorang” ucap Nela.

Hayden terus berlari menuju halaman belakang kampus, namun ada seorang pria paruh baya yang mengikutinya. Setelah sampai dihalaman belakang kampus, ia pun menghentikan langkahnya.

“Kau mau lari kemana lagi?” Ucap pria paruh baya itu.

Hayden pun mengatur nafasnya.

“Kau hebat juga ya, tapi sayangnya mau kemana pun kau pergi aku akan selalu menemukan mu! Dan sungguh tidak ku sangka, jika kau melarikan diri ke Ireland” ucap pria paruh baya itu seraya meletakkan sebuah koper yang ia bawa.

“Kenapa kau selalu mengikuti ku? Apa kau tidak puas sudah membunuh kekasih ku?” Ucap Hayden.

“Tentu saja aku tidak puas dengan hal itu, karena yang aku inginkan adalah diri mu. Dan kemana pun kau pergi aku akan selalu mengikuti mu, karena aku ingin membunuh mu!” Ucap pria itu.

“Kau tidak akan bisa membunuh ku Roland!” Ucap Hayden.

Ya, pria paruh baya itu adalah Roland. Seorang pemburu Jumper, yang telah membunuh Rachel kekasihnya Hayden.

“Ya, kita lihat saja nanti siapa yang setelah ini akan mati seperti kekasih mu itu” ucap Roland.

Hayden pun langsung teringat pada Nela.

“Tapi ternyata kau cepat melupakan kekasih mu yang telah mati itu ya. Baru saja ia mati beberapa tahun yang lalu, tapi sekarang kau sudah dekat dengan seorang wanita” ucap Roland.

“Kau jangan salah paham, kami hanya teman dan aku tidak punya perasaan apapun kepadanya” ucap Hayden.

“Kau tidak perlu membohongi perasaaan mu sendiri, aku bisa melihat kau terlihat begitu bahagia saat berada didekatnya” ucap Roland.

Hayden pun terdiam, ia merasa kalau apa yang dikatakan oleh pria itu memanglah benar.

“Sudahlah, sepertinya kita sudah membuang banyak waktu. Sekarang aku punya pertanyaan untuk mu” ucap Roland seraya mengeluarkan sebuah alat dari dalam tas yang ia bawa.

“Pertanyaan adalah, kau mau menyerahkan diri mu kepada ku atau...” Ucap Roland.

“Jangan kaitkan aku dengannya. Sudah ku bilang, kami berdua hanya teman biasa. Jadi kau tidak perlu melukainya!” ucap Hayden.

“Sepertinya kau sudah tahu apa yang ingin aku katakan. Ya, kau tenang saja aku tidak akan melukainya sedikitpun, tapi itu kalau kau ingin menyerahkan diri mu pada ku” ucap Roland.

Dan lagi-lagi Hayden pun terdiam, tanpa mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.

“Kenapa kau diam saja? Pasti sulit ya untuk memilihnya? Ya, jika memang benar kau tidak mencintainya, maka kau bisa pilih dia dan kau akan aman untuk sementara” ucap Roland.

“Jangan lukai dia! Baiklah, sekarang aku akan menyerahkan diri ku pada mu!” Ucap Hayden.

“Jawaban yang bagus, kenapa dulu kau tidak mengeluarkan kata-kata itu? Mungkin jika dari dulu kau menyerahkan diri, maka aku tidak akan membunuh kekasih mu itu” ucap pria itu.

Dan lagi-lagi Hayden hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya. Ia tahu ini bukan pilihan yang tepat, tapi ia tidak ingin jika Roland melukai Nela.

“Baiklah, sekarang kemarilah kepada ku” ucap Roland.

Hayden pun berjalan mendekati Roland, jantungnya berdetak sangat kencang, keringat dingin pun mulai membasahi tubuhnya. Namun tiba-tiba terdengar suara Nela yang memanggil nama Hayden.

“Hayden... Hayden, where are you?”.

“Lebih cepat jalannya” ucap Roland.

Hayden pun terus berjalan mendekati Roland, namun Nela terus memanggil namanya.

“Hayden... Hayden... Hayden, hey! Dimana kau?”.

Tiba-tiba dengan cepat Hayden berlari meninggalkan Roland begitu saja, dan ia segera menghampiri Nela yang sedang berjalan menuju halaman belakang kampus.

“Hey! Maaf ya, aku terlalu lama meninggalkan mu sendiri” ucap Hayden dengan nafas yang terengah-engah.

“Ya, tidak apa-apa. Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti sedang dikejar-kejar oleh seseorang?” Ucap Nela.

“Tidak, aku baik-baik saja. Tadi ada urusan yang harus aku selesaikan” ucap Hayden.

“Urusan apa?” Ucap Nela.

“Sudahlah, sekarang kita harus pergi dari sini karena disini bukan tempat yang aman untuk mu” ucap Hayden seraya menarik tangannya Nela.

Sementara Roland baru sadar kalau Hayden sudah tidak lagi bersamanya.

“Menyebalkan! Lagi-lagi ia kabur!” Gerutu Roland.

“Tapi kita lihat saja nanti!” Ucap Roland seraya beranjak pergi.

Tak lama Nela dan Hayden pun sampai ditaman kampus.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Ucap Nela.

“Dia telah datang” ucap Hayden seraya mengatur nafasnya.

“Dia? Dia siapa?” Ucap Nela.

“Roland” ucap Hayden.

“Apa?” Ucap Nela yang terlihat terkejut ketika mendengar nama Roland.

“Ya, Roland telah datang. Sekarang dia ada disini” ucap Hayden.

“Lalu apakah tadi kau bertemu dengannya?” Ucap Nela.

“Ya, tadi aku bertemu dengan Roland” ucap Hayden.

“Tapi dia tidak melukai mu kan?” Ucap Nela.

“Dia tidak melukai ku, karena aku berhasil melarikan diri darinya” ucap Hayden.

“Baguslah kalau seperti itu” ucap Nela seraya menarik nafas lega.

“Tapi yang ku takutkan adalah kalau ia berhasil menemukan mu” ucap Hayden.

“Ya, dia pasti akan menemukan ku. Tapi dia tidak akan bisa melukai ku” ucap Nela.

“Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi” ucap Hayden.

Nela pun hanya tersenyum, dan Hayden membalas senyumannya.


--------------


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Seperti biasa Shane sedang pergi berburu Vampire, dan kini Nela sedang duduk ditepi tempat tidurnya seraya melamunkan sesuatu.

“Hehm, kenapa Mark belum datang ya?” Gumam Nela.

Dan tiba-tiba ada seseorang yang mengawasinya dari balik jendela kamarnya.

“Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat, karena kini wanita itu sedang sendiri” ucap seseorang yang sedang mengawasinya dari balik jendela kamarnya.

Seseorang itu terus mengawasi Nela dari balik jendela kamarnya. Dan ketika ia ingin masuk ke dalam kamarnya Nela, tiba-tiba saja ia ada seseorang yang menghalanginya.

“Siapa kau?” Ucap orang itu.

“Kau yang siapa? Sedang apa kau disini?” Ucap seorang pria yang menghalangi langkahnya.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku! Dan sebaiknya kau jangan halangi langkah ku” ucap orang itu.

Pria itu menoleh ke arah Nela yang sedang melamunkan sesuatu didalam kamarnya.

“Apa yang ingin kau lakukan padanya?” Ucap pria itu.

“Itu bukan urusan mu! Dan sebaiknya kau pergi dari sini, atau aku akan membunuh mu!” Ucap orang itu.

“Silahkan saja, jika kau bisa melakukannya” ucap pria itu.