Senin, 23 Maret 2015

My Love is Vampire - Chapter XI

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter XI”
Genre : Fantasy, Romance, Thriller.
Cast : Westlife & Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife
============================
Pria itu pun duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
“Maaf atas sikap ku tadi dikampus. Sejujurnya aku tak ingin bersikap seperti itu padamu, aku hanya cemburu ketika aku mendengar kau sudah memiliki seorang kekasih” ucap pria itu.
Ternyata pria itu adalah Hayden.
“Aku berjanji aku akan selalu menjaga dan melindungi mu dari siapa pun, terutama dari Roland. Dan akan ku pastikan Roland tidak akan bisa membunuh mu atau melukai sedikit pun” ucap Hayden.
Hayden pun menarik nafas.
“Apa benar yang dikatakan oleh Roland, kalau kau sudah memiliki seorang kekasih? Dan kekasih mu itu adalah seorang Vampire?” Ucap Hayden seraya menatap Nela yang sedang tak sadarkan diri.
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamarnya Nela, dengan cepat Hayden pun segera pergi meninggalkan kamarnya Nela.
“Hehm, ternyata dia belum sadar juga” ucap Andrew seraya memasuki kamarnya Nela dengan membawa makanan dan minuman.
Andrew pun meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa dimeja yang berada disamping tempat tidurnya Nela.
“Nela my little sist, please wake up. Open your eyes... I very need you in here” ucap Andrew seraya duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
“Andai kau tahu, aku begitu sedih melihat mu seperti ini. Kau adalah adik ku satu-satunya, dan aku sangat menyayangi mu” ucap Andrew seraya mengusap-usap rambutnya Nela.
Tak lama Nela pun mulai sadarkan diri, perlahan ia membuka kedua matanya.
“Aku ada dimana?” Ucap Nela.
“Baby, syukurlah kau sudah sadar. Aku begitu mengkhawatirkan diri mu” ucap Andrew.
“Sadar? Memangnya aku kenapa?” Ucap Nela.
“Tadi kau tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri” ucap Andrew.
Nela pun mulai mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
“Hehm, ya aku ingat kalau tadi aku tak sadarkan diri” ucap Nela.
“Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kau baru saja sadar, dan kata dokter kau butuh banyak istirahat agar kondisi mu cepat pulih kembali” ucap Andrew.
“Andrew, Shane kemana?” Ucap Nela.
“Shane sedang pergi bersama dengan Gillian, dan aku belum memberi tahu kalau kau sempat tak sadarkan diri” ucap Andrew.
“Sebaiknya kau tak perlu memberi tahunya, karena jika ia tahu pasti ia akan begitu mengkhawatirkan diriku” ucap Nela.
“Tidak apa-apa, dia memang harus tahu tentang hal itu. Lebih baik sekarang kau makan dulu ya, aku sudah membuatkan makan siang untuk mu” ucap Andrew.
“Nanti saja Andrew, sekarang aku belum lapar” ucap Nela.
“Kau harus makan adik ku. Ya, meskipun masakkan ku tidak seenak masakkannya Shane, tapi setidaknya makanan yang ku masak bisa membuat perut mu menjadi kenyang” ucap Andrew.
“Tidak seperti itu Andrew, masakkan mu tidak kalah enak dengan masakkannya Shane” ucap Nela.
“Kalau seperti itu, sekarang kau harus makan! Karena makanan ini spesial aku masak hanya untuk mu” ucap Andrew.
“Really?” Ucap Nela seraya mengangkat kedua alisnya.
“Yeah, of course my baby!” Ucap Andrew seraya menganggukkan kepalanya.
“Ya, I'm trust you my bro” ucap Nela seraya menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah, sekarang kau makan dulu ya” ucap Andrew.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku suapin ya?” Ucap Andrew.
“Tidak perlu, memangnya kau pikir aku anak kecil” ucap Nela.
“Bukan seperti itu. Tapi aku ingin menyuapi mu, lagi pula kau kan lagi sakit” ucap Andrew.
“Ya, baiklah kalau seperti itu” ucap Nela.
Andrew pun hanya tersenyum seraya menyuapi Nela. Dan tak lama Shane pun pulang. Shane segera masuk kedalam rumahnya.
“Kenapa rumah ini sepi sekali? Adik-adik ku ada dimana ya?” Gumam Shane seraya menaiki anak tangga untuk menuju kekamarnya dan kamar adik-adiknya.
“Nela! Andrew! Kalian ada dimana?” Pekik Shane seraya terus berjalan menaiki anak tangga.
“Kami sedang berada dikamarnya Nela!” Pekik Andrew dari dalam kamarnya Nela.
Shane pun berjalan menuju kamarnya Nela. Setelah sampai dikamarnya Nela, Shane melihat Andrew sedang menyuapi Nela. Dan Nela tampak sedikit pucat, Shane pun segera berlari menghampiri Nela dan Andrew.
“Nela, apa terjadi pada mu? Kenapa kau terlihat pucat? Apa kau sedang sakit?” Ucap Shane yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaannya Nela.
“Kau tenang saja Shane, aku baik-baik saja” ucap Nela yang mencoba membuat Shane menjadi sedikit lebih tenang.
“Tapi kenapa kau terlihat pucat? Andrew, apa terjadi pada Nela?” Ucap Shane.
Andrew pun hanya terdiam seraya menoleh ke arah Nela.
“Hey! Kenapa kau diam saja?” Ucap Shane.
“Shane, kau tidak perlu begitu khawatir seperti itu karena aku baik-baik saja” ucap Nela.
“Kalau kau baik-baik saja tidak mungkin kau pucat sepert itu. Kau pasti sedang sakit” ucap Shane.
“Nela hanya kelelahan saja Shane, tadi dia sempat tak sadarkan diri. Tapi kau tenang saja, kata dokter dia baik-baik saja namun ia membutuhkan banyak istirahat agar kondisinya cepat pulih kembali” ucap Andrew.
“Apa? Tak sadarkan diri? Kenapa kau tak menghubungi ku?” Ucap Shane yang terlihat marah pada Andrew.
“Maaf Shane, aku hanya tak ingin menganggu waktu mu dengan Gillian. Karena ku tahu Gillian begitu penting untuk mu, jadi aku memutuskan untuk tidak menghubungi mu” ucap Andrew.
“Ya, kau benar. Gillian memang begitu penting untuk ku, namun Nela juga sangat penting untuk ku! Jadi jika terjadi sesuatu padanya, kau harus menghubungi ku!” Ucap Shane.
“Iya Shane, maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengulangnya kembali” ucap Andrew.
“Sudahlah Shane, kau jangan terus memarahi Andrew. Kasihan dia, dan lagi pula ini bukan salahnya” ucap Nela.
“Tapi seharusnya ia menghubungi ku, agar aku bisa cepat-cepat pulang. Bukan seperti ini!” Ucap Shane yang masih terlihat marah pada Andrew.
“Sudahlah Shane, tidak perlu diperbesar masalahnya” ucap Nela seraya mengusap-usap bahunya Shane.
“Tidak apa-apa Nela, ini memang salah ku jadi kau tidak perlu membela ku. Sekali lagi maafkan aku Shane” ucap Andrew.
Shane pun hanya terdiam, namun wajahnya masih terlihat sedikit kesal.
“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap Shane pada Nela.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang” ucap Nela.
“Syukurlah kalau kau baik-baik saja” ucap Shane seraya mengusap-usap kepalanya Nela.
Nela pun hanya tersenyum.
“Baiklah, aku mau ganti baju dulu ya” ucap Shane.
“Iya Shane” ucap Nela.
Shane pun segera pergi meninggalkan kamarnya Nela. Sementara Andrew masih tetap berada dikamarnya Nela. Kini ia hanya terdiam setelah Shane memarahinya.
“Andrew my bro, sudahlah jangan kau pikirkan, Shane kalau sedang marah memang seperti itu” ucap Nela seraya memeluk Andrew dari belakang.
“Tidak apa-apa adik ku, itu memang salah ku. Seharusnya aku segera menghubungi Shane ketika kau tak sadarkan diri” ucap Andrew.
“Sudahlah, lupakan saja tentang hal itu. Kau tidak perlu memikirkannya” ucap Nela.
Andrew pun hanya terdiam. Nela pun juga terdiam seraya menatap wajahnya Andrew.
----------------------
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 21.00. Malam ini Shane tidak pergi berburu Vampire, karena ia masih mengkhawatirkan keadaannya Nela.
Dan kini Nela sedang termenung didalam kamarnya seraya menatap keluar jendela kamarnya. Namun tiba-tiba Hayden datang dan duduk disampingnya.
“Hey!” Ucap Hayden.
Nela pun menoleh ke arah Hayden.
“Ada apa kau datang ke sini malam-malam?” Ucap Nela.
“Aku hanya ingin meminta maaf pada mu atas sikap ku pada mu tadi dikampus” ucap Hayden.
“Ya, aku sudah memaafkannya” ucap Nela yang terlihat sedikit dingin.
“Bagaimana keadaan mu sekarang? Apa kau sudah lebih baik?” Ucap Hayden.
Nela pun sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Hayden.
“Dari mana kau tahu kalau tadi aku sempat tak sadarkan diri?” Ucap Nela.
“Tadi aku datang kesini ketika kau tak sadarkan diri” ucap Hayden.
Nela pun hanya terdiam seraya terus menatap keluar jendela kamarnya.
“Apa kau masih marah pada ku?” Ucap Hayden seraya menatap Nela.
“Tidak” ucap Nela dingin.
“Aku benar-benar minta maaf, aku bersikap dingin dan menjauhi mu agar Roland tidak membunuh mu” ucap Hayden.
Nela pun hanya terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun.
“Aku akan segera menyerahkan diri pada Roland, agar kau tetap aman dan Roland tidak akan membunuh mu” ucap Hayden.
“Kau tidak perlu lakukan itu! Jangan pernah menyerahkan diri mu kepada Roland” ucap Nela.
“Memangnya kenapa?” Ucap Hayden.
“Roland adalah seorang pemburu Jumper, dan kau ingin menyerahkan diri begitu saja kepadanya? Jika kau melakukannya, maka kau adalah orang yang sangat bodoh!” Ucap Nela.
“Aku lakukan itu demi kau, aku tak ingin Roland membunuh atau melukai mu sedikit pun” ucap Hayden.
Nela pun menoleh ke arah Hayden.
“Kenapa kau lakukan itu?” Ucap Nela.
“Karena aku mencintai mu” ucap Hayden seraya menatap Nela.
Suasana pun berubah menjadi hening, dan Nela hanya terdiam ketika mendengar jawaban dari Hayden.
Lalu Nela pun kembali menatap keluar jendela kamarnya, dan tiba-tiba ia melihat Mark yang sedang berdiri didepan jendela kamarnya.
“Hayden, lebih baik sekarang kau pergi dari kamar ku” ucap Nela.
“Kenapa? Apa kau marah karena aku mengatakan hal itu?” Ucap Hayden.
“Aku tidak marah, aku hanya mengantuk dan aku harus istirahat” ucap Nela.
“Baiklah kalau seperti itu, besok aku akan menjemput mu seperti biasa, tapi kalau kau masih sakit kau jangan memaksakan diri untuk pergi ke kampus” ucap Hayden.
“Iya” ucap Nela.
“Good night Nela, beristirahatlah agar kau cepat sembuh” ucap Hayden seraya tersenyum.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya membalas senyumannya Hayden. Dan Hayden pun segera pergi meninggalkan kamarnya Nela. Lalu dengan cepat Nela berjalan menuju jendela kamarnya, dan segera membukanya.
“Mark, masuklah” ucap Nela ketika melihat Mark yang dari tadi sudah berdiri diluar jendela kamarnya Nela.
Mark pun segera masuk, dan mereka duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
“Siapa pria tadi?” Ucap Mark yang terlihat sedikit dingin.
“Dia adalah Hayden, dan dia adalah senior dikampus ku” ucap Nela.
“Ada perlu apa dia malam-malam menemui mu?” Ucap Mark.
“Tidak ada, dia hanya menjenguk ku saja” ucap Nela.
“Menjenguk? Memangnya kau sakit apa?” Ucap Mark.
“Aku hanya kelelahan saja hingga tadi siang aku sempat tak sadarkan diri” ucap Nela.
“Tapi sekarang kau baik-baik saja kan?” Ucap Mark.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang” ucap Nela.
“Apakah seorang Jumper yang pak tua maksud itu adalah Hayden?” Ucap Mark.
“Ya, seorang Jumper yang Roland maksud adalah Hayden” ucap Nela.
“Kau terlihat begitu dekat dengannya” ucap Mark.
“Kami dekat hanya sebagai senior dan junior saja, tidak lebih dari itu jadi kau tidak perlu cemburu padanya” ucap Nela.
Mark pun hanya terdiam. Dan tanpa mereka sadari Hayden sedang memperhatikan mereka berdua dari belakang pintu kamarnya Nela.
“Ternyata benar apa yang Roland katakan, Nela memang sudah memiliki seorang kekasih dan kekasihnya itu adalah seorang Vampire” ucap Hayden dalam hati.
Hayden terus memperhatikan Nela dan Mark yang mengobrol.
“Aku tak peduli, meskipun Nela sudah memiliki seorang kekasih tapi aku akan terus mendekatinya!” Ucap Hayden dalam hati.
“Aku ingin sekarang kau mengajak ku ke kastil tempat kau dan para Vampire tinggal, tapi itu jika kau tidak merasa keberatan” ucap Nela.
“Kenapa kau ingin sekali ke kastil tempat ku tinggal?” Ucap Mark.
“Entahlah, aku hanya ingin melihat bagaimana kastil tempat kau tinggal. Apakah kastil itu sepertil kastil para Vampire yang ku lihat di film-film?” Ucap Nela.
Mark pun kembali terdiam, kini ia seperti sedang berpikir. Dan ia pun menarik nafas panjang.
“Baiklah, sekarang aku akan mengajak mu ke kastil tempat aku tinggal” ucap Mark.
“Benarkah?” Ucap Nela.
“Ya” ucap Mark.
“Tapi bagaimana caranya?” Ucap Nela.
“Mendekatlah pada ku” ucap Mark.
Nela pun berjalan mendekati Mark.
“Peluklah aku dengan kuat, agar nanti kau tidak terjatuh” ucap Mark.
Dan Nela pun segera memeluk Mark dari samping.
“Apa sekarang kau sudah siap untuk menuju ke kastil ku?” Ucap Mark.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera meninggalkan kamarnya Nela dan menuju ke kastilnya Mark.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk tiba dikastilnya Mark, hanya dengan hitungan menit saja mereka sudah sampai dikastilnya Mark.
Baru saja mereka tiba dikastilnya Mark, tapi mereka sudah disambut oleh beberapa Vampire.
“Tetaplah berada disamping ku!” Ucap Mark
Nela pun kembali menganggukkan kepalanya. Vampire-Vampire itu melihat ke arah Nela dan Mark, dan ada salah satu dari mereka yang berjalan mendekati Nela.
“Jangan dekati wanita ini jika kalian ini tetap hidup!” Pekik Mark.
“Mark, sepertinya kau bawa makan malam untuk kami” ucap seorang Vampire.
“Wanita ini adalah kekasih ku” ucap Mark.
“Apa? Kekasih mu? Tapi aku mencium aroma darah segar yang mengalir didalam tubuhnya. Dan sepertinya tidak mungkin jika dia adalah Clan Vampire seperti kita” ucap Vampire itu.
Mark pun segera membawa Nela masuk kedalam kastil.
“Apa mereka adalah Vampire yang masih yang kau maksud itu?” Ucap Nela.
“Ya, mereka adalah Vampire yang masih meminum darah langsung dari tubuh korbannya” ucap Mark.
Tiba-tiba mereka disambut oleh seorang Vampire pria yang berambut agak kekuningan, dan ia adalah Kian, teman dekatnya Mark.
“Hey Ki!” Ucap Mark.
“Hey Mark! Siapa wanita yang berdiri disamping mu itu?” Ucap Kian.
Mark pun terdiam seraya menoleh ke arah Nela.
“Apakah dia adalah seorang wanita yang kau ceritakan pada ku?” Ucap Kian.
“Kau benar Ki, dia memang seorang wanita yang aku ceritakan pada mu dan dia juga kekasih ku” ucap Mark.
Kian pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Oh ya, Nela ini adalah Kian Egan teman dekat ku. Dan Kian ini adalah Nela kekasih ku” ucap Mark.
Nela dan Kian pun saling berjabat tangan.
“Oh, aroma darahnya... Mark, bagaimana bisa kau bertahan berada disampingnya?” Ucap Kian seraya menutup hidungnya.
“Itu karena cinta ku kepadanya Ki” ucap Mark.
“Mark, ku harap kau tak pernah ingin untuk mencoba mencicipi darahnya dan ku harap kau tak tergoda dengan aroma darahnya” ucap Kian.
“Ya, ku pastikan itu tidak akan pernah terjadi” ucap Mark.
Dan tak lama seorang Vampire wanita pun datang menghampiri mereka.
“Hey, kalian sedang apa disini?” Ucap Vampire wanita itu.
“Hey Jodi! Kami hanya sedang mengobrol saja” ucap Mark.
Jodi pun juga mencium aroma darah yang mengalir didalam tubuhnya Nela.
“Mark, siapa wanita ini? Sepertinya dia adalah seorang manusia” ucap Vampire wanita itu yang bernama Jodi, kekasihnya Kian.
“Ya, dia memang seorang manusia, dan namanya Nela ia adalah kekasih ku” ucap Mark.
“Apa? Kekasih mu? Kau berpacaran dengan seorang manusia?” Ucap Jodi yang sedikit terkejut.
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang Jodi” ucap Mark.
“Benar-benar sulit untuk dipercaya” ucap Jodi.
“Tapi itu lah kenyataannya babe” ucap Kian.
“Tapi kau hebat Mark, kau bisa bertahan berada disampingnya padahal aroma darahnya begitu menggoda” ucap Jodi.
“Aku sudah berjanji kalau aku tidak akan pernah mencicipi darahnya sedikit pun, karena aku tak ingin ia menjadi Vampire seperti kita” ucap Mark.
Nela pun hanya terdiam seraya menoleh ke arah Mark. Mark pun hanya tersenyum seraya merangkul pundaknya Nela.
“Mark, sebaiknya kau cepat bawa Nela pergi dari sini karena disini bukan tempat yang aman untuknya” ucap Kian.
“Iya Mark, benar apa yang dikatakan oleh Kian” ucap Jodi.
“Baiklah kalau seperti itu, aku akan segera membawanya pergi dari sini” ucap Mark.
Mark pun segera membawa Nela pergi meninggalkan kastilnya.
--------------------
Tak lama mereka pun tiba dikamarnya Nela.
“Sekarang kau harus tidur dan beristirahatlah agar kesehatan mu cepat pulih kembali” ucap Mark.
“Tapi aku masih ingin bersama dengan mu” ucap Nela.
“Kau tenang saja, malam ini aku akan menjaga dan menemani tidur mu” ucap Mark.
“Benarkah?” Ucap Nela.
“Ya, sekarang kau tidurlah My Love” ucap Mark seraya memegang pundaknya Nela.
“Baiklah” ucap Nela seraya menaiki tempat tidurnya.
Nela pun merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, dan Mark duduk ditepi tempat tidurnya Nela.
“Good night My Vampire” ucap Nela.
“Good night too My Love” ucap Mark seraya tersenyum dan mencium keningnya Nela.
Nela pun hanya tersenyum seraya memejamkan matanya.
30 menit kemudian...
Mark tetap menemani tidurnya Nela seraya menatap wajahnya Nela, dan tiba-tiba Hayden datang.
“Ternyata kekasihnya Nela adalah kau” ucap Hayden.
“Kau pasti Hayden? Seorang Jumper yang membuat Roland ingin melukai kekasihku” ucap Mark.
“Ya, kau benar. Aku adalah Hayden, dan aku memanglah seorang Jumper. Kalau soal Roland, kau tak perlu khawatir akan ku pastikan Roland tidak akan bisa membunuh atau melukai Nela sedikit pun” ucap Hayden.
“Kenapa kau bisa memastikan hal itu?” Ucap Mark.
“Karena aku akan selalu menjaga dan melindungi Nela” ucap Hayden.
“Aku berterima kasih pada mu karena kau melakukan hal itu” ucap Mark.
“Kau tak perlu berterima kasih, karena aku melakukan hal itu bukan karena kau tapi karena Nela” ucap Hayden.
“Apa maksud mu berbicara seperti itu?” Ucap Mark.
“Kau tak perlu tahu kenapa aku berbicara seperti itu!” Ucap Hayden.
“Apa kau juga mencintai nya?” Ucap Mark.
“Kau ini pintar sekali dalam menebak! Dan tebakkan mu memanglah benar, bahkan sangat benar” ucap Hayden seraya tertawa.
“Kenapa kau juga mencintainya?” Ucap Mark.
“Aku mencintainya sejak pertama aku bertemu dengannya” ucap Hayden.
“Lebih baik mulai sekarang kau jauhi dia” ucap Mark.
“Apa kau bilang? Jauhi dia? Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menjauhi Nela meskipun aku harus menyerahkan diriku pada Roland!” Ucap Hayden.
“Ternyata kau keras kepala juga ya. Dia sudah memiliki kekasih, jadi kau harus menjauhinya!” Ucap Mark.
“Apa kau tidak mengerti dengan yang aku ucapkan? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjauhinya!” Ucap Hayden.
“Apa mau mu?” Ucap Mark.
“Aku ingin memilikinya! Dan aku ingin selalu bersama dengannya” ucap Hayden.
“Kau tidak akan bisa memilikinya, karena aku tidak akan pernah melepaskannya!” Ucap Mark.
“Ya, kita lihat saja nanti! Dan aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya sampai dia menjadi milik ku” ucap Hayden.
Mark pun menatap Hayden dengan tatapan yang tajam, terlihat sekali Mark begitu marah dengan Hayden namun ia tidak ingin bertengkar dengan Hayden.
“Sudahlah kita jangan berisik, karena kita bisa menganggu tidurnya Nela. Kasihan dia terlihat begitu lelah” ucap Hayden seraya menatap wajahnya Nela.
Mark pun hanya terdiam seraya menarik nafas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar