Minggu, 08 Maret 2015

My Love is Vampire - Chapter X

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter X“
Genre : Fantasy | Rmance | Triller
Cast : Westlife | Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife



==================================================


“Menyebalkan! Sudah bosan hidup kau rupanya!” Ucap orang itu seraya mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku celananya.

“Kau tidak akan bisa membunuhku!” Ucap pria itu seraya tersenyum.

“Rupanya kau adalah seorang Vampire!” Ucap orang itu ketika melihat dua buah taring dari balik bibir pria itu.

“Ya, kau benar pak tua! Dan sekarang kau harus pergi dari sini” ucap pria itu.

“Aku tidak akan pergi dari sini karena aku ingin membunuh wanita itu!” Ucap orang itu.

“Kau tidak akan bisa membunuh atau melukai wanita itu karena aku akan selalu menjaga dan melindunginya” ucap pria itu.

“Untuk apa kau melindunginya?” Ucap Roland.

“Karena dia adalah kekasih ku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun membunuh atau melukainya sedikit pun!” Ucap Mark.

“Oh, rupanya wanita itu adalah kekasih mu. Pantas saja sekarang kau ada disini” ucap orang itu.

“Jangan banyak bicara, sebaiknya sekarang kau pergi dari sini sebelum aku menghisap habis darah mu!” Ucap pria itu.

“Bukankah sudah ku bilang, aku tidak akan pergi dari sini!” Ucap orang itu seraya menembakkan pistol ke arah pria itu.

DORRR...

Suara tembakkan terdengar begitu jelas, hingga membuat Nela tersadar dari lamunannya.

“Suara apa itu? Seperti suara tembakkan” ucap Nela seraya berjalan menuju jendela kamarnya.

Perlahan Nela pun membuka jendela kamarnya, dan ia melihat Mark sedang bersama seorang pria paruh baya.

“Mark!” Ucap Nela.

Dan Mark pun menoleh ke arahnya.

“Dan kau siapa?” Ucap Nela ketika melihat pria paruh baya yang sedang memegang sebuah pistol ditangannya.

“Sepertinya aku tidak perlu memberi tahu siapa aku, karena sepertinya seorang Jumper itu telah menceritakan tentang diriku kepada mu” ucap orang itu.

“Roland! Jadi kau adalah Roland!” Ucap Nela.

“Ya, aku adalah Roland. Ternyata begitu cepat kau tahu tentang aku” ucap orang itu yang ternyata memanglah Roland.

“Nela, sebaiknya sekarang kau masuk dan tutup kembali jendelanya!” Ucap Mark.

“Tapi bagaimana dengan mu Mark?” Ucap Nela.

“Kau tenang saja karena aku akan baik-baik saja. Sekarang aku harus menyelesaikan urusan ku dengan bapak tua ini!” Ucap Mark.

“Sebenarnya urusan ku bukan dengan mu, tapi dengan Jumper itu dan wanita ini. Tapi sepertinya kau benar-benar menghalangi langkah ku” ucap Roland.

Suasana semakin panas, malam yang dingin pun kini tidak terasa lagi. Dan tiba-tiba terdengar suara Andrew yang mengetuk pintu kamarnya Nela.

“My baby Nela... What happens baby?” Ucap Andrew dari luar kamarnya Nela.

“Cepat tutup jendelanya!” Pekik Mark.

Dan dengan cepat Nela menutup jendela kamarnya.

“My baby, apa kau sudah tidur?” Ucap Andrew.

“Belum, tunggu sebentar aku akan membukakan pintunya” ucap Nela yang segera berlari ke arah pintu kamarnya.

Nela pun membuka pintu kamarnya.

“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan?” Ucap Andrew seraya memastikan kalau Nela tetap baik-baik saja.

“Ya, aku baik-baik saja Andrew. Ada apa?” Ucap Nela.

“Tadi aku sempat mendengar suara tembakkan dari kamar mu, dan itu membuat ku begitu mengkhawatirkan mu” ucap Andrew.

“Suara tembakkan? Mungkin kau salah dengar, karena dari tadi aku tidak mendengar suara tembakkan” ucap Nela.

“Iya, tadi aku mendengar suara tembakkan dari kamar mu” ucap Andrew.

“Kakak ku sayang, mungkin kau salah dengar karena dari tadi tidak ada suara apapun dari sini” ucap Nela seraya memegang kedua pundaknya Andrew.

“Hehm, ya kau benar mungkin saja aku salah dengar” ucap Andrew.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, sekarang kau harus tidur. Tapi jika terjadi sesuatu, cepatlah berteriak” ucap Andrew.

“Iya my bro” ucap Nela seraya tersenyum.

“Good night my baby and have a nice dream” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.

“Ya, good night too my bro” ucap Nela.

Andrew pun beranjak pergi dari kamarnya Nela, dan Nela kembali menutup pintu kamarnya.

“Mark!” Ucap Nela seraya berlari ke arah jendela kamarnya.

Dengan cepat ia membuka jendela kamarnya. Namun ia tidak menemukan Mark dan Roland diluar jendela kamarnya.

“Kemana mereka?” Ucap Nela.

“Apa Mark baik-baik saja?” Ucap Nela.

Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang, dan hal itu membuatnya begitu terkejut.

“Kau tenang saja, karena aku baik-baik saja” bisik seseorang tepat ditelinganya.

Dan Nela pun segera membalikkan tubuhnya.

“Mark!” Ucap Nela.

Mark pun hanya tersenyum.

“Kau dari mana saja? Aku begitu mengkhawatirkan mu” ucap Nela seraya memeluk Mark.

“Seperti yang kau tahu, aku telah membuat pak tua itu pergi dari sini. Dan sekarang kau sudah aman” ucap Mark.

“Tapi bagaimana jika besok malam dia datang kembali?” Ucap Nela.

“Kau tenang saja My Love, meskipun dia datang tapi dia tidak akan bisa membunuh atau melukai mu sedikit pun karena aku akan selalu menjaga dan melindungi mu” ucap Mark.

Nela pun hanya tersenyum.

“Memangnya siapa seorang Jumper yang pak tua itu maksud?” Ucap Mark.

“Seorang Jumper yang Roland maksud adalah Hayden, seorang pria yang kemarin malam bersama dengan ku” ucap Nela.

“Lalu ada hubungan apa kau dengannya?” Ucap Mark yang mulai dingin.

“Kau tak perlu cemburu dengan Hayden, karena ia adalah senior dikampus ku. Dan kami berdua hanya berteman, tak lebih dari itu” ucap Nela ketika melihat wajah Mark yang terlihat cemburu.

“Ya, aku percaya kalau kalian berdua hanya teman biasa” ucap Mark seraya tersenyum.

“Kau tahu, aku begitu senang ketika melihat kau tersenyum” ucap Nela.

Mark pun kembali tersenyum seraya memeluk Nela.

“Mark” ucap Nela.

“Ya, ada apa?” Ucap Mark.

“Aku ingin sekali datang ke kastil tempat kau dan para Vampire tinggal” ucap Nela.

“Ya, nanti aku akan mengajak mu ke ke kastil ku. Tapi kau harus berhati-hati, karena disana masih banyak Vampire yang masih mengisap darah manusia secara langsung” ucap Mark.

“Lalu apa disana ada Vampire wanita juga?” Ucap Nela.

“Tentu saja ada, dan salah satunya adalah Jodi kekasihnya Kian” ucap Mark.

“Hehm, pasti mereka begitu cantik” gumam Nela.

“Ya, mereka semua memang cantik. Tapi diantara mereka tidak ada satupun Vampire wanita yang aku cintai, karena yang aku cintai hanyalah kau” ucap Mark.

Nela pun hanya tersipu malu. Nela dan Mark pun terus mengobrol hingga larut malam.

“Sudah jam 12, sebaiknya sekarang kau tidur karena besok kau harus kuliah kan?” Ucap Mark.

“Tak bisakah kita berdua lebih lama lagi?” Ucap Nela.

“Tentu saja bisa, tapi sekarang sudah larut malam kau harus istirahat. Aku tak ingin kau sakit karena kelelahan” ucap Mark.

“Ya, baiklah kalau seperti itu” ucap Nela seraya menarik nafas.

“Baiklah, sampai besok My Love. Kau tenang saja, besok aku pasti datang lagi” ucap Mark.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya menaiki tempat tidurnya.

“Good night My Love” ucap Mark seraya tersenyum dan beranjak pergi dari kamarnya Nela.

Sementara Hayden baru saja ingin memejamkan matanya, namun Roland sudah datang dan menganggu waktu tidurnya.

“Rupanya kau sudah ingin tidur” ucap Roland seraya berdiri dibelakang pintu kamarnya Hayden.

“Kau! Sedang apa kau disini?” Ucap Hayden seraya bangkit dari tempat tidurnya.

“Kau tidak perlu berpura-pura lupa Hayden, bukankah kita masih punya urusan yang harus kita selesaikan?” Ucap Roland.

“Sebaiknya urusan itu kita lanjutkan besok saja, karena sekarang aku ingin tidur dan besok aku harus kuliah!” Ucap Hayden.

“Ya ya baiklah, tapi sepertinya ada sesuatu yang harus kau tahu” ucap Roland.

“Hey! Kau tidak bisa mendengar ucapan ku?” Pekik Hayden yang mulai kesal, karena Roland benar-benar menganggu waktu tidurnya.

“Sepertinya kau tidak tahu, kalau wanita itu sudah memiliki seorang kekasih. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, kekasih wanita itu adalah seorang Vampire” ucap Roland.

“Apa maksud mu? Siapa wanita yang kau maksud?” Ucap Hayden.

“Seorang wanita yang kini sedang dekat mu, dan kau sangat menyayangi wanita itu” ucap Roland.

“Nela. Apa yang kau maksud adalah Nela?” Ucap Hayden.

“Ya, memangnya siapa lagi wanita yang kini sedang dekat dengan mu” ucap Roland.

“Kau pasti salah! Tidak mungkin dia menjalin hubungan asmara dengan seorang Vampire” ucap Hayden.

“Tapi itu adalah kenyataannya” ucap Roland.

“Dari mana kau bisa tahu tentang hal itu?” Ucap Hayden.

“Tadi aku datang kerumahnya, dan tadinya aku memang ingin melukai dia tapi tiba-tiba ada seorang pria yang menghalangi langkah ku. Awalnya aku memang menganggap dia adalah seorang manusia, tapi ketika dia tersenyum aku melihat ada dua buah taring dari balik bibirnya” ucap Roland.

“Lalu dari mana kau tahu kalau dia adalah kekasihnya Nela?” Ucap Hayden.

“Vampire itu sama dengan mu begitu ingin melindungi wanita itu, dan menurut ku dia memang benar-benar kekasihnya wanita itu” ucap Roland.

Hayden pun hanya terdiam. Tiba-tiba Roland mengeluarkan sebuah alat dari saku celananya. Ternyata Roland mengeluarkan alat untuk menyetrum seorang Jumper seperti Hayden.
Dengan cepat Roland mengarahkan alat itu ke arah Hayden.

“Kau terlalu lama berpikir hingga membuat ku jenuh berada disini” ucap Roland.

“Awww!” Teriak Hayden ketika alat itu mengenai tangannya.

“Sudahlah jangan berlama-lama berpikir, bagaimana dengan urusan kita? Seperti yang sudah ku bilang tadi siang, kau ingin menyerahkan diri mu atau aku akan membunuh wanita itu?” Ucap Roland.

“Jangan lukai Nela sedikit pun!” Ucap Hayden.

“Ternyata benar, kau memang sangat mencintai wanita itu. Itu artinya kau ingin menyerahkan diri mu kepada ku, dan kau siap mati ditangan ku?” Ucap Roland.

“Ya, tapi tidak untuk sekarang. Berikan aku waktu, dan nanti aku akan datang untuk menyerahkan diri ku kepada mu” ucap Hayden.

“Baiklah kalau seperti itu, aku pegang kata-kata mu. Tapi kalau kau berbohong, maka aku tak akan segan-segan untuk membunuh wanita itu!” Ucap Roland.

“Ya, kau tenang saja aku tidak akan berbohong pada mu” ucap Hayden.

Dan Roland pun segera pergi dari kamarnya Hayden.

“Bagaimana ini? Aku tak ingin Roland membunuh Nela seperti ia membunuh Rachel. Sepertinya aku memang harus menyerahkan diri ku pada Roland, agar Nela tetap aman dan Roland tidak akan membunuhnya” ucap Hayden.

Hayden pun kembali ketempat tidurnya, ia mulai memejamkan matanya tapi pikirannya terus melayang untuk mencari jalan keluar agar masalahnya dengan Roland cepat selesai.


----------------


Pagi pun tiba, dan seperti biasa Shane sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kedua adiknya. Nela pun sudah rapi, dan ia segera beranjak pergi meninggalkan kamarnya.

“Oh ya, Andrew sudah bangun atau belum ya?” Ucap Nela.

Dan ia pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke kamarnya Andrew. Setelah sampai didepan kamarnya Andrew, ia pun segera mengetuk pintu kamarnya Andrew.

“Andrew, come on wake up!” Ucap Nela seraya mengetuk pintu kamarnya Andrew.

Namun tidak ada jawaban dari dalam kamarnya Andrew.

“Hehm, apa dia belum bangun?” Gumam Nela.

“Andrew my brother, come on wake up!” Ucap Nela.

“Iya, tunggu sebentar baby karena aku sedang ganti baju” ucap Andrew dari dalam kamarnya.

“Ya, baiklah kalau seperti aku ke ruang makan duluan ya” ucap Nela.

“Jangan! Tunggu saja, sebentar lagi aku akan keluar” ucap Andrew.

“Ya sudah, aku akan menunggu disini” ucap Nela.

Tak lama Andrew pun keluar dari dalam kamarnya.

“Ayo kita ke ruang makan” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.

Mereka berdua pun berjalan menuju ke ruang makan untuk menyantap sarapan bersama. Setelah sampai diruang makan, Nela melihat Shane sedang mengobrol dengan David.

“Hey! Dav” ucap Nela.

David pun hanya tersenyum.

“Nela, dia pasti kekasih mu ya?” Ucap Andrew.

“Bukan Andrew, dia adalah David senior ku juga. Dan David, ini adalah Andrew kakak ku juga” ucap Nela.

Andrew dan David pun saling berjabat tangan seraya memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Baru saja aku ingin memanggil mu karena dari tadi David sudah menunggu mu” ucap Shane.

“Benarkah itu Dav?” Ucap Nela.

“Ahh tidak, baru saja aku tiba disini 10 menit yang lalu” ucap David.

“Maaf ya, aku jadi membuat mu lama menunggu” ucap Nela.

“Tidak apa-apa. Oh ya, aku kesini karena aku ingin mengajak mu ke kampus bersama” ucap David.

“Nela, bukankah kau berangkat kekampus bersama dengan Hayden?” Ucap Andrew.

“Hehm entahlah, sepertinya tidak untuk hari ini” ucap Nela.

“Memangnya kenapa? Apa hari ini dia tidak masuk?” Ucap Shane.

“Aku tidak tahu Shane, mungkin dia sedang ada urusan jadi dia tidak bisa menjemput ku” ucap Nela.

Shane pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Baiklah Dav, aku akan berangkat ke kampus bersama dengan mu” ucap Nela seraya tersenyum.

David pun hanya menganggukkan kepalanya, dan wajahnya pun tampak bahagia karena hari ini ia berangkat ke kampus bersama dengan wanita yang ia cintai.

“Ayo sekarang kita sarapan dulu” ucap Shane.

Mereka pun segera menyantap sarapan bersama-sama.
Setelah selesai menyantap sarapan, Nela dan David segera bergegas untuk berangkat ke kampus.

“Baiklah, Shane, Andrew, aku berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela seraya berpamitan kepada Andrew dan Shane.

“Ya, kau hati-hati ya adik ku” ucap Shane seraya tersenyum dan mencium keningnya Nela.

“Ya my baby, benar kata Shane kau hati-hati ya. Jaga dirimu baik-baik baby” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.

“Iya kakak-kakak ku” ucap Nela seraya tersenyum.

“Apa tidak ada yang tertinggal?” Ucap Shane.

“Sepertinya tidak ada Shane” ucap Nela.

“Benarkah tidak ada yang tertinggal?” Ucap Andrew.

“Ya, benar Andrew” ucap Nela.

“Tapi hatiku masih tertinggal didalam hatimu baby” ucap Andrew.

Nela, Shane, dan David pun hanya tertawa.

“Baiklah, Shane, Andrew, aku berangkat ke kampus dulu ya. Terima kasih atas sarapannya, maaf aku jadi merepotkan kalian” ucap David.

“Tentu saja kau tidak merepotkan kami David. Oh ya, aku titip Nela ya tolong jaga dia baik-baik” ucap Shane.

“Aku juga titip Nela ya, tolong jaga dia dengan begitu baik. Karena dia adalah adik ku satu-satunya” ucap Andrew.

“Kalian tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik” ucap David.

Andrew dan Shane pun hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala. Lalu Nela dan David segera pergi menuju ke kampus mereka. Saat sedang dalam perjalanan menuju kampus, Nela begitu sibuk memainkan ponselnya. Dan tentu saja David yang duduk disebelahnya menyadari hal itu.

“Ada apa? Sepertinya kau tampak gelisah? Apa kau sedang sakit?” Ucap David seraya menyetir mobilnya.

“Tidak, aku baik-baik saja Dav” ucap Nela yang masih sibuk memainkan ponselnya.

“Lalu kenapa kau tampak gelisah seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan?” Ucap David.

“Tidak ada Dav” ucap Nela.

“Benarkah?” Ucap David.

“Iya Dav. Oh ya, apa kau tahu kemana Hayden? Dari tadi aku menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif” ucap Nela.

“Oh, jadi dari tadi kau gelisah karena kau sedang memikirkan Hayden” ucap David.

“Tidak seperti itu Dav, aku hanya merasa sedikit khawatir kepadanya karena biasanya jika ia tidak bisa menjemput ku ia selalu menghubungi ku atau mengirim pesan pada ku. Tapi tidak dengan hari ini” ucap Nela.

“Apa kau menyukainya?” Ucap David.

Nela pun sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh David.

“Ti... Tidak Dav, aku hanya menganggap sebagai senior ku sama seperti mu” ucap Nela dengan sedikit terbata-bata.

“Mungkin David benar, aku memang menyukai Hayden. Jika aku tidak menyukainya, tidak mungkin aku mengkhawatirkannya seperti ini” ucap Nela dalam hati.

“Lalu kenapa kau terlihat begitu mengkhawatirkannya?” Ucap David.

“Aku takut Roland melukainya atau membunuhnya Dav!” Ucap Nela.

“Oh, jadi kau sudah tahu kalau Hayden memanglah seorang Jumper?” Ucap David.

“Iya Dav, aku sudah mengetahuinya dan semua yang kau ceritakan itu adalah benar” ucap Nela.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau Hayden memang lah seorang Jumper?” Ucap David.

Nela pun menceritakan peristiwa ditoko buku itu kepada David.

“Mungkin sekarang ia sedang menjauhi mu agar kau tetap aman dari Roland, begitu pun juga dengan dirinya” ucap David.

“Apa? Hayden menjauhi ku agar aku tetap aman dari Roland? Sepertinya itu tidak mungkin” ucap Nela dalam hati.

“Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Biarkan saja, dia memang seperti itu” ucap David.

Dan tak lama mereka pun sampai dikampus tempat mereka kuliah. Nela dan David segera keluar dari mobilnya David.

“Terima kasih Dav, hari ini kau sudah mengantar ku ke kampus” ucap Nela.

“Ya, sama-sama Nela” ucap David seraya tersenyum.

Nela pun hanya tersenyum, matanya begitu sibuk mencari keberadaannya Hayden.

“Itu seperti Hayden” ucap Nela dalam hati ketika melihat seorang pria yang sedang berjalan.

“Oh ya, bagaimana jika nanti kau pulang bersama dengan ku?” Ucap David.

Nela pun hanya terdiam, lalu segera berlari menghampiri pria itu.

“Hayden!” Pekik Nela seraya berlari menghampiri pria itu.

Pria itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nela.

“Hayden” ucap Nela dengan nafas yang terengah-engah.

Dan ternyata benar, pria itu memanglah Hayden.

“Kau kemana saja? Dari tadi aku mencari mu, dan kenapa ponsel mu tidak aktif?” Ucap Nela.

Hayden hanya terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun dan pagi ini ia memang terlihat berbeda, tidak seperti biasanya jika ia bertemu dengan Nela ia tampak selalu ceria.

“Ada apa dengan mu? Apa kau marah pada ku?” Ucap Nela seraya menatap Hayden.

Namun Hayden tetap terdiam seraya menatap Nela dengan tatapan yang tidak biasanya.

“Hey! Kenapa kau diam saja?” Ucap Nela.

Hayden pun tetap terdiam dan segera pergi.

“Ada apa dengannya? Apa dia marah pada ku?” Ucap Nela yang begitu heran.

David pun segera menghampiri Nela yang masih terpaku.

“Hey! Apa kau baik-baik saja?” Ucap David seraya memegang pundaknya Nela.

“Ya, aku baik-baik saja Dav” ucap Nela.

“Ada apa dengan Hayden?” Ucap David.

“Entahlah, aku tidak tahu kenapa pagi ini ia terlihat begitu berbeda, benar-benar tidak seperti biasanya” ucap Nela.

“Sudahlah, biarkan saja mungkin ia sedang ingin sendiri” ucap David.

Nela pun hanya terdiam.

“Lebih baik sekarang kita ke kelas mu” ucap David seraya memegang pundaknya Nela.

“Ada apa dengan Hayden? Kenapa pagi ini ia terlihat begitu berbeda?” Ucap Nela dalam hati.


-------------


Saat waktu istirahat pun Nela menghampiri Hayden ke kelasnya, namun ia tidak ada disana.

“Kemana ya Hayden?” Ucap Nela seraya berjalan menuju taman kampus, dan berharap Hayden ada disana.

Dan ternyata benar, Hayden memang berada disana. Nela pun segera berlari menghampiri Hayden yang sedang duduk disebuah kursi seraya mendengarkan lagu dengan ipod dan earphone nya. Dan Nela segera duduk disampingnya Hayden, namun Hayden tidak ada reaksi apa-apa ia tetap terdiam seraya mendengarkan lagu. Nela pun juga terdiam seraya memperhatikan wajahnya Hayden yang terlihat tidak seperti biasanya.
Hayden pun ingin beranjak pergi, namun Nela menahan tangannya.

“Tolong lepaskan tangan ku” ucap Hayden.

“Aku tidak akan melepaskan tangan mu” ucap Nela.

“Apa mau mu?” Ucap Hayden yang tidak ingin menoleh ke arah Nela.

“Ada apa dengan mu? Kenapa hari ini kau terlihat sungguh berbeda? Apa kau marah pada ku?” Ucap Nela.

“Aku tidak marah pada mu” ucap Hayden.

“Lalu kenapa dari tadi kau selalu menjauh dari ku? Apa kau lakukan ini agar aku tetap aman dari Roland?” Ucap Nela.

“Tidak, aku hanya tak ingin Roland melukai mu” ucap Hayden.

“Kalau seperti ini Roland memang tidak akan melukai ku, tapi kau yang melukai ku!” Ucap Nela.

Hayden pun terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nela, ia segera menoleh ke arah Nela.
Lalu Nela pun melepaskan tangannya Hayden dan segera pergi meninggalkannya.

“Apa maksud kata-katanya Nela? Apa aku telah melukainya?” Ucap Hayden dalam hati.

Waktu pulang pun tiba, dan Nela segera pergi meninggalkan kelasnya.

“Nela!” Pekik David seraya berlari menghampirinya.

“Hey Dav” ucap Nela.

“Hey! Aku pikir kau sudah pulang duluan” ucap David.

“Tidak Dav” ucap Nela.

“Baiklah, bagaimana kalau kau pulang bersama dengan ku saja?” Ucap David.

“Ya” ucap Nela.

Dan mereka berdua berjalan menuju tempat parkir kampus, setelah sampai ditempat parkir kampus, mereka segera masuk kedalam mobilnya David dan mobilnya David melaju meninggalkan kampus.

“Maafkan aku Nela, aku tidak bermaksud bersikap seperti itu kepada mu. Aku hanya cemburu karena kau sudah memiliki kekasih, dan kekasih mu itu adalah seorang Vampire” ucap Hayden dalam hati seraya melihat ke arah Nela dan David yang sudah pergi meninggalkan kampus.

Sepanjang perjalanan menuju pulang Nela hanya terdiam saja.

“Apa kau masih memikirkan Hayden?” Ucap David seraya menyetir mobilnya.

“Tidak” ucap Nela.

“Lalu kenapa kau diam saja? Apa kau sedang sakit?” Ucap David.

“Tidak Dav, aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku” ucap Nela.

“Baiklah kalau seperti itu. Oh ya, apa kau ingin makan siang dulu?” Ucap David.

“Tidak Dav, aku ingin langsung pulang saja” ucap Nela.

“Baiklah kalau seperti itu” ucap David seraya menganggukkan kepalanya.

Dan tak lama mereka pun sampai dirumahnya Nela.
David dan Nela segera keluar dari mobilnya David, dan mereka segera masuk kedalam rumahnya Nela.

“Hey! Adik ku sudah pulang” ucap Andrew seraya menyambut hangat.

“Ya my bro” ucap Nela dengan nada pelan, seperti sedang tidak bersemangat.

“Hey! What happens baby?” Ucap Andrew yang menyadari kalau sikap adiknya tidak seperti biasanya.

Nela pun hanya menggelengkan kepalanya.

“David, apa yang terjadi dengan adik ku?” Ucap Andrew.

“Tidak ada, tapi hari ini dia memang seperti sedang tidak bersemangat” ucap David yang berdiri disampingnya Nela.

“Baby what happens?” Ucap Andrew seraya memegang kedua pundaknya Nela.

Nela pun kembali menggelengkan kepalanya, dan tiba-tiba saja ia terjatuh, namun dengan cepat Andrew segera menangkapnya.

“Nela! Nela my baby, come on wake up!” Ucap Andrew seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya Nela.

“Apa terjadi dengannya?” Ucap David.

“Entahlah, lebih baik sekarang kita bawa dia kekamarnya. Dan tolong hubungi dokter!” Ucap Andrew seraya menggendong Nela dan membawanya kekamarnya.

Setelah sampai dikamarnya Nela, Andrew segera merebahkan tubuhnya Nela diatas tempat tidur.

“Oh my baby, come on wake up! Tolong jangan buat aku begitu khawatir sepert ini” ucap Andrew yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaannya Nela.

“Aku sudah menghubungi dokternya, dan sebentar lagi ia akan datang ke sini” ucap David.

“Thank you David” ucap Andrew.

“Apa kau sudah menghubungi Shane?” Ucap David.

“Belum” ucap Andrew.

“Sebaiknya sekarang aku menghubunginya” ucap David seraya bersiap untuk menghubungi Shane.

“Jangan!” Pekik Andrew.

“Memangnya kenapa?” Ucap David.

“Shane sedang pergi bersama dengan kekasihnya, dan sebaiknya jangan ganggu dia” ucap Andrew.

“Tapi bukankah hal ini sangat penting? Shane harus tahu kalau sekarang Nela sedang tak sadarkan diri seperti ini” ucap David.

“Sebaiknya jangan beri tahu dia dulu. Biarkan saja, tunggu ia pulang karena aku tak ingin menganggu waktunya bersama dengan Gillian” ucap Andrew.

“Baiklah kalau seperti itu” ucap David seraya memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.

Sebenarnya Andrew begitu ingin menghubungi Shane dan memberi tahu kalau sekarang Nela sedang tak sadarkan diri, tapi ia tak ingin menganggu waktunya Shane.

“Sebenarnya apa terjadi dengannya di kampus?” Ucap Andrew.

“Tidak ada, setahu ku dia hanya sedang bertengkar dengan Hayden” ucap David.

“Bertengkar? Memangnya berdua sudah berpacaran?” Ucap Andrew.

“Tidak, mereka hanya berteman. Tapi sekarang mereka sedang bertengkar, dan aku tak tahu mereka bertengkar karena apa” ucap David.

“Pantas saja hari ini Hayden tidak menjemputnya” ucap Andrew.

Dan tak lama dokter pun datang dan memeriksa Nela.

“Bagaimana dengan keadaannya?” Ucap Andrew pada dokter.

“Anda tidak perlu khawatir, karena adik anda baik-baik saja dia hanya butuh banyak istirahat agar kondisinya cepat pulih kembali” ucap dokter yang memeriksa Nela.

“Baiklah kalau seperti itu, terima kasih dokter” ucap Andrew.


--------------


30 menit kemudian...

Andrew pun membuka pintu kamarnya Nela dengan pelan, dan ia berjalan menghampiri Nela.

“Adik ku, apa yang terjadi pada mu? Aku benar-benar khawatir pada mu. Ku mohon cepatlah sadar” ucap Andrew seraya mengusap-usap rambutnya Nela.

Andrew pun menatap Nela yang sedang tak sadarkan diri.

“Kalau seperti ini aku jadi benar-benar tak ingin kembali ke London. Aku ingin tetap berada disini, agar aku bisa selalu menjaga dan menemaninya” ucap Andrew seraya menatap wajahnya Nela.

Andrew pun menoleh ke arah jarum jam di jam dinding kamarnya Nela.

“Sudah siang, sebaiknya sekarang aku memasak sesuatu untuk Nela. Agar nanti ketika ia sadar, ia bisa langsung makan siang” ucap Andrew.

“Adik ku, kau tunggu dulu ya. Aku ingin memasak makan siang untuk mu, dan cepatlah sadar” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.

Andrew pun beranjak pergi meninggalkan kamarnya Nela, dan ia kembali menutup pintu kamarnya. Namun tiba-tiba ada seorang pria yang masuk kedalam kamarnya Nela.

“Nela, apa yang terjadi pada mu?” Ucap pria itu seraya menghampiri Nela.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar