Minggu, 08 Maret 2015

My Love is Vampire - Chapter IX

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter IX”
Genre : Fantasy |  Romance | Thriller
Cast : Westlife | Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife


==================================================



Setelah ia menyalakan lampu kamarnya terlihat seorang pria bertubuh tinggi yang sedang berdiri dibelakang pintu kamarnya.

“Hayden” ucap Nela ketika melihat pria itu.

“Hey! Maaf ya, aku kesini malam-malam seperti ini” ucap Hayden.

Ternyata bayangan itu adalah bayangannya Hayden.

“Tidak apa-apa, ada perlu apa kau kerumah ku?” Ucap Nela.

“Tidak ada, aku hanya tidak bisa tidur jadi aku memutuskan untuk kerumah mu. Maaf ya, aku jadi menganggu waktu tidur mu kau pasti sudah ingin tidur ya. Sekali lagi maaf, sekarang aku akan pergi dari sini” ucap Hayden seraya ingin beranjak pergi.

“Hey! Tunggu” ucap Nela.

“Ada apa?” Ucap Hayden.

“Kenapa kau terburu-buru seperti itu? Kau kan baru saja datang” ucap Nela.

“Ya, tapi sekarang sudah malam sebaiknya aku pulang saja” ucap Hayden.

Tiba-tiba jendela kamarnya Nela terbuka dengan sendiri membuat Nela dan Hayden begitu terkejut.

“Kenapa jendelanya terbuka sendiri?” Ucap Hayden.

“Entahlah, aku juga tidak tahu” ucap Nela.

Nela pun mencoba melangkahkan kakinya untuk mendekati jendela kamarnya, namun Hayden menahan tangannya.

“Jangan kesana!” Ucap Hayden.

“Memangnya kenapa? Aku ingin melihat kenapa jendela kamarnya terbuka sendiri” Ucap Nela.

“Biar aku saja yang melihatnya” ucap Hayden.

Hayden pun berjalan mendekati jendela kamarnya Nela, lalu ia melihat keluar jendela kamarnya Nela.

“Tidak ada apa-apa” ucap Hayden.

Dan Nela pun berjalan mendekati Hayden.

“Tapi kenapa jendela kamarnya terbuka sendiri?” Ucap Nela.

“Mungkin tadi kau kurang benar menutupnya, makanya jendelanya terbuka sendiri” ucap Hayden.

“Tapi tadi aku sudah menutupnya dengan benar” ucap Nela.

Hayden pun segera menutup kembali jendela kamarnya Nela.

“Sebaiknya sekarang kau tidur ya. Dan aku harus segera pulang, sekali lagi maaf aku sudah menganggu waktu tidur mu” ucap Hayden.

“Ya, tidak apa-apa Hayden” ucap Nela.

“Baiklah, good night Nela and have a nice dream. Besok aku akan menjemput mu ya” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Iya Hayden, good night too” ucap Nela seraya tersenyum.

Hayden pun hanya tersenyum seraya segera berjalan menuju dinding kamarnya Nela, dan ia pun menghilang dengan cepat.

“Mark kemana ya? Kenapa malam ini dia tidak datang?” Ucap Nela seraya membalikkan badannya.

Ketika ia membalikkan badannya, betapa terkejutnya ia ketika melihat Mark yang sedang duduk ditepi tempat tidurnya.

“Mark!” Ucap Nela yang segera menghampiri Mark.

Mark pun hanya terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun.

“Mark, sejak kapan kau ada disini?” Ucap Nela.

“Memangnya aku tidak boleh berada disini?” Ucap Mark dingin.

“Tidak seperti itu” ucap Nela seraya duduk disampingnya Mark.

“Siapa pria tadi? Kenapa dia bisa ada dikamar mu?” Ucap Mark.

Nela pun hanya terdiam.

“Kenapa kau hanya diam saja? Siapa pria tadi? Sepertinya ia bukan manusia biasa” ucap Mark.

Dan lagi-lagi Nela pun hanya terdiam, karena tidak mungkin jika ia katakan tentang siapa Hayden yang sebenarnya.

“Kenapa kau tetap diam saja?” Ucap Mark.

“Hehm tidak, dia bukan siapa-siapa” ucap Nela.

“Lalu kenapa bisa berada dikamar mu?” Ucap Mark.

Dan Nela pun terdiam kembali.

“Sudahlah, kau tidak perlu mengatakannya karena aku sudah tahu siapa pria itu” ucap Mark.

Nela pun begitu terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mark.

“Tapi kau tenang saja, meskipun aku tahu siapa pria itu yang sebenarnya tapi aku tidak akan mengatakannya kepada siapa pun” ucap Mark.

“Benarkah itu?” Ucap Nela.

“Ya” ucap Mark dingin.

“Hehm, kenapa kau baru datang. Dari tadi aku sudah menunggu kedatangan mu” ucap Nela.

Mark pun hanya terdiam.

“Hey! Ada apa dengan mu? Kenapa malam ini kau terlihat begitu berbeda?” Ucap Nela.

“Sepertinya kau tidak perlu menanyakan hal itu pada ku” ucap Mark.

“Memangnya kenapa?” Ucap Nela.

Dan lagi-lagi Mark pun terdiam kembali.

“Kau sungguh berbeda malam ini” ucap Nela seraya menatap wajahnya Mark.

“Aku sudah datang dari tadi, tapi sepertinya kau begitu asyik dengan pria itu hingga kau tidak menyadari kedatangan ku” ucap Mark dengan wajah yang terlihat dingin.

“Apa kau cemburu dengan pria itu?” Ucap Nela.

Mark pun terdiam kembali.

“Oh ya, kau belum menjawab pertanyaan ku yang kemarin malam. Apa kau masih ingat dengan pertanyaan itu?” Ucap Nela.

Kini Mark hanya terdiam kembali, dan tentu saja hal itu membuat Nela menjadi sedikit kesal karena Mark selalu diam tanpa mengeluarkan satu kata pun.

“Hey! Kau bisa mendengar ku kan? Kenapa kau hanya diam saja!” Pekik Nela.

Dan Mark hanya terdiam kembali.

“Seharusnya waktu itu kau tidak perlu menyelamatkan ku dari Werewolf itu dan kau tidak perlu merasa harus selalu menjaga dan melindungi ku” ucap Nela.

“Aku melakukan hal itu karena aku menyukai mu!” ucap Mark seraya menoleh ke arah Nela.

Nela pun begitu terkejut mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Mark, dia tidak menyangka kalau Mark akan mengatakan kalimat itu.

“Apa kau serius dengan ucapan mu?” Ucap Nela.

“Ya, aku serius dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Aku menyukai mu sejak pertama kita bertemu, dan karena hal itu aku menyelamatkan mu dari Werewolf itu” ucap Mark.

Nela masih tidak percaya dengan kata-katanya Mark, ini seperti dalam sebuah cerita.

“Ya, aku tahu kita memang berbeda. Kau manusia dan aku hanya lah seorang Vampire, tapi tidak dapat aku mengelak, aku benar-benar mencintai mu sejak pertama kita bertemu dihutan itu” ucap Mark.

Jantungnya Nela berdetak dengan sangat kencang, disatu sisi ia begitu senang karena Mark juga mencintainya, namun disisi lain ia merasa bingung apa yang harus ia lakukan.

“Aku juga mencintai mu Mark. Sama seperti mu, aku mencintai mu sejak pertama kita bertemu” ucap Nela.

“Benarkah itu? Aku pikir pria tadi adalah kekasih mu” ucap Mark.

“Tidak, dia hanya senior di kampus ku” ucap Nela.

“Maafkan aku, tadi aku sempat cemburu dengan pria itu” ucap Mark.

“Ya, tidak apa-apa” ucap Nela.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada mu, mungkin aku bukanlah tipe seorang pria yang romantis. Tapi aku hanya ingin menjadi kekasih mu, meskipun kita berbeda” ucap Mark.

Nela pun hanya terdiam, sekarang dia benar-benar bingung harus mengatakan apa kepada Mark.

“Tapi itu semua terserah pada mu, aku tidak akan memaksa mu untuk menjadi kekasih ku karena ku tahu cinta tidak dapat dipaksakan” ucap Mark seraya menundukkan kepalanya.

“Aku mau menjadi kekasih mu!” Ucap Mark.

Sontak Mark pun terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nela.

“Meskipun kita berbeda?” Ucap Mark.

“Ya, perbedaan tidak dapat menghalangi Cinta” ucap Nela.

Mark pun hanya tersenyum seraya memeluk Nela.

“Itu artinya mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih” ucap Mark.

“Ya, kau benar. Tapi tolong lepaskan pelukannya, karena tubuh mu begitu dingin” ucap Nela.

Dan Mark pun segera melepaskan pelukannya.

“Aku tidak peduli jika nantinya aku akan dihukum atau dimasukkan kedalam neraka, karena yang terpenting adalah aku bisa selalu bersama dengan mu” ucap Mark.

“Ini seperti seekor Singa yang jatuh cinta pada Kelinci buruannya” ucap Nela.

“Ya kau benar! Tidak seharusnya sang singa jatuh cinta pada kelinci itu” ucap Mark.

Nela pun hanya tersenyum.

“Sekarang sudah larut malam, kau harus cepat tidur” ucap Mark.

“Lalu bagaimana dengan mu?” Ucap Nela.

“Aku akan kembali ke kastil” ucap Mark.

“Hehm baiklah kalau seperti itu” ucap Nela.

“Ya, selamat tidur ya semoga kau mimpi indah malam ini. Sampai nanti My Love” ucap Mark.

“Ya, sampai nanti My Vampire” ucap Nela.

Dan Mark pun segera pergi melalui jendela kamarnya Nela. Tak lupa ia kembali menutup jendela kamarnya.

“Sekarang aku dan Mark sudah menjadi sepasang kekasih. Lalu bagaimana dengan Andrew dan Shane? Tidak mungkin aku memberi tahu hal ini kepada mereka” gumam Nela seraya menaiki tempat tidurnya.

Dan Nela pun segera memejamkan matanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30. Dan seperti biasa yang dilakukan Shane saat pagi hari adalah menyiapkan sarapan pagi. Tak lama Nela pun datang dan segera memeluknya dari belakang.

“Good morning my brother” ucap Nela.

“Morning honey. Sepertinya pagi ini kau terlihat begitu ceria” ucap Shane.

“Benarkah?” Ucap Nela yang sedikit terkejut.

“Ya, what happens honey?” Ucap Shane.

“Hehm, nothing Shane” ucap Nela.

“Tapi tidak biasanya kau seperti ini” ucap Shane.

“Mungkin itu hanya menurut kau saja Shane” ucap Nela.

“Ya, mungkin saja” ucap Shane.

“Oh ya, Andrew kemana? Apa dia belum bangun?” Ucap Nela.

“Aku tidak tahu, mungkin dia masih dikamarnya” ucap Shane.

“Baiklah, aku akan segera ke kamarnya” ucap Nela seraya beranjak pergi menuju kamarnya Andrew.

“Maaf Shane, aku harus berbohong lagi pada mu, bahkan aku juga harus berbohong pada Andrew. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi sungguh tidak mungkin jika aku mengatakan hal yang sebenarnya kepada mu dan Andrew” ucap Nela dalam hati seraya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya Andrew.

Setelah sampai didepan pintu kamarnya Andrew, Nela segera mengetuk pintunya.

“Andrew, apa kau sudah bangun?” Ucap Nela dari luar kamarnya Andrew.

“Ya, aku sudah bangun” ucap Andrew dari dalam kamarnya.

“Lalu sedang apa kau didalam?” Ucap Nela.

“Aku sedang ganti baju! Kau tunggu saja, sebentar lagi aku akan keluar” ucap Andrew.

“Ya, baiklah” ucap Nela.

Seraya menunggu, Nela pun kembali memikirkan tentang hubungannya dengan Mark.

“Tapi mau bagaimana pun, suatu saat nanti Shane dan Andrew pasti akan mengetahui tentang hubungan ku dengan Mark” ucap Nela dalam hati.

Tanpa Nela sadari, Andrew pun sudah berdiri didepannya seraya memperhatikannya.

“What your thinking baby?” Ucap Andrew seraya menepuk pelan pundaknya Nela, dan tentu saja itu membuat lamunannya Nela menjadi buyar.

“Sejak kapan kau ada didepan ku?” Ucap Nela yang sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Andrew sudah berdiri didepannya.

“Mungkin sejak beberapa menit yang lalu. Apa yang sedang kau pikirkan?” Ucap Andrew.

“Tidak ada” ucap Nela.

“Benarkah?” Ucap Andrew seraya menaikkan kedua alisnya.

“Ya” ucap Nela.

“Adik ku, jika sedang ada yang kau pikirkan jangan ragu untuk berbagi cerita dengan ku. Aku selalu siap untuk mendengarkan cerita mu” ucap Andrew.

“Ya, tapi saat ini tidak ada yang sedang aku pikirkan” ucap Nela.

“Tapi kenapa tadi kau melamun?” Ucap Andrew.

“Hehm, aku hanya sedang memikirkan tugas kuliah saja” ucap Nela.

“Ya sudah kalau seperti itu. Sekarang ayo kita menuju ke ruang makan karena Shane pasti sudah menunggu kita disana” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.

Nela dan Andrew pun berjalan menuju ke ruang makan. Setelah sampai diruang makan, Nela sedikit terkejut melihat Shane yang sedang mengobrol dengan Hayden.

“Hayden” ucap Nela.

“Hey!” Ucap Hayden.

“Ternyata kau sudah datang” ucap Nela.

“Ya, aku baru saja datang” ucap Hayden.

“Ayo sekarang kita sarapan bersama” ucap Shane.

Mereka semua pun merapat ke meja makan, dan menyantap sarapan pagi bersama-sama.
30 menit kemudian mereka pun selesai menyantap sarapan pagi.

“Baiklah, Andrew, Shane, aku berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela seraya berpamitan kepada Andrew dan Shane.

“Iya adik ku, kau hati-hati ya” ucap Shane dan Andrew.

“Iya kakak-kakakku” ucap Nela.

“Andrew, Shane, aku juga berangkat ke kampus dulu ya. Terima kasih untuk sarapannya, maaf aku jadi merepotkan kalian” ucap Hayden.

“Tidak apa-apa Hayden, kita tidak merasa direpotkan oleh mu” ucap Shane.

“Terima kasih Shane, kalian begitu baik kepada ku” ucap Hayden.

Shane pun hanya tersenyum. Nela dan Hayden segera berjalan menuju halaman rumahnya Nela. Lalu mereka segera masuk kedalam mobilnya Hayden.

“Aku pikir pagi ini kita akan ke kampus dengan Jump” ucap Nela.

Hayden pun hanya tertawa kecil seraya menyalakan mesin mobilnya. Dan mobil Hayden melaju meninggalkan rumahnya Nela.

“Sebenarnya, aku takut jika Roland tiba-tiba datang” ucap Hayden seraya menyetir mobilnya.

“Kenapa kau harus takut?” Ucap Nela.

“Aku takut jika ia melukai mu” ucap Hayden.

“Kau tak perlu takut, dia tidak akan bisa melukai ku” ucap Nela.

“Sebaiknya jika ia datang aku menyerahkan diri saja agar ia tidak melukai mu” ucap Hayden.

“Kau tidak perlu lakukan itu!” Pekik Nela yang membuat Hayden sedikit terkejut.

“Tapi bagaimana dengan mu? Aku tak ingin dia melukai mu sedikit pun” Ucap Hayden.

“Percayalah padaku, Roland tidak akan melukai ku. Dan kau tak perlu menyerahkan diri kepadanya” ucap Nela.


---------------------


Waktu istirahat pun tiba. Nela berjalan keluar dari kelasnya seraya membawa sebuah novel ditangan kanannya.

“Hey! Pasti kau ingin ke taman ya?” Ucap Hayden.

“Ya, seperti yang kau tahu aku selalu menghabiskan waktu istirahat ku untuk membaca novel ditaman kampus” ucap Nela.

Nela dan Hayden pun berjalan menuju taman kampus. Setelah sampai ditaman kampus, mereka berdua segera duduk disebuah kursi panjang. Baru saja mereka duduk, tapi Hayden sudah melihat seseorang yang sedang mengawasi mereka.

“Ada apa?” Ucap Nela ketika melihat Hayden yang seperti sedang memandang seorang mata-mata.

“Tidak ada apa-apa. Kau tunggu disini ya, karena sekarang aku harus pergi!” Ucap Hayden.

“Kau mau kemana?” Ucap Nela.

“Ada urusan yang harus aku selesaikan, tenang saja aku akan segera kembali” ucap Hayden yang berlari menuju halaman belakang kampus.

“Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia terlihat seperti dikejar oleh seseorang” ucap Nela.

Hayden terus berlari menuju halaman belakang kampus, namun ada seorang pria paruh baya yang mengikutinya. Setelah sampai dihalaman belakang kampus, ia pun menghentikan langkahnya.

“Kau mau lari kemana lagi?” Ucap pria paruh baya itu.

Hayden pun mengatur nafasnya.

“Kau hebat juga ya, tapi sayangnya mau kemana pun kau pergi aku akan selalu menemukan mu! Dan sungguh tidak ku sangka, jika kau melarikan diri ke Ireland” ucap pria paruh baya itu seraya meletakkan sebuah koper yang ia bawa.

“Kenapa kau selalu mengikuti ku? Apa kau tidak puas sudah membunuh kekasih ku?” Ucap Hayden.

“Tentu saja aku tidak puas dengan hal itu, karena yang aku inginkan adalah diri mu. Dan kemana pun kau pergi aku akan selalu mengikuti mu, karena aku ingin membunuh mu!” Ucap pria itu.

“Kau tidak akan bisa membunuh ku Roland!” Ucap Hayden.

Ya, pria paruh baya itu adalah Roland. Seorang pemburu Jumper, yang telah membunuh Rachel kekasihnya Hayden.

“Ya, kita lihat saja nanti siapa yang setelah ini akan mati seperti kekasih mu itu” ucap Roland.

Hayden pun langsung teringat pada Nela.

“Tapi ternyata kau cepat melupakan kekasih mu yang telah mati itu ya. Baru saja ia mati beberapa tahun yang lalu, tapi sekarang kau sudah dekat dengan seorang wanita” ucap Roland.

“Kau jangan salah paham, kami hanya teman dan aku tidak punya perasaan apapun kepadanya” ucap Hayden.

“Kau tidak perlu membohongi perasaaan mu sendiri, aku bisa melihat kau terlihat begitu bahagia saat berada didekatnya” ucap Roland.

Hayden pun terdiam, ia merasa kalau apa yang dikatakan oleh pria itu memanglah benar.

“Sudahlah, sepertinya kita sudah membuang banyak waktu. Sekarang aku punya pertanyaan untuk mu” ucap Roland seraya mengeluarkan sebuah alat dari dalam tas yang ia bawa.

“Pertanyaan adalah, kau mau menyerahkan diri mu kepada ku atau...” Ucap Roland.

“Jangan kaitkan aku dengannya. Sudah ku bilang, kami berdua hanya teman biasa. Jadi kau tidak perlu melukainya!” ucap Hayden.

“Sepertinya kau sudah tahu apa yang ingin aku katakan. Ya, kau tenang saja aku tidak akan melukainya sedikitpun, tapi itu kalau kau ingin menyerahkan diri mu pada ku” ucap Roland.

Dan lagi-lagi Hayden pun terdiam, tanpa mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.

“Kenapa kau diam saja? Pasti sulit ya untuk memilihnya? Ya, jika memang benar kau tidak mencintainya, maka kau bisa pilih dia dan kau akan aman untuk sementara” ucap Roland.

“Jangan lukai dia! Baiklah, sekarang aku akan menyerahkan diri ku pada mu!” Ucap Hayden.

“Jawaban yang bagus, kenapa dulu kau tidak mengeluarkan kata-kata itu? Mungkin jika dari dulu kau menyerahkan diri, maka aku tidak akan membunuh kekasih mu itu” ucap pria itu.

Dan lagi-lagi Hayden hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya. Ia tahu ini bukan pilihan yang tepat, tapi ia tidak ingin jika Roland melukai Nela.

“Baiklah, sekarang kemarilah kepada ku” ucap Roland.

Hayden pun berjalan mendekati Roland, jantungnya berdetak sangat kencang, keringat dingin pun mulai membasahi tubuhnya. Namun tiba-tiba terdengar suara Nela yang memanggil nama Hayden.

“Hayden... Hayden, where are you?”.

“Lebih cepat jalannya” ucap Roland.

Hayden pun terus berjalan mendekati Roland, namun Nela terus memanggil namanya.

“Hayden... Hayden... Hayden, hey! Dimana kau?”.

Tiba-tiba dengan cepat Hayden berlari meninggalkan Roland begitu saja, dan ia segera menghampiri Nela yang sedang berjalan menuju halaman belakang kampus.

“Hey! Maaf ya, aku terlalu lama meninggalkan mu sendiri” ucap Hayden dengan nafas yang terengah-engah.

“Ya, tidak apa-apa. Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti sedang dikejar-kejar oleh seseorang?” Ucap Nela.

“Tidak, aku baik-baik saja. Tadi ada urusan yang harus aku selesaikan” ucap Hayden.

“Urusan apa?” Ucap Nela.

“Sudahlah, sekarang kita harus pergi dari sini karena disini bukan tempat yang aman untuk mu” ucap Hayden seraya menarik tangannya Nela.

Sementara Roland baru sadar kalau Hayden sudah tidak lagi bersamanya.

“Menyebalkan! Lagi-lagi ia kabur!” Gerutu Roland.

“Tapi kita lihat saja nanti!” Ucap Roland seraya beranjak pergi.

Tak lama Nela dan Hayden pun sampai ditaman kampus.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Ucap Nela.

“Dia telah datang” ucap Hayden seraya mengatur nafasnya.

“Dia? Dia siapa?” Ucap Nela.

“Roland” ucap Hayden.

“Apa?” Ucap Nela yang terlihat terkejut ketika mendengar nama Roland.

“Ya, Roland telah datang. Sekarang dia ada disini” ucap Hayden.

“Lalu apakah tadi kau bertemu dengannya?” Ucap Nela.

“Ya, tadi aku bertemu dengan Roland” ucap Hayden.

“Tapi dia tidak melukai mu kan?” Ucap Nela.

“Dia tidak melukai ku, karena aku berhasil melarikan diri darinya” ucap Hayden.

“Baguslah kalau seperti itu” ucap Nela seraya menarik nafas lega.

“Tapi yang ku takutkan adalah kalau ia berhasil menemukan mu” ucap Hayden.

“Ya, dia pasti akan menemukan ku. Tapi dia tidak akan bisa melukai ku” ucap Nela.

“Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi” ucap Hayden.

Nela pun hanya tersenyum, dan Hayden membalas senyumannya.


--------------


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Seperti biasa Shane sedang pergi berburu Vampire, dan kini Nela sedang duduk ditepi tempat tidurnya seraya melamunkan sesuatu.

“Hehm, kenapa Mark belum datang ya?” Gumam Nela.

Dan tiba-tiba ada seseorang yang mengawasinya dari balik jendela kamarnya.

“Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat, karena kini wanita itu sedang sendiri” ucap seseorang yang sedang mengawasinya dari balik jendela kamarnya.

Seseorang itu terus mengawasi Nela dari balik jendela kamarnya. Dan ketika ia ingin masuk ke dalam kamarnya Nela, tiba-tiba saja ia ada seseorang yang menghalanginya.

“Siapa kau?” Ucap orang itu.

“Kau yang siapa? Sedang apa kau disini?” Ucap seorang pria yang menghalangi langkahnya.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku! Dan sebaiknya kau jangan halangi langkah ku” ucap orang itu.

Pria itu menoleh ke arah Nela yang sedang melamunkan sesuatu didalam kamarnya.

“Apa yang ingin kau lakukan padanya?” Ucap pria itu.

“Itu bukan urusan mu! Dan sebaiknya kau pergi dari sini, atau aku akan membunuh mu!” Ucap orang itu.

“Silahkan saja, jika kau bisa melakukannya” ucap pria itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar