Minggu, 28 Juni 2015

My Love is Vampire - Chapter XVIII

“Terima kasih ya Dav, kau hati-hati” ucap Shane.

“Iya Dav, terima kasih kau sangat baik pada adik ku” ucap Andrew.

“Iya, sama-sama Andrew, Shane” ucap David.

“Nicky, Brian, aku pulang dulu ya” ucap David.

“Kenapa terburu-buru Dav, kita ngobrol-ngobrol saja dulu” ucap Nicky.

“Aku inginnya seperti itu, tapi masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan Nick” ucap David.

“Baiklah, tapi lain waktu kita mengobrol bersama ya” ucap Nicky.

“Ya, pasti Nick” ucap David.

“Iya Dav, lain waktu kita mengobrol bersama” ucap Brian.

“Iya Bri” ucap David.

“Sekali lagi terima kasih untuk hari ini Dav. Lain waktu kita jalan-jalan ketaman itu lagi ya” ucap Nela.

“Iya, jika kau ingin datang ketaman itu lagi kau segera hubungi ku saja” ucap David.

Nela pun hanya tersenyum, dan David segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.
Sementara Andrew, Nela, dan Shane segera berjalan menuju kamarnya Nela. Dan setelah sampai dikamarnya Nela, Nela pun segera duduk ditepi tempat tidurnya diikuti oleh Andrew dan Shane.

“Beristirahatlah sayang, rebahkan tubuhmu” ucap Shane.

Nela pun segera merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.

“Sebaiknya kita hubungi dokter saja, aku takut terjadi pada mu my babe” ucap Andrew.

“Tidak perlu Andrew, aku baik-baik saja” ucap Nela.

“Ya sudah, sebaiknya kau istirahat sayang agar kesehatan mu cepat pulih kembali” ucap Shane.

“Ya, Shane benar my babe. Dan lagi pula besok kuliah mu libur kan?” ucap Andrew.

“Ya, mulai besok kuliah ku libur untuk menyambut musim dingin” ucap Nela.

“Ya sudah, sekarang kau istirahat ya sayang. Jika terjadi sesuatu, kau panggil kita saja” ucap Shane.

“Iya Shane” ucap Nela.

“Apa kau mau aku temani my babe?” Ucap Andrew.

“Tidak perlu Andrew” ucap Nela.

Shane pun menyelimuti tubuh Nela dengan selimut.

“Beristirahatlah sayang” ucap Shane seraya tersenyum.

“Istirahat ya my babe” ucap Andrew.

“Iya, my bro Andrew dan Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

Andrew dan Shane pun membalas senyumnya Nela. Dan mereka segera beranjak pergi meninggalkan kamarnya Nela.

“Aku berharap Hayden baik-baik saja” ucap Nela.



---------------------------


Waktu pun sudah menunjukkan pukul 21.00. Dan malam ini Shane tidak pergi untuk berburu Vampire, karena Nela sedang kurang sehat.

“Kemana ya Hayden? Hari ini ia benar-benar tidak ada kabar” ucap Nela seraya duduk ditepi tempat tidurnya dan melihat kearah jendela kamarnya.

Nela pun mengambil ponselnya dan melihat ke layar ponselnya.

“Hayden tidak membalas pesan ku juga” ucap Nela seraya melihat ke layar ponselnya.

Dan Nela pun kembali melihat ke arah jendela kamarnya.

“Mark menghilang... Dan kini Hayden pun juga menghilang. Kemana ya mereka berdua?” ucap Nela.

Tiba-tiba Nela pun kembali teringat pada ucapannya Roland tadi siang saat ditaman.

“Mungkin Roland benar, sepertinya aku memang jatuh cinta pada Hayden. Dan aku sudah merasakan hal itu sejak pertama kali aku bertemu dengannya diperpustakaan” ucap Nela.

Nela pun berjalan kearah jendela kamarnya. Ia terdiam seraya melihat kearah luar jendela.
Malam yang sangat dingin, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Ya, hal itu karena sekarang sedang turun salju.

“Hehm, musim dingin telah tiba. Tapi kini aku harus sendiri berada disini. Benar-benar membosankan” ucap Nela dalam hati.

Dan ia pun merasa mulai mengantuk.

“Lebih baik sekarang aku tidur, dan berharap mereka datang ke mimpiku” ucap Nela seraya berjalan ketempat tidurnya.

Nela pun segera naik ke tempat tidurnya, lalu ia segera merebahkan tubuhnya diatas kasur.

“Good night Hayden, Mark... Jaga diri kalian dengan baik” ucap Nela.

Dan ia pun mulai memejamkan matanya. Sementara Hayden baru saja tiba diapartementnya.

“Ternyata disini sudah malam, sepertinya aku terlalu lama di Canada. Hehm, dan hari ini cukup melelahkan...” ucap Hayden seraya merebahkan tubuhnya diatas kasur.

Ia pun menoleh ke arah meja kecil yang ada didekat tempat tidurnya.

“Ternyata aku lupa membawa ponsel ku!” ucap Hayden ketika melihat ponselnya yang berada diatas meja kecil itu.

Hayden pun segera mengambil ponselnya.

“Bagaimana bisa aku lupa membawa ponsel ku?” ucap Hayden seraya melihat layar ponselnya.

“Apa? Ternyata dari tadi Nela menghubungi ku!” Ucap Hayden ketika melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Nela.

“Ia juga mengirim beberapa pesan. Ya ampun, bodohnya aku! Kenapa aku bisa lupa membawa ponsel ku?” ucap Hayden ketika melihat ada beberapa pesan dari Nela.

Hayden pun segera membaca beberapa pesan dari Nela.

“Aku harus segera kerumahnya Nela!” Ucap Hayden segera beranjak pergi kerumahnya Nela.

Setelah sampai dirumahnya Nela, Hayden pun tak lupa untuk berhati-hati agar kedatangannya tidak diketahui oleh Robert.

“Sepertinya Robert tidak ada disini” ucap Hayden seraya memperhatikan kearah sekitarnya.

“Nela!” Ucap Hayden ketika melihat Nela yang sedang tertidur.

Ia pun segera menghampiri Nela dan duduk ditepi tempat tidurnya Nela.

“Maafkan aku, seharian aku tidak mengabari mu” ucap Hayden.

Dan tiba-tiba Nela pun kembali mengigau dan memanggil-manggil nama Mark.

“Mark! Mark, dimana kau?”

“Lagi-lagi ia memanggil nama Mark...” ucap Hayden seraya menarik nafas.

Dan Nela pun kembali mengigau, namun kini ia tidak memanggil-manggil nama Mark.

“Hayden! Hayden, kau ada dimana? Ku harap kau tidak melakukan hal yang bodoh!”

Sontak Hayden pun sangat terkejut ketika mendengar Nela mengigau dan memanggil-manggil namanya.

“Apa? Nela memanggil-manggil nama ku didalam tidurnya?” ucap Hayden.

Hayden pun segera mendekati Nela, dan perlahan ia mengusap lembut rambutnya Nela.

“Kau tenang saja, sekarang aku ada disini bersama dengan mu” ucap Hayden seraya mengusap rambutnya Nela dengan lembut.

Nela pun kembali mengigau dan memanggil-manggil namanya Hayden.

“Hayden! Ku mohon jangan menyerahkan diri mu pada Roland! Jangan lakukan hal bodoh itu!”

“Aku tidak akan pernah menyerahkan diri ku pada Roland. Aku berjanji akan hal itu” ucap Hayden.

Dan tiba-tiba Nela pun kembali mengigau, namun kini ia menggigil kedinginan.

“Apa yang terjadi pada mu?” ucap Hayden seraya memegang keningnya Nela.

“Ya ampun, badannya panas sekali” ucap Hayden.

“Bagaimana ini? Tidak mungkin jika aku mengatakan hal ini pada Shane dan Andrew” ucap Hayden.

Hayden pun segera mendekap Nela yang sedang tertidur.

“Semoga cara ini dapat membuat mu hangat” ucap Hayden.

Hayden pun tetap mendekap Nela, dan ternyata cara itu dapat membuat suhu badannya Nela kembali normal.
Namun Nela pun kembali mengigau dan memanggil-manggil namanya Hayden.

“Hayden! Kau ada dimana?”

“Aku ada disini bersama dengan mu” bisik Hayden ditelingannya Nela.

Dan tiba-tiba Nela pun terbangun dari tidurnya.

“Hayden!” ucap Nela yang segera memeluk Hayden.

“Apa yang terjadi pada mu?” ucap Hayden.

“Kau kemana saja? Seharian ini kau tidak ada kabar sama sekali. Kau juga tidak mengangkat telepon dari ku, dan kau juga tidak membalas pesan ku” ucap Nela.

“Maafkan aku Nela, tadi aku pergi ke Canada untuk menengok kuburannya Rachel. Namun aku lupa membawa ponsel ku. Dan ketika aku melihat ponsel ku, ternyata ada beberapa panggilan dan pesan dari mu. Maka dari itu aku langsung kesini” ucap Hayden.

“Aku kira kau melakukan hal bodoh” ucap Nela.

“Hal bodoh? Menyerahkan diri pada Roland?” ucap Hayden.

“Ya” ucap Nela.

“Aku berjanji pada mu, aku tidak akan pernah menyerahkan diri pada Roland” ucap Hayden.

“Aku pegang janji mu Hayden!” ucap Nela.

“Tadi siang aku bertemu dengan Roland...” Belum selesai Nela berbicara, namun Hayden sudah memotong ucapannya.

“Lalu apa dia melukai mu?” ucap Hayden.

“Dia tidak melukai sedikit pun, namun dia mengatakan kalau ia akan tetap membunuh mu. Kau tahu, hal itu membuat ku begitu mengkhawatirkan diri mu” ucap Nela.

“Kau tenang saja, sampai kapanpun Roland tidak akan bisa membunuh ku” ucap Hayden.

“Jaga diri mu dengan baik Hayden, karena aku tidak ingin kehilangan dirimu” ucap Nela.

“Ya, aku akan selalu menjaga diriku” ucap Hayden.

“Malam yang begitu indah, aku bisa menghabiskan malam ini bersama dengan Nela” ucap Hayden dalam hati.

Nela pun segera melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku, tiba-tiba aku memeluk mu” ucap Nela.

“Tidak apa-apa, itu adalah gerakan repleks” ucap Hayden.

Sekarang Nela bisa bernafas dengan sedikit lega, karena sekarang Hayden bersama dengannya. Namun ia belum bisa tenang, karena Roland terus mengejar-ngejar Hayden.

“Aku senang, sekarang kampus kita sudah libur” ucap Nela.

“Ya, aku juga senang. Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?” ucap Hayden.

“Jalan-jalan? Kemana?” ucap Nela.

“Terserah kau mau jalan-jalan kemana. Keliling dunia pun juga tidak apa-apa” ucap Hayden.

“Keliling dunia? Dalam waktu sehari kita bisa keliling dunia?” ucap Nela yang sedikit terkejut.

“Ya, dalam waktu sehari kita bisa keliling dunia. Apa kau lupa, kalau aku adalah seorang Jumper?” ucap Hayden.

“Tentu saja aku tidak akan lupa dengan hal itu” ucap Nela.

“Lalu kau ingin jalan-jalan kemana? Tempat apa yang ingin kau kunjungi?” ucap Hayden.

“Entahlah, aku bingung” ucap Nela.

“Atau kita pergi ke perpustakaan saja?” ucap Hayden.

“Aku bosan pergi ke perpustakaan” ucap Nela.

“Kalau aku tidak bisa bosan pergi ke perpustakaan” ucap Hayden.

“Kenapa?” ucap Nela.

“Karena di perpustakaan pertama kali kita bertemu dan saling mengenal satu sama lain” ucap Hayden seraya menatap Nela.

Nela pun hanya tersenyum seraya menundukkan kepalanya. Lalu ia pun berjalan menuju jendela kamarnya.

“Salju yang begitu indah... Aku jadi ingin keluar rumah untuk melihat salju-salju itu secara langsung” ucap Nela.

“Kau ingin keluar? Apa ingin aku temani?” ucap Hayden seraya berjalan menghampiri Nela.

“Ya, jika kau tidak merasa direpotkan oleh ku” ucap Nela.

“Tentu saja tidak. Tapi diluar begitu dingin” ucap Hayden.

“Memangnya kenapa kalau diluar begitu dingin?” ucap Nela.

“Kau kan sedang kurang sehat. Tadi saja kau sempat menggigil kedinginan” ucap Hayden.

“Ya, tadi memang aku sempat merasa kendinginan namun tiba-tiba saja tubuhku terasa begitu hangat” ucap Nela.

“Ya, itu karena aku mendekapmu” ucap Hayden dalam hati.

“Tapi entahlah, aku tidak tahu apa yang membuat tubuhku menjadi hangat. Dan sekarang aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya” ucap Nela.

“Baiklah, tapi sebaiknya kau pakai jaket yang tebal dan sarung tangan karena diluar begitu dingin” ucap Hayden.

“Tidak perlu, karena aku tidak akan kendinginan. Sudahlah, ayo kita pergi” ucap Nela.

“Nela, kau jangan keras kepala. Pakailah jaket yang tebal, karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu!” ucap Hayden seraya menahan tangannya Nela.

“Ya, baiklah aku akan memakai jaket yang tebal” ucap Nela.

Dan Nela pun segera berjalan menuju lemarinya, lalu ia mengambil sebuah jaket yang cukup tebal.

“Ini aku sudah membawa jaketnya” ucap Nela.

“Cepat kau pakai jaket itu agar kau tidak merasa kedinginan” ucap Hayden.

Nela pun segera memakai jaket itu.

“Sarung tangannya mana?” ucap Hayden.

“Sudahlah, aku tidak ingin memakai sarung tangan” ucap Nela.

“Ya sudah, ayo kita pergi” ucap Hayden seraya menggandeng tangannya Nela.

Mereka pun hanya berjalan mendekati jendela kamarnya Nela, namun tiba-tiba mereka menghilang begitu saja.

“Sekarang kita sudah berada diluar rumahmu” ucap Hayden.

“Ya, kau benar Hayden!” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum.

“Salju yang sangat indah. Sudah cukup lama aku merindukan saat-saat seperti ini” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum seraya berjalan menghampiri Nela.

“Apa kau mempunyai kenangan saat turun salju seperti ini?” ucap Nela.

“Ya” ucap Hayden.

“Apa kenangan itu?” ucap Nela.

“Saat Rachel masih ada, kami selalu menghabiskan waktu bersama ketika turun salju seperti ini. Kami selalu membuat boneka salju, bermain lempar-lemparan salju, sampai bermain ice skating bersama. Tapi itu semua tinggal kenangan saja” ucap Hayden seraya menundukkan kepalanya.

“Damn! Seharusnya tidak menanyakan hal itu! Karena sudah pasti kenangannya adalah bersama dengan Rachel!” ucap Nela dalam hati seraya memperhatikan Hayden.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu bersedih. Dan seharusnya aku tidak menanyakan hal itu padamu” ucap Nela.

“Tidak apa-apa. Karena itu semua telah menjadi kenangan dimasa lalu, dan aku tidak ingin memikirkan yang telah tiada. Biarkan Rachel tenang disana, karena jika aku terus memikirkannya maka hanya akan mengundang air mata” ucap Hayden seraya menatap langit.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Lalu bagaimana dengan mu, apa kau juga mempunyai kenangan saat turun salju seperti ini?” ucap Hayden.

“Ya, dan kenangan itu hanya bersama dengan Shane. Karena setiap musim dingin tiba, aku hanya menghabiskan waktu bersama dengan Shane” ucap Nela.

“Apa saja yang kalian lakukan?” ucap Hayden.

“Kami hanya mengobrol bersama, membuat lagu bersama, sampai bernyanyi bersama” ucap Nela.

“Pasti sangat mengasyikkan ya?” ucap Hayden.

“Ya, itu memang sangat mengasyikkan. Tapi hal itu tidak akan terjadi lagi kalau Shane sudah menikah nanti” ucap Nela.

“Memangnya kenapa?” ucap Hayden.

“Karena ketika Shane sudah, ia akan menghabiskan waktu bersama dengan Gillian” ucap Nela seraya menatap langit.

“Jika kau tak merasa keberatan, aku siap menemani mu untuk menghabiskan waktu disaat musim dingin seperti ini atau kapan pun kau mau” ucap Hayden.

Nela pun menoleh ke arah Hayden seraya tersenyum. Dan Hayden pun hanya menaikkan kedua alisnya seraya ikut tersenyum.
Mereka pun terus mengobrol bersama seraya menikmati salju yang turun.

“Semakin lama semakin dingin ya” ucap Nela seraya menggosok-gosokkan kedua telapan tangannya.

“Sebaiknya kita pulang saja, karena semakin lama memang semakin dingin” ucap Hayden.

“Hehm... Nanti saja, aku masih ingin berada disini” ucap Nela.

Hayden pun hanya menganggukkan kepalanya.

Namun Nela terus menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
Hayden yang memperhatikannya pun juga ikut menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Dan Hayden pun meraih kedua tangannya Nela, lalu ia segera melapisi kedua tangannya Nela dengan kedua tangannya seraya meniup-niupkannya.

“Bagaimana apa kau masih merasa kedinginan?” ucap Hayden yang terus melakukan aktifitasnya itu.

Nela pun hanya terdiam seraya memperhatikan Hayden.

“Hayden begitu tampan, dan ia pun juga sangat baik padaku” ucap Nela seraya memperhatikan Hayden.

“Nela, kenapa kau diam saja?” ucap Hayden.

Nela pun sedikit terkejut.

“Nela, apa kau masih merasa kedinginan?” ucap Hayden.

“Tidak, aku sudah merasa lebih hangat sekarang” ucap Nela.

“Baiklah, agar kau lebih hangat lebih baik kau pakai jaketku” ucap Hayden.

“Aku tidak mau!” ucap Nela.

“Memangnya kenapa?” ucap Hayden.

“Kau harus tetap pakai jaketmu, agar kau tidak kedinginan” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum.

“Ya sudah, lebih baik kita pulang saja” ucap Nela.

“Baiklah, ayo kita pulang” ucap Hayden seraya menggandeng tangannya Nela.

Dan mereka pun segera kembali ke kamarnya Nela.

“Terima kasih ya kau telah menemani untuk menikmati salju yang turun” ucap Nela seraya melepas jaket yang ia pakai.

“Ya, sama-sama. Aku selalu siap untuk menemanimu, kapan pun kau mau” ucap Hayden.

Nela pun hanya tersenyum.

“Bagaimana apa kau sudah punya rencana untuk jalan-jalan besok?” ucap Hayden.

“Sepertinya belum ada, mungkin aku ingin menghabiskan waktu dirumah saja karena diluar sangat dingin” ucap Nela.

“Hehm, ya kau benar juga. Diluar memang sangat dingin” ucap Hayden seraya menganggukkan kepalanya.

“Oh ya, kau mau minum apa?” ucap Nela.

“Tidak perlu repot-repot, aku tidak ingin minum. Lagi pula ini sudah larut malam, sebaiknya kau tidur kembali” ucap Hayden.

“Aku belum mengantuk, tapi jika kau sudah mengantuk kau boleh pulang. Tidak apa-apa aku sendirian disini” ucap Nela.

“Aku juga belum mengantuk, tapi ini kan sudah larut malam kau harus segera tidur” ucap Hayden.

“Hayden, kenapa kau begitu cerewet seperti kakak-kakak ku?” ucap Nela seraya duduk ditepi tempat tidurnya diikuti oleh Hayden.

“Aku cerewet karena aku sangat sayang padamu” ucap Hayden dalam hati.

Hayden pun hanya terdiam seraya memperhatikan Nela.

“Kenapa kau memperhatikanku seperti itu?” Ucap Nela yang menyadari kalau Hayden sedang memperhatikannya.

“Tidak apa-apa” ucap Hayden.

Tiba-tiba ponselnya Hayden pun berdering.

“Sebentar ya” ucap Hayden seraya mengambil ponselnya didalam saku celananya.

Hayden pun melihat ke layar ponselnya, dan ternyata ada sebuah pesan.

“Gustin?” ucap Hayden seraya melihat kelayar ponselnya.

“Hayden! Kau ada dimana? Tadi Roland datang kesini, dan hampir saja aku tertangkap olehnya tapi untungnya aku bisa melarikan diri darinya”.

“Apa? Roland datang ke Canada?” ucap Hayden ketika selesai membaca pesan itu.

“Ada apa?” ucap Nela.

“Roland datang ke Canada, sepertinya ia baru tahu kalau tadi aku pergi ke Canada” ucap Hayden.

“Dari mana kau tahu kalau Roland datang ke Canada?” ucap Nela.

“Aku tahu dari temanku yang bernama Gustin. Ia juga seorang Jumper sepertiku” ucap Hayden.

“Jadi itu pesan dari Gustin?” ucap Nela.

“Ya, sekarang ia masih tinggal di Canada. Dan ia bilang, tadi Roland datang menemuinya” ucap Hayden.

“Lalu apa Roland berhasil menangkap Gustin?” Ucap Nela.

“Tidak, itu karena Gustin bisa melarikan diri dari Roland” ucap Hayden.

“Kau harus sangat berhati-hati Hayden! Jangan sampai Roland berhasil menangkapmu, dan ku mohon jangan pernah menyerahkan dirimu pada Roland” ucap Nela.

“Kau tenang saja, Roland tidak akan pernah berhasil menangkapku. Dan aku tidak akan pernah menyerahkan diriku padanya. I'm promise with you!” Ucap Hayden.

“Tapi tetap saja aku selalu mengkhawatirkan hal itu” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya.

“Tenang saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Dan lebih baik sekarang kau tidur, karena ini sudah larut malam” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Ya, baiklah...” Ucap Nela seraya merebahkan tubuhnya diatas kasur.

“Ya sudah, sekarang kau tidur ya” ucap Hayden.

“Hayden...” Ucap Nela.

“Ya, ada apa?” Ucap Hayden.

“Jangan pernah ulangi hal seperti tadi, karena aku begitu khawatir jika tak ada kabar darimu” ucap Nela.

Hayden pun tersenyum.

“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf padamu karena telah membuatmu sangat mengkhawatirkan aku. Tadi aku lupa membawa ponselku, tapi aku berjanji aku tidak akan mengulanginya” ucap Hayden.

Nela pun menganggukkan kepalanya.

“Ya sudah, sekarang kau tidur ya. Good night and have a nice dream. Besok aku akan menemuimu lagi” ucap Hayden.

“Thanks for tonight Hayden” ucap Nela seraya tersenyum.

Hayden pun hanya tersenyum dan segera beranjak pergi dari kamarnya Nela.


---------------------


Esoknya, ketika Hayden sedang bersantai di apartementnya tiba-tiba ia di kagetkan oleh kedatangannya Gustin.

“Hayden!” ucap Gustin dengan nafas yang tergesa-gesa.

“Gustin! Ada apa?” ucap Hayden.

“Ini bahaya! Roland sedang mengikuti ku” ucap Gustin.

“Apa? Kau sedang tidak bercanda kan?” ucap Hayden.

“Hayden, tidak mungkin aku bercanda disaat yang tidak tepat seperti ini!” ucap Gustin seraya mengatur nafasnya.

“Lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” ucap Hayden.

“Tidak ada yang bisa kalian lakukan. Karena aku sudah berada disini, dan siap untuk menangkap kalian!” ucap Roland yang tiba-tiba datang.

“Roland, kenapa kau selalu datang disaat yang tidak tepat?” ucap Hayden.

“Karena jika aku datang disaat yang tepat, maka kalian pasti akan segera melarikan diri” ucap Roland.

“Roland, apa kau tidak lelah terus-menerus mengejar kami?” ucap Gustin.

“Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah lelah mengejar kalian sampai aku berhasil membunuh kalian! Dan sepertinya ini saat yang tepat, karena aku bisa membunuh dua orang Jumper dalam waktu yang bersamaan” ucap Roland.

“Hayden, bagaimana ini? Aku tidak ingin mati ditangan Roland!” ucap Gustin pelan.

“Kau tenang saja!” Ucap Hayden.

“Sekarang kalian tidak akan bisa melarikan diri lagi, karena aku sudah menyiapkan tali khusus untuk mengikat kalian dan kalian tidak akan bisa bebas dari tali ini” ucap Roland seraya mengambil sebuah tali yang cukup panjang dari dalam tasnya.

Selasa, 16 Juni 2015

My Love is Vampire - Chapter XVII

“Baru saja aku ingin menghampiri kalian, tapi kalian sudah datang” ucap Shane.

Nela, Andrew, dan Shane pun segera duduk dikursi yang berada dibelakang meja makan.

“Hi Nela, kau apa kabar? Lama kita tidak ketemu ” Ucap Nicky.

“Kabar ku baik Nick, kabar mu sendiri? Ya, cukup lama juga” ucap Nela.

“Kabar ku juga baik” ucap Nicky seraya tersenyum.

“Nela, kenapa kau hanya menanyakan kabar Nicky saja? Kau tidak menanyakan kabar ku?” Ucap Brian.

“Oh iya, kabar mu bagaimana Bri?” Ucap Nela.

“Dasar kau ini Bri!” Ucap Shane seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka pun hanya tertawa.

“Ya sudah, ayo kita sarapan kalian pasti sudah pada lapar kan” ucap Shane.

“Kau tahu saja Shane, kalau aku sudah lapar” ucap Brian.

Shane pun hanya tertawa kecil. Dan mereka semua segera menyantap sarapan pagi.

“Bagaimana dengan kuliah mu Andrew? Kapan kau kembali ke London?” Ucap Nicky seraya menyantap sarapannya.

“Entahlah, aku tidak tahu kapan aku kembali ke London” ucap Andrew seraya menyantap sarapannya.

“Apa kau tak ingin kembali ke London?” Ucap Nicky.

“Ya, sepertinya memang begitu” ucap Andrew.

“Lalu bagaimana dengan kuliah mu?” Ucap Nicky.

“Jika aku tidak kembali ke London lagi, maka aku akan tinggal dan kuliah disini” ucap Andrew.

“Iya Nick, sepertinya Andrew memang tidak akan kembali ke London lagi. Karena jika ia kembali ke London, lalu jika aku menikah nanti maka Nela bagaimana? Ia tidak mungkin tinggal dirumah ini sendirian” ucap Shane seraya menyantap sarapannya.

“Ya, kau benar juga Shane. Tidak mungkin Nela harus tinggal dirumah ini sendirian” ucap Nicky.

“Jika Andrew ingin tetap kembali ke London, kenapa Nela tidak ikut bersama dengan Andrew saja?” Ucap Brian seraya menyantap sarapannya.

“Aku tidak bisa meninggalkan Ireland Bri” ucap Nela seraya menyantap sarapannya.

“Memangnya kenapa?” Ucap Brian.

“Aku sudah terlanjur begitu mencintai Ireland” ucap Nela.

“Oh, pantas saja waktu itu kau lebih memilih tinggal disini bersama dengan Shane dari pada tinggal di London bersama dengan Andrew dan kedua orang tua mu” ucap Brian.

“Ya, itu karena aku begitu mencintai Ireland” ucap Nela.

“Lalu kau sudah bilang ke kampus mu kalau kau akan pindah ke Ireland?” Ucap Nicky.

“Belum, soal itu biar nanti saja. Lagi pula sekarang kan kampus ku masih libur” ucap Andrew.

Nicky pun hanya menganggukkan kepalanya seraya menyantap sarapannya.

“Kalau kau Shane, bagaimana hubungan mu dengan Gillian?” Ucap Brian.

“Hubungan kami baik-baik saja” ucap Shane.

“Lalu kapan kalian akan menikah Shane?” Ucap Nicky.

“Entahlah, kami sudah merencanakan hal itu tapi kami belum menentukan waktunya” ucap Shane.

Nicky pun hanya menganggukkan kepala seraya menyantap sarapannya.

30 menit kemudian...

Mereka pun telah selesai menyantap sarapan mereka. Dan kini mereka sedang mengobrol diruang tamu seraya bersantai bersama.
Namun tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari arah luar.

“Sepertinya ada suara klakson mobil” ucap Andrew.

“Sebentar, biar aku yang lihat” ucap Nela seraya berjalan menuju keluar rumahnya.

Setelah sampai diluar rumahnya, Nela pun melihat seorang pria yang sedang keluar dari dalam mobilnya.

“Hey! Dav!” Ucap Nela ketika melihat pria itu.

Ternyata pria itu adalah David.

“Hey!” Ucap David.

“Ayo silahkan masuk” ucap Nela.

Dan mereka pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan berjalan menuju ruang tamu.

“Hey! David!” Ucap Shane.

“Hallo semuanya” ucap David.

“Silahkan duduk Dav” ucap Andrew.

Nela dan David pun segera duduk disebuah sofa.

“Kau apa kabar Dav?” Ucap Andrew.

“Kabar ku baik” ucap David.

“Dav, kau mau minum apa?” Ucap Nela.

“Sudahlah, aku tak ingin merepotkan mu” ucap David.

“Tidak apa-apa, kau tidak akan membuat ku repot” ucap Nela.

“Biar aku saja yang buatkan minum” ucap Shane.

“Tidak perlu Shane! Biar aku saja yang buatkan minum untuk David” ucap Nela.

“Kau mau minum apa Dav?” Ucap Nela.

“Terserah kau saja” ucap David.

“Baiklah, kau tunggu disini ya. Yang lain, ada yang mau aku buatkan minum juga?” Ucap Nela.

“Aku mau babe!” Ucap Andrew.

“Ya baiklah. Shane, Nicky, Brian, apa kalian mau aku buatkan minum juga?” Ucap Nela.

“Tidak perlu sayang, nanti aku bisa buat sendiri” ucap Shane.

“Tidak” ucap Nicky dan Brian.

“Ya sudah. Dav, aku buat minuman dulu ya” ucap Nela.

“Iya” ucap David seraya tersenyum.

Nela pun segera beranjak pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman.

“Kau datang sendiri Dav?” Ucap Nicky.

“Ya, aku datang sendiri” ucap David.

“Lalu Hayden kemana?” Ucap Brian.

Brian pun hanya mendapat tatapan tajam dari Shane.

“Apa ada yang salah dengan ucapan ku?” Ucap Brian.

“Lebih baik kau diam saja Bri!” Ucap Nicky yang duduk disebelah Brian.

“Ya baiklah, aku akan diam” ucap Brian.

Dan tak lama Nela pun datang dengan membawa dua gelas minuman ditangannya.

“Ini Dav minumannya, silahkan diminum” ucap Nela seraya menyodorkan David segelas minuman.

“Thank you Nela” ucap David.

“Andrew, dan ini minuman mu” ucap Nela.

“Oh, thank you my babe!” Ucap Andrew.

Dan Nela pun segera duduk disebelah David seraya mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Ia pun menatap layar ponselnya.
Lalu ia mengutak-atik ponselnya, namun wajahnya terlihat seperti sedang gelisah. Shane yang berada didepannya, menyadari sikap adiknya itu.

“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat seperti sedang gelisah?” Ucap Shane.

“Hehm... Tidak apa-apa Shane, aku baik-baik saja” ucap Nela.

Shane pun hanya menganggukkan kepalanya, namun matanya tidak berpaling dari wajah adiknya. Dia terus memperhatikan wajah adiknya yang memang terlihat seperti sedang gelisah.
Nela pun terus mengutak-atik ponselnya.

“Hayden kemana ya? Kenapa dia tidak ada kabar? Tidak biasanya dia seperti ini” ucap Nela dalam hati seraya mengutak-atik ponselnya.

Shane pun terus memperhatikan wajahnya Nela.

“Jangan-jangan ia telah tertangkap oleh Roland? Atau dia telah menyerahkan diri kepada Roland?” Ucap Nela dalam hati.

David yang berada disebelahnya pun menyadari sikap Nela yang terlihat sedang tidak tenang.

“Ada apa Nela?” Ucap David.

“Tidak apa-apa Dav” ucap Nela.

“Semoga Hayden tidak melakukan hal yang bodoh! Jaga dirimu baik-baik Hayden!” Ucap Nela dalam hati seraya terus mengutak-atik ponselnya.

“Oh ya Nela, sebenarnya aku kesini untuk mengajak mu jalan-jalan. Tapi itu jika kau sedang tidak sibuk” ucap David.

Nela pun hanya terdiam seraya terus mengutak-atik ponselnya.

“My babe, David sedang berbicara dengan mu” ucap Andrew.

Nela pun hanya terdiam tanpa mempedulikan ucapannya Andrew.

“Itu kan Mark!” Pekik Brian.

Sontak Nela pun terkejut ketika mendengar nama Mark.

“Mana Mark?” Ucap Nela.

Brian pun hanya tertawa. Dan seketika Brian kembali mendapat tatapan tajam dari Shane.

“Brian, kau membohongi ku ya?” Ucap Nela.

“Iya, maaf ya. Lagi pula apa yang terjadi dengan mu? Andrew dan David berbicara dengan mu, tapi kau hanya diam saja” ucap Brian.

“Andrew, David, kalian berbicara dengan ku?” Ucap Nela.

“Iya my babe. What happens with you? Are you ok my babe?” Ucap Andrew seraya duduk disebelahnya Nela.

“Hehm... Maafkan aku semuanya” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya.

“Apa kau sedang tidak sehat Nela?” Ucap Nicky.

“Aku baik-baik saja Nick” ucap Nela.

“Sayang, lebih baik kau istirahat saja. Mungkin kau sedang memikirkan sesuatu” ucap Shane.

“Tidak Shane, aku baik-baik saja” ucap Nela.

Andrew pun segera merangkul pundaknya Nela.

“Nela pasti sedang memikirkan Hayden” ucap David dalam hati.

“Bagaimana sayang, apa kau ingin jalan-jalan dengan David atau tidak?” Ucap Shane.

“Tidak apa-apa, jika kau tidak bisa. Aku tidak akan memaksanya” ucap David.

“Ya Dav, aku mau jalan-jalan bersama dengan mu” ucap Nela seraya tersenyum.

David pun hanya tersenyum. Dia terlihat bahagia, karena Nela menerima ajakannya untuk jalan-jalan bersama dengannya.

“Sebentar ya, aku ganti baju dulu” ucap Nela.

David pun hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Dan Nela pun segera beranjak pergi menuju kamarnya.
Setelah sampai dikamarnya, Nela pun segera duduk ditepi tempat tidurnya seraya melamunkan sesuatu. Dan ia pun kembali menoleh ke layar ponselnya.

“Hehm... Kemana ya Hayden? Kenapa ia tidak ada kabar?” Ucap Nela seraya melihat ke layar ponselnya.

Nela pun mencoba untuk menghubungi Hayden.

“Kenapa ia tidak mengangkat telepon dari ku?” Ucap Nela.

Nela pun menarik nafas panjang. Dan ia teringat kalau ia harus segera bersiap-siap untuk pergi bersama dengan David. Dengan cepat Nela pun segera mengganti baju, dan bersiap-siap. Setelah selesai, ia pun segera berjalan menuju ruang tamu.

“Hey!” Ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.

“Shane, Andrew, aku izin untuk berjalan-jalan dengan adik mu ya” ucap David.

“Ya Dav. Kau boleh berjalan-jalan dengan adik ku, tapi kau harus menjaga dan melindunginya selama ia pergi bersama dengan mu” ucap Shane.

“Iya, Shane benar Dav. Kau harus menjaga my babe dengan sangat baik!” Ucap Andrew.

“Ya, kalian tenang saja. Aku akan selalu menjaganya dengan baik. Dan dia akan aman bersama denganku” ucap David.

Andrew dan Shane pun hanya menganggukkan kepala.

“Nicky, Brian, aku pergi dulu ya” ucap David.

“Iya Dav, kau hati-hati ya” ucap Nicky.

“Iya Dav, and have fun ya!” Ucap Brian.

David pun hanya tersenyum.

“Shane, Andrew, aku pergi dulu ya” ucap Nela.

“Iya, kau hati-hati ya sayang. Jika terjadi sesuatu segera lah hubungi aku” ucap Shane seraya mencium keningnya Nela.

“Iya Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya my babe, kau hati-hati ya. Dan jaga diri mu dengan baik” ucap Andrew seraya memeluk Nela.

“Iya my bro, kau tenang saja aku akan menjaga diri ku dengan baik” ucap Nela seraya tersenyum.

“Brian, Nicky, aku pergi dulu ya. Maaf, aku tidak bisa menemani kalian terlalu lama karena aku harus pergi dengan David” ucap Nela.

“Tidak apa-apa Nela. Bersenang-senanglah, dan jangan terlalu memikirkan Mark” bisik Nicky.

Nela pun hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum.

“Kau hati-hati ya Nela, and have fun with David!” Ucap Brian seraya mengedipkan sebelah matanya.

Nela pun hanya tersenyum.

“Baiklah semuanya, kami pergi dulu ya” ucap David.

David dan Nela pun segera pergi.

Saat diperjalanan, Nela pun hanya terdiam seraya memperhatikan jalan setapak. David yang sedang menyetir pun, sesekali melihat ke arah Nela.

“Nela, apa terjadi dengan mu? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu?” Ucap David seraya menyetir.

“Hehm... Tidak apa-apa Dav, aku baik-baik saja” ucap Nela.

“Benarkah? Jika kau sedang memikirkan sesuatu, cerita lah kepada ku” ucap David.

“Aku sedang tidak memikirkan apa-apa Dav” ucap Nela.

“Lalu apa kau sedang sakit?” Ucap David.

“Tidak Dav” ucap Nela.

David pun hanya menganggukkan kepala.

“Apa Nela sedang memikirkan Hayden?” Ucap David dalam hati seraya menyetir mobilnya.

Nela pun terus terdiam seraya tetap memperhatikan jalan setapak.

“Kemana ya Hayden? Kenapa ia tidak mengangkat telepon dari ku? Apa dia sudah tertangkap oleh Roland?” Ucap Nela dalam hati.

Perasaannya Nela pun menjadi campur aduk. Disatu sisi, ia sangat merindukan Mark. Dan disisi lain, ia sedang mencemaskan Hayden.

“Mark menghilang... Dan Hayden pun juga menghilang... Hayden, kau ada dimana? Kenapa kau tiba-tiba menghilang seperti ini?” Ucap Nela dalam hati.

David yang duduk disebelah Nela pun hanya bisa terdiam seraya berfokus menyetir mobilnya.
Nela pun mengambil ponsel dari saku celananya, lalu ia mencoba mengetik sebuah pesan.

“Hayden...” Dan Nela pun mengirim pesan itu ke nomornya Hayden.

“Aku berharap Hayden membalas pesan ku” ucap Nela dalam hati.

Beberapa menit kemudian, Hayden pun tidak membalas pesan dari Nela.
Dan Nela pun kembali mengetik sebuah pesan.

“Hayden... Kau ada dimana? Kenapa kau tidak mengangkat telepon ku? Dan kenapa kau juga tidak membalas pesan dari ku? Apa kau marah pada ku? Aku berharap kau baik-baik saja” Nela pun kembali mengirim pesan ke nomornya Hayden.

Beberapa saat kemudian...

Hayden pun juga tidak membalas pesan dari Nela, dan hal itu semakin membuat Nela menjadi begitu mengkhawatirkan Hayden.
Tak lama mereka pun sampai ditempat tujuan mereka, yaitu disebuah taman yang cukup luas.

“Nela, kita sudah sampai. Ayo kita turun” ucap David.

Nela pun hanya terdiam seraya melamun.

David pun menepuk pundaknya Nela pelan. Dan sontak Nela pun terkejut.

“Ada apa Dav?” Ucap Nela.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memberi tahu kalau sekarang kita sudah sampai ditempat tujuan kita” ucap David.

“Hehm, baiklah ayo kita turun” ucap Nela.

David dan Nela pun segera keluar dari mobilnya David.

“Kita ada dimana Dav?” Ucap Nela ketika melihat pemandangan didepannya.

“Sekarang kita ada disebuah taman. Apa sebelumnya kau pernah datang kesini?” Ucap David.

“Tidak Dav. Jika sebelumnya aku pernah datang kesini, maka aku tidak mungkin bertanya pada mu” ucap Nela.

David pun hanya tertawa kecil. Dan mereka pun segera berjalan memasuki taman itu.

“Taman ini tidak terlalu besar, tapi menurut taman ini begitu indah dan nyaman” ucap David.

“Tapi menurut ku taman ini cukup luas Dav” ucap Nela.

“Ya, pendapat setiap orang memang berbeda-beda” ucap David.

Nela pun hanya tertawa kecil.

“Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin mengajak mu kesini, tapi waktunya selalu tidak tepat” ucap David.

Nela pun hanya menganggukkan kepala.

“Tapi kenapa taman ini tidak begitu ramai seperti taman-taman yang lain? Padahal taman ini cukup indah dan nyaman” ucap Nela.

“Entahlah, mungkin itu karena tidak terlalu banyak orang yang tahu tentang taman ini” ucap David.

Mereka pun terus berjalan seraya mengobrol.

“Ayo kita duduk disana” ucap David seraya menunjuk kesebuah kursi panjang.

“Ide bagus Dav!” Ucap Nela.

Dan mereka pun segera berjalan menghampiri kursi panjang itu.

“Cukup melelahkan juga ya” ucap David seraya duduk dikursi panjang itu diikuti oleh Nela.

“Ya, memang cukup melelahkan” ucap Nela.

“Tapi rasa lelah itu terbayar oleh pemandangan didepan kita” ucap David.

Ya, didepan kursi yang mereka duduki memang terdapat sebuah danau yang begitu indah dengan air yang jernih dan dikelilingi oleh bunga-bunga yang indah.

“Pemandangan yang cukup indah, dan membuat hati menjadi lebih tenang” ucap Nela seraya menarik nafas panjang.

David pun hanya tersenyum melihat ekspresinya Nela.

“Apa kau suka dengan tempat ini?” Ucap David.

“Ya, aku suka sekali dengan tempat ini. Terima kasih Dav, kau telah mengajak ku ketempat ini” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya, sama-sama Nela. Jika suatu saat kau ingin datang ketaman ini lagi, maka aku siap untuk mengantar mu” ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.

“Aku ingin memetik bunga itu” ucap Nela seraya menunjuk ke arah sebuah bunga yang berwarna merah muda.

“Biar aku yang memetiknya ya” ucap David.

Nela pun hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum. Dan David pun segera berjalan untuk memetik bunga yang ditunjuk oleh Nela.

“Ini bunganya” ucap David seraya memberikan Nela setangkai bunga yang tadi ia tunjuk.

“Terima kasih Dav” ucap Nela seraya tersenyum.

“Aku berharap kita selalu bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini” ucap David dalam hati seraya tersenyum.

“Bunga yang begitu cantik” ucap Nela seraya memperhatikan bunga itu.

“Nela, apa kau haus?” Ucap David.

“Ya, bagaimana dengan mu Dav?” Ucap Nela.

“Aku juga haus. Kau tunggu disini ya, aku akan membelikan minuman untuk kita” ucap David.

“Ya Dav” ucap Nela seraya tersenyum.

David pun segera beranjak pergi untuk membeli minuman. Dan Nela pun kembali memperhatikan bunga yang ia pegang itu. Namun tiba-tiba Roland datang, dan duduk disebelahnya.

“Ternyata kau disini rupanya” ucap Roland, dan tentu saja hal itu membuat Nela begitu terkejut.

“Roland!” Ucap Nela.

“Ternyata kau masih ingat pada ku. Kemana Vampire mu itu?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam.

“Kau tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tahu kalau Vampire mu itu sedang pergi” ucap Roland.

“Dari mana kau tahu soal itu?” Ucap Nela.

“Sepertinya aku tidak perlu memberi tahu tentang hal itu” ucap Roland.

“Roland ada disini, itu artinya Hayden sedang tidak bersamanya. Lalu kemana Hayden?” Ucap Nela dalam hati.

“Kau tenang saja aku tidak akan membunuh mu atau melukai mu sedikit pun. Tapi...” Ucap Roland yang sengaja memotong ucapannya.

“Tapi apa?” Ucap Nela.

“Ku rasa aku tidak perlu menjawabnya, karena aku yakin kau pasti sudah tahu jawabannya” ucap Roland.

“Jangan lukai Hayden!” Ucap Nela.

“Wanita yang sangat pintar, kau bisa membaca isi dari pikiran ku. Pantas saja banyak pria yang merebutkan mu” ucap Roland.

“Aku mohon jangan lukai Hayden sedikit pun!” Ucap Nela.

“Ya ya ya, kau tenang saja aku tidak akan melukainya sedikit pun. Tapi aku akan membunuhnya!” Ucap Roland.

“Jangan lakukan hal itu! Lebih baik kau bunuh aku saja, seperti kau membunuh Rachel!” Ucap Nela.

“Apa? Membunuh mu? Kau tahu membunuh mu tidak semudah yang kau bayangkan, begitu banyak orang-orang yang melindungi mu. Dan hal itu membuat ku begitu sulit untuk membunuh atau melukai mu sedikit pun” ucap Roland.

“Tapi kenapa kau begitu mudah membunuh Rachel?” Ucap Nela.

“Ya, tentu saja aku begitu mudah membunuhnya. Karena tidak banyak orang yang melindunginya, hanya Hayden saja yang begitu bodoh selalu berusaha melindunginya. Tapi sayang, usahanya itu gagal! Karena aku berhasil membunuh Rachel, kekasihnya itu” ucap Roland.

“Kau begitu kejam Roland! Kau seperti tidak punya hati!” Ucap Nela.

“Aku kejam? Ya, kau memang benar. Aku memang kejam” ucap Roland seraya tertawa.

“Aku mohon pada mu, jangan bunuh Hayden!” Ucap Nela.

“Maaf ya, aku tidak bisa memenuhi permintaan mu itu. Karena aku harus tetap membunuhnya seperti aku membunuh Jumper yang lain” ucap Roland.

“Tidak! Kau tidak boleh membunuhnya! Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!” Ucap Nela.

“Kenapa seperti itu? Sepertinya kau juga mencintai Hayden ya?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam.

“Sepertinya Roland benar, aku memang mencintai Hayden... Maafkan aku Mark, aku jatuh cinta pada Hayden...” Ucap Nela dalam hati.

“Kenapa kau terdiam? Apa ucapan ku itu benar? Sudah ku duga kalau kau juga mencintai Hayden. Lalu bagaimana jika Vampire mu tahu tentang hal ini?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam seraya menatap Roland dengan tatapan yang begitu tajam.

“Sudahlah, lebih baik aku pergi mencari Hayden. Agar aku bisa lebih cepat membunuhnya” ucap Roland seraya beranjak pergi.

“Jangan pernah lakukan hal itu Roland! Dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!” Pekik Nela.

Dan Nela segera menghubungi Hayden, namun Hayden tidak mengangkat telepon dari Nela.

“Hayden, kau ada dimana? Tolong angkat telepon dari ku” ucap Nela.

Tak lama David pun kembali dengan membawa 2 buah minuman kaleng.

“Nela, ini minuman mu” ucap David seraya menyodorkan sebuah minuman kaleng.

“Terima kasih Dav” ucap Nela.

“Apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau terlihat begitu mencemaskan sesuatu” ucap David.

“Tidak apa-apa Dav. Aku hanya merasa sedikit kurang sehat” ucap Nela.

“Kalau begitu lebih baik kita pulang saja” ucap David.

“Tidak perlu Dav, aku baik-baik saja” ucap Nela.

“Tidak! Kita harus segera pulang, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu” ucap David.

“Tapi Dav, kita kan belum lama sampai disini. Lagi pula, kita kan sedang jalan-jalan” ucap Nela.

“Lupakan hal itu! Sekarang yang lebih penting adalah kesehatan mu!” Ucap David.

Nela pun hanya menarik nafas.

“Ayo kita pulang” ucap David seraya menggandeng tangannya Nela.

Nela dan David pun segera berjalan menuju mobilnya David. Dan mereka segera masuk kedalam mobilnya David.

“Lebih baik sekarang kita ke dokter saja, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu” ucap David seraya menyalakan mesin mobilnya.

“Tidak perlu Dav” ucap Nela.

“Tapi aku tak ingin terjadi sesuatu pada mu” ucap David.

“Kau tak perlu mengkhawatirkan ku Dav, karena aku akan baik-baik saja” ucap Nela seraya tersenyum.

“Ya sudah, sekarang kita pulang saja. Karena kau harus istirahat, agar kesehatan mu segera pulih kembali” ucap David.

Dan mereka pun segera pergi meninggalkan taman itu.

“Maafkan aku Dav, aku harus berbohong padamu. Karena tidak mungkin jika aku mengatakan kalau aku sedang mengkhawatirkan Hayden. Dan terima kasih atas perhatian mu padaku, kau sudah begitu baik padaku Dav” ucap Nela dalam hati seraya memperhatikan David yang sedang berfokus menyetir mobilnya.

“Kenapa kau memperhatikan ku?” Ucap David seraya menyetir mobilnya dan sesekali menoleh ke arah Nela.

“Tidak apa-apa Dav. Aku senang bisa mengenal mu, karena aku sangat baik padaku” ucap Nela.

“Kau bisa saja” ucap David seraya tersenyum malu.

Nela pun hanya tersenyum.

“Ternyata kau juga begitu tampan Dav. Dan kau juga sangat baik” ucap Nela dalam hati.


30 menit kemudian mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Kau masuk dulu ya Dav” ucap Nela.

David pun menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera keluar dari mobilnya David.

“Ayo silahkan masuk Dav” ucap Nela.

David dan Nela pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan mereka berjalan menuju ruang tamu.

“Hey! Kalian sudah pulang” ucap Brian.

“Kenapa cepat sekali jalan-jalannya?” Ucap Nicky.

“Tadi Nela tiba-tiba merasa kurang sehat, jadi aku memutuskan untuk pulang” ucap David.

“My babe! What happens?” Ucap Andrew yang segera menghampiri Nela.

“Apa? Kau sedang sakit sayang?” Ucap Shane yang juga menghampiri Nela.

“Ya, aku merasa sedikit kurang sehat” ucap Nela seraya tersenyum.

“Sebaiknya sekarang kau cepat istirahat my babe!” Ucap Andrew.

“Ya, Andrew benar sayang kau harus segera istirahat” ucap Shane.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Aku akan segera menghubungi dokter” ucap Nicky yang segera mengambil ponselnya dari saku celananya.

“Tidak perlu Nick!” Ucap Nela.

“Memangnya kenapa?” Ucap Nicky.

“Tidak apa-apa, aku hanya perlu istirahat saja Nick” ucap Nela.

“Ya sudah kalau seperti itu” ucap Nicky.

“Ya sudah, semuanya aku pulang dulu ya” ucap David.

“Iya Dav, terima kasih untuk hari ini. Maaf, jalan-jalan kita jadi terganggu karena aku kurang sehat” ucap Nela.

“Tidak apa-apa, yang terpenting adalah kesehatan mu. Karena aku tak ingin kau kenapa-kenapa” ucap David.

“So Sweet!” Ucap Brian.

Mereka pun hanya tertawa.

“Ya sudah, kau hati-hati ya Dav. Sekali lagi terima kasih untuk hari ini” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya sama-sama. Aku juga berterima kasih pada mu karena kau telah menemani ku untuk jalan-jalan” ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.

Jumat, 05 Juni 2015

My Love is Vampire - Chapter XVI

Saat malam tiba, Nela berencana untuk pergi ke hutan untuk mencari Mark.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Dan Nela sudah bersiap-siap untuk pergi ke hutan.

“Aku harus pergi ke hutan itu!” Ucap Nela seraya bergegas.

Dia pun menoleh ke arah jendela kamarnya untuk memastikan kalau Robert sedang tidak mengawasi gerak-geriknya.

“Syukurlah, Robert sedang tidak mengawasi ku” ucap Nela seraya beranjak pergi dari kamarnya.

Setelah keluar dari kamarnya, Nela pun menoleh ke kamarnya Andrew dan Shane.

“Sepertinya mereka ada dikamarnya masing-masing” ucap Nela ketika melihat ke arah pintu kamar kakak-kakaknya.

Perlahan Nela pun berjalan menuruni anak tangga.

“Maafkan aku Andrew, Shane, aku harus tetap pergi ke hutan itu untuk mencari petunjuk tentang keberadaannya Mark” ucap Nela ketika membuka pintu rumahnya.

Nela pun tetap berjalan dengan hati-hati agar gerak-geriknya tidak diketahui oleh kakak-kakaknya.
Sejenak ia melihat ke arah jarum jam di jam tangannya.

“Lebih baik aku jalan kaki saja” ucap Nela.

Nela pun segera pergi menuju hutan, ia memilih untuk melewati jalan pintas agar cepat sampai dihutan itu.
Dan suasana saat itu memang begitu sepi, tidak ada satu pun orang yang berjalan kaki.

“Kenapa malam ini begitu sepi?” Ucap Nela seraya tetap berjalan.

Nela pun terus berjalan menyelusuri jalanan yang sepi itu. Dan tiba-tiba ia melihat Mark berdiri didepannya dan menghalangi jalannya.

“Berhenti! Pulang lah, dan jangan lanjutkan perjalanan mu!” Ucap Mark.

“Mark!” Ucap Nela yang segera menghampiri Mark.

Namun tiba-tiba ada angin yang berhembus, dan Mark pun menghilang bersama angin itu.

“Ternyata hanya halusinasi ku saja...” Ucap Nela seraya menarik nafas panjang.

Nela pun menoleh ke arah sekitarnya. Namun tidak ada siapapun, hanya ada pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi ke langit. Dan Nela pun kembali melanjutkan perjalannya.


**********


Tak butuh waktu lama untuk Nela sampai di hutan itu. Ya, itu karena ia lewat jalan pintas.
Nela pun sampai dihutan yang ia tuju. Namun ia sudah disambut oleh suara lolongan serigala yang cukup membuat bulu kuduk menjadi merinding. Namun seperti tidak ada rasa takut sedikit pun, Nela tetap berjalan memasuki hutan itu.
Ia terus berjalan menyelusuri hutan itu, dan lagi-lagi terdengar suara lolongan serigala.

“Sepertinya itu hanya suara lolongan serigala biasa...” Ucap Nela seraya tetap berjalan.

Ia pun terus berjalan seraya menoleh ke kanan dan ke kiri.
Dan tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang sedang membuntutinya dari belakang. Perlahan, Nela pun mencoba menoleh ke belakang.
Dan ternyata benar, ia memang sedang di ikuti oleh seorang pria.

“Siapa kau?” Ucap Nela ketika melihat seorang pria yang berdiri dibelakangnya.

“Akhirnya kau menyadari, kalau sejak tadi aku mengikuti mu” ucap pria itu.

“Kenapa kau mengikuti ku?” Ucap Nela.

Pria itu pun hanya tersenyum.

“Hey! Siapa kau? Dan kenapa kau mengikuti ku?” Ucap Nela.

“Apa kau ingin tahu siapa aku yang sebenarnya?” Ucap pria itu.

“Ya, tentu saja!” Ucap Nela.

“Baiklah, tapi ku harap kau tidak akan menyesal setelah kau tahu siapa aku yang sebenarnya” ucap pria itu.

“Apa maksud pria ini? Apa jangan-jangan dia juga seorang Vampire?” Ucap Nela dalam hati.

Pria itu pun berjalan mendekati Nela.

“Benarkah kau ingin tahu siapa aku yang sebenarnya?” Ucap pria itu.

“Ya” ucap Nela singkat.

“Apa kau yakin?” Ucap pria itu.

“Ya!” Ucap Nela.

“Baiklah kalau seperti itu. Dan sekali lagi ku harap kau tidak menyesal, setelah kau tahu siapa aku yang sebenarnya” ucap pria itu.

Pria itu pun berdiri didepannya Nela, dan tiba-tiba pria itu mengeluarkan sebuah lolongan panjang seperti serigala. Dan tentu saja, hal itu membuat Nela menjadi terkejut.

“Apa itu cukup?” Ucap pria itu.

“Jadi kau adalah seorang Werewolf?” Ucap Nela.

“Ternyata kau begitu pintar, padahal aku hanya mengeluarkan sebuah lolongan tapi kau sudah tahu siapa aku yang sebenarnya” ucap pria itu.

“Jadi kau benar-benar seorang Werewolf?” Ucap Nela.

“Ya, aku adalah seorang Werewolf” ucap pria itu.

Nela pun mulai merasa takut, ia takut kalau tiba-tiba pria itu menyerangnya.

“Malam-malam seperti ini kenapa kau ada disini? Apa kau tidak takut sendirian ada dihutan yang begitu seram ini?” Ucap pria itu.

“Aku sedang mencari seseorang” ucap Nela.

“Seseorang? Siapa? Memangnya dia hilang dihutan ini?” Ucap pria itu.

“Tidak” ucap Nela.

“Lalu?” Ucap pria itu.

Nela pun hanya terdiam.

“Oh ya, kita belum berkenalan. Nama ku adalah Mike William, kau bisa memanggil Mike. Dan siapa nama mu?” Ucap pria itu.

“Nama ku Nela” ucap Nela singkat.

“Nama yang bagus. Kau pasti masih takut pada ku ya? Tenang saja, aku tidak akan melukai mu” ucap pria itu.

“Benarkah?” Ucap Nela.

“Ya, kau tenang saja aku tidak akan menyerang atau melukai mu. Jadi kau tidak perlu takut pada ku” ucap pria itu.

Ternyata pria itu adalah seorang Werewolf, dan namanya adalah Mike William.

“Memangnya kau mencari siapa di hutan ini?” Ucap Mike.

“Hehm... Aku sedang mencari...” Ucap Nela.

Mike pun hanya menaikkan kedua alisnya.

“Jangan dekati dia!” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah belakangnya Mike.

Mike pun menoleh ke arah belakangnya.

“Robert” ucap Nela ketika melihat seorang pria yang berjalan menghampiri mereka.

“Kau kenal dengannya?” Ucap Mike kepada Nela.

“Ya, aku kenal dengannya” ucap Nela.

“Jangan dekati dia Mike!” Ucap Robert seraya berdiri tepat didepannya Nela.

“Memangnya kenapa?” Ucap Mike.

“Kau tidak tahu siapa wanita ini!” ucap Robert.

“Dia adalah seorang manusia kan? Dan dia berada disini karena dia sedang mencari seseorang” ucap Mike.

“Ya, dia memanglah seorang manusia. Lalu apa kau tahu siapa seseorang yang dia cari?” Ucap Robert.

Mike pun hanya menggelengkan kepalanya.

“Ternyata kau belum tahu siapa seseorang yang dia cari” ucap Robert.

“Memangnya siapa seseorang yang sedang dia cari?” Ucap Mike.

“Seseorang yang dia cari adalah Mark!” Ucap Robert.

“Apa? Mark? Vampire yang paling cepat itu kan?” Ucap Mike yang sedikit terkejut.

“Ya, seseorang yang dia cari adalah Mark Feehily. Seorang Vampire yang sangat cepat, dan lebih cepat dari Vampire yang lain” ucap Robert.

“Kenapa dia mencari Mark?” Ucap Mike yang mulai bingung.

“Karena Mark adalah kekasihnya!” Ucap Robert.

“Apa? Kau pasti sedang bercanda kan?” Ucap Mike.

“Aku sedang tidak bercanda! Dan wanita ini adalah kekasih dari Mark” ucap Robert.

“Nela, apa yang dikatakan Robert itu benar?” Ucap Mike.

“Ya, Robert benar. Aku adalah kekasihnya Mark, dan aku berada disini untuk mencarinya” ucap Nela.

Mike pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lebih baik sekarang kau pergi dari sini Mike, jika kau tak ingin berurusan dengan aku dan Mark!” Ucap Robert.

“Kau tenang saja Robert, aku tidak akan menyakitinya” ucap Mike.

“Aku tidak bisa percaya dengan ucapan mu Mike” ucap Robert.

“Ayolah Robert, biarkan aku berada disini untuk sejenak” ucap Mike.

“Nela, lebih baik sekarang kita pergi dari sini!” Ucap Robert.

“Tapi aku sedang mencari Mark” ucap Nela.

“Percuma, kau tidak akan menemukannya. Karena sekarang Mark tidak ada dihutan ini” ucap Robert.

Dan lagi-lagi terdengar suara lolongan serigala.

“Nela, kita harus cepat pergi dari sini!” Ucap Robert seraya memegang tangannya Nela.

“Ya, sepertinya Robert benar. Kau harus cepat pergi dari sini, karena sebentar lagi para Werewolf yang lain pasti akan datang ke sini” ucap Mike.

“Ayo kita pergi!” Ucap Robert.

Dengan cepat Robert pun membawa Nela pergi dari hutan itu.


*********


Mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau pergi ke hutan itu sendirian?” Ucap Robert.

“Aku ingin mencari Mark” ucap Nela.

“Nela, bukankah kau sudah tahu kalau Mark tidak ada dihutan itu?” Ucap Robert.

“Ya, aku tahu hal itu” ucap Nela.

“Lalu, kenapa kau tetap pergi ke hutan itu untuk mencarinya?” Ucap Robert.

“Aku hanya ingin tahu dimana Mark berada, dan aku pergi ke hutan itu dengan harapan aku dapat petunjuk tentang keberadaannya Mark” ucap Nela.

“Dihutan itu kau tidak akan mendapatkan petunjuk tentang kebaradaannya Mark. Karena saat ini, tidak ada satu pun yang tahu dimana Mark berada” ucap Robert.

“Tapi aku begitu merindukannya!” Ucap Nela.

“Aku tahu hal itu. Tapi kau tak perlu melakukan hal bodoh seperti tadi. Jika kau datang ke hutan itu sendirian, maka itu sama saja halnya kau menyerahkan diri mu kepada makhluk yang ada dihutan itu” ucap Robert.

Nela pun hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya.

“Ku harap kau tidak pernah mengulangi hal bodoh seperti tadi” ucap Robert.

“Kau tak perlu khawatir, karena aku akan baik-baik saja. Lagi pula, tadi Mike tidak menyakiti ku sedikit pun” ucap Nela.

“Nela, kau tidak tahu kalau Mike adalah seorang pangeran Werewolf. Dia bukan Werewolf biasa, dan dia begitu kuat” ucap Robert.

“Pangeran Werewolf?” Ucap Nela.

“Ya, dia adalah seorang Pangeran Werewolf yang begitu kuat. Dan jika sedang menjadi Werewolf, dia bisa membunuh banyak orang dalam waktu yang cepat” ucap Robert.

Nela pun hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya.

“Ku harap kau tidak pernah melakukan hal bodoh itu lagi. Karena jika Mark tahu, maka dia akan begitu marah” ucap Robert.

Nela pun bercerita kepada Robert kalau tadi ia bertemu dengan Mark.

“Apa? Kau bertemu dengan Mark?” Ucap Robert yang sedikit terkejut.

“Iya, tapi sepertinya itu hanya halusinasi ku saja. Karena ketika angin berhembus, dia menghilang begitu saja bersama hembusan angin itu” ucap Nela.

“Itu artinya Mark tahu kalau kau akan pergi ke hutan itu” ucap Robert.

“Benarkah?” Ucap Nela.

“Ya, maka dari itu ia datang bersama dengan angin untuk melarang mu agar kau tak pergi ke hutan itu” ucap Robert.

“Tapi kenapa ia pergi begitu saja?” Ucap Nela.

“Karena kau tidak mendengarkan ucapannya dan kau tetap pergi ke hutan itu” ucap Robert.

Nela pun hanya terdiam.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur karena ini sudah larut malam” ucap Robert.

Nela pun segera merebahkan tubuhnya diatas kasurnya, namun tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu.

“Iya, siapa?” Ucap Nela.

“Ini aku sayang” ucap seseorang dari luar kamarnya Nela.

“Shane” ucap Nela kepada Robert.

“Ya sudah, aku harus cepat pergi dari sini. Tapi kau tenang saja, aku akan segera kembali setelah Shane pergi dari kamar mu” ucap Robert.

“Ya” ucap Nela.

Robert pun segera pergi dari kamarnya Nela.

“Iya Shane, masuk saja pintunya tidak ku kunci” ucap Nela.

“Baiklah sayang, aku akan masuk” ucap Shane dari luar kamarnya Nela.

Shane pun membuka pintu kamarnya Nela.

“Hi sayang, ku pikir kau sudah tidur” ucap Shane seraya berjalan menghampiri Nela.

“Belum Shane, ada apa?” Ucap Nela.

“Tidak apa-apa, aku hanya rindu pada mu” ucap Shane seraya duduk ditepi tempat tidurnya Nela.

“Rindu? Bukankah setiap hari kita selalu bersama?” Ucap Nela.

“Ya, kau benar setiap hari kita memang selalu bersama” ucap Shane.

“Lalu?” Ucap Nela.

“Aku akan lebih merindukan mu lagi ketika aku sudah menikah nanti” ucap Shane.

“Kenapa bisa seperti itu? Bukankah kita tetap bisa bertemu setelah kau menikah nanti” ucap Nela.

“Ya, yang ku rindukan adalah saat-saat dimana kita bisa menghabiskan waktu berdua seperti saat ini. Mungkin jika nanti aku sudah menikah, maka jarang sekali aku bisa menghabiskan waktu bersama dengan mu” ucap Shane.

Nela pun tersenyum dan segera memeluk Shane dari samping.

“Jangan khawatir kakak ku sayang, nanti kita tetap bisa menghabiskan waktu bersama meskipun hal itu jarang terjadi” ucap Nela.

“Maafkan aku adik ku, aku telah memisahkan kau dengan pria yang kau cintai. Aku memang bukan kakak yang baik untuk mu! Aku benar-benar menyesal telah melakukan hal bodoh itu!” Ucap Shane.

“Tidak apa-apa Shane. Aku tahu kau melakukan hal itu demi kebaikkan ku juga, karena kau takut kalau tiba-tiba aku menjadi Vampire. Jangan menyalahkan dirimu sendiri Shane, karena ini bukanlah salahmu. Dan kau adalah kakak yang sangat baik untuk ku, aku sangat beruntung memiliki kakak seperti mu dan Andrew” ucap Nela.

Shane pun segera memeluk Nela dengan erat.

“Aku sangat sayang pada mu Nela, dan aku sangat bahagia memiliki adik seperti mu. Aku berjanji jika nanti aku sudah menikah, aku akan tetap meluangkan waktu ku untuk menghabiskan waktu bersama dengan mu. Karena menghabiskan waktu bersama dengan mu adalah hal yang sangat penting dalam hidup ku. Dan sebelum Gillian datang, kau lah yang selalu mengisi hari-hari ku, dan membuat hari-hari ku menjadi lebih berwarna” ucap Shane.

“Aku juga sangat bahagia memiliki kakak seperti mu Shane, dan aku juga sangat menyayangi mu Shane” ucap Nela.

Shane pun hanya tersenyum seraya tetap memeluk Nela dengan erat. Dan tiba-tiba Andrew pun datang.

“Ternyata kau ada disini Shane!” Ucap Andrew.

Shane pun melepaskan pelukannya.

“Ada apa Andrew?” Ucap Shane.

“Dari tadi ponsel mu terus-menerus berdering, dan itu begitu menganggu ku!” Ucap Andrew.

“Benarkah? Tapi kenapa aku tidak mendengarnya?” Ucap Shane.

“Entahlah. Lebih baik kau lihat dulu ponselmu” ucap Andrew.

“Baiklah. Nela, aku lihat ponsel ku dulu sepertinya itu telepon dari Gillian” ucap Shane.

“Iya Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

Shane pun segera beranjak pergi menuju kamarnya. Dan Andrew pun berjalan menghampiri Nela.

“Kau belum tidur my babe?” Ucap Andrew.

“Belum, aku sedang mengobrol dengan Shane” ucap Nela.

“Aku pikir kau sudah tidur sejak tadi” ucap Andrew seraya duduk ditepi tempat tidurnya Nela.

Nela pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya serius sekali, sampai Shane tidak dengar kalau ponselnya berdering” ucap Andrew.

“Kami hanya sedang membicarakan jika nanti Shane sudah menikah dengan Gillian” ucap Nela.

“Benarkah?” Ucap Andrew.

“Ya” ucap Nela.

“Tapi kenapa kelihatannya serius sekali?” Ucap Andrew.

“Itu mungkin karena kami terlalu larut dalam obrolan kami” ucap Nela.

Andrew pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Kau sendiri sedang apa dikamar mu?” Ucap Nela.

“Aku hanya sedang mendengarkan musik” ucap Andrew.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur” ucap Andrew.

“Nanti saja aku belum mengantuk” ucap Nela.

“Tidurlah, ini sudah larut malam dan kau harus istirahat” ucap Andrew.

“Nanti saja Andrew” ucap Nela.

“My babe, kenapa kau begitu keras kepala?” Ucap Andrew.

“Bukankah kau juga begitu keras kepala?” Ucap Nela.

“Ya baiklah, terserah kau saja” ucap Andrew.

Nela pun hanya terdiam seraya memperhatikan Andrew.

“Kenapa kau memperhatikan ku seperti itu?” Ucap Andrew yang menyadari kalau Nela sedang memperhatikannya.

“Ternyata kau semakin tampan kalau sedang marah” ucap Nela.

“My babe! Kau ini!” Ucap Andrew seraya mencubit kedua pipinya Nela.

“Awww! Kenapa kau mencubit pipi ku?” Ucap Nela seraya memegang kedua pipinya.

“Kau tahu tidak, kalau aku tidak bisa marah pada mu” ucap Andrew.

Nela pun hanya tersenyum. Andrew pun segera memeluk Nela.

“Aku sangat sayang pada mu adikku” ucap Andrew.

“Aku juga sangat sayang padamu kakakku” ucap Nela.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kau tidur ya” ucap Andrew seraya melepaskan pelukannya.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya, dan segera merebahkan tubuhnya diatas kasur.

“Good night my babe, and have a nice dream. I love you so much!” Ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.

“Good night too my bro, and have a nice dream. I love you so much!” Ucap Nela seraya tersenyum.

Andrew pun hanya tersenyum seraya menyelimuti tubuhnya Nela dengan selimut. Dan Andrew pun segera beranjak pergi dari kamarnya Nela.
Ketika Nela baru saja ingin memejam mata, tiba-tiba Robert datang.

“Ku pikir kau sudah tidur” ucap Robert.

“Belum, baru saja aku ingin memejamkan mata” ucap Nela.

“Ya sudah, kau tidur saja. Aku akan tetap berada disini untuk menjaga mu. Aku takut kalau Mike mengikuti kita sampai rumah mu” ucap Robert.

“Apa? Mike mengikuti kita sampai rumah ku?” Ucap Nela yang sedikit terkejut mendengar ucapannya Robert.

“Tidak tahu, aku hanya takut saja kalau ia mengikuti kita” ucap Robert.

Robert pun berjalan ke arah jendela kamarnya Nela, lalu ia melihat keluar jendela.

“Bagaimana? Apa dia mengikuti kita?” Ucap Nela.

“Aku tidak merasakan kehadirannya disini, dan aku juga tidak mencium bau Werewolf” ucap Robert.

“Itu artinya dia tidak mengikuti kita sampai rumah ku?” Ucap Nela.

“Ya, sepertinya tidak. Tapi aku harus tetap menjaga mu sampai pagi tiba” ucap Robert.

“Ya, baiklah kalau seperti itu” ucap Nela.

“Ya sudah, kau tidur saja. Dan kau tak perlu khawatir soal Mike” ucap Robert.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya seraya memejamkan matanya.


*********


Pagi pun tiba, seperti biasa Shane sudah bangun untuk menyiapkan sarapan untuk pagi ini. Dan tak lama Nela pun datang.

“Morning my bro” ucap Nela seraya duduk disebuah kursi dibelakang meja makan.

“Morning my little sist. Maaf ya sayang, semalam aku tidak bisa melanjutkan obrolan kita” ucap Shane seraya menyiapkan sarapan.

“Tidak apa-apa Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

“Oh ya, Andrew mana?” Ucap Shane.

“Sepertinya ia masih dikamarnya, tapi kau tenang saja aku akan segera membangunkannya” ucap Nela seraya beranjak menuju ke kamarnya Andrew.

Shane pun hanya menganggukkan kepalanya seraya tetap menyiapkan sarapan.
Dan tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar.

“Ya, tunggu sebentar!” Ucap Shane.

Shane segera berjalan keluar untuk membukakan pintu pagar rumahnya.

“Hey! Nicky, Brian!” Ucap Shane ketika melihat dua orang sahabatnya.

Shane pun segera membukakan pintu pagar rumahnya. Dan Nicky, Brian, segera keluar dari mobilnya Nicky.

“Ayo silahkan masuk! Sekalian kita sarapan bersama, karena aku sedang menyiapkan sarapan” ucap Shane.

“Waw! Kau tahu saja Shane, kalau aku sedang lapar” ucap Brian.

Shane dan Nicky pun hanya tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepala mereka, dan mereka pun memasuki rumahnya Shane dan berjalan menuju ruang makan.

“Ayo, silahkan duduk” ucap Shane.

“Nela dan Andrew kemana? Apa mereka sedang pergi?” Ucap Nicky.

“Mereka sedang pergi Shane? Tapi sepertinya tadi aku melihat mobilnya Andrew” ucap Brian.

“Mereka sedang tidak pergi” ucap Shane.

“Lalu mereka kemana?” Ucap Brian.

“Nela sedang membangunkan Andrew, tapi entahlah kenapa ia belum kembali juga” ucap Shane.

“Mungkin mereka sedang mengobrol Shane” ucap Nicky.

“Ya, mungkin juga. Sebentar ya, biar aku panggil mereka” ucap Shane.

Baru saja Shane ingin beranjak pergi menuju kamarnya Andrew, tapi Nela dan Andrew sudah datang.