Selasa, 16 Juni 2015

My Love is Vampire - Chapter XVII

“Baru saja aku ingin menghampiri kalian, tapi kalian sudah datang” ucap Shane.

Nela, Andrew, dan Shane pun segera duduk dikursi yang berada dibelakang meja makan.

“Hi Nela, kau apa kabar? Lama kita tidak ketemu ” Ucap Nicky.

“Kabar ku baik Nick, kabar mu sendiri? Ya, cukup lama juga” ucap Nela.

“Kabar ku juga baik” ucap Nicky seraya tersenyum.

“Nela, kenapa kau hanya menanyakan kabar Nicky saja? Kau tidak menanyakan kabar ku?” Ucap Brian.

“Oh iya, kabar mu bagaimana Bri?” Ucap Nela.

“Dasar kau ini Bri!” Ucap Shane seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka pun hanya tertawa.

“Ya sudah, ayo kita sarapan kalian pasti sudah pada lapar kan” ucap Shane.

“Kau tahu saja Shane, kalau aku sudah lapar” ucap Brian.

Shane pun hanya tertawa kecil. Dan mereka semua segera menyantap sarapan pagi.

“Bagaimana dengan kuliah mu Andrew? Kapan kau kembali ke London?” Ucap Nicky seraya menyantap sarapannya.

“Entahlah, aku tidak tahu kapan aku kembali ke London” ucap Andrew seraya menyantap sarapannya.

“Apa kau tak ingin kembali ke London?” Ucap Nicky.

“Ya, sepertinya memang begitu” ucap Andrew.

“Lalu bagaimana dengan kuliah mu?” Ucap Nicky.

“Jika aku tidak kembali ke London lagi, maka aku akan tinggal dan kuliah disini” ucap Andrew.

“Iya Nick, sepertinya Andrew memang tidak akan kembali ke London lagi. Karena jika ia kembali ke London, lalu jika aku menikah nanti maka Nela bagaimana? Ia tidak mungkin tinggal dirumah ini sendirian” ucap Shane seraya menyantap sarapannya.

“Ya, kau benar juga Shane. Tidak mungkin Nela harus tinggal dirumah ini sendirian” ucap Nicky.

“Jika Andrew ingin tetap kembali ke London, kenapa Nela tidak ikut bersama dengan Andrew saja?” Ucap Brian seraya menyantap sarapannya.

“Aku tidak bisa meninggalkan Ireland Bri” ucap Nela seraya menyantap sarapannya.

“Memangnya kenapa?” Ucap Brian.

“Aku sudah terlanjur begitu mencintai Ireland” ucap Nela.

“Oh, pantas saja waktu itu kau lebih memilih tinggal disini bersama dengan Shane dari pada tinggal di London bersama dengan Andrew dan kedua orang tua mu” ucap Brian.

“Ya, itu karena aku begitu mencintai Ireland” ucap Nela.

“Lalu kau sudah bilang ke kampus mu kalau kau akan pindah ke Ireland?” Ucap Nicky.

“Belum, soal itu biar nanti saja. Lagi pula sekarang kan kampus ku masih libur” ucap Andrew.

Nicky pun hanya menganggukkan kepalanya seraya menyantap sarapannya.

“Kalau kau Shane, bagaimana hubungan mu dengan Gillian?” Ucap Brian.

“Hubungan kami baik-baik saja” ucap Shane.

“Lalu kapan kalian akan menikah Shane?” Ucap Nicky.

“Entahlah, kami sudah merencanakan hal itu tapi kami belum menentukan waktunya” ucap Shane.

Nicky pun hanya menganggukkan kepala seraya menyantap sarapannya.

30 menit kemudian...

Mereka pun telah selesai menyantap sarapan mereka. Dan kini mereka sedang mengobrol diruang tamu seraya bersantai bersama.
Namun tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari arah luar.

“Sepertinya ada suara klakson mobil” ucap Andrew.

“Sebentar, biar aku yang lihat” ucap Nela seraya berjalan menuju keluar rumahnya.

Setelah sampai diluar rumahnya, Nela pun melihat seorang pria yang sedang keluar dari dalam mobilnya.

“Hey! Dav!” Ucap Nela ketika melihat pria itu.

Ternyata pria itu adalah David.

“Hey!” Ucap David.

“Ayo silahkan masuk” ucap Nela.

Dan mereka pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan berjalan menuju ruang tamu.

“Hey! David!” Ucap Shane.

“Hallo semuanya” ucap David.

“Silahkan duduk Dav” ucap Andrew.

Nela dan David pun segera duduk disebuah sofa.

“Kau apa kabar Dav?” Ucap Andrew.

“Kabar ku baik” ucap David.

“Dav, kau mau minum apa?” Ucap Nela.

“Sudahlah, aku tak ingin merepotkan mu” ucap David.

“Tidak apa-apa, kau tidak akan membuat ku repot” ucap Nela.

“Biar aku saja yang buatkan minum” ucap Shane.

“Tidak perlu Shane! Biar aku saja yang buatkan minum untuk David” ucap Nela.

“Kau mau minum apa Dav?” Ucap Nela.

“Terserah kau saja” ucap David.

“Baiklah, kau tunggu disini ya. Yang lain, ada yang mau aku buatkan minum juga?” Ucap Nela.

“Aku mau babe!” Ucap Andrew.

“Ya baiklah. Shane, Nicky, Brian, apa kalian mau aku buatkan minum juga?” Ucap Nela.

“Tidak perlu sayang, nanti aku bisa buat sendiri” ucap Shane.

“Tidak” ucap Nicky dan Brian.

“Ya sudah. Dav, aku buat minuman dulu ya” ucap Nela.

“Iya” ucap David seraya tersenyum.

Nela pun segera beranjak pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman.

“Kau datang sendiri Dav?” Ucap Nicky.

“Ya, aku datang sendiri” ucap David.

“Lalu Hayden kemana?” Ucap Brian.

Brian pun hanya mendapat tatapan tajam dari Shane.

“Apa ada yang salah dengan ucapan ku?” Ucap Brian.

“Lebih baik kau diam saja Bri!” Ucap Nicky yang duduk disebelah Brian.

“Ya baiklah, aku akan diam” ucap Brian.

Dan tak lama Nela pun datang dengan membawa dua gelas minuman ditangannya.

“Ini Dav minumannya, silahkan diminum” ucap Nela seraya menyodorkan David segelas minuman.

“Thank you Nela” ucap David.

“Andrew, dan ini minuman mu” ucap Nela.

“Oh, thank you my babe!” Ucap Andrew.

Dan Nela pun segera duduk disebelah David seraya mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Ia pun menatap layar ponselnya.
Lalu ia mengutak-atik ponselnya, namun wajahnya terlihat seperti sedang gelisah. Shane yang berada didepannya, menyadari sikap adiknya itu.

“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat seperti sedang gelisah?” Ucap Shane.

“Hehm... Tidak apa-apa Shane, aku baik-baik saja” ucap Nela.

Shane pun hanya menganggukkan kepalanya, namun matanya tidak berpaling dari wajah adiknya. Dia terus memperhatikan wajah adiknya yang memang terlihat seperti sedang gelisah.
Nela pun terus mengutak-atik ponselnya.

“Hayden kemana ya? Kenapa dia tidak ada kabar? Tidak biasanya dia seperti ini” ucap Nela dalam hati seraya mengutak-atik ponselnya.

Shane pun terus memperhatikan wajahnya Nela.

“Jangan-jangan ia telah tertangkap oleh Roland? Atau dia telah menyerahkan diri kepada Roland?” Ucap Nela dalam hati.

David yang berada disebelahnya pun menyadari sikap Nela yang terlihat sedang tidak tenang.

“Ada apa Nela?” Ucap David.

“Tidak apa-apa Dav” ucap Nela.

“Semoga Hayden tidak melakukan hal yang bodoh! Jaga dirimu baik-baik Hayden!” Ucap Nela dalam hati seraya terus mengutak-atik ponselnya.

“Oh ya Nela, sebenarnya aku kesini untuk mengajak mu jalan-jalan. Tapi itu jika kau sedang tidak sibuk” ucap David.

Nela pun hanya terdiam seraya terus mengutak-atik ponselnya.

“My babe, David sedang berbicara dengan mu” ucap Andrew.

Nela pun hanya terdiam tanpa mempedulikan ucapannya Andrew.

“Itu kan Mark!” Pekik Brian.

Sontak Nela pun terkejut ketika mendengar nama Mark.

“Mana Mark?” Ucap Nela.

Brian pun hanya tertawa. Dan seketika Brian kembali mendapat tatapan tajam dari Shane.

“Brian, kau membohongi ku ya?” Ucap Nela.

“Iya, maaf ya. Lagi pula apa yang terjadi dengan mu? Andrew dan David berbicara dengan mu, tapi kau hanya diam saja” ucap Brian.

“Andrew, David, kalian berbicara dengan ku?” Ucap Nela.

“Iya my babe. What happens with you? Are you ok my babe?” Ucap Andrew seraya duduk disebelahnya Nela.

“Hehm... Maafkan aku semuanya” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya.

“Apa kau sedang tidak sehat Nela?” Ucap Nicky.

“Aku baik-baik saja Nick” ucap Nela.

“Sayang, lebih baik kau istirahat saja. Mungkin kau sedang memikirkan sesuatu” ucap Shane.

“Tidak Shane, aku baik-baik saja” ucap Nela.

Andrew pun segera merangkul pundaknya Nela.

“Nela pasti sedang memikirkan Hayden” ucap David dalam hati.

“Bagaimana sayang, apa kau ingin jalan-jalan dengan David atau tidak?” Ucap Shane.

“Tidak apa-apa, jika kau tidak bisa. Aku tidak akan memaksanya” ucap David.

“Ya Dav, aku mau jalan-jalan bersama dengan mu” ucap Nela seraya tersenyum.

David pun hanya tersenyum. Dia terlihat bahagia, karena Nela menerima ajakannya untuk jalan-jalan bersama dengannya.

“Sebentar ya, aku ganti baju dulu” ucap Nela.

David pun hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Dan Nela pun segera beranjak pergi menuju kamarnya.
Setelah sampai dikamarnya, Nela pun segera duduk ditepi tempat tidurnya seraya melamunkan sesuatu. Dan ia pun kembali menoleh ke layar ponselnya.

“Hehm... Kemana ya Hayden? Kenapa ia tidak ada kabar?” Ucap Nela seraya melihat ke layar ponselnya.

Nela pun mencoba untuk menghubungi Hayden.

“Kenapa ia tidak mengangkat telepon dari ku?” Ucap Nela.

Nela pun menarik nafas panjang. Dan ia teringat kalau ia harus segera bersiap-siap untuk pergi bersama dengan David. Dengan cepat Nela pun segera mengganti baju, dan bersiap-siap. Setelah selesai, ia pun segera berjalan menuju ruang tamu.

“Hey!” Ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.

“Shane, Andrew, aku izin untuk berjalan-jalan dengan adik mu ya” ucap David.

“Ya Dav. Kau boleh berjalan-jalan dengan adik ku, tapi kau harus menjaga dan melindunginya selama ia pergi bersama dengan mu” ucap Shane.

“Iya, Shane benar Dav. Kau harus menjaga my babe dengan sangat baik!” Ucap Andrew.

“Ya, kalian tenang saja. Aku akan selalu menjaganya dengan baik. Dan dia akan aman bersama denganku” ucap David.

Andrew dan Shane pun hanya menganggukkan kepala.

“Nicky, Brian, aku pergi dulu ya” ucap David.

“Iya Dav, kau hati-hati ya” ucap Nicky.

“Iya Dav, and have fun ya!” Ucap Brian.

David pun hanya tersenyum.

“Shane, Andrew, aku pergi dulu ya” ucap Nela.

“Iya, kau hati-hati ya sayang. Jika terjadi sesuatu segera lah hubungi aku” ucap Shane seraya mencium keningnya Nela.

“Iya Shane” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya my babe, kau hati-hati ya. Dan jaga diri mu dengan baik” ucap Andrew seraya memeluk Nela.

“Iya my bro, kau tenang saja aku akan menjaga diri ku dengan baik” ucap Nela seraya tersenyum.

“Brian, Nicky, aku pergi dulu ya. Maaf, aku tidak bisa menemani kalian terlalu lama karena aku harus pergi dengan David” ucap Nela.

“Tidak apa-apa Nela. Bersenang-senanglah, dan jangan terlalu memikirkan Mark” bisik Nicky.

Nela pun hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum.

“Kau hati-hati ya Nela, and have fun with David!” Ucap Brian seraya mengedipkan sebelah matanya.

Nela pun hanya tersenyum.

“Baiklah semuanya, kami pergi dulu ya” ucap David.

David dan Nela pun segera pergi.

Saat diperjalanan, Nela pun hanya terdiam seraya memperhatikan jalan setapak. David yang sedang menyetir pun, sesekali melihat ke arah Nela.

“Nela, apa terjadi dengan mu? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu?” Ucap David seraya menyetir.

“Hehm... Tidak apa-apa Dav, aku baik-baik saja” ucap Nela.

“Benarkah? Jika kau sedang memikirkan sesuatu, cerita lah kepada ku” ucap David.

“Aku sedang tidak memikirkan apa-apa Dav” ucap Nela.

“Lalu apa kau sedang sakit?” Ucap David.

“Tidak Dav” ucap Nela.

David pun hanya menganggukkan kepala.

“Apa Nela sedang memikirkan Hayden?” Ucap David dalam hati seraya menyetir mobilnya.

Nela pun terus terdiam seraya tetap memperhatikan jalan setapak.

“Kemana ya Hayden? Kenapa ia tidak mengangkat telepon dari ku? Apa dia sudah tertangkap oleh Roland?” Ucap Nela dalam hati.

Perasaannya Nela pun menjadi campur aduk. Disatu sisi, ia sangat merindukan Mark. Dan disisi lain, ia sedang mencemaskan Hayden.

“Mark menghilang... Dan Hayden pun juga menghilang... Hayden, kau ada dimana? Kenapa kau tiba-tiba menghilang seperti ini?” Ucap Nela dalam hati.

David yang duduk disebelah Nela pun hanya bisa terdiam seraya berfokus menyetir mobilnya.
Nela pun mengambil ponsel dari saku celananya, lalu ia mencoba mengetik sebuah pesan.

“Hayden...” Dan Nela pun mengirim pesan itu ke nomornya Hayden.

“Aku berharap Hayden membalas pesan ku” ucap Nela dalam hati.

Beberapa menit kemudian, Hayden pun tidak membalas pesan dari Nela.
Dan Nela pun kembali mengetik sebuah pesan.

“Hayden... Kau ada dimana? Kenapa kau tidak mengangkat telepon ku? Dan kenapa kau juga tidak membalas pesan dari ku? Apa kau marah pada ku? Aku berharap kau baik-baik saja” Nela pun kembali mengirim pesan ke nomornya Hayden.

Beberapa saat kemudian...

Hayden pun juga tidak membalas pesan dari Nela, dan hal itu semakin membuat Nela menjadi begitu mengkhawatirkan Hayden.
Tak lama mereka pun sampai ditempat tujuan mereka, yaitu disebuah taman yang cukup luas.

“Nela, kita sudah sampai. Ayo kita turun” ucap David.

Nela pun hanya terdiam seraya melamun.

David pun menepuk pundaknya Nela pelan. Dan sontak Nela pun terkejut.

“Ada apa Dav?” Ucap Nela.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memberi tahu kalau sekarang kita sudah sampai ditempat tujuan kita” ucap David.

“Hehm, baiklah ayo kita turun” ucap Nela.

David dan Nela pun segera keluar dari mobilnya David.

“Kita ada dimana Dav?” Ucap Nela ketika melihat pemandangan didepannya.

“Sekarang kita ada disebuah taman. Apa sebelumnya kau pernah datang kesini?” Ucap David.

“Tidak Dav. Jika sebelumnya aku pernah datang kesini, maka aku tidak mungkin bertanya pada mu” ucap Nela.

David pun hanya tertawa kecil. Dan mereka pun segera berjalan memasuki taman itu.

“Taman ini tidak terlalu besar, tapi menurut taman ini begitu indah dan nyaman” ucap David.

“Tapi menurut ku taman ini cukup luas Dav” ucap Nela.

“Ya, pendapat setiap orang memang berbeda-beda” ucap David.

Nela pun hanya tertawa kecil.

“Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin mengajak mu kesini, tapi waktunya selalu tidak tepat” ucap David.

Nela pun hanya menganggukkan kepala.

“Tapi kenapa taman ini tidak begitu ramai seperti taman-taman yang lain? Padahal taman ini cukup indah dan nyaman” ucap Nela.

“Entahlah, mungkin itu karena tidak terlalu banyak orang yang tahu tentang taman ini” ucap David.

Mereka pun terus berjalan seraya mengobrol.

“Ayo kita duduk disana” ucap David seraya menunjuk kesebuah kursi panjang.

“Ide bagus Dav!” Ucap Nela.

Dan mereka pun segera berjalan menghampiri kursi panjang itu.

“Cukup melelahkan juga ya” ucap David seraya duduk dikursi panjang itu diikuti oleh Nela.

“Ya, memang cukup melelahkan” ucap Nela.

“Tapi rasa lelah itu terbayar oleh pemandangan didepan kita” ucap David.

Ya, didepan kursi yang mereka duduki memang terdapat sebuah danau yang begitu indah dengan air yang jernih dan dikelilingi oleh bunga-bunga yang indah.

“Pemandangan yang cukup indah, dan membuat hati menjadi lebih tenang” ucap Nela seraya menarik nafas panjang.

David pun hanya tersenyum melihat ekspresinya Nela.

“Apa kau suka dengan tempat ini?” Ucap David.

“Ya, aku suka sekali dengan tempat ini. Terima kasih Dav, kau telah mengajak ku ketempat ini” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya, sama-sama Nela. Jika suatu saat kau ingin datang ketaman ini lagi, maka aku siap untuk mengantar mu” ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.

“Aku ingin memetik bunga itu” ucap Nela seraya menunjuk ke arah sebuah bunga yang berwarna merah muda.

“Biar aku yang memetiknya ya” ucap David.

Nela pun hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum. Dan David pun segera berjalan untuk memetik bunga yang ditunjuk oleh Nela.

“Ini bunganya” ucap David seraya memberikan Nela setangkai bunga yang tadi ia tunjuk.

“Terima kasih Dav” ucap Nela seraya tersenyum.

“Aku berharap kita selalu bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini” ucap David dalam hati seraya tersenyum.

“Bunga yang begitu cantik” ucap Nela seraya memperhatikan bunga itu.

“Nela, apa kau haus?” Ucap David.

“Ya, bagaimana dengan mu Dav?” Ucap Nela.

“Aku juga haus. Kau tunggu disini ya, aku akan membelikan minuman untuk kita” ucap David.

“Ya Dav” ucap Nela seraya tersenyum.

David pun segera beranjak pergi untuk membeli minuman. Dan Nela pun kembali memperhatikan bunga yang ia pegang itu. Namun tiba-tiba Roland datang, dan duduk disebelahnya.

“Ternyata kau disini rupanya” ucap Roland, dan tentu saja hal itu membuat Nela begitu terkejut.

“Roland!” Ucap Nela.

“Ternyata kau masih ingat pada ku. Kemana Vampire mu itu?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam.

“Kau tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tahu kalau Vampire mu itu sedang pergi” ucap Roland.

“Dari mana kau tahu soal itu?” Ucap Nela.

“Sepertinya aku tidak perlu memberi tahu tentang hal itu” ucap Roland.

“Roland ada disini, itu artinya Hayden sedang tidak bersamanya. Lalu kemana Hayden?” Ucap Nela dalam hati.

“Kau tenang saja aku tidak akan membunuh mu atau melukai mu sedikit pun. Tapi...” Ucap Roland yang sengaja memotong ucapannya.

“Tapi apa?” Ucap Nela.

“Ku rasa aku tidak perlu menjawabnya, karena aku yakin kau pasti sudah tahu jawabannya” ucap Roland.

“Jangan lukai Hayden!” Ucap Nela.

“Wanita yang sangat pintar, kau bisa membaca isi dari pikiran ku. Pantas saja banyak pria yang merebutkan mu” ucap Roland.

“Aku mohon jangan lukai Hayden sedikit pun!” Ucap Nela.

“Ya ya ya, kau tenang saja aku tidak akan melukainya sedikit pun. Tapi aku akan membunuhnya!” Ucap Roland.

“Jangan lakukan hal itu! Lebih baik kau bunuh aku saja, seperti kau membunuh Rachel!” Ucap Nela.

“Apa? Membunuh mu? Kau tahu membunuh mu tidak semudah yang kau bayangkan, begitu banyak orang-orang yang melindungi mu. Dan hal itu membuat ku begitu sulit untuk membunuh atau melukai mu sedikit pun” ucap Roland.

“Tapi kenapa kau begitu mudah membunuh Rachel?” Ucap Nela.

“Ya, tentu saja aku begitu mudah membunuhnya. Karena tidak banyak orang yang melindunginya, hanya Hayden saja yang begitu bodoh selalu berusaha melindunginya. Tapi sayang, usahanya itu gagal! Karena aku berhasil membunuh Rachel, kekasihnya itu” ucap Roland.

“Kau begitu kejam Roland! Kau seperti tidak punya hati!” Ucap Nela.

“Aku kejam? Ya, kau memang benar. Aku memang kejam” ucap Roland seraya tertawa.

“Aku mohon pada mu, jangan bunuh Hayden!” Ucap Nela.

“Maaf ya, aku tidak bisa memenuhi permintaan mu itu. Karena aku harus tetap membunuhnya seperti aku membunuh Jumper yang lain” ucap Roland.

“Tidak! Kau tidak boleh membunuhnya! Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!” Ucap Nela.

“Kenapa seperti itu? Sepertinya kau juga mencintai Hayden ya?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam.

“Sepertinya Roland benar, aku memang mencintai Hayden... Maafkan aku Mark, aku jatuh cinta pada Hayden...” Ucap Nela dalam hati.

“Kenapa kau terdiam? Apa ucapan ku itu benar? Sudah ku duga kalau kau juga mencintai Hayden. Lalu bagaimana jika Vampire mu tahu tentang hal ini?” Ucap Roland.

Nela pun hanya terdiam seraya menatap Roland dengan tatapan yang begitu tajam.

“Sudahlah, lebih baik aku pergi mencari Hayden. Agar aku bisa lebih cepat membunuhnya” ucap Roland seraya beranjak pergi.

“Jangan pernah lakukan hal itu Roland! Dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!” Pekik Nela.

Dan Nela segera menghubungi Hayden, namun Hayden tidak mengangkat telepon dari Nela.

“Hayden, kau ada dimana? Tolong angkat telepon dari ku” ucap Nela.

Tak lama David pun kembali dengan membawa 2 buah minuman kaleng.

“Nela, ini minuman mu” ucap David seraya menyodorkan sebuah minuman kaleng.

“Terima kasih Dav” ucap Nela.

“Apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau terlihat begitu mencemaskan sesuatu” ucap David.

“Tidak apa-apa Dav. Aku hanya merasa sedikit kurang sehat” ucap Nela.

“Kalau begitu lebih baik kita pulang saja” ucap David.

“Tidak perlu Dav, aku baik-baik saja” ucap Nela.

“Tidak! Kita harus segera pulang, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu” ucap David.

“Tapi Dav, kita kan belum lama sampai disini. Lagi pula, kita kan sedang jalan-jalan” ucap Nela.

“Lupakan hal itu! Sekarang yang lebih penting adalah kesehatan mu!” Ucap David.

Nela pun hanya menarik nafas.

“Ayo kita pulang” ucap David seraya menggandeng tangannya Nela.

Nela dan David pun segera berjalan menuju mobilnya David. Dan mereka segera masuk kedalam mobilnya David.

“Lebih baik sekarang kita ke dokter saja, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu” ucap David seraya menyalakan mesin mobilnya.

“Tidak perlu Dav” ucap Nela.

“Tapi aku tak ingin terjadi sesuatu pada mu” ucap David.

“Kau tak perlu mengkhawatirkan ku Dav, karena aku akan baik-baik saja” ucap Nela seraya tersenyum.

“Ya sudah, sekarang kita pulang saja. Karena kau harus istirahat, agar kesehatan mu segera pulih kembali” ucap David.

Dan mereka pun segera pergi meninggalkan taman itu.

“Maafkan aku Dav, aku harus berbohong padamu. Karena tidak mungkin jika aku mengatakan kalau aku sedang mengkhawatirkan Hayden. Dan terima kasih atas perhatian mu padaku, kau sudah begitu baik padaku Dav” ucap Nela dalam hati seraya memperhatikan David yang sedang berfokus menyetir mobilnya.

“Kenapa kau memperhatikan ku?” Ucap David seraya menyetir mobilnya dan sesekali menoleh ke arah Nela.

“Tidak apa-apa Dav. Aku senang bisa mengenal mu, karena aku sangat baik padaku” ucap Nela.

“Kau bisa saja” ucap David seraya tersenyum malu.

Nela pun hanya tersenyum.

“Ternyata kau juga begitu tampan Dav. Dan kau juga sangat baik” ucap Nela dalam hati.


30 menit kemudian mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Kau masuk dulu ya Dav” ucap Nela.

David pun menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera keluar dari mobilnya David.

“Ayo silahkan masuk Dav” ucap Nela.

David dan Nela pun segera masuk kedalam rumahnya Nela, dan mereka berjalan menuju ruang tamu.

“Hey! Kalian sudah pulang” ucap Brian.

“Kenapa cepat sekali jalan-jalannya?” Ucap Nicky.

“Tadi Nela tiba-tiba merasa kurang sehat, jadi aku memutuskan untuk pulang” ucap David.

“My babe! What happens?” Ucap Andrew yang segera menghampiri Nela.

“Apa? Kau sedang sakit sayang?” Ucap Shane yang juga menghampiri Nela.

“Ya, aku merasa sedikit kurang sehat” ucap Nela seraya tersenyum.

“Sebaiknya sekarang kau cepat istirahat my babe!” Ucap Andrew.

“Ya, Andrew benar sayang kau harus segera istirahat” ucap Shane.

Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Aku akan segera menghubungi dokter” ucap Nicky yang segera mengambil ponselnya dari saku celananya.

“Tidak perlu Nick!” Ucap Nela.

“Memangnya kenapa?” Ucap Nicky.

“Tidak apa-apa, aku hanya perlu istirahat saja Nick” ucap Nela.

“Ya sudah kalau seperti itu” ucap Nicky.

“Ya sudah, semuanya aku pulang dulu ya” ucap David.

“Iya Dav, terima kasih untuk hari ini. Maaf, jalan-jalan kita jadi terganggu karena aku kurang sehat” ucap Nela.

“Tidak apa-apa, yang terpenting adalah kesehatan mu. Karena aku tak ingin kau kenapa-kenapa” ucap David.

“So Sweet!” Ucap Brian.

Mereka pun hanya tertawa.

“Ya sudah, kau hati-hati ya Dav. Sekali lagi terima kasih untuk hari ini” ucap Nela seraya tersenyum.

“Iya sama-sama. Aku juga berterima kasih pada mu karena kau telah menemani ku untuk jalan-jalan” ucap David.

Nela pun hanya tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar