Selasa, 20 Januari 2015

My Love is Vampire - Chapter IV

And this Chapter 4 ;)
Typo is everywhere. And enjoy read it...


==============================================================


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju ke kelasnya Nela.

“Entahlah, menurut ku kami tidak pernah bertengkar sekali pun. Aku hanya tinggal dirumahnya bersama dengan keluarganya selama satu tahun, saat aku baru datang ke Ireland” ucap Hayden.

“Namun kenapa sepertinya dia begitu membenci mu?” Ucap Nela.

“Biarkan saja, itu kan hak dia ingin membenci siapa pun termasuk ingin membenci ku” ucap Hayden.

Jawaban dari Hayden tentu saja belum memuaskan rasa penasarannya Nela. Dan Nela bermaksud menanyakan tentang hal itu kepada David saat waktu istirahat nanti.

“Kau memang begitu baik Hayden” ucap Nela.

Hayden pun hanya tersenyum.
Tak lama mereka pun sampai didepan kelasnya Nela.

“Baiklah Nela, sampai nanti ya” ucap Hayden.

“Ya” ucap Nela.

Hayden pun pergi meninggalkan kelasnya Nela, dan Nela segera memasuki ruang kelasnya.

3 jam pun berlalu...

Kini waktunya jam istirahat tiba.
Nela pun segera keluar dari ruang kelasnya, dan berjalan menuju kelasnya David. Setelah sampai didepan ruang kelasnya David, Nela pun segera memasukinya. Matanya begitu sibuk mencari keberadaan David. Namun dia tidak menemui David dikelasnya.

“Hey, apa kau melihat David?” Ucap Nela kepada seorang wanita didalam kelas itu yang sedang membaca buku.

“Tadi dia keluar, tapi aku tidak tahu dia pergi kemana” ucap wanita itu.

“Baiklah, terima kasih” ucap Nela seraya berjalan keluar dari kelasnya David.

“David pergi kemana ya?” Gumam Nela.

Nela pun mengambil ponselnya disaku bajunya, dan segera menghubungi David.


•••••••••••••••

“Hallo Dav” ucap Nela memulai pembicaraan ditelepon.

“Ya hallo, ada apa Nela?” Ucap David.

“Sekarang kau ada dimana Dav?” Ucap Nela.

“Aku sedang dihalaman belakang kampus, memangnya ada apa?” Ucap David.

“Baiklah, kau tunggu disana ya. Sekarang aku akan kesana, karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu” ucap Nela.

“Ya, baiklah” ucap David mengakhiri pembicaraan ditelepon.


•••••••••••••••••


Nela pun berjalan menuju halaman belakang kampusnya.
Ya, dibelakang kampusnya memang ada sebuah halaman terbuka yang begitu luas. Disana terdapat beberapa pohon besar dan rindang, dan udara disana memang begitu sejuk. Bila siang hari tidak pernah terasa panas sekali pun.
Siapapun yang berada disana, akan merasa nyaman dan rela berlama-lama ditempat itu karena udaranya yang begitu sejuk.
Tak lama Nela pun sampai dihalaman belakang kampusnya, dan ternyata benar David memang berada disana. Dia tengah menikmati udara yang sejuk seraya tiduran diatas rumput-rumput.
Nela pun berlari menghampiri David.

“Hey! Nela” ucap David seraya bangun dari posisi tidurannya.

“Dav!” Ucap Nela terengah-engah.

Seraya duduk, Nela pun mencoba untuk mengatur nafasnya.

“Ada apa Nela?” Ucap David.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu” ucap Nela.

“Tentang apa?” Ucap David.

“Tentang kau dan Hayden” ucap Nela.

David hanya menarik nafas panjang, seakan tak ingin membahas apa yang telah terjadi dengan dirinya dan Hayden.

“Aku tak ingin membicarakan hal itu” ucap David.

“Tapi Dav, aku begitu penasaran. Ada sesuatu yang mengganjal dipikiran ku” ucap Nela.

“Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu. Sebenarnya dari awal aku bertemu dengan Hayden, aku sudah mulai tidak suka dengannya. Hingga akhirnya dia datang dan tinggal dirumah ku bersama dengan keluarga ku. Cukup lama dia tinggal dirumahku. Namun kami seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain, dan kami tidak pernah saling menyapa atau mengobrol kecuali tentang hal yang penting” ucap David.

“Lalu kenapa kalian seperti orang yang bermusuhan?” Ucap Nela.

“Semenjak dia tinggal dirumahku, semuanya menjadi berubah. Kedua orang tua ku begitu menyayanginya, dan begitu juga dengan kakak perempuan ku. Mereka begitu sayang pada Hayden, dan mereka memberi perhatian lebih kepadanya. Semua itu membuat ku seperti orang asing dirumah ku sendiri, mereka semua seperti mengasingkan ku dan mengacuhkan ku begitu saja” ucap David.

“Mungkin karena Hayden jauh dari keluarganya, makanya keluarga mu memberi perhatian lebih kepadanya” ucap Nela.

“Aku tahu hal itu, tapi itu semua membuat keluarga ku menjadi tidak memperdulikan ku! Semuanya mengacuhkan ku begitu saja, aku seperti kehilangan perhatian dari mereka. Dan hal itu lah yang membuat ku begitu benci padanya. Hingga suatu saat, aku menanyakan kepada keluarga ku untuk memilih ku atau Hayden. Jika mereka memilih Hayden, maka aku akan pergi dari rumahku. Namun sebaliknya jika mereka memilih ku, maka Hayden harus pergi dari rumah ku. Seperti dengan berat hati, mereka memilih ku dan terpaksa Hayden harus pergi dari rumah ku” ucap David.

“Kau begitu egois Dav! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!” Bentak Nela.

“Nela, kau tidak mengerti bagaimana perasaan ku saat itu!” Ucap David.

“Tapi tidak seharusnya kau seperti itu Dav! Hayden pindah ke Ireland karena ada sebuah masalah di Canada” ucap Nela.

David hanya terdiam.

“Aku juga punya sebuah rahasia tentang Hayden. Kau tidak tahu kan siapa sebenarnya Hayden itu?” ucap David.

“Rahasia apa? Memangnya siapa Hayden sebenarnya” Ucap Nela.

“Aku tidak akan memberi tahu tentang rahasia dirinya kepada siapa pun termasuk pada dirimu, kecuali Hayden merebut seorang wanita yang sangat aku cintai” ucap David.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan Dav” ucap Nela.

“Nanti kau juga akan mengerti Nela” ucap David.

Nela hanya terdiam seraya masih bingung dengan apa yang David katakan. Dia begitu penasaran dengan rahasia tentang David.

“Sudahlah, sebaiknya sekarang kita kembali ke kelas. Karena sebentar lagi waktu istirahat akan habis” ucap David.

Dan mereka pun kembali ke kelas mereka masing-masing.


3 jam pun berlalu, dan kini waktunya para mahasiswa dan mahasiswi untuk pulang.
Nela pun berjalan keluar dari ruang kelasnya. Dan ternyata Hayden sudah menunggu didepan kelasnya Nela.

“Hey Nela! Ayo kita pulang bersama” ucap Hayden.

“Ya ayo” ucap Nela.

Dan mereka berdua pun berjalan menuju tempat parkir kampus mereka. Setelah sampai ditempat parkir kampus, mereka berdua segera memasuki mobilnya Hayden.

“Oh ya, maaf ya aku belum sempat membaca novel itu” ucap Nela.

“Ya, tidak apa-apa” ucap Hayden seraya menyalakan mesin mobilnya.

Dan mobil Hayden pun melaju meninggalkan kampus mereka.

“Aku masih penasaran dengan rahasia tentang Hayden. Aku ingin menanyakannya kepada Hayden, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat” ucap Nela dalam hati.

“Kenapa kau diam saja? Apa kau sedang sakit?” Ucap Hayden seraya berfokus menyetir mobilnya.

“Tidak, aku baik-baik saja” ucap Nela.


30 menit kemudian, mereka pun sampai dirumahnya Nela.

“Terima kasih ya, kau telah mengantar ku pulang” ucap Nela seraya keluar dari mobilnya Hayden.

“Ya, sama-sama Nela” ucap Hayden seraya tersenyum.

“Apa kau mau masuk kedalam rumah ku?” Ucap Nela.

“Tidak, aku ingin segera pulang saja” ucap Hayden.

“Hehm, baiklah kalau seperti itu” ucap Nela.

“Aku pulang dulu ya, titip salam pada Shane dan Andrew. And see you tomorrow Nela” ucap Hayden.

“Ya, see you Hayden” ucap Nela.

Mobil Hayden pun melaju meninggalkan rumahnya Nela. Dan Nela segera masuk kedalam rumahnya.

“Ternyata adik ku sudah pulang” ucap Shane yang tentu saja sedang menyiapkan makan siang.

“Ya Shane, Andrew kemana?” Ucap Nela seraya celingak celinguk mencari keberadaannya Andrew.

“Tadi dia sedang keluar sebentar, katanya dia begitu rindu dengan Ireland. Jadi dia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sebentar dengan menggunakan sepeda” ucap Shane yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk makan siang.

“Apa dia tidak bilang padamu dia mau pergi kemana?” Ucap Nela.

“Tidak, kau tenang saja sebentar lagi dia juga akan datang” ucap Shane.

“Hehm baiklah, aku ganti baju dulu ya Shane” ucap Nela.

“Ya” ucap Shane.

Nela pun berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kekamarnya. Setelah sampai didepan kamarnya, Nela segera membuka pintu kamarnya, dan memasuki kamarnya.

“Hehm, kira-kira Andrew pergi kemana ya?” Gumam Nela.

Nela pun segera mengambil ponselnya yang ada disaku bajunya, dan dia bermaksud untuk mengirim pesan kepada Andrew.

“Andrew, kau sedang dimana? Baru saja aku sampai dirumah, namun kau tidak ada dirumah” Nela pun mengirim pesan itu ke nomor ponselnya Andrew.

Tak lama Andrew pun membalas pesannya Nela.

“Aku sedang berkeliling disekitar komplek dengan menggunakan sepeda, sudah sangat lama aku tidak melakukan hal ini. Baiklah, aku akan pulang sekarang juga” pesan dari Andrew.

“Ya, cepatlah pulang. Aku akan menunggu kedatangan mu!” Nela pun membalas pesan dari Andrew.

Dan Nela pun segera mengganti baju, dan bersiap untuk makan siang bersama dengan kakak-kakaknya. Setelah selesai mengganti baju, dia segera berjalan menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan.

“Shane, Andrew belum pulang juga?” Ucap Nela seraya berjalan menuju meja makan.

Tiba-tiba ada seseorang yang menutup kedua matanya dari arah belakang.

“Siapa ini?” Ucap Nel seraya menyentuh kedua tangan yang sedang menutupi matanya.

Shane yang melihat hal itu, hanya tertawa kecil seraya duduk disebuah kursi yang berada dibelakang meja makan.

“Ini pasti adalah Andrew” ucap Nela.

Seseorang itu pun melepaskan tangannya yang menutupi kedua matanya Nela.

“Kenapa kau bisa tahu, kalau ini adalah aku?” Ucap seseorang itu yang ternyata memang lah Andrew.

“Aku bisa menebak dari wangi parfume mu Andrew, karena aku sangatlah hafal dengan wangi parfume mu itu” ucap Nela.

“Sudahlah, ayo kita makan siang” ucap Shane.

Dan mereka pun makan siang bersama-sama.

“Oh ya, Andrew nanti malam seperti biasa aku harus pergi untuk berburu Vampire. Jadi aku minta tolong padamu, untuk menjaga dan menemani Nela dirumah” ucap Shane seraya menyantap makan siangnya.

“Ya, kau tenang saja Shane. Nela pasti aman jika bersama ku” ucap Andrew.

Shane pun hanya menggangguk mengerti seraya tetap menyantap makan siangnya.

“Shane, apa nanti malam aku boleh ikut berburu dengan mu?” ucap Nela.

“Sebaiknya kau jangan ikut berburu, aku takut Werewolf yang waktu itu masih mengincar mu” ucap Shane.

Tiba-tiba Andrew pun tersendak karena mendengar apa yang dikatakan oleh Shane.

“Andrew, kau ini kalau makan pelan-pelan agar tidak tersendak” ucap Nela seraya memberikan segelas air minum kepada Andrew.

Andrew pun meneguk air yang diberikan oleh Nela.

“Werewolf? Apa maksud mu Shane?” Ucap Andrew heran.

Shane pun menceritakan tentang kejadian malam itu kepada Andrew.

“Tapi Werewolf itu tidak melukai mu sedikit pun kan?” Ucap Andrew kepada Nela.

“Tentu saja tidak” ucap Nela.

“Syukurlah kalau seperti itu. Tapi aku masih tidak percaya kalau Werewolf itu benar-benar ada. Hal itu benar-benar tidak masuk akal, menurut ku Werewolf itu hanya ada difilm dan cerita saja” ucap Andrew.

“Menurut ku juga seperti itu, tapi setelah aku bertemu dengannya pada malam itu. Aku jadi begitu yakin, kalau Werewolf itu memang benar-benar ada” ucap Nela.

Seraya menyantap makan siangnya, Andrew masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nela dan Shane. Menurutnya Werewolf itu memang benar-benar tidak ada.
Tak lama mereka pun selesai makan siang.

“Shane, Andrew, aku ingin kekamar dulu ya. Aku harus membaca novel yang baru saja aku beli beberapa hari yang lalu” ucap Nela.

“Ternyata kau masih suka membaca novel” ucap Andrew.

“Ya, begitulah” ucap Nela seraya berjalan menuju kamarnya.

Setelah sampai didepan kamarnya, Nela segera membuka pintu kamarnya. Dan berjalan memasuki kamarnya.
Dia mengambil sebuah novel dari dalam laci, dan tentu saja itu adalah sebuah novel yang membuatnya bertemu dengan Hayden.
Sejenak Nela tersenyum melihat novel itu seraya duduk ditempat tidurnya. Sungguh tak pernah ia duga, karena novel itu dia bisa bertemu dengan seorang pria yang bagaikan seorang pangeran. Perlahan dia membuka novel itu, dan mulai membacanya.

Sementara disebuah kastil tua, Mark sedang melamunkan sesuatu. Dan tiba-tiba seorang pria yang berambut agak kekuningan datang menghampirinya.

“Mark, kau sedang apa?” Ucap pria itu.

“Aku sedang memikirkan sesuatu Ki” ucap Mark.

Pria itu adalah Kian Egan, dia juga seorang Vampire sama seperti Mark. Dan dia adalah salah satu Vampire yang begitu dekat dengan Mark.

“Kau sedang memikirkan apa?” Ucap Kian.

“Aku sedang memikirkan seseorang wanita” ucap Mark.

“Sudah ku duga kalau kau sedang memikirkan seorang wanita. Siapa wanita itu? Dan wanita itu juga seorang Vampire kan?” Ucap Kian.

Mark pun menarik nafas panjang.

“Dia bukan seorang Vampire seperti kita, tapi...” Ucap Mark seakan tidak bisa menlanjutkan ucapannya itu.

“Tapi apa Mark? Ku harap wanita itu bukan lah seorang manusia!” Ucap Kian.

“Ya, wanita itu adalah seorang manusia” ucap Mark.

“Apa? Kau pasti sedang bercanda kan Mark?” Ucap Kian yang seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mark.

“Aku sedang tidak bercanda Ki, wanita itu memang seorang manusia” ucap Mark.

“Jangan bilang kalau kau menyukai wanita itu!” Ucap Kian yang menatap Mark dengan begitu serius.

“Ya, kurasa aku mulai menyukainya” ucap Mark.

“Mark!” Pekik Kian.

Mark pun sedikit terkejut dan menoleh ke arah Kian.

“Ada apa Ki? Apa aku salah?” Ucap Mark dengan polosnya.

“Tentu saja kau salah Mark! Kau mencintai seorang wanita, dan hal itu seharusnya tidak boleh terjadi! Karena Vampire dan manusia dilarang untuk saling jatuh cinta” ucap Kian.

“Lalu apa hukumannya jika seorang Vampire tetap mencintai seorang manusia?” Ucap Mark.

“Tidak ada hukumannya Mark, selama cinta itu masih berada di sebelah pihak saja. Tapi jika manusia itu juga mencintai seorang Vampire yang mencintainya, dan mereka berdua menjalani hubungan yang terlarang. Dan hukuman untuk Vampire itu adalah, dia akan dimasukkan kedalam neraka!” Ucap Kian.

“Apa? Sebesar itu kah hukumannya?” Ucap Mark yang sedikit terkejut, tetapi seakan tidak memperdulikan apa hukuman yang akan dia dapat nantinya.

“Ya, karena tidak seharusnya Vampire dan Manusia saling jatuh cinta satu sama lain. Dan ku harap wanita itu tidak pernah menyukai mu Mark. Maaf, bukannya aku tidak mendukung mu dan bukannya aku tidak ingin melihat mu bahagia bersama dengannya. Tapi aku hanya tak ingin kau mendapat hukuman itu Mark” ucap Kian seraya menepuk pelan bahunya Mark dan beranjak pergi meninggalkan Mark.


------------------

Malam pun tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.

“Andrew, Nela, aku pergi berburu dulu ya” ucap Shane seraya memasukkan alat-alat berburunya kedalam bagasi mobilnya.

“Ya, kau hati-hati ya Shane. Ku harap kau tidak bertemu dengan Werewolf” ucap Nela.

“Ya, kau tenang saja. Aku akan begitu berhati-hati” ucap Shane.

Nela pun mengambil sesuatu dari saku belakang celananya.

“Oh ya, ini Shane untuk mu berjaga-jaga kalau nanti kau bertemu dengan Werewolf itu. Dan aku sudah mengisinya dengan peluru perak” ucap Nela seraya memberikan Shane sebuah pistol yang sudah ia isi dengan peluru perak.

“Wow! Bagaimana pistol itu bisa ada disaku belakang mu?” Ucap Andrew yang terlihat sedikit heran.

“Aku sudah mempersiapkannya sejak tadi” ucap Nela.

“Nela, kau benar-benar seperti seorang Werewolf Hunter!” Ucap Andrew.

Nela pun hanya tersenyum.

“Terima kasih adik ku, aku akan menjaga pistol ini dengan baik” ucap Shane seraya memasukkan pistol itu kedalam bagasi mobilnya.

Shane pun selesai memasukkan semua alat-alat yang nantinya akan dibutuhkannya kedalam bagasi mobilnya.

“Baiklah, aku pergi dulu ya. Dan kau Andrew, kau mempunyai tugas yang begitu penting yaitu kau harus menjaga dan menemani adik kita dengan sangat baik!” Ucap Shane.

“Kau tenang saja Shane, aku akan selalu menjaga dan menemaninya. Believe me!” Ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.

“Ya, aku percaya pada mu Andrew” ucap Shane seraya memasuki mobilnya.

Shane pun segera menyalakan mesin mobilnya, dan segera pergi meninggalkan rumahnya. Nela dan Andrew pun segera memasuki rumah mereka, tak lupa Andrew pun mengunci pintu rumahnya.
Dan mereka berjalan menuju ruang tamu.

“Apa sebelumnya kau pernah berburu Werewolf?” Ucap Andrew seraya duduk disebuah sofa.

“Tidak pernah” ucap Nela seraya duduk disamping Andrew.

“Lalu, kenapa kau bisa memiliki pistol untuk berburu Werewolf itu?” Ucap Andrew.

“Aku membelinya disebuah toko yang menjual benda-benda yang terbuat dari perak” ucap Nela.

“Oh, jadi membunuh Werewolf harus menggunakan pistol yang berisi dengan peluru perak?” Ucap Andrew.

“Tidak juga, membunuh Werewolf bisa juga menggunakan pisau perak atau dengan anak panah yang terbuat dari perak” ucap Nela.

“Jadi membunuh Werewolf harus menggunakan benda yang terbuat dari perak” ucap Andrew.

“Ya, dengan menggunakan benda tajam atau dengan pistol yang terbuat dari peluru perak” ucap Nela.

“Aku tidak pernah menyangka kalau adik ku tahu tentang hal itu” ucap Andrew.

“Aku pernah membacanya disebuah buku yang membahas makhluk-makhluk yang dianggap tidak pernah ada, seperti Werewolf, Vampire, dan Dracula” ucap Nela.

Andrew pun hanya mengganggukkan kepalanya.

“Aku jadi ingin berburu Werewolf, hal itu kedengarannya begitu menarik untuk dilakukan” ucap Andrew.

“Ya, hal itu memang begitu menarik untuk dilakukan namun juga begitu berbahaya dan dapat mengancam nyawa sang pemburu Werewolf. Karena jika kita gagal membunuh Werewolf itu, maka Werewolf itu akan menggigit kita dan mengubah kita menjadi seperti mereka” ucap Nela.

“Dan hal itu kedengarannya sangat menakutkan, namun tidak dapat mengurungkan niat ku untuk mencoba berburu Werewolf” ucap Andrew.

“Nanti aku akan mengajak mu untuk berburu Werewolf bersama dengan ku” ucap Nela.

“Benarkah?” Ucap Andrew.

“Ya, tapi jangan sampai Shane tahu akan hal ini. Karena tentu saja dia tidak akan mengizinkan kita untuk berburu Werewolf” ucap Nela.

“Kau tenang saja, aku tidak akan memberi tahu Shane tentang hal itu. Dan kapan kita akan pergi untuk berburu Werewolf?” Ucap Andrew.

“Kita tunggu waktu yang tepat untuk berburu Werewolf” ucap Nela.

“Kapan waktu yang tepat itu? Aku sudah tidak sabar untuk berburu Werewolf!” Ucap Andrew yang terlihat begitu bersemangat.

“Pada bulan purnama, karena ku yakin Werewolf akan banyak berkeliaran pada bulan purnama” ucap Nela.

“Baiklah, sepertinya aku harus sabar menunggunya” ucap Andrew.

Mereka pun terus mengobrol sampai larut malam.

“Nela, sekarang kau harus tidur. Lihatlah, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00” ucap Andrew.

“Baiklah Andrew, aku tidur dulu ya” ucap Nela.

“Apa kau ingin aku mengantar mu sampai dikamar mu?” Ucap Andrew.

“Sepertinya tidak perlu” ucap Nela seraya berjalan menaiki anak tangga dan menuju ke kamarnya.

Setelah Nela sampai dikamarnya, dia segera naik ketempat tidurnya. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mengentuk jendela kamarnya. Dia pun segera berjalan menghampiri jendela kamarnya, dan perlahan dia membuka jendela kamarnya.
Ternyata itu adalah seorang Vampire yang waktu itu menolongnya dari seekor Werewolf yang hampir saja menggigitnya.

“Mark” ucap Nela.

“Hi, bagaimana kabar mu?” Ucap Mark seraya masuk kedalam kamarnya Nela melalui jendela kamar.

“Kabar ku baik-baik saja, aku pikir setelah malam itu kita tidak akan bisa bertemu lagi” ucap Nela.

“Tentu saja tidak. Maaf aku baru sempat menemui lagi, karena kemarin malam ada seorang pria yang menjaga tidur mu” ucap Mark.

“Itu adalah salah satu kakak ku, namanya Andrew. Dan dia baru datang ke sini” ucap Nela.

Mark pun hanya mengganggukkan kepalanya.

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada mu?” Ucap Nela.

“Apa?” Ucap Mark.

“Bagaimana kau bisa menjadi Vampire seperti sekarang ini?” Ucap Nela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar