Jumat, 03 April 2015

My Love is Vampire - Chapter XII

Tittle : Vampire Series “My Love is Vampire - Chapter XII”
Genre : Fantasy | Romance | Thriller
Cast : Westlife & Other's
Tag : #Andrew #DavidReale #Fanfiction #Hayden #Nela #Vampire #Werewolf #Westlife


============================


“Lebih baik sekarang kau pergi dari sini” ucap Mark.
“Kenapa kau menyuruh ku pergi dari sini? Yang seharusnya pergi dari sini itu adalah kau bukan aku! Bagaimana kalau tiba-tiba Shane datang? Mungkin dia akan langsung menembak kepala mu” ucap Hayden.
“Kau tidak perlu banyak bicara, karena aku tidak ingin bertengkar dengan mu” ucap Mark.
“Ya, baiklah kalau seperti itu aku juga tidak ingin bertengkar dengan mu. Dan lebih baik sekarang aku pergi dari sini!” Ucap Hayden seraya segera pergi meninggalkan kamarnya Nela.
Mark pun hanya menarik nafas lega seraya mengusap-usap rambutnya Nela.
“Benar juga apa yang dikatakan oleh Hayden, bagaimana jika Shane tiba-tiba datang?” Ucap Mark.
Mark pun melihat ke arah jarum jam di jam dinding yang ada dikamarnya Nela.
“Hari sudah mulai menjelang pagi, dan sepertinya aku harus segera pergi dari sini” ucap Mark.
“Nela, maafkan aku karena aku tidak bisa menemani mu sampai kau terbangun dari tidur mu. Sekarang aku harus pergi, karena hari sudah mulai menjelang pagi. Tapi kau jangan khawatir, karena besok malam aku akan datang kembali” Bisik Mark tepat ditelinganya Nela.
“I love you so much My Love” bisik Mark seraya mencium keningnya Nela.
Dan Mark pun segera pergi meninggalkan kamarnya Nela.
-------------------
Nela pun terbangun dari tidurnya, dan ia menyadari kalau Mark sudah tidak berada disampingnya.
“Aku pikir Mark akan menemani ku sampai aku terbangun dari tidur ku, tapi ternyata tidak” ucap Nela seraya menarik nafas.
Tak lama terdengar suara Andrew yang memanggil nama Nela dari luar kamarnya Nela.
“Nela, apa kau sudah bangun?” Ucap Andrew dari luar kamarnya Nela.
“Sudah, jika kau ingin masuk silahkan masuk saja pintunya tidak ku kunci” Pekik Nela dari dalam kamarnya.
Andrew pun membuka pintu kamarnya Nela.
“Hello, good morning my baby!” Ucap Andrew seraya berjalan menghampiri Nela.
“Morning my brother” ucap Nela seraya tersenyum.
“Bagaimana keadaan mu sekarang? Apa kau sudah merasa lebih baik?” Ucap Andrew.
“Ya, sekarang aku sudah merasa lebih baik” ucap Nela.
“Jika kau masih lemas, sebaiknya hari ini kau tidak perlu pergi ke kampus” ucap Andrew.
“Tidak Andrew, aku sudah merasa lebih baik. Dan aku harus tetap pergi ke kampus” ucap Nela.
“Adik ku, kau tidak perlu memaksakan diri. Kesehatan mu lebih penting dari yang lain” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
“Iya Andrew, aku tahu hal itu. Tapi kuliah ku juga penting, jadi sekarang aku harus tetap pergi ke kampus” ucap Nela.
“Nela my baby, kau ini tetap saja keras kepala” ucap Andrew.
“Bukankah kau juga seperti itu my bro?” Ucap Nela.
Andrew pun hanya tertawa kecil seraya mengacak-acak rambutnya Nela.
“Andrew! Jangan mengacak-acak rambut ku!” Pekik Nela seraya kembali merapikan rambutnya.
“Sorry my baby. Sekarang kau mandi, setelah itu kita sarapan bersama” ucap Andrew seraya tersenyum.
“Iya my brother yang cerewet! Kau dan Shane sama saja, sama-sama cerewet” ucap Nela seraya berjalan menuju ke kamar mandi yang ada dikamarnya.
Andrew pun hanya tertawa dan segera pergi meninggalkan kamarnya Nela.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Dan kini mereka sudah berkumpul diruang makan untuk menikmati sarapan pagi.
“Sekarang ayo kita sarapan” ucap Shane.
Dan mereka pun mulai menikmati sarapan pagi.
“Shane, bagaimana kabar Nicky dan Brian? Kenapa mereka tidak pernah berkunjung ke sini?” Ucap Nela seraya menikmati sarapannya.
“Kabar mereka baik, dan kini mereka masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing” ucap Shane yang juga sedang menikmati sarapannya.
“Oh iya Shane, beberapa hari yang lalu saat kami hendak pergi ke toko buku kami bertemu dengan Brian disebuah restoran. Ternyata itu adalah restoran milik pamannya Brian, dan kini ia sedang sibuk untuk membantu pamannya direstoran itu” ucap Andrew seraya menyantap sarapannya.
“Ya, kini Brian memang sedang sibuk membantu pamannya direstoran itu, dan sementara Nicky ia juga sedang sibuk dengan pertandingan-pertandingan bola yang ia ikuti di London” ucap Shane.
“Oh, pantas saja Nicky tidak pernah berkunjung ke sini lagi” ucap Nela.
“Ya, tapi kau tenang saja jika urusan mereka sudah selesai pasti mereka akan berkunjung ke sini lagi” ucap Shane.
“Ya, aku berharap seperti itu Shane. Karena mereka sudah ku anggap sebagai kakak-kakakku juga” ucap Nela seraya tersenyum.
Shane pun hanya tersenyum seraya menyantap sarapan paginya. Dan tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar rumahnya Nela.
“Itu pasti klakson mobilnya Hayden” ucap Andrew.
Nela pun segera berjalan keluar rumahnya. Dan Andrew benar, itu memang suara klakson mobilnya Hayden.
“Hey! Morning Nela, bagaimana keadaan mu?” Ucap Hayden seraya keluar dari mobilnya.
“Hey Hayden! Keadaan ku sudah lebih baik” ucap Nela.
“Aku benar-benar minta maaf pada mu” ucap Hayden.
“Sudahlah, tidak perlu membahas hal itu lagi. Dan aku sudah memaafkan mu Hayden” ucap Nela seraya tersenyum.
“Terima kasih Nela karena kau sudah memaafkan ku” ucap Hayden seraya membalas senyumannya Nela.
“Ayo silahkan masuk” ucap Nela.
Dan mereka pun segera masuk ke dalam rumahnya Nela.
“Hey Hayden!” Ucap Shane.
Hayden pun hanya tersenyum.
“Duduk lah Hayden, dan ayo kita sarapan bersama” ucap Shane.
Mereka pun segera menyantap sarapan pagi bersama. Dan setelah mereka selesai menyantap sarapan pagi, kini Nela dan Hayden bersiap-siap untuk berangkat ke kampus mereka.
“Andrew, Shane, aku berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela.
“Iya adik ku, tapi apa kau benar-benar merasa sudah lebih baik?” Ucap Shane.
“Iya Shane, aku merasa sudah lebih baik” ucap Nela.
“Ya baiklah, jaga diri mu baik-baik ya adik ku” ucap Shane seraya tersenyum mengusap-usap rambutnya Nela.
“Iya kakak ku” ucap Nela seraya tersenyum.
“Kau hati-hati my baby! Benar kata Shane, jaga dirimu baik-baik ya” ucap Andrew.
“Iya my bro, aku akan jaga diri ku dengan baik” ucap Nela.
“Hayden, aku titip Nela pada mu ya tolong jaga dia dengan baik” ucap Shane.
“Iya Shane, kau tenang saja aku akan menjaganya dengan sangat baik” ucap Hayden.
“Baiklah, kami berangkat ke kampus dulu ya” ucap Nela.
“Iya, kalian hati-hati” ucap Andrew dan Shane.
Nela dan Hayden pun segera pergi menuju kampus mereka.

--------------------

Saat jam istirahat Nela dan Hayden berjalan menuju halaman belakang kampus. Setelah sampai dihalaman belakang kampus, mereka segera duduk dibawah pohon yang rindang.
“Sepertinya lebih sejuk disini dari pada ditaman kampus” ucap Hayden seraya menarik nafas.
“Ya, kau benar disini udaranya begitu sejuk” ucap Nela.
“Ini minuman untuk mu” ucap Hayden seraya memberikan sebuah minuman kaleng kepada Nela.
“Terima kasih Hayden” ucap Nela.
Nela dan Hayden terus mengobrol, dan tiba-tiba Roland datang.
“Ternyata kalian ada disini” ucap Roland.
Nela dan Hayden segera bangkit dari posisi duduk mereka, dan Hayden segera berdiri didepan Nela seraya melindunginya dari Roland.
“Nela cepat pergi dari sini!” Ucap Hayden.
“Tidak! Aku akan tetap berada disini” ucap Nela.
“Disini bukan tempat yang aman untuk mu! Sekarang kau harus pergi dari sini” ucap Hayden.
“Lalu bagaimana dengan mu? Apa kau akan menyerahkan diri mu pada Roland?” Ucap Nela.
Hayden pun hanya terdiam. Dia hanya mempunyai dua pilihan, yaitu melarikan diri dari Roland tetapi Roland akan membunuh Nela seperti ia membunuh Rachel, atau menyerahkan diri pada Roland dan Nela akan tetap aman dari Roland.
“Lebih baik sekarang kau pergi dari sini, karena aku tak ingin kau terluka sedikit pun” ucap Hayden.
“Aku tidak akan pergi tanpa mu! Dan aku akan tetap disini bersama dengan mu, karena aku tidak ingin kau menyerahkan diri mu pada Roland!” Ucap Nela.
“Sudahlah, kalian jangan membuat drama karena aku tak suka melihatnya. Ayo Hayden, kau hanya punya dua pilihan dan kau harus cepat memilih satu pilihan!” Ucap Roland.
“Roland, sebaiknya nanti kita selesaikan urusan kita karena sekarang bukanlah waktu yang tepat” ucap Hayden.
“Hayden, sampai kapan aku harus menunggu? Menunggu agar kau menyerahkan diri mu pada ku” ucap Roland.
“Nela, aku mohon sekarang kau cepat pergi dari sini karena aku benar-benar tidak ingin kau terluka sedikit pun” ucap Hayden.
“Hayden, kenapa kau selalu melindungi ku?” Ucap Nela.
“Hayden melakukan hal itu karena ia menyukai mu, tapi ternyata kau sudah memiliki seorang kekasih dan kekasih mu itu adalah seorang Vampire. Dan meskipun Hayden sudah tahu tentang hal itu, tetap saja ia selalu menjaga dan melindungi mu” ucap Roland.
“Apa? Hayden, apakah benar yang dikatakan oleh Roland?” Ucap Nela yang sedikit terkejut.
“Ya, yang Roland katakan itu memanglah benar” ucap Hayden.
“Jadi kau sudah tahu kalau aku menjalin hubungan dengan seorang Vampire?” Ucap Nela.
“Ya, dan kemarin aku sempat menjauhi mu karena aku cemburu mendengar kau sudah memiliki seorang kekasih” ucap Hayden.
“Sudahlah, kalian jangan membuang-buang waktu ku” ucap Roland.
Dan Roland pun mengambil sesuatu dari dalam tas yang ia bawa.
“Lebih baik sekarang kita pergi dari sini!” Ucap Hayden seraya menarik tangannya Nela.
Nela dan Hayden pun segera pergi meninggalkan halaman belakang kampus.
“Sepertinya Roland tidak mengejar kita” ucap Nela.
“Ya, nampaknya seperti itu” ucap Hayden.
“Kenapa Roland begitu berantusias ingin membunuh mu?” Ucap Nela.
“Entahlah, tapi tujuan dia hanya satu yaitu membunuh ku agar dapat memusnahkan para Jumper yang ada di dunia ini” ucap Hayden.
“Di musnahkan? Memangnya kalian punya salah apa sampai harus di musnahkah?” Ucap Nela.
“Aku dan para Jumper yang lain tidak mempunyai salah kepada mereka, tetapi sama halnya seperti Vampire, Werewolf, dan Dracula yang juga mempunyai para pemburu dan tujuan para pemburu itu hanyalah memusnahkan buruan mereka” ucap Hayden.
“Tapi tak seharusnya mereka memburu kalian, bahkan mereka sampai membunuh seseorang Jumper itu sayang” ucap Nela.
“Ya, dan hal itu terjadi pada Rachel. Mungkin jika waktu itu aku menyerahkan diri ku pada Roland, maka Roland tidak akan membunuh Rachel. Dan aku tak ingin mengulangi kesalahan ku yang kedua kali, aku tak ingin kau bernasib sama seperti Rachel” ucap Hayden.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku, karena aku akan baik-baik. Dan Roland tidak akan bisa membunuh ku atau melukai ku sedikit pun” ucap Nela.
“Tapi sebaiknya aku menyerahkan diri ku pada Roland, agar masalah ku padanya cepat selesai” ucap Hayden.
“Jangan lakukan hal bodoh itu Hayden! Jangan pernah menyerahkan diri mu pada Roland” ucap Nela.
“Tapi aku lakukan itu demi kau, agar kau tak bernasib sama seperti Rachel. Karena aku tak ingin kehilangan wanita yang aku cintai untuk yang kedua kalinya” ucap Hayden.
“Tapi bukankah kita sudah berjanji kalau kita akan melawan Roland bersama-sama?” Ucap Nela.
“Ya, tapi aku tidak yakin kalau kita bisa melawan Roland” ucap Hayden.
“Jika kita bersama-sama, kita pasti bisa melawan Roland. Dan tolong jangan serahkan diri mu pada Roland” ucap Nela.
“Ya, aku tidak akan menyerahkan diri ku pada Roland!” Ucap Hayden.
“Itu jawaban yang aku tunggu!” Ucap Nela.
Hayden pun hanya tersenyum, dan Nela pun membalas senyumannya Hayden.
Sementara Roland baru menyadari kalau Nela dan Hayden sudah tidak berada didepannya lagi.
“Menyebalkan! Lagi-lagi mereka melarikan diri!” Gerutu Roland.
“Hayden, masalah kita belum selesai! Aku akan tetap mengejar mu sampai aku mendapatkan mu! Dan aku tidak akan pernah melepaskan mu begitu saja” ucap Roland.

-----------------

“Apa kau ingin masuk dulu?” Ucap Nela pada Hayden.
“Tidak, aku langsung pulang saja” ucap Hayden.
“Baiklah, kau hati-hati ya” ucap Nela.
Hayden pun hanya tersenyum seraya menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi meninggalkan rumahnya Nela.
Dan Nela pun segera masuk kedalam rumahnya.
“Hey! My little sister Nela!” Ucap Brian yang menyambut kedatangannya Nela.
“Hey Bri, kapan kau datang? Lalu kemana Nicky?” Ucap Nela.
Dan tiba-tiba Nicky pun menepuk pelan pundaknya Nela dari arah belakang.
“Hey! Sudah ku duga kau pasti akan mencari ku” ucap Nicky.
“Ya, dugaan mu memang benar Nick!” Ucap Nela.
Dan tak lama Andrew dan Shane pun datang.
“Hey! Adik ku sudah pulang” ucap Shane.
“Hey! Ternyata my baby sudah pulang” ucap Andrew.
“Iya Andrew, Shane, aku sudah pulang” ucap Nela.
“Sepertinya tadi aku mendengar kau berbicara dengan seseorang” ucap Brian.
“Ya, tadi aku berbicara dengan Hayden” ucap Nela.
“Hayden? Siapa itu Hayden? Apakah dia itu adalah kekasih mu?” Ucap Brian.
“Bukan Bri, Hayden adalah senior ku dikampus” ucap Nela.
“Oh ya Nick, aku dengar dari Shane katanya kau ada pertandingan bola di London?” Ucap Nela.
“Iya, itu memang benar. Dan hal itu membuat ku begitu sibuk” ucap Nicky.
“Lalu kapan kau tiba di Ireland?” Ucap Nela.
“Kemarin malam aku tiba di Ireland, tapi kau tenang saja aku tidak lupa membelikan mu sourvenir dari London” ucap Nicky.
“Tapi sourvenirnya itu bukan jersey bola dengan keringat mu kan Nick?” Ucap Nela.
“Tentu saja bukan” ucap Nicky seraya tertawa.
Dan mereka semua pun tertawa.
“Ayo lebih baik sekarang kita makan siang dulu karena aku tahu kalian semua pasti sudah lapar” ucap Shane.
“Shane, kau tahu saja kalau aku sudah begitu lapar” ucap Brian.
“Ya, maka dari itu mengajak mu untuk makan siang” ucap Shane.
Mereka semua pun menyantap makan siang bersama.
“Shane, apa sekarang kau masih berburu Vampire?” Ucap Nicky seraya menyantap makan siangnya.
“Ya, of course I still doing that and I always to be Vampire Hunter!” Ucap Shane seraya menyantap makan siangnya.
“Aku pikir kau sudah berhenti menjadi seorang pemburu Vampire, tapi ternyata tidak” ucap Nicky.
“Kenapa aku harus berhenti menjadi pemburu Vampire? Bukankah aku sudah melakukan hal itu sejak dulu, dan menjadi pemburu Vampire itu adalah hobby ku” ucap Shane.
“Bagaimana kalau kau tiba-tiba bertemu dengan seorang Vampire?” Ucap Brian yang juga sedang menyantap makan siangnya.
“Aku akan langsung menembak kepala Vampire itu!” Ucap Shane.
Dan tiba-tiba Nela pun tersendak setelah mendengar apa yang baru saja Shane katakan.
“Adik ku, apa kau baik-baik saja?” Ucap Shane.
“My baby, what happens babe?” Ucap Andrew seraya memberikan segelas air kepada Nela.
“Nela, kau ini kalau makan harus hati-hati agar kau tidak tersendak seperti ini” ucap Nicky.
“Kalian tidak perlu khawatir karena aku baik-baik saja” ucap Nela.
Dan mereka pun kembali melanjutkan makan siangnya.
“Memangnya sudah ada berapa Vampire yang kau buru Shane?” Ucap Brian.
“Entahlah, aku tidak pernah menghitungnya” ucap Shane.
“Pasti sudah begitu banyak Vampire yang berhasil kau buru” ucap Nicky.
“Sudahlah, kenapa kita jadi membahas Vampire? Mereka itu tidak benar-benar ada” ucap Nela.
“Ya, benar apa yang dikatakan oleh adikku. Keberadaan Vampire itu seperti sebuah misteri yang sulit untuk terungkap” ucap Andrew.
“Adik-adik ku, Vampire itu memang benar-benar ada kalau mereka itu tidak ada buat apa selama ini aku selalu pergi ke hutan untuk memburu mereka?” Ucap Shane.
“Entahlah, kau kan memang aneh Shane. Jika Vampire itu benar-benar ada kenapa kau tak pernah tunjukkan kepada kami?” Ucap Andrew.
“Baiklah, aku berjanji pada kalian jika aku bertemu atau aku berburu Vampire lagi aku akan menembak kepala Vampire itu dan akan aku bawa Vampire itu ke hadapan kalian” ucap Shane.
“Apa? Shane akan menembak kepala Vampire dan membawa nya ke hadapan kami? Ini benar-benar bahaya jika Shane sampai bertemu dengan Mark” ucap Nela dalam hati.
“Hey my babe, kenapa kau diam saja?” Ucap Andrew.
“Hehm, tidak apa-apa my bro” ucap Nela.
“Mungkin Nela hanya kelelahan saja karena dia baru pulang kuliah” ucap Nicky.
“Ya sudah, lebih baik kau cepat habisi makan siang mu lalu beristirahat lah karena aku tak ingin kau sampai tak sadarkan diri lagi seperti kemarin” ucap Shane.
“Iya benar apa yang dikatakan oleh Shane, sebaiknya kau segera beristirahat my babe” ucap Andrew.
“Baiklah kalau seperti itu, aku istirahat dulu ya” ucap Nela.
“Iya Nela, beristirahatlah agar kesehatan mu cepat pulih kembali” ucap Brian.
“Aku akan mengantar mu ke kamar” ucap Andrew seraya merangkul pundaknya Nela.
Nela dan Andrew pun berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya Nela.
“My babe, apa kau ingin aku gendong saja?” Ucap Andrew.
“Tidak my bro, aku bukan bayi lagi yang harus digendong” ucap Nela.
“Tapi aku tak ingin kalau kau tak sadarkan diri lagi seperti kemarin” ucap Andrew.
“Kau tenang saja my bro, aku tidak akan sampai tak sadarkan lagi diri seperti kemarin” ucap Nela seraya tersenyum.
“Oh my baby, looking your smile make me so happy” ucap Andrew.
Mereka pun sampai didepan kamarnya Nela, perlahan Andrew membuka pintu kamarnya Nela. Dan mereka pun memasuki kamarnya Nela.
“Rebahkan lah tubuh mu dan beristirahat lah. Hilangkan sejenak semua beban yang ada dipikiran mu” ucap Andrew.
Nela pun segera merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.
“Thank you my bro, I love you so much” ucap Nela.
“You're welcome my babe. I love you too” ucap Andrew seraya tersenyum.
Nela pun hanya tersenyum.
“Baiklah, sekarang kau istirahat ya my baby” ucap Andrew seraya mencium keningnya Nela.
Andrew pun beranjak pergi meninggalkan kamarnya Nela, dan tak lupa ia menutup kembali pintu kamarnya Nela. Nela pun segera bangkit dari posisi tidurannya.
“Aku masih tidak percaya dengan apa yang tadi Shane katakan. Bagaimana ini? Bagaimana jika Shane bertemu dengan Mark?” Ucap Nela.
Sementara Hayden baru saja tiba di apartementnya, dan tiba-tiba saja Roland datang.
“Apa kau masih ingin melarikan diri lagi Hayden?” Ucap Roland.
“Kau mau apa?” Ucap Hayden.
“Bukankah kau sudah tahu apa yang aku mau? Aku mau kau menyerahkan diri mu kepada ku, hanya itu saja yang aku mau tidak sulit kan?” Ucap Roland.
“Aku sudah berjanji kepada Nela, kalau aku tidak akan pernah menyerahkan diri ku kepada mu!” Ucap Hayden.
“Baiklah, dan itu artinya kau ingin wanita itu bernasib sama seperti Rachel kekasih mu itu?” Ucap Roland.
“Jangan lukai dia!” Pekik Hayden.
“Kalau kau tak ingin aku melukai wanita itu maka kau harus menyerahkan diri mu kepada ku” ucap Roland.
“Jangan pernah berharap kalau aku akan menyerahkan diri ku kepada mu Roland!” Ucap Hayden.
“Ya sudah kalau sepert itu, tapi jangan salahkan aku jika wanita itu akan bernasib sama seperti Rachel” ucap Roland.
Hayden hanya terdiam, diam dalam seribu bahasa. Otaknya sibuk berpikir untuk mencari jalan keluar agar masalahnya dengan Roland cepat selesai.
“Lagi-lagi kau hanya terdiam Hayden. Kau pasti sedang berpikir untuk memilih diantara dua pilihan itu kan? Seharusnya kau tidak pernah mencintai wanita itu, agar dia tetap aman dari ku” ucap Roland.
Tiba-tiba Hayden pun mencoba untuk melarikan diri, namun dengan cepat Roland menarik kakinya hingga ia terjatuh.
“Kau ingin lari kemana lagi Hayden? Meskipun kau lari sampai ke ujung, tapi kau tidak akan pernah bisa lepas dari ku!” Ucap Roland.
Roland pun mengeluarkan sebuah alat yang dibuat khusus untuk menyetrum seorang Jumper. Dengan cepat Roland menempelkan alat itu ke kakinya Hayden.
“Awwww!” Teriak Hayden ketika alat itu mengenai kakinya.
“Aku tidak akan membiarkan mu lari lagi Hayden!” Ucap Roland.
“Baiklah, aku tidak akan lari lagi” ucap Hayden.
“Benarkah? Tapi aku tidak percaya dengan ucapan mu itu” ucap Roland.
“Ya, aku tidak akan melarikan diri lagi” ucap Hayden.
“Kau pasti berbohong kan?” Ucap Roland yang kembali menempelkan alat itu dikakinya Hayden.
“Awww! Iyaaa... Aku tidak akan melarikan diri lagi dan aku tidak berbohong, tapi tolong lepaskan alat itu dari ku” ucap Hayden.
“Baiklah, aku masih percaya dengan ucapan mu itu” ucap Roland seraya melepaskan alat itu dari kakinya Hayden.
Hayden pun segera berdiri, dan dengan cepat ia segera melompat ke arah tembok yang ada dibelakangnya.
“Menyebalkan! Lagi-lagi ia berbohong dan melarikan diri lagi!” Ucap Roland yang begitu kesal, karena Hayden selalu berhasil lolos darinya.

------------------

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Dan malam ini Shane tidak pergi berburu Vampire karena ia masih melepas rindu bersama dengan dua sahabatnya yaitu Nicky dan Brian. Shane, Nicky, dan Brian sedang mengobrol diruang tamu. Sementara Nela dan Andrew sedang sibuk sendiri dikamar mereka masing-masing.
Seperti biasa Nela sedang menunggu kedatangannya Mark.
“Apa malam ini Mark akan datang?” Ucap Nela seraya berdiri dibelakang jendela kamarnya.
Tak lama Mark pun datang, dan dengan cepat Nela membukakan jendela kamarnya.
“Mark!” Ucap Nela segera memeluk Mark.
“My Love, bagaimana keadaan mu sekarang?” Ucap Mark.
“Aku sudah merasa lebih baik Mark” ucap Nela.
“Syukurlah kalau seperti itu” ucap Mark.
“Tapi ada sesuatu yang aku takutkan” ucap Nela seraya melepaskan pelukannya.
“Apa yang kau takutkan?” Ucap Mark.
“Tadi ketika makan siang bersama, Shane bilang kalau ia bertemu dengan Vampire maka ia akan segera menembak kepala Vampire itu dan membawanya kehadapan aku, Andrew, dan dua sahabatnya” ucap Nela.
“Lalu apa yang kau takutkan My Love?” Ucap Mark.
“Aku takut kalau kau bertemu dengan Shane” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya.
“My Love, kau pasti takut kalau aku bertemu Shane lalu Shane akan menembak kepala ku?” Ucap Mark seraya memegang kedua pundaknya Nela.
Nela pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Kau tidak perlu takut soal hal itu, karena akan ku pastikan Shane tidak akan menembak kepala ku” ucap Mark.
“Tapi Shane adalah seorang pemburu Vampire, dan sudah begitu banyak Vampire yang berhasil ia buru” ucap Nela.
“Ya, aku tahu tentang hal itu. Tapi kau tenang saja, kau tidak perlu takut tentang hal itu” ucap Mark.
Nela pun hanya terdiam seraya tetap menundukkan kepalanya.
“Sekarang tersenyumlah My Love, aku begitu rindu dengan senyum mu yang dapat membuat hati ku tenang” ucap Mark.
Dan Nela pun tersenyum, Mark pun segera memeluk Nela dengan erat.
Sementara Shane, Nicky, dan Brian masih mengobrol diruang tamu.
“Oh ya, bagaimana dengan hubungan kau dan Gillian?” Nicky.
“Hubungan kami baik-baik saja” ucap Shane seraya mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
“Kenapa tidak ada?” Ucap Shane ketika tidak menemukan sesuatu dari dalam saku celananya.
“Apanya yang tidak ada Shane?” Ucap Nicky.
“Ponsel ku. Tadi sepertinya aku sudah menyimpannya didalam saku celana ku tetapi sekarang kenapa tidak ada” ucap Shane.
“Mungkin kau lupa menyimpannya Shane, dan mungkin saja ponsel mu itu masih berada dikamar mu” ucap Brian.
“Ya, kau benar juga Brian!” Ucap Shane yang segera berlari menaiki anak tangga dan menuju ke kamarnya.
Ketika Shane hendak berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba ia mencium bau Vampire yang berasal dari dalam kamarnya Nela.
“Kenapa disini ada bau Vampire?” Ucap Shane.
Shane pun berjalan mendekati pintu kamarnya Nela, dan semakin lama bau Vampire itu semakin jelas.
Shane pun sedikit curiga dengan bau Vampire yang berasal dari dalam kamarnya Nela.
“Kenapa bau Vampire ini berasal dari dalam kamarnya Nela?” Ucap Shane.
Perlahan Shane pun membuka pintu kamarnya Nela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar